Kajin Islam: Di dalam tauhid asma’ wa sifat, kita mengakui
bahwa Allah itu bersofat dengan segala sifat kesempurnaan. Kita mengitikadkan
dengan seyakin-yakinnya, bahwa Allah itu, wajib bersifat dengan segaa sifat
kesempurnaan. Allah sendiri telah sifatkan
diriNya dan menamai diriNYA, dan telah disifatkan oleh RasulNYA. Sifat-sifat
Allah yang Maha Esa itu, ada yang berdasarkan aqal, dan ada yang berdasarkan
naqal saja, tidak dipandang mustahil oleh akal yang sehat.
Sifat Allah yang Hayat (Hidup) dan Ilmu”, dapat ditemui
dalam Al-Qur’an surat Ali Imraan ayat
1-2 dan ayat 6. Wahyu suci Al-Qur’an itu menetapkan bahwa Allah, Tuhan
yangmenjadikan alam semesta ini, bersifat hidup, sebagaimana menetapkan bahwa Allah
itu mempunyai sifat ilmu.
Hidup itu menurut bahasa yang disampaikan para ahli,
merupakan pokok perasaan pendapat (pengertian, gerak dan subur). Pengertian
yang semacam ini suci Allah dari padanya. Maka pengertian hidup terhadap Allah,
ialah pokok pengetahuan (mabdaiil ‘ilmi) dan qudrat; artinya: Suatu sifat yang
dapat dipahamkan, dengan adanya sifat itu dapat bersifat dengan ilmu, iradat
dan qudrat. Sifat hidup yang searti-semakna ini membatalkan pendapat kaum
maddiyyin yang mengatakan bahwa pokok alam ini ialah suatu illat (kebiasaan)
yang bergerak dengan tabiatnya dan tidak merasai dirinya sendiri.
Para mutakallimin mengambil dalil dengan akal untuk
menetapkan hidup Allah, dari 2 jalan: Pertama: Menetapkan bahwa Allah itu
berkehendak, mengetahui, berkuasa. Sifat tersebut tidak bisa dipahami atau
diterima akal, kecuali bagi orang-orang yang hidup jiwa dan hatinya, atas petunjuk dan
hidayah Allah. Dalil ini masuk kedalam golongan mengqiaskan yang tiada
kelihatan kepada yang terlihat, atau mengqiaskan yang wajib kepada yang
mungkin. Jalan Kedua: hidup itu suatu kesempurnaan wujud. Tia-tiap kesempurnaan
yang tiada melazimi kekurangan yang mustahil atas yang wajib, menjadi wjib
baginya.
Pengertian wujud
(ada) ini sangat mudah diterima dan ditangkap akal. Akan tetapi muncul
tergambar wujud sesuatu, ada dengan nyata, kelihatan, tetapnya. Maka
kesempurnaan wujud, dan kekuatannya, adalah menurut kesempurnaan pengertian ada
dan kekuatannya.
Seterusnya, tiap-tiap sesuatu martabat dari martabat wujud,
menghendaki dengan sendirinyasifat-sifat yang menegaskan wujudnya; yang
menyempurnakan martabat wujudnya.
Wujud Allah, adalah pokok segala wujud yang mungkin. kalau
demikian, wujud Allah itu, mengatasi
segala wujud. Wujud Allah menghendaki adanya segala sifat-sifat yang berpadanan dengan
wujudNYA. Dengan demikian, pastilah bahwa diantara sifat yang wajib bagiNYA,
lalah sifat hayat (hidup), yaitu: sifat yang menghendaki ilmu dan iradat.
Dengan kata lain: “Hidup itu, pokok kenyataan dan ketetapan”. Tegasnya, Wajibul
wujud itu, hidup, walaupun hidupNYA berlainan dengan hidup segala ka-inat ini.
Kata Prof TM Hasybi Ash Siddiqi dalam kitab Al-Islam. Semoga kita dapat
memahaminya. In Sha Allah. Aamiin…@@@
Tidak ada komentar:
Posting Komentar