Senin, 01 Oktober 2018

Kajian Islam tentang tauhid asma' wa sifat

Kajin Islam: Di dalam tauhid asma’ wa sifat, kita mengakui bahwa Allah itu bersofat dengan segala sifat kesempurnaan. Kita mengitikadkan dengan seyakin-yakinnya, bahwa Allah itu, wajib bersifat dengan segaa sifat kesempurnaan.  Allah sendiri telah sifatkan diriNya dan menamai diriNYA, dan telah disifatkan oleh RasulNYA. Sifat-sifat Allah yang Maha Esa itu, ada yang berdasarkan aqal, dan ada yang berdasarkan naqal saja, tidak dipandang mustahil oleh akal yang sehat.
Sifat Allah yang Hayat (Hidup) dan Ilmu”, dapat ditemui dalam Al-Qur’an surat  Ali Imraan ayat 1-2 dan ayat 6. Wahyu suci Al-Qur’an itu menetapkan bahwa Allah, Tuhan yangmenjadikan alam semesta ini, bersifat hidup, sebagaimana menetapkan bahwa Allah itu mempunyai sifat ilmu.
Hidup itu menurut bahasa yang disampaikan para ahli, merupakan pokok perasaan pendapat (pengertian, gerak dan subur). Pengertian yang semacam ini suci Allah dari padanya. Maka pengertian hidup terhadap Allah, ialah pokok pengetahuan (mabdaiil ‘ilmi) dan qudrat; artinya: Suatu sifat yang dapat dipahamkan, dengan adanya sifat itu dapat bersifat dengan ilmu, iradat dan qudrat. Sifat hidup yang searti-semakna ini membatalkan pendapat kaum maddiyyin yang mengatakan bahwa pokok alam ini ialah suatu illat (kebiasaan) yang bergerak dengan tabiatnya dan tidak merasai dirinya sendiri.
Para mutakallimin mengambil dalil dengan akal untuk menetapkan hidup Allah, dari 2 jalan: Pertama: Menetapkan bahwa Allah itu berkehendak, mengetahui, berkuasa. Sifat tersebut tidak bisa dipahami atau diterima akal, kecuali bagi orang-orang  yang hidup jiwa dan hatinya, atas petunjuk dan hidayah Allah. Dalil ini masuk kedalam golongan mengqiaskan yang tiada kelihatan kepada yang terlihat, atau mengqiaskan yang wajib kepada yang mungkin. Jalan Kedua: hidup itu suatu kesempurnaan wujud. Tia-tiap kesempurnaan yang tiada melazimi kekurangan yang mustahil atas yang wajib, menjadi wjib baginya.
Pengertian  wujud (ada) ini sangat mudah diterima dan ditangkap akal. Akan tetapi muncul tergambar wujud sesuatu, ada dengan nyata, kelihatan, tetapnya. Maka kesempurnaan wujud, dan kekuatannya, adalah menurut kesempurnaan pengertian ada dan kekuatannya.
Seterusnya, tiap-tiap sesuatu martabat dari martabat wujud, menghendaki dengan sendirinyasifat-sifat yang menegaskan wujudnya; yang menyempurnakan martabat wujudnya.

Wujud Allah, adalah pokok segala wujud yang mungkin. kalau demikian, wujud Allah itu, mengatasi  segala wujud. Wujud Allah menghendaki adanya  segala sifat-sifat yang berpadanan dengan wujudNYA. Dengan demikian, pastilah bahwa diantara sifat yang wajib bagiNYA, lalah sifat hayat (hidup), yaitu: sifat yang menghendaki ilmu dan iradat. Dengan kata lain: “Hidup itu, pokok kenyataan dan ketetapan”. Tegasnya, Wajibul wujud itu, hidup, walaupun hidupNYA berlainan dengan hidup segala ka-inat ini. Kata Prof TM Hasybi Ash Siddiqi dalam kitab Al-Islam. Semoga kita dapat memahaminya. In Sha Allah. Aamiin…@@@

Tidak ada komentar:

Posting Komentar