Kajian Islam Tentang Amal & Pembalasan

*)  “Maha Suci Allah Swt yang telah menjadikan makhluk tanpa percuma”
Firman Allah dalam Al-Quran:
1.       Surat Ad-Dukhaan (S.44) ayat 39.
2.       Surat Al-Mukminun (S.23) ayat 116.
Apabila kita memperhatikan ayat-ayat suci Al-Quran ini, maka dapatlah kita mengambil kesimpulan, bahwa Allah itu suci dalam menjadikan manusia tanpa percuma. Allah itu suci dan tidak memperdulikan segala perbuatan mereka, dan suci dari menjadikan mereka dengan tidak mengandung hikmat. Tegasnya Allah itu suci dari membiarkan mereke bertidak sesuka hati dikala hidup didunia ini. Allah telah memeberi manusia akal dan fikiran untuk memahami mana yang benar dan mana yang salah. Didalam diri manusia itu telah ditanamkan dua sifat yaitu sifat baik (sifat taqwa) dan sifat buruk (sifat fujur), dan  di akherat nanti Allah Swt akan menghisab amal perbuatan manusia selama mereka hidup di dunia.
Ayat-ayat ini menyatakan, bahwa manusia akan menerima permbalasan terhadap segala perbuatan dan usahanya.
Menerima pembalasan dihari akhirat itu, dikehendaki benar akan terjadi. Allah Yang Maha Hakim, yang menjadikan langit dan bumi dan segala antara keduanya serta segala isinya, akan mengadakan hisab setelah hidup di dunia. Di dalam hidup yang kedua di akherat akan ditegakkan neraca-neraca keadilan untuk mengambil hak silemah dari sikuat yang telah berbuat jahat kepada silemah selama hidup didunia.
Hikmat mengatakan bahwa Allah Swt mengadakan hidup yag kedua di akherat untuk memperhatikan keadila Ilahi. Agar keadilan itu jelas senyata-nyatanya. Pada saat itu akan bertukar keadaan dengan sejelas-jelasnya. Ketika itu silemah yang benar akan menjadi kuat, sikuat yang salah akan menjadi lemah. Sikuat yang salah itu tidak dapat lagi mempertahankan dengan kekuatan apapun; karena pada hari itu tak berguna lagi senjata-senjata cangggih yang ada di dunia dan begitu pula siasat dan politik yang lazim di pakai di dunia.
Dengan demikian itulah yang dikehendaki hikmat ketuhanan, apabila manusia beriman dengan benar kepada Allah Swt, Tuhan yang Maha Kuasa, Maha Bijaksana, Maha Adil, adalah lazim hal yang demikian. Apabila kita berkeyakinan teguh dan beriman, maka sesudah selesai hidup di dunia yang telah dilalui, akan dihadapi pahala dan siksa, dan juga syurga atau neraka. Dalam masa itu akan terlihat dengan jelas dan nyata  antara orang-orang yang taat dan orang-orang yang maksiat; disana akan jelas terlihat antara orang-orang yang berbuat baik dan ikhas karena Allah denga orang-orang-orang yang berbuat sesuatu karena selain Allah. Semoga kita senantiasa dalam lindunganNya. Amin ya Rabbal Alamin..**)
**)  Pembalasan yang Haq (Benar ) suatu kenyataan keadilan dari Allah Swt
Firman Allah dalam Al-Quran: Surat Shaad (S.38) ayat 28. Menegaskan bahwa sifat adil Allah,menghendaki supayaAllah akan mengisab manusia dan meletakkan masing-masing mereka sesuai dengan amal dan perbuatan manusia semasa hidupnya didunia.
Oleh karena itu, pembalasan yang haq, yang setimpal dengan usaha masing-masing. Hal ini sesuai dengan suatu kenyataan dari kenyataan nama-nama Allah Swt.
Di dalam ayat ini Allah menolak secara terang-terangan pendapat sebagian orang, yaitu yang ber- pendapat bahwa Allah Swt membolehkan memasukkan orang mentaatiNya kedalam neraka, walaupun seorang Rasul dan membolehkan Allah memasukkan orang yang durhaka kedalam syurga, walaupun ia seorang pemimpin kafir. Hal ini dapat dilihat dalam Al-Quran Surat Al-Qalam (S.68) ayat 35-36. Begitu juga dalam Surat Al-Anbiya (S.21) ayat 7.
Ayat ini menolak paham mereka yang membolehkan Allah menghukum terhadap orang yang taat dan memasukkan ke syurga orang-orang yang bebuat maksiat.
***) Pembalasan terhadap Iman dan Amal
Pembalasan yang didapati seseorang di alam akherat, adalah pembalasan terhadap iman (kepercayaan yangbenar dan teguh) dan amal (perbuatan yang dikerjakan anggota lahir sebagai hasil dari usaha yang bathin). Seseorang yanag hanya mengaku membenarkan dengan hati, namun tidak beramal atau beramal tapi tidak beriman, tidaklah akan mendapat hasil yang baik diakherat kelak. Hal ini dapat kita perhatikan firman Allah dalam Al-Quran Surat An-Nahal (S.16) ayat 97 dan Surat Al Kahfi (S.18) ayat 30.
Kebanyakan manusia mencukupkan diri hanya dengan nama iman; mencukupkan saja dengan tanda-tanda Agama. Mereka sangka, bahwa Allah akan mengisapkan mereka dengan melihat kepada nama-nama saja, bukan melihat kepada hakekat nama itu sendiri. Mereka berfikir, kalau mereka sudah dinamai mukmin (sudah dipandang mukmin oloeh warga masyarakatnya), tidak mengapa lagi mereka mengerjakan pekerjaan yang mungkar seberapapun ang mereka kehendaki, tidak usah lagi mereka taat dan bertobat, mereka beranaggapan bahwa nama mukmin sudah dianggap cukup menjadi jaminan untuk masuk kedalam syurga.
Banyak nian mereka yang mendakwahkan diri ummat Muhammad dan mengaku dirinya ummatan wasatan, magaku diri khaira ummatin (ummat yang harmonis, ummat yang sangat baik), yang telah dikemukakan ke tengah-tengah masyarakat dunia, mengatakan bahwa Allah sangat luas rahmatNYA dan mengatakan bahwa manusia tidak boleh ber[putus asa dari rahmat Allah.
Semua itu mereka katakan dengan maksud yang tidak sesuai dengan arti kata-kata itu sendiri. Sesungguhnya perkataan itu tidak melepaskan mereka dari azab Allah yang sangat pedih. Perhatikanlah Al-Quran Surat An Nisaa (S.4) ayat 125.
****) Syurga itu hanya dapat dimasuki bagi orang yang beriman dan beramal.
Apabila diperhatikan kandungan Al-Quran, maka kita akan menemukan suatu kempiulan, yaitu: Allah menjadikan syurga kepada mukmin yang beramal shaleh. Hal ini dapat diperhatikan dalam Al-Quran Surat Muhammad (S.47) ayat 12. Ayat ini cukup tegas menjelaskan bahwa, Iman dan amal shaleh berkait-kaitan, tidak terpisah sama sekali. Allah tidak menjadikan yang demikian pada aqidah saja atau pada amal saja. Islam tetap mempersatukan antara amal bathin dan amal lahir.
Sungguh banyak ayat-ayat Al-Quran yang menjelaskan hal demikian begitu juga tentang perlunya kita beramal. Jadi syurga Allah itu tdaklah akan diperoleh tanpa ada amal. Orang yang mengaku beriman akan Allah, tetapi durhaka kepadaNYA dan terus-menerus berdurhaka, tentulah orang itu tiada memperdulikan Allah dengan tiada menghargai azabNya, sekurang-kurangnya tiada yakin akan tertimpa zab itu atas dirinya. Untuk mempertegas hal ini, perhatikanlah ayat Al-Quran Surat An-Nahl (S.16) ayat 32 dan Surat Al-Araaf (S.7) ayat 4dimasuki bagi orang yang beriman dan beramal.
Apabila diperhatikan kandungan Al-Quran, maka kita akan menemukan suatu kempiulan, yaitu: Allah menjadikan syurga kepada mukmin yang beramal shaleh. Hal ini dapat diperhatikan dalam Al-Quran Surat Muhammad (S.47) ayat 12. Ayat ini cukup tegas menjelaskan bahwa, Iman dan amal shaleh berkait-kaitan, tidak terpisah sama sekali. Allah tidak menjadikan yang demikian pada aqidah saja atau pada amal saja. Islam tetap mempersatukan antara amal bathin dan amal lahir.
Sungguh banyak ayat-ayat Al-Quran yang menjelaskan hal demikian begitu juga tentang perlunya kita beramal. Jadi syurga Allah itu tdaklah akan diperoleh tanpa ada amal. Orang yang mengaku beriman akan Allah, tetapi durhaka kepadaNYA dan terus-menerus berdurhaka, tentulah orang itu tiada memperdulikan Allah dengan tiada menghargai azabNya, sekurang-kurangnya tiada yakin akan tertimpa zab itu atas dirinya. Untuk mempertegas hal ini, perhatikanlah ayat Al-Quran Surat An-Nahl (S.16) ayat 32 dan Surat Al-Araaf (S.7) ayat 43. Dari sini jelas bahwa, Syurga itu hanya dimasuki oleh mereka yang telah membeli kupon dengan amal shaleh.
Kemudian ada juga hadits yang mengisyaratkan bahwa bukan amal yang memasukkan manusia itu ke dalam syurga.
Kata Nabi Saw:
1.       “Tuntutlah kebenaran, berdekat-dekatanlah kamu, gembirakanlah saudara-saudaramu, karena seseorang itu tidak dimasukkan kedalam syurga oleh amalnya”
2.       “Tidak dimasukkan seseorang kamu oleh amalnya kedalam syurga dan tidak dilepaskan oleh amalannya dari api neraka, melinkan masuk kedalam syurga dan terlepas dari api neraka dengan rahmat Allah” (Da’wuturrusul).
Jadi dengan demikian, dapat dipahami bahwa: Amal yang memasukkan kita kesyurga, amal yang mendapat rahmat, yakni amal yang dikabul. Sebagai penutup dari penjelasan ini, maka dapat diperhatikan Al-Quran Surat Ar Rahman (S.55) ayat 60.
Semoga kita selalu berada dalam rdho dan rahmat Allah Swt. Aamiin……

Sumber: (1.) Prof TM Hasbi AshShiddieqy dalam kitab Al-Islam. (2) Catatan Kulaih Tauhid dari berbagai ceramah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar