Minggu, 30 Desember 2018

Kajian Tauhid

Beriman Kepada Allah

Dasar/Landasan :
1. Al Quran
    a. Surat An-Nisaa' ayat 136
    b. Surat Al Baqarah ayat 123
    c. Surat Al Baqarah ayat 225
    d. Sura Al Hasyar ayat 22-24
    e. Surat Al Ikhlas ayat 1-4.

2. Al Hadits
a. Akuilah olehmu wahai sufyan, jika benar2 engkau mau Islam Amantu billahi, tsummastaqim = "Saya berima kepada Allah, kemudian berlaku lurus" (HR Muslim - Taisierul Wusul 1 : 18)

b. "Manusia yang paling bahagia memperoleh safa'atku dihari qiamat, ialah: orang yang mengucapkan " LAA ILAAHA ILLALLAH" dengan sejujur-jujur hati". (HR. Muslim - Tasierul Wusul 1 : 12)

c. "Barang siapa yang mati mempersyerikatkan Allah denga sesuatu, pasti masuk keneraka, dan barangsiapa mati tiada mempersyerikatkan Allah dengan sesuatu, pasti masuk ke syurga" (HR. Muslim - Tasierul Wusul 1 :12)

Pengertian Iman akan Allah

Iman akan Allah, ialah:
1. Mengaku benar akan "adaNYA" (Allah itu ada )
2. Mengaku akan Ke-EsaanNYA, baik dalam menjadikan semua  alam makhluk, maupun dalam menerima ibadat para hamba.
3. Mengaku benar akan "SifatNYA" dengan segala sifat kesempurnaan, Maha suci dari segala sifat kekurangan dan menyerupai yang baru.

Pengakuan atau Ikrar lisan itu harus disertai dengan "makrifat".Apa itu makrifat ?
Makrifat ialah mengenal Allah seru sekalian alam. Untuk dapat mengenal Allah yaitu "dengan memperhatikan segala sesuatu ciptaanNYa yang disebut makhluk, memperhatikan berbagai macam kejadian yang terjadi di alam ini"

Sebetulnya, segala yang dijadikan Allah itu telah membuktikan bahwa Allah itu ada. Untuk memakrifati Allah  manusia diberikan akal dan fikiran. Jadi Akal dan fikiran itu sebagai alat untuk mengenal/memakrifati Allah Zat yang Maha Suci; Zat yang tidak bersekutu.

Dengan makrifat seperti itu  akan tumbuh rasa "Cinta", "Takut" dan "Harap". Dengan makrifat itu akan tumbuh Khudu' dan Khusyu' di dalam jiwa seseorang.  Dalam sebuah syair berbunyi: "Permulaan kewajban manusia ialah mengenal Allah dengan keyakinan yang penuh teguh"

Oleh karenanya  yang harus diketahui dari makrifat itu ialah: Mengenali sifat-sifat Allah dan nama-nama Allah (Asmaul Husna), Mengetahui Dzat Allah (hakekat Dzat NYA), untuk mengenal dzat Allah ini bukan dengan akal dan fikiran tapi dengan hati dan keyakinan yang mendalam.

Menurut Prof TM Hasybi Assidiqqy yang dikutib dari tausiah Abul Baqaa Al Ukbary, beliau berkata: Islam itu dua martabatnya:

1. Dibawah iman, yaitu : Mengaku dengan lidah (megikrarkan dengan lisan), walaupun hati tiada mengakui. Dan (tetapi) dengan akuan lidah itu mka terpeliharalah darahnya.

2. Diatas iman, yaitu: Mengaku dengan lidah, mempercayai dengan hati dan mengerjakan dengan perbuatan anggota badan. Menurut Abul Baqaa Al Ukbary ada empat unsur yang dapat merekat keyakinan  seseorang hamba itu. yaitu ISLAM, IMAN, MAKRIFAT, dan TAUHID. Apabila keempat unsur itu bersatu maka tegaklah agama dalam diri orang tersebut.

Semoga kita senantiasa mendapat taufiq dan hidayah dari Allah dalam menempuh jalanNYA yang lurus. Aamiin......




Sabtu, 29 Desember 2018

Kajian Islam tentang "Makna Shalat, Rupa, Hakikat dan Jiwa"

Shalat secara bahasa berati Do'a, atau keberkatan. Adapun pengertiannya yang dimaksud syara' dalam perkataan " dirikan olehmu akan shalat", ialah: "Menghadapkan hati (jiwa) kepada Allah, hadap yang mendatangkan takut akan Allah dan menumbuhkan rasa kebesaran dan kekuasaan Allah dalam jiwa seseorang".
Dengan ibarat yang lain boleh juga dikatakan begini: Shalat itu, ialah: 'Menghadirkan hajat dan keperluan kita kepada Allah yang kita sembah, kita puji dan sanjung, dengan beberapa perbuatan dan beberapa perkataan yang dilaksanakan Rasul kaifiyatnya atau tata tertibnya".Dengan ta'rif ini nayatalah hakikat dari shalat yang kita kerjakan itu.
Adapun jiwanya (ruhush Shalah), ialah: "menghadapkan jiwa kepada Allah dengan sepenuh kemauan; dengan segala khusyu' dan chudu'; denganikhlas yang penuh; baik dikala mengucapkan dzikir maupun dikala berdo'a ataupun diketika memuji".
Tegasnya, shalat itu menghadapkan jiwa (mendhahirkan hajat) kepada Allah dengan khusyu' dan chudu', ikhlas dan yakin dengan beberapa pekerjaan dan perkataan yang telah ditentukan oleh syara' (Agama) sendiri.
Biasanya para guru kita apabila memberikan ta'rief (definisi) shalat berkata: "Shalat itu , beberapa perkataan dan beberapa perbuatan yang dimulai dengan takbir, disudahi dengan salam. Ta'rief yang diberikan para guru ini, sebenarnya (kata Prof TM Hasybi Ash Siddiqy) "hanya mengenai rupa shalat saja", tidak menegaskan hakikat dan jiwa shalat. Oleh karena ta'rief shalat mereka berikan demiian, tidak terasa oleh mereka, masyarakat beranggapan bahwa apabiola seseorang telah melukiskan gambaran shalat dengan lisan dan anggotanya, maka tertunailah kewajibannya. Sekiranya mereka insafi hakikat da jiwa dari shalat itu, tentulah akan terasa benar olehnya bahwa shalat itu tidak dihukum menjadi shalat yang diperintahkan, apabila didalamnya dilaksanakan dengn khusyu' dan khudu' serta ikhlas hati.
Ta'rief yang melengkapi rupa yang lahir dan hakikatnya:
"Ta'rief yang melengkapi rupa dan hakikat shalat, ialah: Berhadap hati (jiwa) kepada Allah, hadap yang mendatangkan takut, menumbuhkan rasa kebesaranNYA dan kekuasaanNYA dengan sepenuh khusyu' dan ikhlas didalam beberapa perkataan dan perbuatan yang dimulai dengan TAKBIR dan disudahi dengan SALAM.
Inlah satu faktor yang perlu diperhatikan masyarakat agar dalam mendirikan shalat kita nanti dapat terhindar dari sifat keji dan mungkar sebagaimana yang di jelaskan dalam al-qur'an .Demikian.
Semoga kita dapat memenuhinya, Insya Allah....Aamin.....@

Kajian Islam tentang "Dasar Al Qur'an dan Al Hadits perihal "Mendirikan shalat"

Firman Allah dalam ayat-ayat Al Qur'an :
1. Surat 6. (Al An'aam) ayat 92. :"...Orang-orang yang beriman kepada (kehidupan) akhirat tentu beriman kepadanya (Al Qur'an), dan mereka selalu memelihara shalatnya"
2. Surat 29 (Al "ankabut ayat 45: "...sesungguhnya shalat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar. Dan (ketahuilah) mengingat Allah (shalat) itu lebih besar (keutamaannya dari badah yang lain). Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan".
3. Surat 2 (Al Baqarah) ayat 238: "Peliharalah semua shalat dan shalat wusta dan laksanakanlah (shalat) karena Allah dengan khusyuk".
4. Surat 4 (An Nisaa') ayat 103 : "Selanjutnya, aabila kamu telah menyelesaikan shalat (mu), ingatlah Allah ketika kamu berdiri, pada waktu duduk dan ketika berbaring. Kemudian, apabila kamu telah merasa aman , maka laksanakanlah shalat itu (sebagaimana biasa). Sesungguhnya shalat itu kewajiban yang ditentukan waktunya atas orag-orang yang beriman"
5. Surat 11 (Hud) ayat 114: "Dan melaksanakan shalatpada kedua ujung siang (pagi dan sore) dan pada bagian permulaan malam. Perbuatan-perbuatan baik itu menghapus kesalahan-kesalahan. Itulah peringatan bagi orang-orang yang selalu mengingat (Allah)"
6. Surat 74 (Al Muddattsir) ayat 43: ""Mereka menjawab, "Dahulu kami tidak termasuk orang-orang yang melaksakan shalat"
Hadits-hadits Nabi Saw:
1. "Saya memerintahkan kamu mengerjakan empat perkara dan saya melarang kamu melakukan empat perkara pula: Saya memeritahkan kamu beriman akan Allah ? Beriman akan Alah, ialah : mengaku tak ada tuhan yang sebenarnya berhak disembah, melainkan Allah dan bahwasanya Muhammad itu pesuruh Allah, dan mendirikan shalat , mengeluarkan zakat, mengerjakan uasa dan memberi kepada kepala negara (imam besar) seperlima dari harta rampasan yang kamu memperolehnya." ( HR. Bukhary)
2. "Antara seseorang dengan kufur,ialah meninggalkan shalat" (HR Ahmad/Muslim.
3. "Shalat lima, Jum'at ke Jum'at menjadi pe3nutup dosa (yang kecil) yang terjadi antaranya, selama tidak dikerjakan dosa-dosa besar" (HR Muslim/Turmudzy)
4. "Betapakah pendapatmu sekiranya sebuah sungai mengalir dimuka pintu rumah seseorang kamu, maka mandi ia disungai, sehari lima kali. Tinggalkah daki di badannya? Menjawab para sahabat: tidak ya Rasulullah. Besabda Nabi selanjutnya: Demikianlah perumpamaan shalat lima waktu (seperti mandi lima kali sehari). Alah menghapuskan dengan dia segala kesalahan" (HR. Bukhary-Muslim)
5. "Datang berganti-ganti kepadamu malaikat malam dan malaikat siang. Mereka berkumpul (bertemu) pada waktu Shubuh dan waktu Ashar. Pada waktu shubuh itu naiklah segala malaikat yang telah mengawasimu. kepada para mal;aikat itu Allah bertanya: (padahal Allah sebenarnya lebih mengetahui tentang keadaan diri hambaNya) Betapakah kamu tinggalkan hamba-hambaKU ?. Para menjawab: Kami tinggalkan mereka sedang shalat (shalat shubuh) dan kamai datangi mereka sedang shalat juga (shalat Ashar) HR. Bukhary-Muslim.
6. "Permulaan amal yang dihisabkan untuk seseorang hamba dihari kiamat, ialah shlanya. Jika shalatnya itu baik, maka baiklah segala amalan yang lain. Dan jika shalat itu rusak, binasalah segala amalannya yang lain". HR Ath Thabaraany.
Semoga apa yang disampaikan ini dapat menjadi pedoman bagi kita untuk senantiasa mendirikan shalat. Inya Allah...Aamiin....@