Kajian Islam “Perbuatan Allah itu mengandung hikmat”
Segala perbuatan Allah itu
berlandaskan Ilmu dan Iradat (terbit dari IlmuNya dan iradatNya). Tiap-tiap
yang berlandaskan ilmu dan iradat, sudah tentu berlandaskan ikhtiar (terbit
dari ikhtiar/usaha/upaya). Maka tiap-tiap sesuatu yang dibuat dengan
ikhtiarNya, tiadalah kemestian atasNya. Oleh karena itu dapat ditegaskan bahwa,
segala sifat perbuatan Allah, baik menciptakan alam, merezkikan makhluk,
mengazab-memberi nikmat, adalah perbuatan-perbuatan yang mungkin Allah
kerjakan, bukan pekerjaan yang mesti dan bukan pula pekerjaan yang mustahil.
Apakah Allah itu dalam menciptakan sesuatu, wajib menjaga kemuslihatan dan
apakah Allah itu wajib memenuhi ancaman-ancamanNYA yang telah dihadapkan kepada
para pendurhaka? Dalam hal ini sudah berbagai macam golongan yang terjadi. Ada
golongan yang mengatakanbahwa Allah wajib memelihara kemuslihatan dalam
menjadikan dan menciptakan sesuatu. Mereka, memandang bahwa Allah itu sebagai
seorang mukallaf, orang yang diberati-dibebani. Sebaliknya ada pula golongan
yang mengingkari, menjadi kontra diksi dari golongan pertama, menetapkan bahwa
perbuatan-perbuatan Allah itu kosong dari illat (sebab), yakni meniadakan
ta’lil, sehingga Allah itu membuat sesuatu dengan tidak mengetahui apa gunanya.
Dalam pada itu mereka semua
sependapat menetapkan bahwa “Segala perbuatan Allah, berhikmat; tak ada yang
kosong dari hikmat”. Dan bahwasanya Allah itu suci dari sia-sia dalam
perbuatan-perbuatanNya dan suci dari dusta dalam perkataanNya.
Apakah gerangan hikmat itu?
Hikmat, ialah: factor-faktor yang memelihara ketertiban pekerjaan, memelihara
undang-undang aturannya dan menjaga dari kerusakan, kemusnahan. Tetapi hikmat
itu dinamai dan dipandang hikmat, kalau memang dikehendaki oleh pembuatnya.
Seluruh ahli akal menetapkan
bahwa: Perbuatan-perbuatan yang dilaksanakan orang yang berakal, terpelihara
dari percuma, dari sia-sia. Tegasnya, orang berakal mengerjakan sesuatu karena
ada sesuatu maksud, ada tujuan.
Cakrawala, langit dan bumi, matahari
dan bulan serta segala margasatwa yang telah dijadikan Allah, masing-masingnya
mengandung him=kmat. Dengan hikmat-hikmat itulah terpelihara dari kerusakan.
Dan dengan hikmat-hikmat itu pula segala yang maujud ini dapat memperoleh
kemaslihatan daripadanya. Maka himat-hikmat yang berarti meletakkan sesuatu
ditempatnya, memberikan kepada segala yang berhajat, segala hajatnya, adakala
diketahui dan dikehendaki oleh yang membuatnya, adakala terdapat yang demikian
secara kebetulan saja. Terdapat yang demikian secara kebetulan, tak dapat kita
benarkan, karena membawa kepada mengatakan bahwa Allah kurang ilmu atau lalai.
Kalau demikian hikmat-hikmat itu memang dikatahui dan dikehendaki.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar