Gaya
Hidup : Bagaimana Pendidikan Menyikapinya ?
Situasi terkini…
Sedang berproses...
Manusia memiliki satu keinginan dan kerinduan terdalam di peziarahan hidup ini.
Kerinduan dan keinginan itu adalah kebahagiaan. Mengapa ? Karena, kebahagian
hidup manusia terletak pada kepemilikan makna akan hidupnya. Oleh karena itu,
Kebahagiaan dimengerti dan diartikan sebagai kebermaknaan hidup. Dengan
demikian, kebermaknaan hidup merupakan satu-satunya hasrat yang menyatukan
segala kekuatan, ketegasan, dan kemampuan manusia dalam berproses di dunia ini.
Dengan kata lain, kebermaknaan hidup merupakan arah dan tujuan seluruh kegiatan
manusia.
Di satu sisi perjalanan hidup manusia, manusia itu adalah pribadi yang
mendapati dirinya terlempar ke dunia ini, tanpa tahu dari mana dan hendak ke
mana (Heidegger). Bagaikan seorang bayi yang tidak dapat memilih keluarga,
orang tua, saudara-saudari, suku, negara, jenis kelamin, bentuk tubuh dan
lain-lain. Manusia hanya tinggal menerima apa yang telah diberikan kepadanya.
Keterlemparan manusia dalam dunia ini memperlihatkan adanya “kebelumsempurnaan
“ dirinya. Inilah yang membedakan manusia dengan hewan. Di mana, manusia pada
dirinya adalah pribadi yang belum selesai “diciptakan”. Keterlemparan yang
belum “sempurna” mendorong dan mengarahkan dirinya senantiasa belajar menuju
kepada sebuah kesempurnaan, (baca kebermaknaan ).
Dalam rangka mencapai kebermaknaan hidupnya, manusia mengambil tindakan
pembelajaran dengan cara peniruan, mimetik. Di mana, manusia melakukan segala
macam peniruan-peniruan untuk membangun kehidupannya. Oleh karena, meniru
adalah suatu sifat manusia semenjak usia muda, suatu sifat yang tertanam dalam
kodrat dan tabiatnya (Aristoteles). Manusia adalah makhluk yang paling suka
meniru dan ia mulai belajar justru dengan meniru dan awal dari peradaban
manusia adalah sebuah proses peniruan dari alam. Dengan kata lain, peniruan
merupakan sebuah proses pembelajaran manusia dalam membangun world view,
wawasan keduniaannya. Lagipula, dengan meniru kita belajar, kita menambah
pengetahuan dan itu merupakan kenikmatan yang paling besar bagi setiap pribadi.
“ Aku bergaya maka Aku ada..”
Proses peniruan yang dilakukan manusia tanpa disadari juga merupakan suatu
proses penghasratan. Manusia menghasrati hal-hal yang dihasrati oleh kebanyakan
orang. Bentuk hidup tertentu, komunitas pergaulan tertentu, kepemilikan
artefak-artefak tertentu, obrolan tertentu dan lain sebagainya. Penghasratan
ini sebagai wujud penyamaan dan penyeragaman yang memungkinkan pribadi dapat
masuk, menjadi bagian dan hidup dengan yang lain pada umumnya seraya mencoba
untuk mendefinisikan dirinya. Namun, dalam budaya kiwari, identitas itu sering
kali tidak otentik karena merupakan merupakan hasil konstruksi pelbagai
bangunan pencitraan yang ditawarkan oleh industri dunia. Pengadopsian peniruan
sering merupakan suatu indikasi pemassalan yang disebabkan oleh ketidakmampuan
menemukan jati diri. Bukan sesuatu yang alami, melainkan sesuatu yang dibangun,
diciptakan, dikembangkan, dan digunakan untuk menampilkan sebuah bentuk citra
diri duniawi. Di mana, pasar dan kapitalisme menjadi motor penggeraknya .
Pencitraan yang diciptakan dunia adalah cara membingkai dan membungkus dunia
sedemikian rupa sehingga merangsang dan menggugah pandangan seorang tentang
hidup berdasarkan tampilan penampilan tawaran dunia. Untuk itu, Dunia
mendengungkan pencitraannya sebagai sesuatu yang utama dan sesuatu yang penting
dalam hidup. Kebajikan-kebajikan manusiawi digantikan dengan
kebajikan-kebajikan visual media dan industri. Pribadi ditampilkan dari citra
penampakannya, tetapi citra itu tidak selalu merupakan kesejatian, karena
penampilan itu pada saat bersamaan adalah bentuk penyembunyian dan pengingkaran
sifat eksistensial yang lain, yang jelek, memalukan, dsb.
Semuanya itu mengindikasi proses penurunan mutu kehidupan manusia. Ketika dunia
kehidupan dibingkai dalam format citra dunia, maka kesadaran terdalam manusia
diobok-obok, dipengaruhi dan dicetak dalam bingkai citra tersebut, dengan
segala sifat reduksionisme dan artifisialnya. Visi dan misi hidup manusia
diambil alih dengan perlahan-lahan tapi pasti oleh visi dan misi dunia, dengan
segala gambaran kesempurnaannya. Pada titik ini, manusia berjalan menuju ke
arah ruang nihilisme, manusia hidup dalam subjektivitas palsu melalui dunia
citra. Seluruh dunia dan kehidupan manusia diredusir ke dalam ontologi citra,
sambil mengasingkan diri dari diri yang sesungguhnya. Dengan demikian, manusia
mengalami keterasingan dengan dirinya, akhirnya manusia mendapati dirinya dalam
keterpecahan. (David Michel Levin).
Susan Sontag melukiskan dengan indah mengenai manusia yang terjerat dalam
jaring-jaring dunia citra. Manusia citra adalah manusia yang lebih memilih
citra ketimbang benda, tiruan ketimbang asli, reprentasi ketimbang realitas,
penampakan ketimbang eksitensi (being). Dengan memilih citra daripada keaslian
diri sama dengan memilih kepalsuan daripada kebenaran diri. Saat itu, tampilan
citra dirayakan, dipuja, dibangun, dipilih, dan diinternalisasikan. Maka, citra
adalah sesuatu yang harus selalu dibangun dalam seluruh perjalanan hidup.
Manusia berusaha mengejar citra dengan optimalitas kekuatannya. Dengan kata
lain, penciptaan citra di jagat hidup manusia adalah suatu pembingkaian yang
meminggirkan serentak menyembunyikan realitas dan kebenaran seraya meredusirnya
sebagai realitas dan kebenaran yang dikonstruksi dalam dunia citra. Dengan
demikian pencitraan melahirkan potensi membangun dunia tiada batas antara
realitas dan ilusi, melahirkan simulasi yang meretas perbedaan antara yang
sejati dan yang semu, kenyataan dan fantasi didekonstruksi dengan proses
pengcopyan, pengimitasian ( Hyper-reality, Umberto Eco).
Pemujaan akan citra dengan tegas menciptakan dan menimbulkan berbagai macam
krisis dalam kehidupan manusia. Manusia kehilangan kepandaian dan kelihaian
Kebajikan Sang Kebijaksanaan Sejati untuk mengkritisi pemaknaan hidup yang maya
atau sejati. Kesejatian melebur dan meyatu dengan yang kemayaan. Good
(kebaikan) menyatu dengan goods (barang). Kita sangat bangga dengan kemeja yang
dibeli di Armani Counter, Plaza Indonesia, karena citra kemejanya yang barang
bermerek. Kebutuhan (need) sama dengan Keinginan (want). Kita tidak akan cukup
hanya makan, melainkan mesti makan di MC Donald, restaurant yang sama dengan
warung tegal di Indonesia, bukan karena burgernya yang enak tetapi karena citra
yang menyelubunginya. Hasrat jiwa citra telah meracuni manusia dengan moto “
Aku adalah apa yang aku konsumsi” . “ Aku ada karena aku bergaya...”. Tingkatan
kebutuhan Abraham Maslow dijungkirbalikan. Aktualisasi diri menjadi tingkatan
pertama manusia. Diri sesungguhnya ditentukan oleh apa yang kita kenakan, kita
pakai, kita pergunakan, kita ucapkan, kita tonton, kita makan, dan kita-kita
lainnya.
Dunia citra yang dihidupi manusia ini pun ditandai dengan berbagai pergerakan,
pergantian, dan perubahan dalam tempo yang cepat. Kecepatan mesin dunia citra
ini menggiring manusia pada satu titik kehidupan. “Diam berarti mati” (Paul
Virilio). Apabila kita tidak mengikuti segala macam tawaran dunia yang serba
cepat melalui citra teknologi, mode, perangkat hidup, habitus terbaru, dll,
maka kita akan mati, kita kuno, ketinggalan jaman. Ada sebuah iklan televisi
menampilkan ketertinggalan manusia dengan menvisulisasikan secara sangat baik
dengan judul “ Hari begini nggak punya HP “. Oleh karena itu, tawaran yang
menghadang diri kita adalah tawaran kekinian yang terus berubah dan berubah
dengan perputaran yang dashyat. Belum selesai kita memahami fasilitas Hp
terbaru telah muncul fasilitas Hp yang terkini. Manusia diajak untuk mengejar
dan berlari meraih kesemuanya itu. Akibatnya, Kehidupan dalam percepatan
membawa pada kehampaan dan hanya sampai pada kebendaan. Waktu manusia hanya
disibukkan dan dihabiskan untuk meraih percepatan citra tanpa berhenti sejenak
bagi ruang kebermaknaan dan keluhuran. Percepatan pencitraan yang bekerja dalam
alam bawah sadar kemanusian telah mempersempit makna dunia spiritualitas.
Dengan demikian, dunia manusia kini ditentukan oleh having dan bukan being
(bdk. Erich Fromm).
“ Terbius Kesempurnaan semu dan maya….”
Tiada hari tanpa citra “ kesempurnaan” dunia. Manusia menikmati dan sekaligus
menelan jargon-jargon keagungan dan kesempurnaan dunia ini. Hal itu dilakukan
melalui media komunikasi dan visual. Media menjadi saluran rahmat kebudayaan semu
dunia. Pertunjukan visual dan audio telah memposisikan diri sebagai sebuah
kepalsuan hidup yang dicuplik di atas panggung pertunjukkan agar para penikmat
mengantongi ilusi kehidupan melalui mereka. Media-media itu tiada henti
membordir dan membumi hanguskan kedirian manusia. Mereka menggubah citra
kesejatian menjadi citra pasaran. Akhirnya, ruang lingkup dan waktu kesejarahan
hidup manusia tiada lain adalah ruang lingkup dan waktu kesejarahan media.
Manusia menjadi contoh hidup produk-produk dunia.
Menarik, fenomena itu digerakkan oleh satu mesin, “mesin hasrat pencitraan”.
Mesin yang bekerja dan bermain dalam tataran psikis manusia. Kehasratan yang
digoda dan digelitik yaitu; hasrat karnal dan hasrat libidal. Karnal adalah
hasrat tubuh kepada segala sesuatu yang berbentuk material, harta benda,
makanan, dll. Pembentukan hasrat karnal sangat tergantung pada sifat dasar dari
obyek karnal itu (material) yang bersentuhan dengan tubuhnya. Hasrat libidal
adalah hasrat tubuh kepada sesuatu yang sifatnya imaterial, harga diri, status,
kelas, pangkat, pujian, pesona, dan segala yang berkaitan dengan hal imaterial.
Dalam proses terjadinya, hasrat libidal lebih terarah pada dirinya sendiri,
dorongan dan kepentingannya akan pemuasaan sang aku, ego (Alfathri Adlin). Kedua
hasrat itu, dua sisi mata keping uang logam, bekerjasama (dipakai dunia
pencitraan) membentuk dorongan hasrat yang terwujud dalam prilaku manusia.
“ Pendidikan keaktifan diri ”
Paparan di atas adalah sebuah panorama kekinian dunia manusia. Dimana kemanusiaan
sejati diletakan pada sebuah “kesemuaan citra” yang ditopang, digerakkan, dan
dikonstruksi oleh kapitalitisme dengan segala bentukannya. Bagaimana kita
bersikap ? Catatan kecil ini mencoba untuk meneropong dalam kacamata
pendidikan. Bagaimana pendidikan mencoba dan membantu kita untuk bersikap
terhadap dunia kiwari. Mengawali pembahasan kita, ada baik kita memulainya
dengan melihat rumusan tujuan sebuah pendidikan yang terdapat dalam UU RI tahun
1989 nomor 2. Rumusan itu mengarahkan pendidikan kepada suatu upaya proses
pembentukan kecerdasaan menyeluruh pada diri pribadi manusia Indonesia.
Bertolak dari perumusan ini, kita dapat mencari model pendidikan mana yang
sekiranya dapat membantu dan menolong pencapaian tujuan pendidikan kita.
Pendidikan haruslah menciptakan dan membentuk manusia yang mengikuti proses
pendidikan itu menjadi pribadi-pribadi yang berbudaya. Budaya harus diartikan
sebagai wujud diri yang manusiawi. Berbudaya adalah manusiawi. Pribadi yang
memiliki dimensi manusiawi. Oleh karena itu, pendidikan bukan sekedar
penciptaan pribadi yang siap dalam lapangan kerja dan yang berorientasi pada
pasar melainkan pribadi yang holistic, menyeluruh, matang, dan dewasa. Maka,
proses pendidikan menjadi sesuatu yang penting dalam pembentukan karakteristik
pribadi dan bukan berorientasi pada hasil dan prestasi semata.
Salah satu metode proses pendidikan itu adalah proses metode pendidikan yang
didasarkan pada keaktifan diri. Proses ini berpangkal pada sebuah pemahaman
mendasar bahwa mnusia adalah mahluk yang berproses, makhluk yang dinamis.
Proses yang terjadi dalam diri manusia itu yang menandai sebuah perkembangan.
Oleh sebab itu, pendidikan yang berproses merupakan sebuah usaha pendampingan
terhadap para peserta didik sebagai pribadi yang hidup. Dimana, adanya ruang
dan waktu bagi sebuah penghargaan kodrati bagi para peserta didik untuk
bersifat aktif dan kreatif berproses dalam mewujudkan dan membentuk diri.
Bahwa, proses pendidikan adalah proses perangsangan dan bimbingan perkembangan
diri. Proses ini juga memberikan keterbukaan bagi para peserta didik untuk
memproses perkembangan dirinya dalam ruang dan waktunya. Dengan kata lain,
peserta didik, dipahami, sebagai mahluk yang hidup dan aktif berinteraksi
dengan dunia sekitarnya tidak hanya untuk mempertahanan hidupnya, melainkan
juga untuk dapat “ hidup baik” dan bahkan “ hidup lebih baik” , maka peran
pendidikan formal lebih mengarahkan pada penciptaan jalan dan suasana yang
mendukung bagi proses itu. Letak para pendidik, guru, orang tua, dan masyarakat,
lebih bersifat sebaga pendamping atau pembantu daripada penentu sebuah
keberhasilan pendidikan. Hal yang substansi dan mendasar dalam kerangka proses
ini adalah aktifitas diri peserta didik dalam membentuk dan mewujudkan diri,
bahkan perkembangan intelektual yang bernilai adalah pengembangan diri.
Penutup….
Pendidikan memerlukan sebuah ruang kebebasan dan kreatifitas yang menciptakan,
mendorong, merangsang , dan memperkembangkan minat, inisiatif, dan imaginasi
kreatifnya dalam diri peserta didik. Oleh sebab itu, kebebasan merupakan
prasyarat mutlak terciptanya proses ini. Model kebebasan adalah kebebasan
disertai dengan sebuah upaya pertanggung jawaban atas apa yang telah dilakukan
dan itu, mengandaikan peserta didik dituntut memiliki sebuah reflektifitas
terus menerus atas kehidupannya. Sehingga, tujuan pendidikan memang mengarah
kepada penciptaan kebijaksanaan hidup dalam diri peserta didik, dan
satu-satunya jalan mencapainya adalah kebebasan sebagai kebebasan untuk…
Akhirnya, pendidikan merupakan sebuah proses pendidikan pewujudan nilai yang
diperoleh dari proses pergumulan diri yang penuh dinamika yang mengarahkan
pribadi menjadi pribadi yang dewasa.