Senin, 29 Juni 2015

Ulama Besar

Ulama besar 
Damaskus, ibukota Negara Suriah, gempar! Khalayak ramai disalah sebuah bahagian kota itu menjadi sangat rebut, di sana-sini riuh terdengar orang-orang membicarakan maksud kunjungan Ibrahim Pasya, yang sengaja akan menemui salah seorang alim termasyhur pada masa itu. Beliau adalah Syeh Said Alhalaby. Sebagaimana dapat disaksikan dari sejarahnya, baik sebelum maupun sesudah kurun zaman Salahuddin Al-Ayubi, orang-orang Suriah itu amatlah berani dan tangkas, lebih-lebih mereka yang berdiam di kota Damaskus. Seperti halnya mereka yang kenal akan keagungan sang Alim, begitulah mereka mengenal kezoliman Ibrahim Pasya. Akhirnya singa akan bertemu berhadap-hadapan dengan singa pula. Tetapi Syeh Said Alhalaby adalah raksasa Swacita dan sebaliknya Ibrahim Pasya adalah raksasanya Swabenda. Sudah menjadi rahasia umum, bahwa Syekh yang alim itu amat teguh berpegang pada pendiriannya yang keras serta belum pernah terpedaya oleh dunia, baik yang bersifat kedudukan dan pangkat maupun dalam bentuk lahir dan materi. Sekali-kali tiadalah beliau akan menghormati seseorang lantaran harta dan derajatnya dalam masyarakat, betapa agungnya pangkat kedudukannya, apalagi bila itu diperolehnya dengan jalan yang kotor dan tidak halal atau hasil pemerasan dari jerih payah dan peluh rakyat. Beliau mempunyai tanggapan khusus dalam soal-soal seperti itu dan nilainya dari segi-segi Iman, akalbudi, keluhuran taaqwa, kecerdasan dan kedalaman seseorang dalam ilmu pengetahuannya. Bukankah tidak jarang, bahwa beduk yang besar itu ternyata kosong di dalamnya? Umumnya telah memaklumi pula bahwa adalah suatu usaha sia-sia belaka apabila seorang hendak mencegah suatu pertengkaran dan pertentangan yang tentu akan berlangsung dalam pertemuan mereka berdua itu. Sikap yang jelas akan dipertunjukkan oleh sang Alim, ialah sikap acuh tak acuh yang sudah tentu akan membangkitkan amarah Ibrahim Pasya yang justru karena tak dapat menyerang kembali akan membalaskan dendamnya itu langsung kepada rakyat yang tak berdosa sedikitpun. Maka supaya tidak terjadi hal-hal yang tidak mereka inginkan itu, beberapa di antara para pemuka Suriah di Ibu kota Damaskus telah memerlukan datang menghadap kepada Ibrahim Pasya. Dengan berbagai alas an membujuk agar sang Pasya mau membatalkan niatnya itu. Tapi Pasya seorang yang keras kepala dan tak mudah orang akan menemuinya, sedang waktunya sudah mendesak sekali. Kemudian mereka beralih pandangan untuk menemui sang Alim saja dengan maksud hendak memohon, agar beliau suka menghindarkan sesuatu yang tidak diharapkan itu. Tapi sang Alim telah menimbulkan segan pada mereka jauh lebih daripada saratus orang raja, karena pengawal-pengawal sang Alim bukanlah budak-budak yang diupah seperti halnya pengawal-pengawal raja, tapi adalah kekuatan dan tenaga cita yang telah menjaga sang Alim itu. Karenanya segurispun tak ada rasa khawatir pada mereka akan nasib sang Alim, malah yang mereka takutkan kalau-kalau beliau akhirnya terlanjur menghajar habis-habisan si Pasya yang berakibat rakyat jadi korban kekejaman sang Pasya nantinya. Talah banyak anggaran yang telah dikeluarkan dari kas negeri buat menghiasi kota dengan panji-panji, bendera-bendera dan pintu-pintu gerbang di sepanjang jalan di kota sampai Medan hayi tempat Masjid syekh Said Al-Halaby berada. Hiasan-hiasan dan pajangan-pajangan tersebut adalah untuk menyambut hari yang bersejarah itu. Dengan dikawal oleh sejumlah besar pasukan, sang Pasya akhirnya tiba juga di depan pintu gerbang dari masjid syekh Said Al-Halaby. Oh, betapa sempit dan kecil pintu gerbang mesjid itu pada pandangan sang Pasya, seolah-olah pintu berkata padanya: Hai, lemparkanlah keduniawianmu apabila kau hendak memasuki dan melewati aku buat bertemu dengan sang alim yang mulia Syekh Said Al-Halaby dan bertawaduklah engkau di Baitullah! Bila kau merasa segan dan terus saja bersikap keras kepala dan sombong, lewat sebagai seorang besar yang dikawal dan didewa-dewakan oleh ribuan lasykar yang dibayar serta berseragam, maka alangkah baiknya bila enngkau pulang saja. Tahukah engkau siapa yang akan kau jumpai di sini? Ialah jiwa yang bertauhid dan bijaksana, warisan dan titisan para nabi dan Rasul yang mempersamakan tingkat-tingkat manusia, dan meniadakan perbedaan antara sesame mereka dan sekali-kali takkan mungkin dapat bertemu dengan sisa karat jaman jahiliyah yang berlandaskan pada kemusyrikan dan pertentangan kelas. Maka apabila sampai terjadi perjumpaan maka salah satu harus mengalami kehancurannya dan tidak pernah yang batil mengalahkan yang hak. Lama sang Pasya tertegun di ambang pintu gerbang itu, mengajuk kedalaman hatinya dan menimbang-nimbang untuk menetapkan suatu keputusan. Lama dia ragu dan terguncang hatinya: masuk atau pulang saja? Akhirnya diputuskannyalah dan ditetapkannya hatinya, dia akan masuk. Sang Pasya kini telah masuk dan tiba di dalam mesjid. Ketika itu Syekh said Al-Halaby sedang memberikan kuliah kepada para siswanya sambil duduk melonjorkan kakinya di atas hamparan tikar berisi jerami. Kadatangan sang Pasya sedikitpun tak menarik perhatiannya, bahkan beliau tidak menoleh sama sekali. Demikianlah bila dalam dada seseorang telah dipancangkan taqwa, ketakutan hanya kepada Allah semata-mata dan tiada suatupun yang akan menggetarkannya selain Allah. Mereka akan tunduk padanya dan baginya tiada suatupun yang berharga betatapun tingginya. Itulah arti daripada: Allhu Akbar! Allahu Akbar! Kalimat yang menghujam dan meresap dalam lubuk kalbunya, kalbu orang yang beriman dan bertaqwa. Dalam takbir itu terkandunglah daya mukjizat dan rahasia Ilahy. Tapi semua itu, bagi kaum Muslim ini telah menjadi semacam permainan kata yang hampa sebagai lafal-lafal mati, membeku, amat asing tak dimengerti. Allah yang Maha Besar tiadalah memerintahkan dan menyeru setiap Muslim mengucapkan Allahu Akbar sekurang-kurangnya delapanpuluh lima kali sehari semalam dan sedikitnya mendengarnya tigapuluh lima kali bergema mendengung-dengung dari tiap menara mesjid, melainkan supaya diresapkan juga, bahwa tiada sesuatu yang lebih agung, baik di muka bumi maupun di langit, selain daripada Allah. Maka barangsiapa berpihak kepadaNya, maka pastilah padanya tiada akan terdapat rasa gentar sedikitpun pada apapun. Tidak gentar pada raja, tidak gentar menghadapi mati, sakit dan derita sengsara yang betapapun hebatnya, bahkan tiada takut akan kebinasaan. Maka bertanyalah seorang murid, betapakah jika raja membunuhnya atau sakit akan membawa maut baginnya? Maka sang Alimpun menjawab: Subhaanallaah, jika benar seorang Muslim, maka tiadalah ia akan gentar menghadapi mati atau dibunuh sekalipun. Maut, sesungguhnya memang tiada ringan dan tak boleh dilecehkan, mautlah memutuskan segala nikmat dan kelezatan hidup duniawi yang jadi kegemaran terutama oleh orang-orang kafir yang gila dunia itu. Hal semacam itu tak mungkin terjadi pada diri mereka yang mendambakan kehidupan yang kekal dan abadi. Karena bagi mereka kehdupan dunia ini adalah ibarat suatu tamasya selintas yang tiap sa’at menantikan tanda bunyi untuk pindah kendaraan yang bakal mengangkutnya pulang kembali ke tempat asal, bagaikan seorang yang telah lama dalam perantauan dan dengan penuh rasa kerinduan pada keluarga yang ditinggalkannya, kembali pulang ke haribaan keluarga, handai-tolan dan para sahabat karib yang dikasihinya sepenuh hati. Dan ia menumpang satu-satunya kendaraan yang terjamin pasti akan sampai ke hadirat Ilahy. Maka tanggapan yang demikian akan melahirkan pengertian, bahwa maut adalah suatu proses kelahiran baru menuju kea lam baru pula, pri-kehidupan yang serba baru yang kekal dan abadUlama Besari melalui suatu runtunan prosesi: Mulai dari lempung tumbuh jadi zat makanan, jadi cairan mani tersimpul dalam rahim kendungan yang kemudian menetap selama Sembilan bulan lazimnya dan lalu lahir sebagai seorang bayi. Dari sejak bayi dia dipelihara hingga jadi Khalifatullah di muka bumi untuk jangka masa tertentu, hingga pada akhirnya ia pulang kembali keasalnya. Demikian prosesnya, nyawa berasal dari langit, maka ia akan kembali ke langit, menurut sabda Rasulullah: “Adalah syahid utama seorang yang dibunuh raja lantaran menegakkan hak” Tiba-tiba di tengah suasana yang demikian khususnya, sang Syekh memutuskan kuliahnya lalu melontarkan pandangan kearah sang Pasya. Kemudian ia mempersilahkan sang Pasya duduk bersama-sama yang lainnya. Dalam cara ia memandang sang Pasya, secercahpun tiada terkilas suatu pandangan yang menyorotkan suatu keistimewaan atau sinar menghamba. Sang Pasya sebelum duduk, terlebih dahulu memandang ke sekelilingnya, dengan pandangan yang mencari-cari seolah-olah ia telah kehilangan sesuatu dan memanglah ia telah kehilangan sesuatu, ialah bahwa di tempat itu tiada ditemuinya penjilat- penjilat atau penngembik-pengembik yang biasa ia jumpai di tempat-tempat lain yang dikunjunginya. Lama ia menanti-nantikan suatu sambutan yang agaknya akan diutarakan oleh murid-murid, sambutan selamat dating yang ramah dengan ucapan-ucapan manis-mesra, bongkok-membongkokkan badan dan angguk-anggukan kepala. Samasekali tiada disadarinya bahwa mereka itu telah diangkat dari lembah kerendahan itu setinggi mungkin oleh Syekh Said Al-Halaby. Bagi mereka ala mini ibarat sebuah rakit di tengah-tengah danau maha luas dan sang pasya tak lebih hanyalah seekor serangga yang dha’if dan lata. Maka siapa gerangan yang menjunjung, mengagung-agungkan seekor serangga? “Dan yang sungguh mentakjubkan, sebagai makhluk Tuhan, manusia adalah sama dengan binatang. Tapi manusia diisinya dengan gairah Malaikat dan gairah setan. Orang yang hanya menggendutkan perutnya dan hanya memikirkan cara-cara bagaimana hendak melampiaskan nafsu syahwatnya belaka, meski dengan cara-cara yang dapat dibenarkan agama, maka dia adalah makhluk yang setara dengan jenis binatang keledai yang dungu dan tunduk menurut nafsunya. Bila ia tidak lagi mau membedakan antara yang halal dan yang haram dalam segala sepak-terjangnya, maka dia kerasukan Setan atau sejenisnya dan ingin menjadi tanah. Dalam pada itu ia akan menurutkan Setan masuk neraka dimana etan dulu dilahirkan. “Tatkala orang-orang sedang menunggu buah amalannya, maka hanya sikafir sajalah ingin kembali menjadi tanah” (An-Naba: 40) Barangsiapa yang berlaku sebagai murid yang rajin dalam masa hidupnya, khusyu’ dan tekun menerima pelajaran demi kesempurnaan bekal di akhirat kelak, maka adalah dia seorang manusia. Tapi yang lebih menakjubkan, ialah seorang makhluk yang berisi malaikat. Bagaimanapun ia tersesat menjadi fasik dan dhalim, Tiadalah dibutuhkannya bantuan dari luar dirinya, maka cukuplah Malaikat itu dengan bantuan Al-Quran akan bangkit untuk mengenyahkan bayangan fatamorgana yang memperdayakannya itu dan menggantikan hakekat kebinatangannya dengan suatu pimpinan yang menuju ke jalan yang diridloi Allah, dalam hal-hal serupa ini, hati nuraninyalah yang menasehatkannya, sebagaimana kata seorang penyair: “takkan berani orang berbuat jahat bila tak didorong oleh sang niat….” Demikianlah taubat yang diterima Allah, yang disusul oleh amalan-amalan saleh dan jannah menantikannya. Tapi bila seorang pelajar bermalas-malasan dalam belajar, bila nelayan menghamparkan jala di daratan seorang pemburu menyandarkan senapannya, dan mereka lalu sama-sama berbaring terlena dibelai mimpi-mimpi, dan dalam mimpi-mimpi itu diharapkannya ijazah, ikan kakap bagi nelayan, malah yang telah matang dan dibumbui pula dengan Lombok dan kecap serta ditambah sedikit cuka dan yang terakhir minta seekor rusa yang gemuk sudah teguh terikat dan tinggal menyembelihnya saja lagi, maka mereka akan tersungkur ke jurang kesengsaraan. Seorang murid kemudian bertanya: - Adakah kiranya dapat disembuhkan kalbu membatu? Maka beliau menjawab: Tiadalah jalan atau tak mungkinlah Setan menembusi kalbu seseorang, kecuali apabila dikandungnya rasa ujub atau rasa bangga diri karena sudah merasa cukup sempurna. Maka usahakanlah agar kau senantiasa merasa belum sempurna. Ingatlah akan penyakit ketika engkau masih sehat, maut ketika engkau masih hidup. Kuburan dan rumah-rumah sakit adalah tempat-tempat yang dikunjungi oleh guru-guruku sewaktu rasa ujub dirasakan mulai mencekam mereka atau rasa puas akan diri karena selalu sehat. Lumayanlah seorang mukmin bila ia berhal selalu dalam keadaan antara cemas dan harap, tapi sebaliknya payahlah keadaannya bila ia sudah tidak lagi punya rasa takut, cemas dan harapan. Ada guru-guruku yang menyentuhkan jari-jari mereka ke nyala lilin sambil berkata: “Wahai diriku, bila karena panas nyala sebuah lilin saja sudah tak tahan, betapakah halmu kelak bila sampai dibakar api neraka?” Ingatlah selalu akan sorga dan neraka, karena apabila nafsumu merangsang dan menggelegak, maka segeralah hanguskan dia dengan apinya atau segera sirami dia dengan air sungainya. Bukankah manusia apabila tidak berakal. Dan miringlah otaknya bila ia tak beriman. Asal mulanya hanyalah setitik air mani dan berakhir sebagai bangkai yang membusuk, itulah tubuh manusia. Alangkah jernih dan warasnya budi manusia, bila selalu diingatnya akan kerendahan dirinya di hadapan Allah kelak, lebih-lebih bila ia sedang dimabuk kekuasaan atau kehormatan. Ingat dan kenanglah akan kematian namrud raja Babilon. Uhan mematikannya hanya dengan gigitan seekor nyamuk yang lata. Wahai anak-anakku, adalah tanah lempunglah asal mulamu, maka jangan lupa, bahwa kamu akan kembali padanya. Kasihan dan ibalah hati melihat sang Pasya. Ia seolah-olah terkurung dalam sebuah peti, diam dan tak dapat berkutik barang sejengkalpun. Kuliah itu didengarnya jelas dan gambling. Sungguh belum pernah dirasakan segaran sebagai yang dirasakan sa’at dia lepas dari seruan kuliah itu. Begitulah setelah selesai kuliah, menghirup udara keimanan yang sejuk dan jernih itu yang belum pernah didengar dan dinikmatinya, maka seolah-olah terlepaslah ia dari suatu tungku yang sempit yang mengepungnya, ialah tungku materi. Kini dapatlah ditembusnya alam kebebasan lepas dan luas, setelah kabut tebal tersapu bersih oleh kuliah Syekh Said Al-Halaby. Tekunlah ia mendengarkan selama pengajian, sedikitpun tak ada rasa jemunya. Kini benar-benar terasa olehnya akan kekurangan-kekurangan dirinya yang jauh di bawah para murid itu. Ia merasa sebagai seorang murid baru. Sekarang ia merasa seperti sebatang kayu yang terombang-ambing dalam gelombang samudera, dan berusaha menyelamatkan dirinya dari tempatnya tenggelam. Demikianlah filsafat sang yekh yang unggul dan diterimanya dalam hati. Kemudian, beberapa waktu sesudah itu sang Pasya mengirimkan seribu dinar dari istananya kepada sang Syekh. Maka sambil tersenyum sang Syekh menolak seraya berkata: - Katakanlah kepada tuanmu, sampaikan salamku, pesanku: “Tiadalah akan menadah tangannya seorang yang telah melonjorkan kakinya….!” (Malin Sati.) *sumber cerita dari Buku Gelora Iman, Al-Maarif. Bandung)@@@

Yaa Bunaiyya

“ANAKKU (Ya Bunayya)”
Anak adalah kunci kebahagiaan setiap pasangan suami-istri, bahkan Rasul Saw bersabda “aku cinta kepada ummatku yang banyak melahirkan anak”. Persoalan bagi kita setelah memiliki buah hati yang sangat kita harapkan, terkadang dibiarkan begitu saja artinya disini anak lahir hanya karena hawa nafsu tetapi tidak mempertanggung jawabkan keberadaan anak. Lalu sejauh mana peran sebagai orang tua dalam mendidik anak?
Lukman Al-Hakim adalah salah satu contoh teladan yang tepat dalam membina anaknya, terukir indah dalam ayat-ayat Al-Qur’an. (QS Luqmaan : 13). Perhaikan sejenak pembinaan lukman kepada anaknya. “ Hai anakkku, janganlah kamu mempersekutukan Allah”. Beliau mengungkapkan perkataan yang indah, menggunakan cara yang berpengaruh dan menyampaikan kata-kata yang masuk ke dalam hati.
Lihatlah kelembutan perkataannya kepada anaknya ketika dia memberikan pelajaran, “Ya bunayya (Wahai anak kecilku)!”. Perkataan tersebut berulang-ulang disebutkan, karena perkataan tersebut memiliki arti penting di dalam hati sang anak. Perkataan tersebut memiliki pengaruh pada diri anaknya dan sangat membantunya untuk mendengarkan pelajaran tersebut dengan baik, sehingga dia dapat benar-benar mengambil manfaat dri pelajaran tersebut. Betapa besar pengaruh suatu perkataan apabila disampaikan dengan cara yang ramah.
Apabila pelajaran disampaikan dengan tidak ramah, seperti yang dikatakan oleh seseorang ketika dia menasehati atau melarang, bagaimana mungkin  hati orang yang dinasehati akan terbuka untuk menerima penyampaian dengan cara ini yang begitu dibenci. Tidak diragukan bahwa cara penyampaian yang kurang bijak akan menutup pikiran dan menjadikannya tidak bersemangat untuk menerimanya.
Subhanallah, begitu penting rupanya bahasa yang digunakan Lukman kepada anaknya, dalam berkata saja ada rambu-rambu yang diajarkan dalam mendidik anak dengan pendidikan  yang bersumber dari petunjuk Rasul-Nya. “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu” (QS. At-Tahrim: 6). Ali bin Abi Thalib Ra ketika menafsirkan ayat ini berkata “(Maknanya): Ajarkanlah kebaikan untuk dirimu dan keluargamu”.
Syaikh Abdurrahman as-Sa’di berkata, “Memelihara diri (dari api neraka) adalah dengan mewajibkan bagi diri sendiri untuk melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya, serta bertobat dari semua perbuatan yang menyebabkan yang menyebabkan kemurkaan dan siksa-Nya. Adapun memelihara istri dan anak-anak (dari api neraka) adalah dengan mendidik dan mengajarkan kapada mereka (syariat Islam), serta memaksa mereka untuk (melaksanakan) perintah Allah. Maka seorang hamba tidak akan selamat (dari siksa neraka) kecuali dia (benar-benar) melaksanakan perintah Allah (dalam ayat ini) pada dirinya sendiri dan pada orang-orang yang dibawah kekuasaan dan tanggung jawabnya.”
Anjuran Rasul Saw bagi suami-istri sebelum bergaul membaca do’a “ Dengan menyebut nama Allah, ya Allah jauhkanlah kami dari (gangguan) setan dan jauhkanlah setan dari rezki yang Engkau anugerahkan kepada kami”.  Jika nanti Allah mentaqdirkan dari hubungan tersebut lahir seorang anak, maka setan tidak akan bisa mencelakakan anak tersebut selamanya.
Berdasarkan keterangan tersebut, jelaslah bahwa syariat Islam merupakan satu-satunya metode yang benar dalam pendidikan anak. Ini berarti bahwa hanya dengan menerapkan syariat islamlah pendidikan dan pembinaan anak akan membuahkan hasil yang baik.

Semoga nilai-nilai Islam dalam membina anak selalu menyertai kehidupan kita terutama dalam membina pelaksanaan shalat lima waktu secara berjama’ah bersama suami-isteri dan anak-anak, sehingga terjalin rasa saying dan keterbukaan. Dua moment itulah (saying dan keterbukaan) yang dapat menghantarkan anak-anak kita menuju kesuksesan dunia-akherat. Amiiin.@@@Yaa Bunayya

Beriman Kepada Allah


Dasar/Landasan :
1. Al Quran
    a. Surat An-Nisaa' ayat 136
    b. Surat Al Baqarah ayat 123
    c. Surat Al Baqarah ayat 225
    d. Sura Al Hasyar ayat 22-24
    e. Surat Al Ikhlas ayat 1-4.

2. Al Hadits
a. Akuilah olehmu wahai sufyan, jika benar2 engkau mau Islam Amantu billahi, tsummastaqim = "Saya berima kepada Allah, kemudian berlaku lurus" (HR Muslim - Taisierul Wusul 1 : 18)

b. "Manusia yang paling bahagia memperoleh safa'atku dihari qiamat, ialah: orang yang mengucapkan " LAA ILAAHA ILLALLAH" dengan sejujur-jujur hati". (HR. Muslim - Tasierul Wusul 1 : 12)

c. "Barang siapa yang mati mempersyerikatkan Allah denga sesuatu, pasti masuk keneraka, dan barangsiapa mati tiada mempersyerikatkan Allah dengan sesuatu, pasti masuk ke syurga" (HR. Muslim - Tasierul Wusul 1 :12)

Pengertian Iman akan Allah

Iman akan Allah, ialah:
1. Mengaku benar akan "adaNYA" (Allah itu ada )
2. Mengaku akan Ke-EsaanNYA, baik dalam menjadikan semua  alam makhluk, maupun dalam menerima ibadat para hamba.
3. Mengaku benar akan "SifatNYA" dengan segala sifat kesempurnaan, Maha suci dari segala sifat kekurangan dan menyerupai yang baru.

Pengakuan atau Ikrar lisan itu harus disertai dengan "makrifat".Apa itu makrifat ?
Makrifat ialah mengenal Allah seru sekalian alam. Untuk dapat mengenal Allah yaitu "dengan memperhatikan segala sesuatu ciptaanNYa yang disebut makhluk, memperhatikan berbagai macam kejadian yang terjadi di alam ini"

Sebetulnya, segala yang dijadikan Allah itu telah membuktikan bahwa Allah itu ada. Untuk memakrifati Allah  manusia diberikan akal dan fikiran. Jadi Akal dan fikiran itu sebagai alat untuk mengenal/memakrifati Allah Zat yang Maha Suci; Zat yang tidak bersekutu.

Dengan makrifat seperti itu  akan tumbuh rasa "Cinta", "Takut" dan "Harap". Dengan makrifat itu akan tumbuh Khudu' dan Khusu' di dalam jiwa seseorang.  Dalam sebuah syair berbunyi: "Permulaan kewajban manusia ialah mengenal Allah dengan keyakinan yang penuh teguh"

Oleh karenanya  yang harus diketahui dari makrifat itu ialah: Mengenali sifat-sifat Allah dan nama-nama Allah (Asmaul Husna), Mengetahui Dzat Allah (hakekat Dzat NYA), untuk mengenal dzat Allah ini bukan dengan akal dan fikiran tapi dengan hati dan keyakinan yang mendalam.

Menurut Prof TM Hasybi Assidiqqy yang dikutib dari tausiah Abul Baqaa Al Ukbary, beliau berkata: Islam itu dua martabatnya:

1. Dibawah iman, yaitu : Mengaku dengan lidah (megikrarkan dengan lisan), walaupun hati tiada mengakui. Dan (tetapi) dengan akuan lidah itu mka terpeliharalah darahnya.

2. Diatas iman, yaitu: Mengaku dengan lidah, mempercayai dengan hati dan mengerjakan dengan perbuatan anggota badan. Menurut Abul Baqaa Al Ukbary ada empat unsur yang dapat merekat keyakinan  seseorang hamba itu. yaitu ISLAM, IMAN, MAKRIFAT, dan TAUHID. Apabila keempat unsur itu bersatu maka tegaklah agama dalam diri orang tersebut.

Semoga kita senantiasa mendapat taufiq dan hidayah dari Allah dalam menempuh jalanNYA yang lurus. Aamiin......

Fungsi Kenabian


Di dalam Al Quran Surat Al Ahzab aya 45-46 dijelaskan" Wahai nabi (Muhammad saw) sesungguhnya Kami mengutusmu kepada seluruh ummat manusia agar menjalankan fungsi ketauladanan (Syaahidan) memberikan berita gembira (Mubassyiran), memberikan peringatan ( Nadziran), mengajak kembali kepada (agama) Allah dengan izinNya dan menjadi pelita penerang". Dari keterangan kedua ayat di atas sudah terlihat bahwa ada 5 fungsi kenabian yaitu: 1. Syaahidan 
2. Mubasysyiran 3. Nadziran. 4. Faaiyan ilallah 5. Siroojan Munira. Fungsi kenabian pada hakekatnya berkaitan dengan persoalan yang sangat mendasar yakni bagai mana mengubah perilaku manusia yang jahiliyah (kafir) menjadi perilaku yang beriman dan ber- adab (Akhlakul Karimah). Inilah tugas semua nabi dan rasul mengajak manusia untuk meninggikan kalimat Tauhid Laa Illaaha Illallah (tidak ada Tuhan yang berhak diibadahi selain Allah. Keyakinan terhadap makna Kalimat Tauhid ini mampu membebaskan manusia dari keterbelakangan, perbudakan, kebodohan dan kemiskinan. Kalimat ini mampu menghantarkan manusia kepada kemerde- kaan yang se-benar2nya. Tidak hanya kemerdekaan politik tapi kemerdekaan dalam berbagai aspek kehidupan, merdeka dalam bidang sosial kemsyarakatan, merdeka dalam bidang ekonomi dan buda- ya. Karena seorang muslim tidak boleh tergantung kepada makhluk, seorang muslim hanya boleh bergantung kepada Allah Swt semata. Untuk selanjutnya mari kita lihat 5 fungsi kenabian tsb.sbb: 

1. Fungsi Ketauladanan (Syaahidan) 

 Manusia pada dasarnya diciptakan dengan sebaik baik ciptaan. Artinya ada dua unsur pokok yang membangun struktur ciptaan manusia, yaitu unsur Ruh dan unsur jasmani. Unsur ruh bersumber dari Allah yang maha suci, dimana unsur ini lebih cenderung kepada.kesucian (malaikat). Manusia pada dasarnya memiliki kecenderungan kepada kebaikan dan kebenaran (Al.Haq). Tapi sebaliknya dalam diri manusia itu ada juga unsur tanah yang menopang jasmano yang bersi- fat fisik dan duniawi. Unsur nafsu duniawi yang berlebihan memiliki memiliki kecenderungan merusak dan jahat (As-Syaithan). Unsur malaikat dan syaithan dalam diri manusia berbanding seimbang 50%-50%. Artinya ketika manusia dilahirkan dapat menjadi jahat maupun menjadi baik tergantung dari lingkungan yang mempengaruhinya.
Dalam sebuah sabda Rasulullah saw disebutkan bahwa Setiap manusia dilahirkan dalam keadaan fitrah. maka kedua orang tuanya lah (lingkungan)  yang menyebabkan dia menjadi Yahudi, Nasrani maupun Majusi. Manusia itu adalah makhluk  yang sangat mudah beradaptasi, termasuk beradaptasi dengan kondisi dan situasi yang baik. Oleh karena itu Rasulullah saw sebagai Nabi telah mencontohkan dalam kehidupan sehari-hari beliau mulai dari tidur, banguan, makan, minum, bekeluarga, bekerja dan berinteraksi dengan sesama dan makhluk yang lain, sebagai uswatum hasanah.

2. Fungsi Memberi Motivasi

Rasulullah saw adalah seorang motivator yang ulung. Salah satu contoh : Seorang sahabat datang kepada beliau, lalu berkata:
-"Yaa Rasulullah, saya ingin menganut Islam, tapi saya masih berjudi, masih berzina dan masih minum minuman keras yang memabukkan"
+ Rasululllah menjawab : "Silahkan duduk !"kamu saya diterima sebagai seorang muslim dengan syarat kamu harus shalat berjamaah bersama saya lima kali dalam sehari semalam. Bagaimana, kamu siap ?
- "Siap" ya  rasulullah...
Kemudian Rasulullah menjabat tangan orang itu seraya mengajarkan dua kalimah syahadat untuk berikrar dalam keislaman, kemudian orang itu pergi,
Beberapa bulan kemudian dia datang lagi menemui Rasulullah seraya menyampaikan bahwa dia sudah tidak lagi berjudi, berzina dan mabuk-mabukan. Lalu Rasulullah saw bertanya, "sekarang apa maumu dan rencanamu kedepan ? Orang itu berkata bahwa dia akan hidup seperti kehidupan Rasulullah, tidak berjudi, berzina dan mabuk mabukan lagi. Lantas turunlah ayat surat Al-Ankabuut ayat 45.

3. Fungsi Memberi Peringatan (Nadziiran)

Jika kita membaca Al Quran  Surat Ali Imran ayat 104 maka kita akan paham bahwa ada dua hal penting yang menjadi perhatian kita Pertama: Amar Makruf, dan yang Kedua: Nahi Mungkar.
Untuk mengajak orang mengerjakan kebaikan2 dan manfaat2 yang berguna bagi kemanusiaan, pada dasarnya tidak ada resiko dan akibat yang membahayakan setiap orang sebagai pemberi peringatan.
Begitu pula sebaliknya mencegah orang berbuat yang mungkar, disini perlu ada sebuah kekuasaan, dimana ada sedikit unsur paksaan. Sebab mencegah kemungkaran tidak bisa dilakukan apabila tidak memiliki kekuatan sama sekali.
Rasulullah bersabda; "Barangsiapa dianatara kalian melihat kemungkaran, maka hendaklah ia mengubahnya dengan kekuasaan yang ada di tangannya".
Jadi perintah mengubah kejahatan dan kemungkaran menjadi kebaikan dan kemanfaatan, ujung tombaknya terarah pertama kali kepada sipemilik kekuasaan, pemerintah atau negara. Setelah itu baru diteruskan oleh para Ulama, muballigh, intelektual, penulis atau sipemilik lidah kebenaran.
Jadi disinilah letaknya berbagai kebijakan yang harus diambil oleh setiap pemilik kekuasaan tersebut mempunyai fungsi. Jika tidak anjuran2 yang ada itu hanya sebatas diketahui saja, tanpa ditindak lanjuti oleh sipemilik kekuasaan. Jadi ringkasnya fungsi Nadziran pada dasrnya paling efektif dijalankan oleh negara atau pemerintah. Dalam hal ini negara yang berdasarkan hukum. Pemerintah yang berkewajiban menjalankan fungsi kenabian yakni penegak hukum akan menjalankan hukum kepada siapa saja tanpa pandang bulu. Bahkan Sabda Rasulullah: "Seandainya Fatimah anak Muhammad yang mencuri akan aku potong tangannya"

4. Fungsi Mengajak Kembali Kepada Anjuran Agama (Daaiyan Ilallah)

Perubahan yang dikehendaki oleh Islam, bukan perubahan tanpa agama. Sebab perubahan tanpa dibimbing oleh nilai-nilai agama Islam adalah perubahan yang kacau dan menuju kepada kehancuran. Reformasi yang digagas tanpa nilai Islam tidaklah akan berarti apa apa. Kesejahteraan yang dibangun sebaiknya berangkat dari ketaqwaan, keimanan, keyakinan yang kuat terhadap agama. Agama itu adalah ajaran yang berlandaskan Tauhid. Negara berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa, keduanya mempunyai makna yang sama yaitu keimanan dan tauhid kepada Allah Swt.

5. Fungsi Mencerdaskan Manusia (Sirojan Muniira)

Arti kata "Sirojan Moiniira" yaitu pelita menerangi. Para ulama sepakat bahwa yang dimaksud dengan sirojan muniira itu adalah ilmu pengetahuan. Ilmu itu adalah cahaya yang menerangi kehidupan, memudahkan hidup dan mengangkat derajat manusia. Seorang nabi diutus untuk mencerdaskan kehidupan masyarakat.
Ilmu adalah cahaya Allah yang dapat memudahkan kehidupan manusia, sehingga ada sabda Rasulullah, "Tuntutlah ilmu itu walaupun ke negeri China". Belajar itu adalah kewijaban setiap Muslim dan Muslimat. Belajarlah mulai dari ayunan hungga ke liang lahat, dst.
Jika kita ingin mengubah suatu masyarakat menjadi bangsa yang cerdas maka majukanlah ilmu, bangunlah sarana belajar.
Untuk mewujudkan cita-cita memajukan ilmu dan belajar, ada 3 komponen penting yang dapat menghantarkan sebuah pendidikan menjadi bermutu.
1. Para pengajar/guru/pendidik yang berkualitas, punya komitmen terhadap pendidikan.
2. Lembaga2 Pendidikan yang mempunyai subsatansi yang memadai seperti: pendidik, peserta didik, sarana & prasarana, kurikulum & silaby, Anggaran dsb.
3. Pemerintah sebagai penanggung jawab pendidikan secara nasional.

Jika kelima fungsi kenabian ini dijalankan insyaallah, bangsa ini akan cerdas, maju dan berkah. Semoga, Aamiin..

Sumber Bacaan : Bulletin Jumat Edisi: 595, Masjid Agung Al-Azhar Kebayoran Jakarta.