Gelora Iman

Kisah Ustad Ttg "Gelora Iman 2"

Pada suatu ketika, ustad Abdullah Said berkisah tentang gelora iman, mari kita telusuri kisah tersebut !
Malam telah larut. Kesunyian meliputi seluruh kota sampai ke pelosok-pelosok yang terpencil. Kesibukan yang tampak sehari-hari di waktu siang, pada malam ini telah berakhir. Samarkanda memang sebuah Negara yang kaya dan makmur, namun kesemuanya itu tiadalah terlihat tanda-tandanya dalam kota tempat berlangsungnya kisah ini. Kota ini seolah-olah tenang tenteram beradu dalam pangkuan ibu malam. Para pemilik kedai yang berderet di tepi-tepi jalan, lama sudah pada menutup pintu-pintu kedainya masing-masing dan memadamkan lampu-lampu di dalamnya, untuk menghemat minyak. Jadi seluruh kota seakan-akan ditelah oleh kegelapan malam.
Hanya dalam sebuah rumah masih terlihat ada nyala yang memancar, dari kejauhan tampak bagaikan sebuah bintang yang berkedipan. Tiba-tiba pintu rumah itu terbuka, dan muncullah seorang pemuda yang tegap perawakannya. Dengan langkah-langkah yang pasti pemuda itu menuruni jenjang rumah, lalu melangkah menembus dan menyusuri kegelapan. Sungguh tangkas gerak-langkahnya, mengingatkan kita pada langkah seorang perwira dari sebuah pasukan perang yang sedang menuju ke gelanggang pawai.
Di depan sebuah istana yang indah dan megah, sejenak dia tertegun, dan sambil menekurkan kepala seakan mengheningkan cipta, pemuda itu mengenangkan nasibnya yang malang, yang telah melanda hidupnya sejak beberapa tahun yang lalu, ketika mulai runtuhnya kejayaan Negara yang telah jatuh ke bawah kekuasaan tentara Muslimin pimpinan Qutaibah. Kini ia berdiri di depan istana yang menjadi lambang kejatuhan negaranya itu, istana yang telah direbut oleh kaum Muslimin dan sekarang merupakan   goresan  yang  mencoreng  pada  kening  bangsanya, Goresan ketaklukan yang sungguh memalukan. Pandangannya berapi-api penuh sorotan kebencian dan dengki, semangat patriotismenya merangsang dan berkobar-kobar dalam dadanya, dan sekiranya sorotan yang hebat yang memancar dari pandangannya dapat membakar, maka akan hangus dan musnahlah istana yang berdiri dihadapannya itu, runtuh menjadi tumpukan abu.
Tetapi kemudian ia melanjutkan langkahnya, malah dipercepatnya, rupanya ada satu hal akan dilakukannya atau suatu janji hendak dipenuhinya. Kian jauh ia berjalan kian cepatlah langkahnya, seolah-olah ia sedang berlomba dengan waktu. Kini kota telah tertinggal dibelakangnya. Untuk menyingkat jalan, ia melintas sebuah hutan. Betapa gelap dan betapa banyak bahaya yang mungkin ditemuinya dalam hutan tersebut, tetapi semua itu sedikitpun tak dihiraukannya. Tentu ada sesuatu tugas yang maha penting yang akan dilaksanakannya, dan disamping itu memang seorang bekas perwira yang tak gentar menghadapi bahaya apapun.
Akhirnya sampailah ia pada sebuah batu besar yang terletak di depan sebuah kuil dan iapun lalu berhenti. Sungguhpun sudah diketahuinya tanda-tanda untuk mengetuk pintu, namun seketika itu timbul rasa cemas dalam hatinya. Perasaan takut tiba-tiba saja muncul dalam hatinya, entah apa yang menyebabkannya, ia sendiripun mulanya tak dapat memahaminya. Bukankah ia dulu seorang perwira yang gagah berani?  Mengapa dia tiba-tiba jadi takut dan gentar ketika berdiri di depan kuil ini?  tak  lain sebabnya ialah karena adalah perbedaan besar antara sebuah kuil dan medan perang. Di medan perang ia menghadapi lawan-lawan yang nyata dapat dilihatnya, tapi dalam sebuah kuil berkuasalah tenaga-tenaga gaib yang tak dapat ditembusi oleh pandangan mata, kegaiban yang  tak  mungkin  dapat  ditaklukkan  oleh  keberanian  yang bagaimanapun hebatnya, yang kini membayang dalam pikirannya. Itulah sebabnya lama ia tertegun bimbang dan segan untuk memasuki ambang pintu itu.
Mereka yang biasa lalu lalang memasuki pintu itu, umumnya adalah orang-orang tua beruban yang berjalan terseok-seok yang tidak banyak jumlahnya dan yang dulu telah digembleng dalam latihan-latihan kependitaan dalam asrama-asrama tertentu dan yang setelah lulus mereka tidak lagi diperkenankan kembali ke masyarakat biasa. Terhadap mereka itu amat besarlah rasa kagum bercampur kasih dan simpatinya, perasaan yang kemudian membentuk keagungan mereka pada pandangannya. Baginya mereka itulah manusia-manusia yang patut disegani dan harus dijunjung tinggi, hingga tidak ada keberaniannya kini untuk mengetuk pintu kuil itu, yang mungkin akan menimbulkan hingar-bingar yang dapat memecahkan suasana kudus tempat itu, sungguhpun sudah direncanakan sejak lama sebelum kedatangannya.
Lama juga ia berdiri dalam gelap sambil menanti-nanti, apabila kemudian dilihatnya muncul seorang yang berperawakan tinggi besar dengan janggut putih lebat pada dagunya. Begitu tiba-tiba munculnya seolah-olah ia timbul dari tanah. Mulanya ia merasa takut, tapi setelah didengharnya orang itu berseru memanggil namanya, tahulah ia, bahwa orang itu adalah penjaga kuil. Ia diajak masuk bersama-sama, kemudian mereka berjalan memasuki kuil.
Hatinya berdebar ketika melewati sebuah lorong yang panjang berliku-liku yang diterangi oleh kendil-kendil tembaga yang berukir. Nyala kendil-kendil itu kebiru-biruan, menari menjilat-jilat dan memantulkan bayangan-bayangan yang aneh pada dinding-dinding sekitarnya. Pada sela-sela dinding itu, terpancanglah patung-patung yang tetap membisu.
Bila angin bertiup kencang, maka dari sela-sela kuil itu akan menggemalah suara-suara yang mirip dengan suara burung-burung hantu. Dan patung-patung dalam sela-sela dinding itu dengan mata mereka yang berkilau kemerahan bagaikan hantu-hantu yang sungguh mengerikan dan menegakkan segenap bulu roma.
Jauh sudah, mereka berdua berjalan melalui keseraman-keseraman itu, akhirnya sampailah pada yang dituju dan bertemu dengan para pendeta yang berkata padanya dengan suara bernada rendah dan lembut penuh mengandung kemesraan. Banyaklah yang didengarnya dari para pendeta itu, kisah-kisah tentang kejayaan Negara ini, sebelum terlanda penyerbuan kaum Muslimin. Kaum Muslimin telah menyerbu ke dalam negeri bagaikan badai yang mengamuk dahsyat. Kehebatannya tak pernah dikenal sepanjang sejarah, demikian kata pendeta itu, itulah malapetaka besar  yang telah menimpanya, suatu bencana yang seolah-olah ditiupkan dari langit dan merayap di permukaan tanah, bencana yang bagaikan menguap-nguap dari perut bumi, hingga terpaksa seluruh angkatan perang menjadi lumpuh tak berdaya menghadapinya dan akhirnya menyerah kalah.
Sekarang kedamaian telah sirna di mana-mana! Kata pendeta itu selanjutnya. Ketentraman telah direnggutkan dari negeri ini. Mereka melancarkan siasat setan untuk menghancurkan rakyat, merusak segala-gala, memecah persatuan antara bangsa kita, merobek-robek kepercayaan kita, memikat para pemuda supaya membuang agama nenek-moyangnya dan menukar dengan agama yang asing yang dibawa mereka. Meruntuhkan akhlak pemuda-pemuda itu. Sedianya kami tak dapat lagi menahan perkosaan dan penghinaan ini, tapi telah sampai suatu kabar kepada kami bahwa di Damaskus  terjadi  penggantian  raja.    Raja  mereka  yang  lama telah meninggal dunia dan sekarang raja baru telah dinobatkan. Adapun raja yang baru ini kabarnya amat adil dan bijaksana. Maka satu-satunya jalan yang terbaik adalah mengirim utusan kepadanya yang akan membentangkan segala hal yang patut diutarakan kepada raja itu untuk menuntut kemerdekaan. Menurut hemat kami, engkaulah yang sepatutnya menjadi utusan  yang kami maksud itu, engkau seorang pemuda yang tangkas, cerdik lagi fasih berbasaha Arab. Akhirnya pendeta berkata: setujukah engkau untuk menjadi utusan itu? Telah kami putuskan untuk menetapkan engkau sebagai utusan itu, harapan kami janganlah engkau menolaknya. Dan akhirnya penunjukkan itu diterimanya.
Betapa bangga ia oleh tugasnya yang baru itu. Egera ditinggalkannya kuil, langsung kembali ke rumahnya. Ketika melangkah serasa ringanlah dirinya, bagaikan melayang tinggi di atas permukaan bumi. Hutan rimba yang gelap gulita yang dilewatinya pada pandangannya seolah-olah terang-benderang bertabur cahaya gemerlapan. Iada terhingga besar dan nikmat yang dirasakannya dalam hati-kecilnya, setelah menerima tugas yang agung dan mulia yang dipercayakan oleh para pendeta kepadanya tadi. Baginya hal itu merupakan suatu kehormatan yang tiada ternilai. Demikian besar hantinya telah dibikinnya hingga mau rasanya ia ditugaskan untuk mengenyahkan kaum Muslimin dari negerinya, supaya kemerdekaan itu tidak diperolehnya sebagai karunia raja, tapi direbutnya dengan tangannya. Perasaan bangga itu telah melambungkan angan-angannya, hingga ia melupakan, betapa besar perbedaan antara kekuatan Samarkanda yang lemah bagaikan sebuah kolam kecil dengan kehebatan kaum Muslimin yang besar bagai samudera. Sekali ombak menggulung, maka karamlah kolam kecil  itu,  hilang lenyap tak berbekas.
Demikian akhirnya ia melawat memenuhi tugasnya. Dalam perjalanan selama berminggu-minggu itu, beberapa Negeri sudah dilewatinya dan selama itu tiada sebuahpun panji-panji yang tampak melainkan panji-panji kaum Muslimin. Kalifahnya bertolak dari Samarkanda lewat Buchara, menyinggahi Balach, menuju Hiraat, menyusuri Kaspia, Mausil, Halab dan akhirnya sampai ke Damaskus, sebuah tempat di mana kejayaan dan keadilan sama merata. Semua yang dilihatnya, ternyata lebih indah dan menakjubkan dari Samarkanda dan semua berada di bawah naungan kekuasaan sang Khalifah. Dusun-dusun yang telah melahirkan pahlawan-pahlawan Islam, agama yang tersebar luas hingga hampir ke seluruh penjuru alam, berkat gemblengan Muhammad SAW.
Setiap kali ia sampai pada suatu wilayah, sang pemuda itu jadi bertambah kagum keseganannya timbullah untuk menghadap Khalifah. Demikian hatinya terombang-ambing antara takut dan berani. Berbulan-bulan selama dalam perjalanan itu, ia termenung-menung memikirkan apa yang hendak dilakukannya, hingga tiada disadarinya bahwa akhirnya sampai juga ia pada tujuannya: DAMASKUS! Pekikan penunjuk jalan yang lantang itu telah mengejutkannya.

Inilah Damaskus! Lihatlah pintu gerbangnya, inilah pusat dunia. (Malin Sati )

Tidak ada komentar:

Posting Komentar