Senin, 01 Oktober 2018

Kajian Islam

Kajian Islam “Perbuatan Allah itu mengandung hikmat”
Segala perbuatan Allah itu berlandaskan Ilmu dan Iradat (terbit dari IlmuNya dan iradatNya). Tiap-tiap yang berlandaskan ilmu dan iradat, sudah tentu berlandaskan ikhtiar (terbit dari ikhtiar/usaha/upaya). Maka tiap-tiap sesuatu yang dibuat dengan ikhtiarNya, tiadalah kemestian atasNya. Oleh karena itu dapat ditegaskan bahwa, segala sifat perbuatan Allah, baik menciptakan alam, merezkikan makhluk, mengazab-memberi nikmat, adalah perbuatan-perbuatan yang mungkin Allah kerjakan, bukan pekerjaan yang mesti dan bukan pula pekerjaan yang mustahil. Apakah Allah itu dalam menciptakan sesuatu, wajib menjaga kemuslihatan dan apakah Allah itu wajib memenuhi ancaman-ancamanNYA yang telah dihadapkan kepada para pendurhaka? Dalam hal ini sudah berbagai macam golongan yang terjadi. Ada golongan yang mengatakanbahwa Allah wajib memelihara kemuslihatan dalam menjadikan dan menciptakan sesuatu. Mereka, memandang bahwa Allah itu sebagai seorang mukallaf, orang yang diberati-dibebani. Sebaliknya ada pula golongan yang mengingkari, menjadi kontra diksi dari golongan pertama, menetapkan bahwa perbuatan-perbuatan Allah itu kosong dari illat (sebab), yakni meniadakan ta’lil, sehingga Allah itu membuat sesuatu dengan tidak mengetahui apa gunanya.
Dalam pada itu mereka semua sependapat menetapkan bahwa “Segala perbuatan Allah, berhikmat; tak ada yang kosong dari hikmat”. Dan bahwasanya Allah itu suci dari sia-sia dalam perbuatan-perbuatanNya dan suci dari dusta dalam perkataanNya.
Apakah gerangan hikmat itu? Hikmat, ialah: factor-faktor yang memelihara ketertiban pekerjaan, memelihara undang-undang aturannya dan menjaga dari kerusakan, kemusnahan. Tetapi hikmat itu dinamai dan dipandang hikmat, kalau memang dikehendaki oleh pembuatnya.
Seluruh ahli akal menetapkan bahwa: Perbuatan-perbuatan yang dilaksanakan orang yang berakal, terpelihara dari percuma, dari sia-sia. Tegasnya, orang berakal mengerjakan sesuatu karena ada sesuatu maksud, ada tujuan.

Cakrawala, langit dan bumi, matahari dan bulan serta segala margasatwa yang telah dijadikan Allah, masing-masingnya mengandung him=kmat. Dengan hikmat-hikmat itulah terpelihara dari kerusakan. Dan dengan hikmat-hikmat itu pula segala yang maujud ini dapat memperoleh kemaslihatan daripadanya. Maka himat-hikmat yang berarti meletakkan sesuatu ditempatnya, memberikan kepada segala yang berhajat, segala hajatnya, adakala diketahui dan dikehendaki oleh yang membuatnya, adakala terdapat yang demikian secara kebetulan saja. Terdapat yang demikian secara kebetulan, tak dapat kita benarkan, karena membawa kepada mengatakan bahwa Allah kurang ilmu atau lalai. Kalau demikian hikmat-hikmat itu memang dikatahui dan dikehendaki.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar