Kamis, 21 Februari 2019

Kajian Islam Ttg: "Bertengkar yang dilarang"

Kata "bertengkar" dalam bahasa melayu dapat dipahamkan dengan kata "berkesumat". Berkesumat (bertengkar) yang dilarang, ialah: "bertengkar atau tuduh-menuduh dengan cara yang tidak sopan, dengan mengeras-ngeraskan suara, tidak menjaga peradaban dan kesopanan, sehingga tuduhan menjadi sahut-menyahut dalam perang mulut, untuk memperoleh suatu maksud, berupa benda atau lainnya".
Bertengkar dengan memakai kata=kata yang tidak atau kurang sopan, kata-kata yang menyakitkan hati, merendahkan lawan, sungguh amat buruk dan tercela. Karena yang demikian itu menghidupkan api kemarahan yang menyebabkan nyala demdam dan membawa kepada permusuhan. Hal yang demiian akan mengganggu ketentraman perasaan dan menghilangkan kelurusan hatiu.
Karena itu syara' (agama) melarang orang berkesumat, menuduh dengan cara yang tidak sopan itu.
Dan hendaklah kita senantiasa memakai cara yang halus-indah, tutur kata yang baik-menarik, sikap yang tidak menyakitkan hati atau menyentuh perasaan, walau sekalipun dalam kita mempertahankan hak-milik atau kebenaran.
Kata hukama: " Tiada saya dapati sesuatu yang sangat menghilangkan Agama, sangat menguragkan muru'ah, sangat menyia-nyiakan kelezatan dan keindahan dan sangat mengacau-balaukan hati, selain dari berkesumat (bertengkar).
Kata Ali bin Abi Thali ra "Bahwasanya pada pertengkaran-pertengkaran itu, terdapat berbagai-bagai kebinasaan".
Semoga kita selalu terhindar dari ber4kesumat atau bertengkar itu. In Sha Allah.  Aamiin.

Kajian Islam Ttg: "Pengertian Menistai dan mengeluarkan kata-kata keji"

Kata "Menistai" akhir-akhir ini begitu populer ditelinga kita. Oleh karena itu arti dan makna menistai yang benar adalah sebagaimana yang pernah di sampaikan oleh para ulama yaitu: "Menistai dan memaki", ialah: mencarut-carut orang dan mengeluarkan kata-kata keji, ialah mengeluarkan tutur kata yang keji dan menyalahi kesopanan atau menyebut urusan-urusan yang dipandang keji dengan perkataan-perkataan yang terang dan jelas, walaupun benar"
Jadi, hendaklah seseorang muslim memakai kata-kata kinayat (sindiran) diwaktu menerangkan urusan-urusan yang dipandang keji. Dan hendaklah ia menerangkan dengan memakai ibarat-ibarat yang indah-indah yang dapat dipahamkan maksudnya, terkecuali apabila keadaan berhajat dan meminta kepada bertashrieh, berterus terang.
Perlu ditegaskan bahwa memaki orang yang telah mati dilarang keras oleh agama.
Kata Nabi Shalallahu 'alaihi wassallam:
1. "Laa tasubbul amwata fi innahum qad afdlau ila' ma qadimu" artinya: "jangan kamu memakiorang yang telah mati, karena mereka telah pergi kembali ketempat meraka datang" (H.R. Al Bukhary)
2. "Laa tasubbul amwata fa tu'dzu bihil ahyaa": "jangan kamu maki orang yang telah mati, karena dengan demikian kamu menyakiti orang yang masih hidup" (Al Mughnie 'an hamlil asfar 3 : 122)

Rabu, 20 Februari 2019

Kajian Islam Ttg: "Tanda-tanda Islam dan Iman yang benar"

Sessungguhnya, Islam itu mempunyai beberapa tanda dan imanpun demikian. Bukanlah semua orang yang mengaku dirinya Islam, benar Islam; dan bukanlah pula semua orang yang mukmin (yang mengaku dirinya mukmin), benar beriman.
Diantara manusia ada yang berkata: bahwa mereka beriman; sebenarnya mereka amat jauh dari iman. Demikian firman Allah dalam surat Al Baqarah.
a. Muslim yang sebenarnya, ialah: Mereka yang tidak mengganggu manusia dengan tangannya atau lidahnya.
b. Muslim yang sebenarnya, ialah: Mereka yang menyerahkan diri keoada Allah; senantiasa memperhatikan perintah (suruhan) dan juga larangan.
c. Muslim yang sebenarnya, ialah: Orang yang tiada meengahkan kewajibannya, tiada sekali-kali mau mendekati barang yang terlarag; senantiasa ia menyeru kepada ebajikan dan senantiasa ia berusaha mencari rezeki dijalan yang halal dan sela;u memberi manfaat kepada sesama manusia sebatas kemampuannya.
Inilah bagab dari tanda-tanda orang Islam; dan Islam yang beginilah yang dikehendaki Allah dengan froamNYA: "Bahwasanya Agama yang diridhoi Allah, hanyalah Islam".
Adapun orang mukmin itu, ialah: Orang yang apabila dibacakan Al Qur'an, mengalir air matanya, gemetar tubuh dan rohaniya, bertambah-tambah imannya, mendirikan shalat, menafkahkan harta dijalan Allah dan menyerahkan diri kepada Allah.
Mereka yang demikianlah yang dikatakan mukmin yang sebenarnya.
Mukmin yang sebenarnya amat mempercayai firman Allah yang ada di dalam Al Qur'an, sedikitpun mereka tiada ragu; senantiasa bermujahadah dengan jiwa (diri) dan harta dijalan menolong Agama (syariat) dan meneggakkan kebenaran.
Mukmin yang sebebarnya , ialah : orang yang tiada suka memperkatakan barang yang bathil, tiada mau menghabiskan waktu dalam pekerjaan yang tidak berguna; memelihara janji; memegah amanah, tiada mau kehormatannya disentuh oleh bukan orang yang berhak; menjaga shalat.
Mukmin yang sebenarnya, ialah: orang yang amat meredhai akan hukum-hukum Allah dan RasulNYA, sedikitpun tiada merasa keberatan jika menerima keputusan yang ditetapkan oleh Allah dan NabiNYAZ.
Mukmin yang sebenarnya, ialah: Orang yang percayaakan yata-ayat Allah, tunduk bersujud apabila Ayat-ayat Al Qur'an dibacakan; mereka selalu mensucikan Allah; mereka sedikitpun tidak sombong dan membesarkan diri. mereka selalu berdo'a, menyeru Allah karena takut dan rindunya kepada kemurahan Allah dan mereka dengan mudah serta suka mengeluarkan harta dimana ada erlu untuk menegakkan kebenaran.
Demikian sebagian dari tanda-tanda beriman yang diterangkan Allah dalam Al Qur'an.
Semoga kita senantiada berada dalam Islam dan Iman yang demikian itu. In Sha Allah,  Aamiin....

Kajian Islam Ttg "Manusia Dihari Pembalasan"

Apabila diperhatikan maksud ayat-ayat Al Qur'an, tentang manusia dihari pembalasan, maka nyatalah bagi kita bahwa manusia dihari itu bertingkat-tingkat; masing-masing memperoleh kedudukan yang tertentu.
Dalam kesempatan ini, ada 2 (dua) surat dalam Al Qur'an  yang akan disampaikan, yaitu:

Pertama . Terdapat di dalam Surat Ibrahim (14) ayat 42-52.  ayat 42 berbunyi: " Dan jangan engkau mengira, bahwa Allah lengah dari apa yang diperbuat oleh orang-orang zalim. Sesungguhnya Allah manangguhkan mereka sampai hari pada waktu itu mata (mereka) terbelalak".  ayat 43: " mereka datang tergesa-gesa (memenuhi pangilan) dengan mengangkat kepalanya, sedang mata mereka tidak berkedip-kedip dan hati mereka kosong". Ayat 44: "Dan berikanlah peringatan (Muhammad) kepada manusia pada hari (ketika) azab datang kepada mereka, mereka orang zalim berkata: "Ya Tuhan kami, berilah kami kesempatan (kembali keduania) walaupun sebentar, niscaya kami akan mematuhi seruan Engkau dan akan mengikuti rasul-rasul" (Kepada mereka dikatakan), "Bukankah dahulu (didunia) kamu telah bersumpah bahwa sekali-kali kamu tidak akan binasa ?". ayat 45: "dan kamu telah tinggal di tempat orag yang menzalimi diri sendiri, dan telah nyata bagimu bagaimana Kami telah berbuat terhadap mereka dan telah Kami berikan kepadamu beberapa perumpamaan". ayat 46: "Dan sungguh, mereka telah membuat tipu daya padahal Allah (mengetahui dan akan membalas) tipu daya mereka. Dan sesungguhnya tipu daya mereka tidak mampu melenyapkan gunung-gunung". (Catt: Ayat-ayat  (syariat) Allah yang kukuh seperti gunung). ayat 47: "Maka karena itu jangan sekali-kali kamu mengira bvahwa Allah mengingkari janji-Nya keada rasul-rasul-Nya. Sungguh, Allah Mahaperkasa dan mempunyai pembalasan". ayat 48: "(Yaitu) pada hari (ketika) bumi diganti dengan bumi yang lain dan (demikian pula) langit, dan mereka (manusia) berkumpul (di padang Mahsyar) menghadap Allah Yang Maha Esa, Mahaperkasa". ayat 49: "Dan pada hari itu engkau akan melihat orang yang berdosa bersama-sama diikat dengan belenggu". ayat 50: "Pakaian mereka dari citan aspal, dan wajah mereka ditutup oleh api neraka". ayat 51: " agar Allah memberi balasan kepada setiap orang terhadap apa yang dia usahakan. Sungguh, Allah Maha cepat perhitungan-Nya". ayat 52: "Dan (Al Qur'an) ini adalah penjelasan (yang sempurna) bagi manusia, agar mereka diberi peringatan dengannya, agar mereka  mengetahui bahwa Dia adalah Tuhan Yang Maha Esa dan agar orang yang berakal mengambil pelajaran".

Kedua: Terdapat dalam Surat Al Qamar (S.54) ayat 8, berbunyi: "dengan patuh mereka segera datang kepada penyeru itu. Orang-orang kafir berkata, "Inilah hari yang sulit". Dalam ayat 46 disebutkan:"Bahkan hari kiamat itulah hari yang dijanjikan kepada mereka dan hari Kiamat itu lebih dahsyat dan lebih pahit" Ayat 47: "Sungguh orang-orang yang berdosa berada dalam kesesatan ( di dunia) dan akan berada dalam neraka ( di akhirat). ayat 48: "Pada hari mereka diseret ke neraka pada wajahnya (Diatakan kepada mereka), "Rasakanlan sentuhan api neraka".
Semoga kita terhindar dari padanya, In Sha Allah. Aamiin....

Kamis, 14 Februari 2019

Kajian Islam "Sekilas Tentang Jalan Ikhtiraa dan Jalan Inayat"

Jalan Ikhtiraa', ialah : menetapkan bahwa alam ini baru; ada, sesudah diadakan. Tia-tiap yang baru, tentulah dengan sendirinya , berhajat kepada yang mengadakannya (menjadikannya). Jika kita perhatikan tumbuh-tumbuhan, misalnya, maka akan didapati bahwa tumbuh-tumbuhan itu ada, sesudah tak ada. Dan sesudah ada, kembali pula kepada tak ada. Maka demikianlah keadaannya, tentulah wujudnya, tak mungkin dari zatnya sendiri.
Sebenarnya, paham bahwa alam ini, baru; ada sesudah diadakan oleh yang wajib ada, memang suatu tabi'at (kebiasaan) atau suatu watak yang telah tercipta dalam fitrah manusia. Akal tidak akan menerima ada sesuatu, dengan tidak ada yang mengadakan. Maka sangat jelaslah bahwa alam ini dijadikan, dan jelas pula bagi kita bahwa memang ada yang menjadikannya; DIAlah ALLAH yang wajibul-wujud.
Apabila kita perhatikan benda-benda yang beku, maka kita mendapatinya: berdiri, hidup, maju berangsur-angsur mencapai kesempurnaan. Maka akal kita tiada menerima, bahwa benda-benda itu sendiri yang mengadakan hidupnya. Kalau demikian, mau tak mau, kita harus mempercayainya, bahwa ada ada yang mengadakan hidup pada benda-benda itu. Yang mangadakan hidup padanya, itulah yang menjadikannya, yaitu Allah Swt. Hal ini dapat di lihat dalam Al Qur'an Surat Al Baqarah (S.2) ayat 164: 

Penjelasan tentang Jalan Inayat, untuk menetapkan ada Tuhan, kita perhatikan "inayat" atau perhatian dan perindahan yang sangat besar yang didapati/ditemui manusia. Jika manusia memperhatikan keadaa alam, nayatalah bahwa alam ini dipermudah Allah untuk manusia; dipermudah untuk dapat tunduk untuk manusia. bersesuaian dengan wujud manusia dan wujud segala yang maujud ini. Kalau demiian, tentulah ada yang mengadakan sebab-musabab yang mewujudkan demikian. Bukan manusia sendiri yang menarik perhatian itu kepadanya. manhusia diberi Allah pendengaran, penglihatan, pembicaraan, akal dan pendapat, maka mustahil sekali tabiat sendiri atau yang dikatakan natuur (alami) sendiri tidak mempunyainya.
Maka jika alam tidak mempunyai, betapa ia dapat memberikan kepada selainnya. Kesimpulannya, ada yang menjadikan alam, yang sangat mendengar, sangat melihat, sangat berbicara memberikan perintah, mengeluarkan larangan dan sangat bijaksana yang melimpahkan kepada manusia pancaindera dan alat-alat pendapatnya.  Hal ini dapat dilihat dalam Al Qur'an Surat An-Nahl (16) ayat 70
Ini, semua membuktikan "ada Tuhan" yaitu "ALLAH" yang menjadikan kita dan semesta alam ini.
Untuk memperjelasnya, dapat kita lihat di dalam Al Qur'an Surat Al-Hajj (S.22) ayat 66: "Dan Dialah yang menghidupkan kamu, kemudian mematikan kamu, kemudian menghidupkan kamu kembali (pada hari kebangkitan). Sungguh, manusia itu sangat kufur nikmat".
Allah Sang Maha Pencipta memudahkan kita  mengambil manfaat dari alam ini. Allah mengajari dan menunjuki kita bagaimana caranya menumbuhkan tumbuh-tumbuhan, supaya kita bisa dengan mudah sesuai dengan kemauan kita. Allah memudahkan laut buat kita, sehingga dapat dilayari. karena dapat dilayari, di ajarkan kita membuat kapal, mempelajari Undang-undang Sumber Daya Air. Allah memberikan kemudahan bagi kita untuk menundukkan sungai-sungai dan Danau-danau, waduk serta rawa-rawa.  Dari dalam laut itu kita dapat mengambil berbagai hasilnya berupa ikan, mutiara, minyak bumi, gas dll. Allah memudahkan  isi bumi ini untuk kita. Allah memudahkan muka bumi ini buat kita untuk bersawah-berladang, bercocok tanam, Hutan dan rimba raya dimudahkan buat kita untuk belajar menghahayati berbagai macam tanam untuk obat, dan juga berbagai macam jenis binatang. Allah memudahkan kita untuk menguasai udara dan alam raya (langit) dan mempelajari Undang-Undang Udara serta tabiat (kebiasaan) alam langit, mengambil petunjuk dari bitang-bintang dengan ilmu Astronomi, Meteorologi, Geo Fisika dst2 Semua ketentuan dan Undang-Undang itu tunduk dibawah kekuasaan dan kehendak Allah sendiri.
Seluruh ayat Al Qur'an yang mengenai soal ini, adalah sebagai penegak dalil Ikhtiraa dan Inayat.
Demikian sekilas, Semoga kita paham berkat hidayahNYA. Aamiin.....

Selasa, 12 Februari 2019

Kajian Islam ttg " Tujuan akhir dari Ilmu Tauhid"

Secara umum, tujuan akhir dari ilmu tauhid adalah: "melaksanakan sesuatu kawajiban (fardlu) yang ditetapkan (di-ijma'kan) wajib kita menyempurnakannya", diantaranya yaitu: 1. Meyakini adaNYA Allah beserta sifat-sifatNYA yang wajib padaNYA dan mensucikan Allah dari segala sifat-sifat yang mustahil bagiNYA. 2. Meyakini dasar-dasar membenarkan Rasul.
Kedua-dua keyakinan ini, dengan mendalami Ilmu Tauhid, maka akan dapat diperoleh dari ilmu Tauhid ini yaitu keyakinan-keyakinan yang berdasarkan dalil.
Seorang ulama tauhid mengatakan bahwa: "Rahasia yang terkandung dalam ilmu tauhid, ialah: dapat menguatkan dan meneguhkan kepercayaan kepada adaNYA Allah dan kepada sifat-sitaNYA. Ulama tersebut berkata: "tahqiequl imaani billahi ta'aala": Ai jazmul qalbi bi wujudi hi wamaa yatba'uhu min shifaati hi". Artinya: mengeuhkan iktikad bahwa Allah itu ada dan meneguh itikad terhadap sifat-sifatNYA". Hal ini terdapat dalam kitab Dalaa-ilut Tauhid.
Jalan (thariqat) yang diutamakan Al Qur'an untuk menetapkan "wujudullah"(wujud Allah), menurut Ibnu Rusjd dalam kitab Al Manaahij: " Jalan (hariqat) yang diperingatkan (dititik beratkan) Al Qur'anul'aziez dan menyerukan kita memperhatikannya, apabila diperiksa dengan teliti, satu demi satu Ayat-ayat Al Qur'an  diperhatikan dan ditadabburkan, nyatalah, bahwa jalan-jaan itu terhimpun dalam  2 (dua) bahagian.
1. jalan melihat (memperhatikan) penciptaan segala rupa jauhar yang maujud, seperti: Penciptaan  hidup pada benda-benda yang beku.
2. Jalan memperhatikan perhatian dan perindahan Allah kepada manusia dan menjadikan segala makhluk yang maujud untuk kepentingan manusia itu sendiri.
Jalan pertama ini di sebut (dinamai) : "Jalan ikhtiraa", dan kedua di namai : "Jalan Inayat".
Jalan ikhtiraa', termasuk kedalamnya wujud bnatang, wujud tumbuh-tumbuhan, wujud langit dsb. Jalan ini ditegakkan atas dua dasar (pokok) yang didapati bil quwwah dalam segala asal kejadian manusia.
Dasar pertama, ialah : keadaan segala maujud ini, mukhtara' (diciptakan). Allah sendiri telah menegaskan demikian dalam firmanNYA: silahkan  dilihat Surat Al Hajj (S.33) ayat 73. Di dalam ayat ini di tegaskan bahwa: " Wahai manusia ! Telah dibuat suatu perumpamaan. Maka degarkanlah! Sesungguhnya segala yang kamu seru selain Allah tidak dapat menciptakan seekor lalatpun, walaupun mereka bersatu untuk menciptakannya. ....dst"

Dasar kedua, ialah : keadaan tiap-tiap[ yang diikhtiraa'kan, mempunyai mukhtarinya (penciptanya).

Dari dua dasar (pokok) ini hasilah natijah bahwa : "Maujud ini mempunyai fa'il mukhtari (pembuat yang mencitakan)
Mengingat ini wajib  atas orang yang ingin mengetahui (mema'rifati) Allah dengan sesempurnanya, mengetahui jauhar benda-benda, supaya dapat ia mengetahui penciptaan yang hakiki itu. Inilah yang diisyarakatkan Allah dengan FirmanNYA yang terdapat dalam Al Qur'an Surat Al A'raf (S.7) ayat 185, yang artinya: "Dan apakah mereka tidak memperhatikan kerajaan langit dan bumi dan segala apa yang diciptakan Allah, ...dst"

Jalan Inayat: Agama (syara') bermaksud dari kita mengetahui alam, ialah mengetahui bahwa alam itu dibuat oleh Allah (dijadikan) dan bahwa alam itu tiadalah terjadi sendiri dengan cara kebetulan dan bukan pula dari dirinya sendiri.
Jalan inayat ini, sebenarnya jalan yang diakui oleh semua manusia, jalan yang tidak berliku-liku.
Manusia apabila menyelidiki benda-benda yang mhsus, lalu dilihatnya telah diletakkan atas bentuk yang tertentu, kadar yang tertentu, letakan yang tertentu, sesuai dengan keadaan-keadaanya itu dengan manfaat yang dimaksudkan daripadanya dan ghayah yang dikehendaki daripadanya, dengan arti apabila tidak demikian dilakukan itu,  disusunkan, tiadalah terdapat manfaat yang dimaksudkan itu, yakinlah ia bahwa benda tersebut ada yang menjadikan menurut kelakuan dan keadaannya itu.

Selanjutnya barangsiapa mempelajari dan mensiasati hikmat-hikmat segala rupa yang maujud, yakni: mengetahui sebab-sebab yang karenanya itu dijadikan dan apa tujuan kesudahan dari dijadikannya, mudahlah baginya mengetahui atau meyakini jalan inayat Allah dengan sangat sempurna.
Jalan inayat ini, didirikan atas 2 (dua) dasar, yang kedua-dua dasarnya diakui bersama, yaitu:
Pertama, alam ini  dengan segala isinya didapati dengan cara yang bersesuaian (harmoni/selaras-seimbang) bagi wujud insan (manusia) dan bagi wujud segala yang maujud.
Kedua, segala yang didapati bersesuaian dalam segala sukunya untuk suatu perbuatan, dan ditujukan untuk satu tujuan , tentulah dengan sendirinya mengesankan bahwa ia itu mashnu' (dijadikan) dan ada yang manjdikannya.
Dari kedua dasar ini hasillah natijah dengan sendirinya, bahwa, alam ini dijadikan dan bahwa ada Tuhan yang menjadikan
Kesimpulannya, petunjuk yang menunjuk kepada adanya shaani" (yang manjadikan) tersimpan dalam 2 (dua) jenis dalil, yaitu : dalil ikhtiraa' dan dalil inayat. Kedua-dua jalan ini di jadikan pegangan oleh para khawwas dan oleh para auwwam. Cuma berbeda tentang cara mempergunakan dan tingkat pemahamannya.@  Demikian, semoga kita paham akan apa yang disampaikan ini, In Sha Allah....Aamiin......#