Kajian Islam: Tiada
ungkapan syukur yang patus diucapkan, melainkan Alhamdulillah yang dijadikan
modal dasar apabila seseorang ingin mendekatkan diri kepada Allah Swt. Meraih
manisnya iman bukan pekerjaan sambil lalu, dan bukan pula pekerjaan yang ringan.
Iman itu bukanlah kata ungkapan, bukan slogan dan bukan pula nyanyian. Iman itu
bukan sekedar didiskusikan, disimposiumkan atau dimuktamarkan. Iman itu bukan bunga-bunga bibir belaka,
bukan pula sekedar tulisan canggih yang hanya
didengungkan, tanpa dimengerti apa maksud dan maknanya. Iman itu percaya
kepada Allah Swt, Malaikat-malaikatnya, Rasul-rasulnya, KItab-kitabnya, Hari
akhir dan percaya kepada qadar baik dan buruk. Kepercayaan semua itu,
kepercayaan yang tidak ada “Syak-wasangka”, tidak ragu-ragu lagi. Kemudian iman
itu menghujam ke dalam otak dan hati sanubari sesorang sehingga akhirnya
menjadi seorang mukmin.
Sering diantara kita menanyakan, apa sebetulnya tanda-tanda
iman itu?. Hal ini telah di jelaskan dengan tegas dalam surat Al-Anfal ayat 2.
yang artinya: “Sesungguhnya orang-orang
yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah, maka bergetar
hatinya dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, maka
bertambah-tambah iman mereka. Dan kepada Allahlah mereka bertawakkal.
Yaitu orang-orang yang mendirikan shalat dan yang
menafkahkan sebagian rezkinya yang diberikan Allah kepada mereka. Itulah
orang-orang yang beriman dengan sebenar-benarnya. mereka akan memperoleh
beberapa derajat ketinggian disisi Allah dan ampunan serta rezki atau nikmat
yang mulia.
Rasulullah Saw pernah menyinggung mesalah orang yang dapat
merasakan manisnya iman. Sabda beliau “Tiga perkara baran siapa yang terdapat
padanya akan merasakan manisnya iman. Olehnya lebih mencintai Allah dan
Rasulnya dari selainnya. Olehnya mencintai seseorang karena Allah semata, dan
olehnya merasa benci untukkembali menjadi fakir setelah diselamatkan Allah
sebagaimana ia merasa benci untuk dicappakkan ke dalam api”.
Manisnya iman, melaksanakan segala macam taat, sehingga iman
itu betul-betul bersatu dalam diri pribadi seseorang, bersabar dan tahan menderita dalam mencari keridhaan
Allah dan Rasul serta mengutamakan keduanya atas kepentingan terhadap harta
benda. Yang dimaksud, orang-orang yang memperoleh manisnya iman tersebut “olehnya mencintai Allah dan
Rasulnya melebihi cintanya kepada yang lain”, yaitu : mengerjakan apa yang
diperintakan dan menjauhi apa yang dilarang, serta membenci apa yang dibenci
anata keduanya”. Semoga kita senantiasa dapat memperolehnya. Aamiin….@@
Tidak ada komentar:
Posting Komentar