Senin, 01 Oktober 2018

Kajian Islam tentang Manisnya Iman

Kajian Islam:  Tiada ungkapan syukur yang patus diucapkan, melainkan Alhamdulillah yang dijadikan modal dasar apabila seseorang ingin mendekatkan diri kepada Allah Swt. Meraih manisnya iman bukan pekerjaan sambil lalu, dan bukan pula pekerjaan yang ringan. Iman itu bukanlah kata ungkapan, bukan slogan dan bukan pula nyanyian. Iman itu bukan sekedar didiskusikan, disimposiumkan atau dimuktamarkan.  Iman itu bukan bunga-bunga bibir belaka, bukan pula sekedar tulisan canggih yang hanya   didengungkan, tanpa dimengerti apa maksud dan maknanya. Iman itu percaya kepada Allah Swt, Malaikat-malaikatnya, Rasul-rasulnya, KItab-kitabnya, Hari akhir dan percaya kepada qadar baik dan buruk. Kepercayaan semua itu, kepercayaan yang tidak ada “Syak-wasangka”, tidak ragu-ragu lagi. Kemudian iman itu menghujam ke dalam otak dan hati sanubari sesorang sehingga akhirnya menjadi seorang mukmin.
Sering diantara kita menanyakan, apa sebetulnya tanda-tanda iman itu?. Hal ini telah di jelaskan dengan tegas dalam surat Al-Anfal ayat 2. yang artinya: “Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah, maka bergetar hatinya dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, maka bertambah-tambah iman mereka. Dan kepada Allahlah mereka bertawakkal.
Yaitu orang-orang yang mendirikan shalat dan yang menafkahkan sebagian rezkinya yang diberikan Allah kepada mereka. Itulah orang-orang yang beriman dengan sebenar-benarnya. mereka akan memperoleh beberapa derajat ketinggian disisi Allah dan ampunan serta rezki atau nikmat yang mulia.
Rasulullah Saw pernah menyinggung mesalah orang yang dapat merasakan manisnya iman. Sabda beliau “Tiga perkara baran siapa yang terdapat padanya akan merasakan manisnya iman. Olehnya lebih mencintai Allah dan Rasulnya dari selainnya. Olehnya mencintai seseorang karena Allah semata, dan olehnya merasa benci untukkembali menjadi fakir setelah diselamatkan Allah sebagaimana ia merasa benci untuk dicappakkan ke dalam api”.

Manisnya iman, melaksanakan segala macam taat, sehingga iman itu betul-betul bersatu dalam diri pribadi seseorang, bersabar  dan tahan menderita dalam mencari keridhaan Allah dan Rasul serta mengutamakan keduanya atas kepentingan terhadap harta benda. Yang dimaksud, orang-orang yang memperoleh manisnya  iman tersebut “olehnya mencintai Allah dan Rasulnya melebihi cintanya kepada yang lain”, yaitu : mengerjakan apa yang diperintakan dan menjauhi apa yang dilarang, serta membenci apa yang dibenci anata keduanya”. Semoga kita senantiasa dapat memperolehnya. Aamiin….@@

Tidak ada komentar:

Posting Komentar