Sifat Ikhtiar (memilih, mengerjakan dengan kesukaannya sendiri).
Di dalam Al-Qur'an Surat Al-Qashas (S.28) ayat 68 di sebutkan bahwa: "Dan Tuhanmu menciptakan apa yang Dia kehendaki dan memilih-Nya.(menurut ikhtiarNYA). Sekali-kali tidak ada pilihan bagi mereka (Tidak ada bagi mereka itu hak memilih). Maha Suci Allah dan Maha Tinggi dari apa yang mereka persukutukan (dengan Dia).
Ayat ini menerangkan kepada kita bahwa Allah itu bersifat ikhtiar: Mengerjakan sesuatu menurut ikhtiarNYA; menurut pilihanNya, tidak terganggu dan tidak pula karena terpaksa.
Sebenarnya, apabila telah kita tetapkan bahwa Allah itu bersifat HAYAT, sesudah ILMU, Qudrat dan Iradat, dengan sendirinya sifat ikhtiar ini wajib dipunyai Allah. Jika ditelusuri arti dari ikhtiar yaitu: menerbitkan sesuatu bekasan dengan dasar qodrat sesuai dengan kehendak ilmu dan menurut hukum iradat. Jelasnya Allah itulah Faa'il Mukhtar (yang menciptakan lagi memilih sendiri apa yang diciptakan), tidak ada sesuatu perbuatan Allah yang diciptakan dengan semata-mata ada karenanya.
Olehkarena itu tegas dikatakan bahwa ikhtiar itu bukan usaha, bukan kerja, hanya mengerjakan sesuatu karena kesukaan sendiri untuk mengerjakannya; bukan karena dorongan pihak lain.
Jadi, apabila dikatakan: manusia mempunyai ikhtiar, janganlah diartikan mempunyai usaha, tetapi artikanlah bahwa "Mempunyai hak memilih antara mengerjakan dengan tidak mengerjakan, mempunyai hak mengerjakan dengan kemauan sendiri : Fal juta'ammal !
Terkait dengan sifat Sama', Bashar & Kalam. Perlu untuk dipelajari sifat-sifat yang ditegaskan naqal, dari sifat-sifat Allah itu, yaitu sifat sama' (mendengar), bashar (melihat) dan Kalam (berbicara). Sifat-sifat yang tiga ini dinamai sifat-sifat sam'iyah.
Islam menyerukan manusia kepada meng itikadkan wajib Allah bersifat dengan dia. Adapun sifat-sifat itu hanya dijelaskan oleh syara'; dan akal tidak memustahilkannya apabila diartikan dengan makna yang layak dengan Allah, Dzat yang wajibul wujud. namun akal (nadhar) sendiri tidak dapat menjangkau dan memperolehnya dengan sendirinya. Dalam pada itu, akal menetapkan bahwa tiap-tiap kesempurnaan, wajib Allah bersifat dengan dia. Karena itulah, kita tidak boleh meningalkan sifat Allah dengan yang 20 saja (lihat kitab Taudlihul 'aqa-id : 122-123-124-125)
Di dalam Al-Qur'an Surat Asy-Syuraa (S.42) ayat 11 disebutkan bahwa: "Allah pencipta langit dan bumi. Dia menjadikan bagi kamu dari jenis kamu sendiri pasangan-pasangan dan dari jenis binatang ternak pasangan-pasangan (pula), dijadikanNYA kamu berkembang biak dengan jalan itu. Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.
Ayat ini menegaskan bahwa Allah itu mempunyai sifat sama' (mendengar) dan sifat bashar (melihat).
Dalam ayat 51 pada surat yang sama disebutkan bahwa: Dan tidak ada bagi seorang manusiapun bahwa Allah berkata-kata dengan dia kecuali dengan perantaraan wahyu atau di belakang tabir atau dengan mengutus seorang utusan (malaikat) lalu diwahyukan kepadanya dengan seizinNYA apa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dia Maha Tinggi lagi Maha Bijaksana.
Dengan memperhatikan ayat ini, diperoleh suatu ketetapan bahwa : Allah bersifat kalam.
Kalamullah, ialah: Suatu sifat dzat bagi Allah. Dengan sifat inilah Allah memberitahu kepada siapa yang dikehendaki apa yang dikehendaki dari ilmuNYA bila dikehendaki. memberi tahu ini, dinamakan "Takliem dan wahyu".
tegasnya dikehendaki dengan sifat kalam, bukan berbicara (menyebut suratan hati dengan lidah sebagai yang dilakukan manusia), hanya memberitahu apa yang dikehendaki Allah kepada para Rasul, dengan perantaraan wahyu. Jadi bukan bicara, hanya sifat yang dengan sifat itu Allah menyampaikan apa yang dimaksud kepada para RasulNYA. Sifat kalam ini juga dapat dinamai dengan wahyu. Oleh karena itu Al Qur'an itu disebut juga sebagai Kalamullah (yang diwahyukan, yang disampikan Allah kepada RasulNYA, yang terbit atau timbul dari sifat kalam yang menjadi urusan dari urusan-urusan Allah). Demikian sekilas. semoga kita dapat memahaminya, Insya Allah. Aamiin...@limursal...
Minggu, 28 Oktober 2018
Senin, 08 Oktober 2018
Kajian Islam tentang Qudrat dan Iradat
Di dalam Al Qur'an Surat Ali Imraan (S.3) ayat 26-27, dijelaskan bukti bukti kekuasaan dan kebenaran Allah Swt. Allah menjelaskan bahwa Allahlah yang mempunyai kekuasan dan mempunyai hak untuk menurus dan menyelesaikan segala rupa urusan. Tegasnya, Allah sendirilah yang empunyai kekuasaan yang paling tinggi dan mempunyai hak mutlak dalam mentasharrufkan segala macam urusan; dalam menegakkan aturan-aturan umum untuk alam ini. Memang Allah sendiri yang memberikan kekuasaan kepada siapa yang dikehendaki dalam negara dan pemerintahan. Baik mereka itu memperoleh demikian karena memang telah ditentukan mereka itu derajat nubuwah, yang dengan sendirinya memegang pusat kekuasaan dlam negara dan pemerintahan. begitulah kedaannya keluarga Nabi Ibrahim As, maupun karena mereka mempunyai kemampuan dan kesanggupan untuk memperoleh kekuasaan itu, sebagai keadaan mereka yang telah mengendalikan kekuasaan diberbagai macam negara dan pemerintahan. Selanjutnya Allah mencabut kekuasaan itu dari orang-orang yang dikehendaki. Dari seseorang, sekelompok keluarga dan bahkan sebangsa dan senegara, lantaran tidak mengacuhkan Sunatullah yang memeliharakan kekuasaan, keadilan dll.
Allah telah mencabut kekuasaan dari Bani Israil dan dari orang-orag lain, disebabkan kezaliman-kezaliman dan kerusakan-kerusakan. Segala perkara disi Allah menurut ukuran yangtelah ditetapkan. Allah beri kepada siapa yang berhak menerima pemberian. Dan tidak memberi kepada orang yang tidak berhak menerima pemberian.
Allah mengeluarkan orang alim dari orang jahil dan mengeluarkan orang saleh dari orang yang buruk pekerti serta jahat. Allah mengeluarkan mukmin dari orang kafir dan sebaiknya. Semuanya itu menunjuk kepada kesempurnaan kekuasaan dan kehendakNYA.
Perkataan, "dengan tak ada perkiraan", mewujudkan bahwa para manusia tak dapat menentukan sendiri batas pemberian yang harus diberikan Allah kepadanya. Batas pemerian itu, menurut kehendak Allah sendiri.
Diantara sifat yang wjib pada Dzat Allah itu, ialah "Qudrat" yaitu sifat (kekuatan) menciptakan dan melenyapkan, serta "Iradat" yaitu (kehendak), sifat (kekuatan) menetukan pembuatan alam dalam salah satu cara yng mungkin. Kita lihat tiap-tiap maujud, mempunyai kadar yangtertentu dan sifat yang tertentu, mempunyai waktu dan tempat tertentu (berbatas). Keadaan-keadaan ini ditentukan untuknya; tidak yang selain dari keadaan-keadaan ini. Menentukan yang demikian adalah sesuai dengan ilmu dengan sendirinya. Demikianlah arti "Iradat". Lebih jauh pengertian ini dapat diperoleh dari Firman Allah dalam Al Qur'an Surat Al An'aam (S.6) ayat 63 s/d ayat 65.
Firman yang suci kudus itu memperingatkan hambanya terhadap Qudrat Allah(kekuasaanNYA mengazabkan manusia setelah diberi peringatan terhadap qudratNya, melapaskan manusia dari bencana dan marabahaya.
Dengan terang ayat ini menegaskan bahwa, akibat mengkufuri nikmat Allah, ialah hilangnya nikmat itu dan bergantinya dengan azab sengsara yang menyedihkan. Kebenaran ayat ini telah nayat-nyata (terang sekali).
Dikehendaki 'azab dari atas', ialah : menurunkan bencana dari langit, seperti petir, bencana yang dihembuskan oleh letusan gunung-gunung berapi, kejatuhan bom, angin puting beliung, topan-badai serta tornado, kabut-asap, dan sejenisnya.
Adapun dikehendaki 'azab dari bawah' ialah seperti gempa, tsunami, keluarnya lumpur dari dalam tanah dan sejenisnya. Tegasnya, dapat dipahamkan bahwa bencana yang dihadapi rakyat, terjadinya para pemangku jabatan dari orang-orang zalim. Semua yang disebutkan itu masuk dalam kandungan ayat ini. Semoga kita selalu dalam lindungan Allah Swt dan terhindar dari segala bencana yang menakutkan itu. Aamiiin. @Ali Mursal 81018
Allah telah mencabut kekuasaan dari Bani Israil dan dari orang-orag lain, disebabkan kezaliman-kezaliman dan kerusakan-kerusakan. Segala perkara disi Allah menurut ukuran yangtelah ditetapkan. Allah beri kepada siapa yang berhak menerima pemberian. Dan tidak memberi kepada orang yang tidak berhak menerima pemberian.
Allah mengeluarkan orang alim dari orang jahil dan mengeluarkan orang saleh dari orang yang buruk pekerti serta jahat. Allah mengeluarkan mukmin dari orang kafir dan sebaiknya. Semuanya itu menunjuk kepada kesempurnaan kekuasaan dan kehendakNYA.
Perkataan, "dengan tak ada perkiraan", mewujudkan bahwa para manusia tak dapat menentukan sendiri batas pemberian yang harus diberikan Allah kepadanya. Batas pemerian itu, menurut kehendak Allah sendiri.
Diantara sifat yang wjib pada Dzat Allah itu, ialah "Qudrat" yaitu sifat (kekuatan) menciptakan dan melenyapkan, serta "Iradat" yaitu (kehendak), sifat (kekuatan) menetukan pembuatan alam dalam salah satu cara yng mungkin. Kita lihat tiap-tiap maujud, mempunyai kadar yangtertentu dan sifat yang tertentu, mempunyai waktu dan tempat tertentu (berbatas). Keadaan-keadaan ini ditentukan untuknya; tidak yang selain dari keadaan-keadaan ini. Menentukan yang demikian adalah sesuai dengan ilmu dengan sendirinya. Demikianlah arti "Iradat". Lebih jauh pengertian ini dapat diperoleh dari Firman Allah dalam Al Qur'an Surat Al An'aam (S.6) ayat 63 s/d ayat 65.
Firman yang suci kudus itu memperingatkan hambanya terhadap Qudrat Allah(kekuasaanNYA mengazabkan manusia setelah diberi peringatan terhadap qudratNya, melapaskan manusia dari bencana dan marabahaya.
Dengan terang ayat ini menegaskan bahwa, akibat mengkufuri nikmat Allah, ialah hilangnya nikmat itu dan bergantinya dengan azab sengsara yang menyedihkan. Kebenaran ayat ini telah nayat-nyata (terang sekali).
Dikehendaki 'azab dari atas', ialah : menurunkan bencana dari langit, seperti petir, bencana yang dihembuskan oleh letusan gunung-gunung berapi, kejatuhan bom, angin puting beliung, topan-badai serta tornado, kabut-asap, dan sejenisnya.
Adapun dikehendaki 'azab dari bawah' ialah seperti gempa, tsunami, keluarnya lumpur dari dalam tanah dan sejenisnya. Tegasnya, dapat dipahamkan bahwa bencana yang dihadapi rakyat, terjadinya para pemangku jabatan dari orang-orang zalim. Semua yang disebutkan itu masuk dalam kandungan ayat ini. Semoga kita selalu dalam lindungan Allah Swt dan terhindar dari segala bencana yang menakutkan itu. Aamiiin. @Ali Mursal 81018
Kajian Islam: ttg "Maha Suci Allah Sang Maha Pencipta"
Maha suci Allah yang menjadikan makhluk tanpa percuma
di dalam Al Qur'an di sebutkan bahwa:" Dan Kami tidak menciptakan langit dan bumi dan apa-apa yang ada antara keduanya dengan bermain-main (percuma)" [Ad Dukhan (S.44) ayat 38]. (2) "Maka apakah kamu mengira, bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami?" [Al Mukminuun (S.23) ayat 115].
Jika diperhatikan ayat-ayat suci ini, maka dapat diambil kesimpulan bahwa Allah suci dari menjadikan manusia dengan percuma, yakni suci Allah dari tidak memperdulikan segala perbuatan mereka dan suci Allah dari menjadikan mereka dengan percuma dan tidak mengandung hikmat. Tegasnya, Allah tidak membiarkan mereka sewenang-wenang didunia ini dengan menganiaya dengan tidak menghidupkan mereka kembali sesudah matinya untuk dihisab, dikira dan dihitung, segala amalan yang mereka kerjakan didalam hidup dan kehidupan di dunia.
Ayat ini menjelaskan, bahwa manusia akan menerima balasan terhadap segala usaha dan amal perbuatannya.
Menerima pembalasan dihari akhirat itu, dikehendaki benar oleh hikmat-hikmat. Memang tak patut Allah Yang Maha Hakim, yang mrnjadikan langit dan bumi dan segala anatara keduanya serta segala isinya, akan tiada mengadakan hidup sesudah mati (wafat dari alam dunia), nanti di akhirat akan ditegakkan neraca keadilan untuk mengambil hak si lemah dari si kuat yang telah berbuat jahat di alam dunia kepada si lemah. Di akhirat akan diperlihat keadlan Ilahi. Apakah keadilan telah benar-benar nyata. Pada waktu itulah si lemah yang benar akan menjadi kuat, dan si kuat yang salah akan menjadi lemah. Si kuat pada saat itu tidak dapat lagi mempertahankan dirinya dari tuduhan dan bukti-bukti yang di sampaikan kepadanya , karena terlihat dan terbukti dengan nyata. Kaki bersaksi, tanga bersaksi dan semua anggota badan bersaksi.
JIka demikian yang dikehendaki hikmat ketuhanan, maka apabila manusia beriman benar akan Allah, Tuhan Yang Maha Kuasa, Maha Bijaksana, Maha Adil, adalah wajar dan lazim dari yang demikian itu, ia beriman dengan teguh bahwa sesudah kehidupan di dunia, mereka akan menghadapi kehidupan di akhirat. Akan menghadapi siksa, syurga atau neraka.
Dalam masa itulahberbeda benar yang thaat dengan yag maksiyat. Disana akan terlihat siapa yang tulus-ikhlas karena Allah dan siapa yang bukan. Smg kt bedara dalam ridhoNYA. Aamiin.
Ali Mursal @10618
di dalam Al Qur'an di sebutkan bahwa:" Dan Kami tidak menciptakan langit dan bumi dan apa-apa yang ada antara keduanya dengan bermain-main (percuma)" [Ad Dukhan (S.44) ayat 38]. (2) "Maka apakah kamu mengira, bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami?" [Al Mukminuun (S.23) ayat 115].
Jika diperhatikan ayat-ayat suci ini, maka dapat diambil kesimpulan bahwa Allah suci dari menjadikan manusia dengan percuma, yakni suci Allah dari tidak memperdulikan segala perbuatan mereka dan suci Allah dari menjadikan mereka dengan percuma dan tidak mengandung hikmat. Tegasnya, Allah tidak membiarkan mereka sewenang-wenang didunia ini dengan menganiaya dengan tidak menghidupkan mereka kembali sesudah matinya untuk dihisab, dikira dan dihitung, segala amalan yang mereka kerjakan didalam hidup dan kehidupan di dunia.
Ayat ini menjelaskan, bahwa manusia akan menerima balasan terhadap segala usaha dan amal perbuatannya.
Menerima pembalasan dihari akhirat itu, dikehendaki benar oleh hikmat-hikmat. Memang tak patut Allah Yang Maha Hakim, yang mrnjadikan langit dan bumi dan segala anatara keduanya serta segala isinya, akan tiada mengadakan hidup sesudah mati (wafat dari alam dunia), nanti di akhirat akan ditegakkan neraca keadilan untuk mengambil hak si lemah dari si kuat yang telah berbuat jahat di alam dunia kepada si lemah. Di akhirat akan diperlihat keadlan Ilahi. Apakah keadilan telah benar-benar nyata. Pada waktu itulah si lemah yang benar akan menjadi kuat, dan si kuat yang salah akan menjadi lemah. Si kuat pada saat itu tidak dapat lagi mempertahankan dirinya dari tuduhan dan bukti-bukti yang di sampaikan kepadanya , karena terlihat dan terbukti dengan nyata. Kaki bersaksi, tanga bersaksi dan semua anggota badan bersaksi.
JIka demikian yang dikehendaki hikmat ketuhanan, maka apabila manusia beriman benar akan Allah, Tuhan Yang Maha Kuasa, Maha Bijaksana, Maha Adil, adalah wajar dan lazim dari yang demikian itu, ia beriman dengan teguh bahwa sesudah kehidupan di dunia, mereka akan menghadapi kehidupan di akhirat. Akan menghadapi siksa, syurga atau neraka.
Dalam masa itulahberbeda benar yang thaat dengan yag maksiyat. Disana akan terlihat siapa yang tulus-ikhlas karena Allah dan siapa yang bukan. Smg kt bedara dalam ridhoNYA. Aamiin.
Ali Mursal @10618
Minggu, 07 Oktober 2018
Kajian Islam tentang :"Perbuatan keji dan perkataan2 bohong"
Jika seseorang berbuat dosa, lalu bertaubat, insya Allah taubatnya akan diterima, tapi jangan terus-menerus melakukan dosa. "Dan orang-orang yang apabila apabila mengerjakan perbuatan keji atau menaniaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah ? dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui [Al Qur'an: Suran Ali Imraan (S.3) ayat 135]. Memang setiap manusia pasti berbuat dosa atau kesalahan, namun jika brdosa meka bersegaralah bertaubat. Di dalam sebuah hadits dari Abu Hurairah ra, Rasulullah saw bersabda: "Demi dzat yang jiwaku berada di tanganNya, jika kalian tidak pernah berbuat dosa, maka Allah SWT akan musnahkan kalian, Lalu Allah SWT akan ciptakan kaum yang baru yang berbuat dosa kemudian beristigfar dan Allah ampuni dosa-dosa mereka (HR.Muslim).
Para ulama berkata: "Bertaubat itu hukumnya wajib dari segala dosa. Jika kemaksiatan itu terjadi antara seseorang hamba dan Allah, yakni tidak ada hubungannya dengan hak-hak adami, maka untuk bertaubat itu harus ada tiga syarat: (1). hendaklah menghentikan sama sekali dari kemaksiatan yang dilakukan, (2.) merasa menyesal karena telah melakukan kemaksiatan tsb, (3) berniat dengan sungguh-sungguh untuk tidak akan menulangi lagi perbuatan maksiat itu untuk selama-lamanya. Jika ada dari 3 syarat itu yang ketinggalan maka taubatnya dianggap tidak sah. Demikian juga jika kemaksiatan atau dosa itu ada hubungannya dengan hak-hak adami (terkait urusan dengan orang lain) maka syaratnya itu akan bertambah dari yang 3 diatas menjadi 4. Dan syarat yang ke 4 yaitu dengan mengembalikan hak orang lain tsb.(dijelaskan dalam kitab Hadits Riyadussalihin Bab Taubat).
Di dalam kehidupan sehari-hari terkadang kita sudah tahu salah, tapi malah masih saja mengerjakan perbutan tersebut. Dalam sebuah hadits dari Abdullah bin Amr bin Ash dari Nabi saw bersabda:"Sayangilah, maka engkau akan disayangi, Maafkanlah oranglain, semoga Allah juga menyangimu, celakahlah bagi corong-corong keburukan, celakalah bagi orang-orang yang masih terus saja berbuat keburukan padahal dia mengetahuinya" (HR Bukhary- dari kitab Adabul Mufrod). Dalam hadits lain perbuatan berbohong itu di jelaskan bahwa, Rasulullah saw bersabda: " Kebohongan membawa orang untuk berbuat kejahatan. Sedangkan kejahatan itu membawa orang menuju neraka. Seseorang akan selalu berbohong, hingga dia mendapat gelar di sisi Allah sebagai si tukang bohong" (Muttafaq Alaih). Oleh karena itu dalam pergaulan kehidupan sehari-hari, maka sebaiknya menghindarkan diri dari perkataan-perkataan bohong. Terkadang perkataan bohong itu dimulai dari bawaan perasaan dalam diri kita sendiri, lalu di ucapkan kepada orang lain, padahal orang lain yang mendengarkannya juga tidak ada hubungan dan kaitan apa-apa dengan apa yang sudah kita rekayasa sedemikian rupa sehingga orang yang mendengarkan seakan-akan dapat menerima argumen kita tersebut. Semoga kita senantiasa terhindar dari perbuatan keji dan perkataan-perkataan bohong yang demikian. Insya Allah. Aamiin. @Alimursal81018
Para ulama berkata: "Bertaubat itu hukumnya wajib dari segala dosa. Jika kemaksiatan itu terjadi antara seseorang hamba dan Allah, yakni tidak ada hubungannya dengan hak-hak adami, maka untuk bertaubat itu harus ada tiga syarat: (1). hendaklah menghentikan sama sekali dari kemaksiatan yang dilakukan, (2.) merasa menyesal karena telah melakukan kemaksiatan tsb, (3) berniat dengan sungguh-sungguh untuk tidak akan menulangi lagi perbuatan maksiat itu untuk selama-lamanya. Jika ada dari 3 syarat itu yang ketinggalan maka taubatnya dianggap tidak sah. Demikian juga jika kemaksiatan atau dosa itu ada hubungannya dengan hak-hak adami (terkait urusan dengan orang lain) maka syaratnya itu akan bertambah dari yang 3 diatas menjadi 4. Dan syarat yang ke 4 yaitu dengan mengembalikan hak orang lain tsb.(dijelaskan dalam kitab Hadits Riyadussalihin Bab Taubat).
Di dalam kehidupan sehari-hari terkadang kita sudah tahu salah, tapi malah masih saja mengerjakan perbutan tersebut. Dalam sebuah hadits dari Abdullah bin Amr bin Ash dari Nabi saw bersabda:"Sayangilah, maka engkau akan disayangi, Maafkanlah oranglain, semoga Allah juga menyangimu, celakahlah bagi corong-corong keburukan, celakalah bagi orang-orang yang masih terus saja berbuat keburukan padahal dia mengetahuinya" (HR Bukhary- dari kitab Adabul Mufrod). Dalam hadits lain perbuatan berbohong itu di jelaskan bahwa, Rasulullah saw bersabda: " Kebohongan membawa orang untuk berbuat kejahatan. Sedangkan kejahatan itu membawa orang menuju neraka. Seseorang akan selalu berbohong, hingga dia mendapat gelar di sisi Allah sebagai si tukang bohong" (Muttafaq Alaih). Oleh karena itu dalam pergaulan kehidupan sehari-hari, maka sebaiknya menghindarkan diri dari perkataan-perkataan bohong. Terkadang perkataan bohong itu dimulai dari bawaan perasaan dalam diri kita sendiri, lalu di ucapkan kepada orang lain, padahal orang lain yang mendengarkannya juga tidak ada hubungan dan kaitan apa-apa dengan apa yang sudah kita rekayasa sedemikian rupa sehingga orang yang mendengarkan seakan-akan dapat menerima argumen kita tersebut. Semoga kita senantiasa terhindar dari perbuatan keji dan perkataan-perkataan bohong yang demikian. Insya Allah. Aamiin. @Alimursal81018
Jumat, 05 Oktober 2018
Kajian Islam tentang amal dan pembalasan
Maha suci Allah yang menjadikan makhluk tanpa percuma
di dalam Al Qur'an di sebutkan bahwa:" Dan Kami tidak menciptakan langit dan bumi dan apa-apa yang ada antara keduanya dengan bermain-main (percuma)" [Ad Dukhan (S.44) ayat 38]. (2) "Maka apakah kamu mengira, bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami?" [Al Mukminuun (S.23) ayat 115].
Jika diperhatikan ayat-ayat suci ini, maka dapat diambil kesimpulan bahwa Allah suci dari menjadikan manusia dengan percuma, yakni suci Allah dari tidak memperdulikan segala perbuatan mereka dan suci Allah dari menjadikan mereka dengan percuma dan tidak mengandung hikmat. Tegasnya, Allah tidak membiarkan mereka sewenang-wenang didunia ini dengan menganiaya dengan tidak menghidupkan mereka kembali sesudah matinya untuk dihisab, dikira dan dihitung, segala amalan yang mereka kerjakan didalam hidup dan kehidupan di dunia.
Ayat ini menjelaskan, bahwa manusia akan menerima balasan terhadap segala usaha dan amal perbuatannya.
Menerima pembalasan dihari akhirat itu, dikehendaki benar oleh hikmat-hikmat. Memang tak patut Allah Yang Maha Hakim, yang mrnjadikan langit dan bumi dan segala anatara keduanya serta segala isinya, akan tiada mengadakan hidup sesudah mati (wafat dari alam dunia), nanti di akhirat akan ditegakkan neraca keadilan untuk mengambil hak si lemah dari si kuat yang telah berbuat jahat di alam dunia kepada si lemah. Di akhirat akan diperlihat keadlan Ilahi. Apakah keadilan telah benar-benar nyata. Pada waktu itulah si lemah yang benar akan menjadi kuat, dan si kuat yang salah akan menjadi lemah. Si kuat pada saat itu tidak dapat lagi mempertahankan dirinya dari tuduhan dan bukti-bukti yang di sampaikan kepadanya , karena terlihat dan terbukti dengan nyata. Kaki bersaksi, tanga bersaksi dan semua anggota badan bersaksi.
JIka demikian yang dikehendaki hikmat ketuhanan, maka apabila manusia beriman benar akan Allah, Tuhan Yang Maha Kuasa, Maha Bijaksana, Maha Adil, adalah wajar dan lazim dari yang demikian itu, ia beriman dengan teguh bahwa sesudah kehidupan di dunia, mereka akan menghadapi kehidupan di akhirat. Akan menghadapi siksa, syurga atau neraka.
Dalam masa itulahberbeda benar yang thaat dengan yag maksiyat. Disana akan terlihat siapa yang tulus-ikhlas karena Allah dan siapa yang bukan. Smg kt bedara dalam ridhoNYA. Aamiin.
Ali Mursal @10618
di dalam Al Qur'an di sebutkan bahwa:" Dan Kami tidak menciptakan langit dan bumi dan apa-apa yang ada antara keduanya dengan bermain-main (percuma)" [Ad Dukhan (S.44) ayat 38]. (2) "Maka apakah kamu mengira, bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami?" [Al Mukminuun (S.23) ayat 115].
Jika diperhatikan ayat-ayat suci ini, maka dapat diambil kesimpulan bahwa Allah suci dari menjadikan manusia dengan percuma, yakni suci Allah dari tidak memperdulikan segala perbuatan mereka dan suci Allah dari menjadikan mereka dengan percuma dan tidak mengandung hikmat. Tegasnya, Allah tidak membiarkan mereka sewenang-wenang didunia ini dengan menganiaya dengan tidak menghidupkan mereka kembali sesudah matinya untuk dihisab, dikira dan dihitung, segala amalan yang mereka kerjakan didalam hidup dan kehidupan di dunia.
Ayat ini menjelaskan, bahwa manusia akan menerima balasan terhadap segala usaha dan amal perbuatannya.
Menerima pembalasan dihari akhirat itu, dikehendaki benar oleh hikmat-hikmat. Memang tak patut Allah Yang Maha Hakim, yang mrnjadikan langit dan bumi dan segala anatara keduanya serta segala isinya, akan tiada mengadakan hidup sesudah mati (wafat dari alam dunia), nanti di akhirat akan ditegakkan neraca keadilan untuk mengambil hak si lemah dari si kuat yang telah berbuat jahat di alam dunia kepada si lemah. Di akhirat akan diperlihat keadlan Ilahi. Apakah keadilan telah benar-benar nyata. Pada waktu itulah si lemah yang benar akan menjadi kuat, dan si kuat yang salah akan menjadi lemah. Si kuat pada saat itu tidak dapat lagi mempertahankan dirinya dari tuduhan dan bukti-bukti yang di sampaikan kepadanya , karena terlihat dan terbukti dengan nyata. Kaki bersaksi, tanga bersaksi dan semua anggota badan bersaksi.
JIka demikian yang dikehendaki hikmat ketuhanan, maka apabila manusia beriman benar akan Allah, Tuhan Yang Maha Kuasa, Maha Bijaksana, Maha Adil, adalah wajar dan lazim dari yang demikian itu, ia beriman dengan teguh bahwa sesudah kehidupan di dunia, mereka akan menghadapi kehidupan di akhirat. Akan menghadapi siksa, syurga atau neraka.
Dalam masa itulahberbeda benar yang thaat dengan yag maksiyat. Disana akan terlihat siapa yang tulus-ikhlas karena Allah dan siapa yang bukan. Smg kt bedara dalam ridhoNYA. Aamiin.
Ali Mursal @10618
Kajian Islam ttg "perintah beramal untuk dunia dan akhirat"
Di dalam Al Quran Surat Saba' (Surat 34), Allah berfirman: "Dan sesunguhnya telah Kami berikan kepada Daaud suatu keutamaan, yakni: Kami perintahkan gunung-gunung mengulangi tasbih yang diucapkan Daaud da burung-burung. Pun telah Kami lembutkan besi untuk Daaud itu. Kami suruh Daaud membuat baju-baju besi dan menyuruh Daaud memakai ukuran yang benar dalam menyusun baju itu. Pun Kami perintahkan Daaud, supaya mengerjakan amalan shaleh, bahwasanya Kami sangat melihat segala apa yang kamu kerjakan".
Firman suci ini menunjukkan bahwa, Kepada kemestian kita memperbaiki urusan keakhiratan sesudah itu kita memperbaiki urusan keduniaan. Nabi Daaud As diperintahkan membuat baju besi untuk kepentingan dunia. Sesudah itu diperintahkan beramal menegakkan amalshaleh yang berguna untuk akhirat.
Dengan firman Allah ini kita para ummat manusia perlu kepada dunia dan butuh akan kehidupan akhirat. Kita bersedia untuk dunia, supaya terpelihara dari segala kejadian yang mungkin terjadi dan wajib memperbaiki urusan akhirat dengan menguatkan iman, membersihkan diri, sehingga menjadi orang yang baik untuk diri sendiri, untuk kaum dan juga untuk manusia dan makhluk semuanya. Dari keterangan tersebut maka kita sadar bahwa kita memerlukan kedua urusan itu yanitu urusan dunia dan urusan akhirat. Jika kita lalai dalam urusan dunia maka kita akan merasakan akibatnya dengan mengalami berbagai rasa kepahitan.
Allah menberikan dunia kepada kita yang berusaha untuk itu, demikian juga Allah membeikan akhirat kepada kita yang mau berusaha untuk itu.
Setelah kita perhatikan sungguh-sungguh ayat Al Qur'an, nyatalah bagi kita bahwa barangsiapa beramal untuk keduniaan saja tanpa memikirkan akhirat maka nanti akan dibalas dengan neraka Jahannam. Sebaiknya orang yang hanya menghendaki akhirat saja, maka akan diberikan kepadanya akhirat tanpa dunia.
Firman Allah: "Barang siapa menghendaki dunia, Kami berikan dunia itu kepada siapa yang Kami kehendaki, kemudian kami jadikan jahannam untukya. Jahannam itu menghanguskannya. Ia berdiaman di dalamnya, hina dan keji. Dan barangsiapa menghendaki akhirat, ia berusaha untuk akhirat itu dengan sungguh-sungguh sedang iapun mukmin, maka merekalah yang disyukuri usahanya (yakni dengan tidak membelakangi dunia). Masing-masing mereka kami berikan pertolongan dan tiadalah pertolongan Tuhanmu itu dapat ditegah oleh siapapun juga" (Surat Al Israa (S.17) ayat 18-20.
Didalam ayat lain dijelaskan bahwa :"Barangsiapa menghendaki tanaman akhirat, Kamitambahkan untuknya tanamannya itu dan barangsiapa menghendaki tanaman dunia, Kami berikan kepadanya sebahagian dunia dan akhirat ia tiada mempunyai peruntungan apa-apa lagi" (Surat As Syuraa (S.42) ayat 20.
Inilah sunatullah terhadap makhlukNYA. Allah memberikan dunia kepada orang yang beramal untuk dunia, dan Allah memberikan akhirat kepada orang yang berusaha untuknya. dmk. semoga kita selalu dalam ridhoNYA. Aamiin
@ Ali Mursal '18
Firman suci ini menunjukkan bahwa, Kepada kemestian kita memperbaiki urusan keakhiratan sesudah itu kita memperbaiki urusan keduniaan. Nabi Daaud As diperintahkan membuat baju besi untuk kepentingan dunia. Sesudah itu diperintahkan beramal menegakkan amalshaleh yang berguna untuk akhirat.
Dengan firman Allah ini kita para ummat manusia perlu kepada dunia dan butuh akan kehidupan akhirat. Kita bersedia untuk dunia, supaya terpelihara dari segala kejadian yang mungkin terjadi dan wajib memperbaiki urusan akhirat dengan menguatkan iman, membersihkan diri, sehingga menjadi orang yang baik untuk diri sendiri, untuk kaum dan juga untuk manusia dan makhluk semuanya. Dari keterangan tersebut maka kita sadar bahwa kita memerlukan kedua urusan itu yanitu urusan dunia dan urusan akhirat. Jika kita lalai dalam urusan dunia maka kita akan merasakan akibatnya dengan mengalami berbagai rasa kepahitan.
Allah menberikan dunia kepada kita yang berusaha untuk itu, demikian juga Allah membeikan akhirat kepada kita yang mau berusaha untuk itu.
Setelah kita perhatikan sungguh-sungguh ayat Al Qur'an, nyatalah bagi kita bahwa barangsiapa beramal untuk keduniaan saja tanpa memikirkan akhirat maka nanti akan dibalas dengan neraka Jahannam. Sebaiknya orang yang hanya menghendaki akhirat saja, maka akan diberikan kepadanya akhirat tanpa dunia.
Firman Allah: "Barang siapa menghendaki dunia, Kami berikan dunia itu kepada siapa yang Kami kehendaki, kemudian kami jadikan jahannam untukya. Jahannam itu menghanguskannya. Ia berdiaman di dalamnya, hina dan keji. Dan barangsiapa menghendaki akhirat, ia berusaha untuk akhirat itu dengan sungguh-sungguh sedang iapun mukmin, maka merekalah yang disyukuri usahanya (yakni dengan tidak membelakangi dunia). Masing-masing mereka kami berikan pertolongan dan tiadalah pertolongan Tuhanmu itu dapat ditegah oleh siapapun juga" (Surat Al Israa (S.17) ayat 18-20.
Didalam ayat lain dijelaskan bahwa :"Barangsiapa menghendaki tanaman akhirat, Kamitambahkan untuknya tanamannya itu dan barangsiapa menghendaki tanaman dunia, Kami berikan kepadanya sebahagian dunia dan akhirat ia tiada mempunyai peruntungan apa-apa lagi" (Surat As Syuraa (S.42) ayat 20.
Inilah sunatullah terhadap makhlukNYA. Allah memberikan dunia kepada orang yang beramal untuk dunia, dan Allah memberikan akhirat kepada orang yang berusaha untuknya. dmk. semoga kita selalu dalam ridhoNYA. Aamiin
@ Ali Mursal '18
Kamis, 04 Oktober 2018
Kajian Islam ttg Pernikahan
Kajian Islam: “Membangun Rumah Tangga Bahagia”
Ada 2 (dua) dasar yang dijadikan
landasan kajian ini, yaitu Al Qur’an dan Al Hadits. Dalam Al-Qur’an terdapat
pada (1.) Surat An-Nisaa ayat 1, (2)
Surat Ar-Ruum ayat 21-22 ; (3). Surat An-Nur ayat 32-33.
Didalam hadits-hadits Nabi Saw
disenutkan:
1. “Wahai Jamaah pemuda,
barangsiapa diantara kamu yang mempunyai kesanggupan menyetebuhi isteri,
(karena mempunyai perbelanjaannya) maka hendaklah ia beristeri. Karena
beristeri itu, lebih memejamkan mata dan lebih memelihara kemaluan. Dan
barangsiapa tiada sanggup membelanjai isteri, hendaklah ia berpuasa; karena
puasa itu,menghilangkan syahwat” (HR Bukhary-Muslim)
2. “Dunia itu permata-benda; dan
sebaik-baik permata-benda keduniaan, ialah : Isteri yang Saleh” (HR. Muslim)
3. “Barangsiapa mempunyai
kesanggupan untuk beristeri, tetpi tidak mau beristeri, maka tidaklah ia
daripadaku” (HR Ath Thabaraany)
4. “Dinikahi perempuan karena
empat perkara: Karena hartanya; karena kebaikann keturunannya; karena kecantikannya
dank arena agamanya. Maka carilah yang beragama, supaya engkau berbahagia” (HR
Bukhary – Muslim)
5. “Jangan kamu kawini
orang-orang perempuan karena kecantikannya, karena boleh jadi kecantikannya itu
membinasakannya; dan jangan kamu kawini perempuan karena hartanya, lantaran
boleh jadi hartanya itu menyesatkannya. Akan tetapi kawinilah perempuan
lantaran agamanya. Perempuan budak yang hitam lahi buruk rupa, lebih utama,
kalau ia beragama” (HR. Ibnu Maajah)
Dari pengertian diketahui bahwa
Nikah itu, ialah : “Melaksanakan aqad (perikatan yang dijalin dengan pengakuan
kedua belah pihak) antara seorang lelaki dengan perempuan atas dasar keredlaan
dan kesukaan kedua belah pihak oleh seorang wali dari pihak perempuan, mrnurut
sifat yang ditetapkan syara’ (agama Islam) untuk menghalalkan percampuran
antara keduanya dan untuk menjadikan yang seorang condong kepada yang seorang
lagi dan menjadikan masing-masing dari padanya sekutu (teman hidup) bagi yang
lain”.
Sesungguhnya perkawinan itu ialah suatu hakekat yang tersusun dari seorang laki-laki dan
seorang perempuan dan masing-masing dipandang separo dari hakekat yang satu
itu. Oleh karena itu dikatakan kepada masing-masingnya “Zauj/pasangan” bagi yang selainnya. Menamai
isteri maupun suami dengan Zauj, member pengertian bagi kita bahwa yang seorang
itu pasangan bagi yang lainnya, dan saling menyamai dan mengimbangi.
Ummat manusia itu jika
diperhatikan akan tersusun dari keluarga dan rumah tangga. Oleh karena itu
Allah menyusun dan mensyariatkan (mangatur) untuk mewujudkan rumah tangga yang
menjamin kehidupan dan kekekalannya; dan
untuk mempersiapkan keluarga rumah tangga itu buat menyelenggarakan aneka rupa
kewajiban di dalam hidup di dunia ini.
Islam mensyariatkan perkawinan dan menggerakkan ummat
kepadanya. Seterusnya, Allah bermurah hati menjadikan antara dua orang yang
sepasang itu berkasih-mesra dan berkasih-kasihan. Tujuannya agar terbangun –terbina
rumah tangga dan keluarga yang bahagia.
Apabila seorang laki-laki
beristeri (bernikah dengan seorang wanita), berarti ia mengambil seorang kongsi
dalam melayarkan bakhtera kehidupannya; kongsi dalam mengendalikan rumah tangga
dan kongsi dalam membentuk keluarga; bukan berate mengambil seseorang pelayan
atau seorang budak dengan nama isteri.
Kita para ummat dituntut
benar-benar mendirikan masyarakat yang aman-sentosa. Perkawinan itu, adalah
seutama-utama pekerjaan buat memelihara “sendi kedihupan masyarakat”.
Bersabda Nabi Saw: “Barangsiapa
beristeri, maka berate ia memelihara sebahagian agamanya. Karena itu, hendaklah
bertaqwa kepada Allah untuk memelihara bahagian yang satu lain” (HR. Al
Baihaqy)
Maka jelaslah bagi
kita bahwa, perkawinan itu, dapat memelihara diri dari zina”. Dmk. smg Aamiin….
@limursal’2018Senin, 01 Oktober 2018
Gaya Hidup
Gaya
Hidup : Bagaimana Pendidikan Menyikapinya ?
Situasi terkini…
Sedang berproses...
Manusia memiliki satu keinginan dan kerinduan terdalam di peziarahan hidup ini. Kerinduan dan keinginan itu adalah kebahagiaan. Mengapa ? Karena, kebahagian hidup manusia terletak pada kepemilikan makna akan hidupnya. Oleh karena itu, Kebahagiaan dimengerti dan diartikan sebagai kebermaknaan hidup. Dengan demikian, kebermaknaan hidup merupakan satu-satunya hasrat yang menyatukan segala kekuatan, ketegasan, dan kemampuan manusia dalam berproses di dunia ini. Dengan kata lain, kebermaknaan hidup merupakan arah dan tujuan seluruh kegiatan manusia.
Di satu sisi perjalanan hidup manusia, manusia itu adalah pribadi yang mendapati dirinya terlempar ke dunia ini, tanpa tahu dari mana dan hendak ke mana (Heidegger). Bagaikan seorang bayi yang tidak dapat memilih keluarga, orang tua, saudara-saudari, suku, negara, jenis kelamin, bentuk tubuh dan lain-lain. Manusia hanya tinggal menerima apa yang telah diberikan kepadanya. Keterlemparan manusia dalam dunia ini memperlihatkan adanya “kebelumsempurnaan “ dirinya. Inilah yang membedakan manusia dengan hewan. Di mana, manusia pada dirinya adalah pribadi yang belum selesai “diciptakan”. Keterlemparan yang belum “sempurna” mendorong dan mengarahkan dirinya senantiasa belajar menuju kepada sebuah kesempurnaan, (baca kebermaknaan ).
Dalam rangka mencapai kebermaknaan hidupnya, manusia mengambil tindakan pembelajaran dengan cara peniruan, mimetik. Di mana, manusia melakukan segala macam peniruan-peniruan untuk membangun kehidupannya. Oleh karena, meniru adalah suatu sifat manusia semenjak usia muda, suatu sifat yang tertanam dalam kodrat dan tabiatnya (Aristoteles). Manusia adalah makhluk yang paling suka meniru dan ia mulai belajar justru dengan meniru dan awal dari peradaban manusia adalah sebuah proses peniruan dari alam. Dengan kata lain, peniruan merupakan sebuah proses pembelajaran manusia dalam membangun world view, wawasan keduniaannya. Lagipula, dengan meniru kita belajar, kita menambah pengetahuan dan itu merupakan kenikmatan yang paling besar bagi setiap pribadi.
“ Aku bergaya maka Aku ada..”
Proses peniruan yang dilakukan manusia tanpa disadari juga merupakan suatu proses penghasratan. Manusia menghasrati hal-hal yang dihasrati oleh kebanyakan orang. Bentuk hidup tertentu, komunitas pergaulan tertentu, kepemilikan artefak-artefak tertentu, obrolan tertentu dan lain sebagainya. Penghasratan ini sebagai wujud penyamaan dan penyeragaman yang memungkinkan pribadi dapat masuk, menjadi bagian dan hidup dengan yang lain pada umumnya seraya mencoba untuk mendefinisikan dirinya. Namun, dalam budaya kiwari, identitas itu sering kali tidak otentik karena merupakan merupakan hasil konstruksi pelbagai bangunan pencitraan yang ditawarkan oleh industri dunia. Pengadopsian peniruan sering merupakan suatu indikasi pemassalan yang disebabkan oleh ketidakmampuan menemukan jati diri. Bukan sesuatu yang alami, melainkan sesuatu yang dibangun, diciptakan, dikembangkan, dan digunakan untuk menampilkan sebuah bentuk citra diri duniawi. Di mana, pasar dan kapitalisme menjadi motor penggeraknya .
Pencitraan yang diciptakan dunia adalah cara membingkai dan membungkus dunia sedemikian rupa sehingga merangsang dan menggugah pandangan seorang tentang hidup berdasarkan tampilan penampilan tawaran dunia. Untuk itu, Dunia mendengungkan pencitraannya sebagai sesuatu yang utama dan sesuatu yang penting dalam hidup. Kebajikan-kebajikan manusiawi digantikan dengan kebajikan-kebajikan visual media dan industri. Pribadi ditampilkan dari citra penampakannya, tetapi citra itu tidak selalu merupakan kesejatian, karena penampilan itu pada saat bersamaan adalah bentuk penyembunyian dan pengingkaran sifat eksistensial yang lain, yang jelek, memalukan, dsb.
Semuanya itu mengindikasi proses penurunan mutu kehidupan manusia. Ketika dunia kehidupan dibingkai dalam format citra dunia, maka kesadaran terdalam manusia diobok-obok, dipengaruhi dan dicetak dalam bingkai citra tersebut, dengan segala sifat reduksionisme dan artifisialnya. Visi dan misi hidup manusia diambil alih dengan perlahan-lahan tapi pasti oleh visi dan misi dunia, dengan segala gambaran kesempurnaannya. Pada titik ini, manusia berjalan menuju ke arah ruang nihilisme, manusia hidup dalam subjektivitas palsu melalui dunia citra. Seluruh dunia dan kehidupan manusia diredusir ke dalam ontologi citra, sambil mengasingkan diri dari diri yang sesungguhnya. Dengan demikian, manusia mengalami keterasingan dengan dirinya, akhirnya manusia mendapati dirinya dalam keterpecahan. (David Michel Levin).
Susan Sontag melukiskan dengan indah mengenai manusia yang terjerat dalam jaring-jaring dunia citra. Manusia citra adalah manusia yang lebih memilih citra ketimbang benda, tiruan ketimbang asli, reprentasi ketimbang realitas, penampakan ketimbang eksitensi (being). Dengan memilih citra daripada keaslian diri sama dengan memilih kepalsuan daripada kebenaran diri. Saat itu, tampilan citra dirayakan, dipuja, dibangun, dipilih, dan diinternalisasikan. Maka, citra adalah sesuatu yang harus selalu dibangun dalam seluruh perjalanan hidup. Manusia berusaha mengejar citra dengan optimalitas kekuatannya. Dengan kata lain, penciptaan citra di jagat hidup manusia adalah suatu pembingkaian yang meminggirkan serentak menyembunyikan realitas dan kebenaran seraya meredusirnya sebagai realitas dan kebenaran yang dikonstruksi dalam dunia citra. Dengan demikian pencitraan melahirkan potensi membangun dunia tiada batas antara realitas dan ilusi, melahirkan simulasi yang meretas perbedaan antara yang sejati dan yang semu, kenyataan dan fantasi didekonstruksi dengan proses pengcopyan, pengimitasian ( Hyper-reality, Umberto Eco).
Pemujaan akan citra dengan tegas menciptakan dan menimbulkan berbagai macam krisis dalam kehidupan manusia. Manusia kehilangan kepandaian dan kelihaian Kebajikan Sang Kebijaksanaan Sejati untuk mengkritisi pemaknaan hidup yang maya atau sejati. Kesejatian melebur dan meyatu dengan yang kemayaan. Good (kebaikan) menyatu dengan goods (barang). Kita sangat bangga dengan kemeja yang dibeli di Armani Counter, Plaza Indonesia, karena citra kemejanya yang barang bermerek. Kebutuhan (need) sama dengan Keinginan (want). Kita tidak akan cukup hanya makan, melainkan mesti makan di MC Donald, restaurant yang sama dengan warung tegal di Indonesia, bukan karena burgernya yang enak tetapi karena citra yang menyelubunginya. Hasrat jiwa citra telah meracuni manusia dengan moto “ Aku adalah apa yang aku konsumsi” . “ Aku ada karena aku bergaya...”. Tingkatan kebutuhan Abraham Maslow dijungkirbalikan. Aktualisasi diri menjadi tingkatan pertama manusia. Diri sesungguhnya ditentukan oleh apa yang kita kenakan, kita pakai, kita pergunakan, kita ucapkan, kita tonton, kita makan, dan kita-kita lainnya.
Dunia citra yang dihidupi manusia ini pun ditandai dengan berbagai pergerakan, pergantian, dan perubahan dalam tempo yang cepat. Kecepatan mesin dunia citra ini menggiring manusia pada satu titik kehidupan. “Diam berarti mati” (Paul Virilio). Apabila kita tidak mengikuti segala macam tawaran dunia yang serba cepat melalui citra teknologi, mode, perangkat hidup, habitus terbaru, dll, maka kita akan mati, kita kuno, ketinggalan jaman. Ada sebuah iklan televisi menampilkan ketertinggalan manusia dengan menvisulisasikan secara sangat baik dengan judul “ Hari begini nggak punya HP “. Oleh karena itu, tawaran yang menghadang diri kita adalah tawaran kekinian yang terus berubah dan berubah dengan perputaran yang dashyat. Belum selesai kita memahami fasilitas Hp terbaru telah muncul fasilitas Hp yang terkini. Manusia diajak untuk mengejar dan berlari meraih kesemuanya itu. Akibatnya, Kehidupan dalam percepatan membawa pada kehampaan dan hanya sampai pada kebendaan. Waktu manusia hanya disibukkan dan dihabiskan untuk meraih percepatan citra tanpa berhenti sejenak bagi ruang kebermaknaan dan keluhuran. Percepatan pencitraan yang bekerja dalam alam bawah sadar kemanusian telah mempersempit makna dunia spiritualitas. Dengan demikian, dunia manusia kini ditentukan oleh having dan bukan being (bdk. Erich Fromm).
“ Terbius Kesempurnaan semu dan maya….”
Tiada hari tanpa citra “ kesempurnaan” dunia. Manusia menikmati dan sekaligus menelan jargon-jargon keagungan dan kesempurnaan dunia ini. Hal itu dilakukan melalui media komunikasi dan visual. Media menjadi saluran rahmat kebudayaan semu dunia. Pertunjukan visual dan audio telah memposisikan diri sebagai sebuah kepalsuan hidup yang dicuplik di atas panggung pertunjukkan agar para penikmat mengantongi ilusi kehidupan melalui mereka. Media-media itu tiada henti membordir dan membumi hanguskan kedirian manusia. Mereka menggubah citra kesejatian menjadi citra pasaran. Akhirnya, ruang lingkup dan waktu kesejarahan hidup manusia tiada lain adalah ruang lingkup dan waktu kesejarahan media. Manusia menjadi contoh hidup produk-produk dunia.
Menarik, fenomena itu digerakkan oleh satu mesin, “mesin hasrat pencitraan”. Mesin yang bekerja dan bermain dalam tataran psikis manusia. Kehasratan yang digoda dan digelitik yaitu; hasrat karnal dan hasrat libidal. Karnal adalah hasrat tubuh kepada segala sesuatu yang berbentuk material, harta benda, makanan, dll. Pembentukan hasrat karnal sangat tergantung pada sifat dasar dari obyek karnal itu (material) yang bersentuhan dengan tubuhnya. Hasrat libidal adalah hasrat tubuh kepada sesuatu yang sifatnya imaterial, harga diri, status, kelas, pangkat, pujian, pesona, dan segala yang berkaitan dengan hal imaterial. Dalam proses terjadinya, hasrat libidal lebih terarah pada dirinya sendiri, dorongan dan kepentingannya akan pemuasaan sang aku, ego (Alfathri Adlin). Kedua hasrat itu, dua sisi mata keping uang logam, bekerjasama (dipakai dunia pencitraan) membentuk dorongan hasrat yang terwujud dalam prilaku manusia.
“ Pendidikan keaktifan diri ”
Paparan di atas adalah sebuah panorama kekinian dunia manusia. Dimana kemanusiaan sejati diletakan pada sebuah “kesemuaan citra” yang ditopang, digerakkan, dan dikonstruksi oleh kapitalitisme dengan segala bentukannya. Bagaimana kita bersikap ? Catatan kecil ini mencoba untuk meneropong dalam kacamata pendidikan. Bagaimana pendidikan mencoba dan membantu kita untuk bersikap terhadap dunia kiwari. Mengawali pembahasan kita, ada baik kita memulainya dengan melihat rumusan tujuan sebuah pendidikan yang terdapat dalam UU RI tahun 1989 nomor 2. Rumusan itu mengarahkan pendidikan kepada suatu upaya proses pembentukan kecerdasaan menyeluruh pada diri pribadi manusia Indonesia. Bertolak dari perumusan ini, kita dapat mencari model pendidikan mana yang sekiranya dapat membantu dan menolong pencapaian tujuan pendidikan kita.
Pendidikan haruslah menciptakan dan membentuk manusia yang mengikuti proses pendidikan itu menjadi pribadi-pribadi yang berbudaya. Budaya harus diartikan sebagai wujud diri yang manusiawi. Berbudaya adalah manusiawi. Pribadi yang memiliki dimensi manusiawi. Oleh karena itu, pendidikan bukan sekedar penciptaan pribadi yang siap dalam lapangan kerja dan yang berorientasi pada pasar melainkan pribadi yang holistic, menyeluruh, matang, dan dewasa. Maka, proses pendidikan menjadi sesuatu yang penting dalam pembentukan karakteristik pribadi dan bukan berorientasi pada hasil dan prestasi semata.
Salah satu metode proses pendidikan itu adalah proses metode pendidikan yang didasarkan pada keaktifan diri. Proses ini berpangkal pada sebuah pemahaman mendasar bahwa mnusia adalah mahluk yang berproses, makhluk yang dinamis. Proses yang terjadi dalam diri manusia itu yang menandai sebuah perkembangan. Oleh sebab itu, pendidikan yang berproses merupakan sebuah usaha pendampingan terhadap para peserta didik sebagai pribadi yang hidup. Dimana, adanya ruang dan waktu bagi sebuah penghargaan kodrati bagi para peserta didik untuk bersifat aktif dan kreatif berproses dalam mewujudkan dan membentuk diri. Bahwa, proses pendidikan adalah proses perangsangan dan bimbingan perkembangan diri. Proses ini juga memberikan keterbukaan bagi para peserta didik untuk memproses perkembangan dirinya dalam ruang dan waktunya. Dengan kata lain, peserta didik, dipahami, sebagai mahluk yang hidup dan aktif berinteraksi dengan dunia sekitarnya tidak hanya untuk mempertahanan hidupnya, melainkan juga untuk dapat “ hidup baik” dan bahkan “ hidup lebih baik” , maka peran pendidikan formal lebih mengarahkan pada penciptaan jalan dan suasana yang mendukung bagi proses itu. Letak para pendidik, guru, orang tua, dan masyarakat, lebih bersifat sebaga pendamping atau pembantu daripada penentu sebuah keberhasilan pendidikan. Hal yang substansi dan mendasar dalam kerangka proses ini adalah aktifitas diri peserta didik dalam membentuk dan mewujudkan diri, bahkan perkembangan intelektual yang bernilai adalah pengembangan diri.
Penutup….
Pendidikan memerlukan sebuah ruang kebebasan dan kreatifitas yang menciptakan, mendorong, merangsang , dan memperkembangkan minat, inisiatif, dan imaginasi kreatifnya dalam diri peserta didik. Oleh sebab itu, kebebasan merupakan prasyarat mutlak terciptanya proses ini. Model kebebasan adalah kebebasan disertai dengan sebuah upaya pertanggung jawaban atas apa yang telah dilakukan dan itu, mengandaikan peserta didik dituntut memiliki sebuah reflektifitas terus menerus atas kehidupannya. Sehingga, tujuan pendidikan memang mengarah kepada penciptaan kebijaksanaan hidup dalam diri peserta didik, dan satu-satunya jalan mencapainya adalah kebebasan sebagai kebebasan untuk…
Akhirnya, pendidikan merupakan sebuah proses pendidikan pewujudan nilai yang diperoleh dari proses pergumulan diri yang penuh dinamika yang mengarahkan pribadi menjadi pribadi yang dewasa.
Sedang berproses...
Manusia memiliki satu keinginan dan kerinduan terdalam di peziarahan hidup ini. Kerinduan dan keinginan itu adalah kebahagiaan. Mengapa ? Karena, kebahagian hidup manusia terletak pada kepemilikan makna akan hidupnya. Oleh karena itu, Kebahagiaan dimengerti dan diartikan sebagai kebermaknaan hidup. Dengan demikian, kebermaknaan hidup merupakan satu-satunya hasrat yang menyatukan segala kekuatan, ketegasan, dan kemampuan manusia dalam berproses di dunia ini. Dengan kata lain, kebermaknaan hidup merupakan arah dan tujuan seluruh kegiatan manusia.
Di satu sisi perjalanan hidup manusia, manusia itu adalah pribadi yang mendapati dirinya terlempar ke dunia ini, tanpa tahu dari mana dan hendak ke mana (Heidegger). Bagaikan seorang bayi yang tidak dapat memilih keluarga, orang tua, saudara-saudari, suku, negara, jenis kelamin, bentuk tubuh dan lain-lain. Manusia hanya tinggal menerima apa yang telah diberikan kepadanya. Keterlemparan manusia dalam dunia ini memperlihatkan adanya “kebelumsempurnaan “ dirinya. Inilah yang membedakan manusia dengan hewan. Di mana, manusia pada dirinya adalah pribadi yang belum selesai “diciptakan”. Keterlemparan yang belum “sempurna” mendorong dan mengarahkan dirinya senantiasa belajar menuju kepada sebuah kesempurnaan, (baca kebermaknaan ).
Dalam rangka mencapai kebermaknaan hidupnya, manusia mengambil tindakan pembelajaran dengan cara peniruan, mimetik. Di mana, manusia melakukan segala macam peniruan-peniruan untuk membangun kehidupannya. Oleh karena, meniru adalah suatu sifat manusia semenjak usia muda, suatu sifat yang tertanam dalam kodrat dan tabiatnya (Aristoteles). Manusia adalah makhluk yang paling suka meniru dan ia mulai belajar justru dengan meniru dan awal dari peradaban manusia adalah sebuah proses peniruan dari alam. Dengan kata lain, peniruan merupakan sebuah proses pembelajaran manusia dalam membangun world view, wawasan keduniaannya. Lagipula, dengan meniru kita belajar, kita menambah pengetahuan dan itu merupakan kenikmatan yang paling besar bagi setiap pribadi.
“ Aku bergaya maka Aku ada..”
Proses peniruan yang dilakukan manusia tanpa disadari juga merupakan suatu proses penghasratan. Manusia menghasrati hal-hal yang dihasrati oleh kebanyakan orang. Bentuk hidup tertentu, komunitas pergaulan tertentu, kepemilikan artefak-artefak tertentu, obrolan tertentu dan lain sebagainya. Penghasratan ini sebagai wujud penyamaan dan penyeragaman yang memungkinkan pribadi dapat masuk, menjadi bagian dan hidup dengan yang lain pada umumnya seraya mencoba untuk mendefinisikan dirinya. Namun, dalam budaya kiwari, identitas itu sering kali tidak otentik karena merupakan merupakan hasil konstruksi pelbagai bangunan pencitraan yang ditawarkan oleh industri dunia. Pengadopsian peniruan sering merupakan suatu indikasi pemassalan yang disebabkan oleh ketidakmampuan menemukan jati diri. Bukan sesuatu yang alami, melainkan sesuatu yang dibangun, diciptakan, dikembangkan, dan digunakan untuk menampilkan sebuah bentuk citra diri duniawi. Di mana, pasar dan kapitalisme menjadi motor penggeraknya .
Pencitraan yang diciptakan dunia adalah cara membingkai dan membungkus dunia sedemikian rupa sehingga merangsang dan menggugah pandangan seorang tentang hidup berdasarkan tampilan penampilan tawaran dunia. Untuk itu, Dunia mendengungkan pencitraannya sebagai sesuatu yang utama dan sesuatu yang penting dalam hidup. Kebajikan-kebajikan manusiawi digantikan dengan kebajikan-kebajikan visual media dan industri. Pribadi ditampilkan dari citra penampakannya, tetapi citra itu tidak selalu merupakan kesejatian, karena penampilan itu pada saat bersamaan adalah bentuk penyembunyian dan pengingkaran sifat eksistensial yang lain, yang jelek, memalukan, dsb.
Semuanya itu mengindikasi proses penurunan mutu kehidupan manusia. Ketika dunia kehidupan dibingkai dalam format citra dunia, maka kesadaran terdalam manusia diobok-obok, dipengaruhi dan dicetak dalam bingkai citra tersebut, dengan segala sifat reduksionisme dan artifisialnya. Visi dan misi hidup manusia diambil alih dengan perlahan-lahan tapi pasti oleh visi dan misi dunia, dengan segala gambaran kesempurnaannya. Pada titik ini, manusia berjalan menuju ke arah ruang nihilisme, manusia hidup dalam subjektivitas palsu melalui dunia citra. Seluruh dunia dan kehidupan manusia diredusir ke dalam ontologi citra, sambil mengasingkan diri dari diri yang sesungguhnya. Dengan demikian, manusia mengalami keterasingan dengan dirinya, akhirnya manusia mendapati dirinya dalam keterpecahan. (David Michel Levin).
Susan Sontag melukiskan dengan indah mengenai manusia yang terjerat dalam jaring-jaring dunia citra. Manusia citra adalah manusia yang lebih memilih citra ketimbang benda, tiruan ketimbang asli, reprentasi ketimbang realitas, penampakan ketimbang eksitensi (being). Dengan memilih citra daripada keaslian diri sama dengan memilih kepalsuan daripada kebenaran diri. Saat itu, tampilan citra dirayakan, dipuja, dibangun, dipilih, dan diinternalisasikan. Maka, citra adalah sesuatu yang harus selalu dibangun dalam seluruh perjalanan hidup. Manusia berusaha mengejar citra dengan optimalitas kekuatannya. Dengan kata lain, penciptaan citra di jagat hidup manusia adalah suatu pembingkaian yang meminggirkan serentak menyembunyikan realitas dan kebenaran seraya meredusirnya sebagai realitas dan kebenaran yang dikonstruksi dalam dunia citra. Dengan demikian pencitraan melahirkan potensi membangun dunia tiada batas antara realitas dan ilusi, melahirkan simulasi yang meretas perbedaan antara yang sejati dan yang semu, kenyataan dan fantasi didekonstruksi dengan proses pengcopyan, pengimitasian ( Hyper-reality, Umberto Eco).
Pemujaan akan citra dengan tegas menciptakan dan menimbulkan berbagai macam krisis dalam kehidupan manusia. Manusia kehilangan kepandaian dan kelihaian Kebajikan Sang Kebijaksanaan Sejati untuk mengkritisi pemaknaan hidup yang maya atau sejati. Kesejatian melebur dan meyatu dengan yang kemayaan. Good (kebaikan) menyatu dengan goods (barang). Kita sangat bangga dengan kemeja yang dibeli di Armani Counter, Plaza Indonesia, karena citra kemejanya yang barang bermerek. Kebutuhan (need) sama dengan Keinginan (want). Kita tidak akan cukup hanya makan, melainkan mesti makan di MC Donald, restaurant yang sama dengan warung tegal di Indonesia, bukan karena burgernya yang enak tetapi karena citra yang menyelubunginya. Hasrat jiwa citra telah meracuni manusia dengan moto “ Aku adalah apa yang aku konsumsi” . “ Aku ada karena aku bergaya...”. Tingkatan kebutuhan Abraham Maslow dijungkirbalikan. Aktualisasi diri menjadi tingkatan pertama manusia. Diri sesungguhnya ditentukan oleh apa yang kita kenakan, kita pakai, kita pergunakan, kita ucapkan, kita tonton, kita makan, dan kita-kita lainnya.
Dunia citra yang dihidupi manusia ini pun ditandai dengan berbagai pergerakan, pergantian, dan perubahan dalam tempo yang cepat. Kecepatan mesin dunia citra ini menggiring manusia pada satu titik kehidupan. “Diam berarti mati” (Paul Virilio). Apabila kita tidak mengikuti segala macam tawaran dunia yang serba cepat melalui citra teknologi, mode, perangkat hidup, habitus terbaru, dll, maka kita akan mati, kita kuno, ketinggalan jaman. Ada sebuah iklan televisi menampilkan ketertinggalan manusia dengan menvisulisasikan secara sangat baik dengan judul “ Hari begini nggak punya HP “. Oleh karena itu, tawaran yang menghadang diri kita adalah tawaran kekinian yang terus berubah dan berubah dengan perputaran yang dashyat. Belum selesai kita memahami fasilitas Hp terbaru telah muncul fasilitas Hp yang terkini. Manusia diajak untuk mengejar dan berlari meraih kesemuanya itu. Akibatnya, Kehidupan dalam percepatan membawa pada kehampaan dan hanya sampai pada kebendaan. Waktu manusia hanya disibukkan dan dihabiskan untuk meraih percepatan citra tanpa berhenti sejenak bagi ruang kebermaknaan dan keluhuran. Percepatan pencitraan yang bekerja dalam alam bawah sadar kemanusian telah mempersempit makna dunia spiritualitas. Dengan demikian, dunia manusia kini ditentukan oleh having dan bukan being (bdk. Erich Fromm).
“ Terbius Kesempurnaan semu dan maya….”
Tiada hari tanpa citra “ kesempurnaan” dunia. Manusia menikmati dan sekaligus menelan jargon-jargon keagungan dan kesempurnaan dunia ini. Hal itu dilakukan melalui media komunikasi dan visual. Media menjadi saluran rahmat kebudayaan semu dunia. Pertunjukan visual dan audio telah memposisikan diri sebagai sebuah kepalsuan hidup yang dicuplik di atas panggung pertunjukkan agar para penikmat mengantongi ilusi kehidupan melalui mereka. Media-media itu tiada henti membordir dan membumi hanguskan kedirian manusia. Mereka menggubah citra kesejatian menjadi citra pasaran. Akhirnya, ruang lingkup dan waktu kesejarahan hidup manusia tiada lain adalah ruang lingkup dan waktu kesejarahan media. Manusia menjadi contoh hidup produk-produk dunia.
Menarik, fenomena itu digerakkan oleh satu mesin, “mesin hasrat pencitraan”. Mesin yang bekerja dan bermain dalam tataran psikis manusia. Kehasratan yang digoda dan digelitik yaitu; hasrat karnal dan hasrat libidal. Karnal adalah hasrat tubuh kepada segala sesuatu yang berbentuk material, harta benda, makanan, dll. Pembentukan hasrat karnal sangat tergantung pada sifat dasar dari obyek karnal itu (material) yang bersentuhan dengan tubuhnya. Hasrat libidal adalah hasrat tubuh kepada sesuatu yang sifatnya imaterial, harga diri, status, kelas, pangkat, pujian, pesona, dan segala yang berkaitan dengan hal imaterial. Dalam proses terjadinya, hasrat libidal lebih terarah pada dirinya sendiri, dorongan dan kepentingannya akan pemuasaan sang aku, ego (Alfathri Adlin). Kedua hasrat itu, dua sisi mata keping uang logam, bekerjasama (dipakai dunia pencitraan) membentuk dorongan hasrat yang terwujud dalam prilaku manusia.
“ Pendidikan keaktifan diri ”
Paparan di atas adalah sebuah panorama kekinian dunia manusia. Dimana kemanusiaan sejati diletakan pada sebuah “kesemuaan citra” yang ditopang, digerakkan, dan dikonstruksi oleh kapitalitisme dengan segala bentukannya. Bagaimana kita bersikap ? Catatan kecil ini mencoba untuk meneropong dalam kacamata pendidikan. Bagaimana pendidikan mencoba dan membantu kita untuk bersikap terhadap dunia kiwari. Mengawali pembahasan kita, ada baik kita memulainya dengan melihat rumusan tujuan sebuah pendidikan yang terdapat dalam UU RI tahun 1989 nomor 2. Rumusan itu mengarahkan pendidikan kepada suatu upaya proses pembentukan kecerdasaan menyeluruh pada diri pribadi manusia Indonesia. Bertolak dari perumusan ini, kita dapat mencari model pendidikan mana yang sekiranya dapat membantu dan menolong pencapaian tujuan pendidikan kita.
Pendidikan haruslah menciptakan dan membentuk manusia yang mengikuti proses pendidikan itu menjadi pribadi-pribadi yang berbudaya. Budaya harus diartikan sebagai wujud diri yang manusiawi. Berbudaya adalah manusiawi. Pribadi yang memiliki dimensi manusiawi. Oleh karena itu, pendidikan bukan sekedar penciptaan pribadi yang siap dalam lapangan kerja dan yang berorientasi pada pasar melainkan pribadi yang holistic, menyeluruh, matang, dan dewasa. Maka, proses pendidikan menjadi sesuatu yang penting dalam pembentukan karakteristik pribadi dan bukan berorientasi pada hasil dan prestasi semata.
Salah satu metode proses pendidikan itu adalah proses metode pendidikan yang didasarkan pada keaktifan diri. Proses ini berpangkal pada sebuah pemahaman mendasar bahwa mnusia adalah mahluk yang berproses, makhluk yang dinamis. Proses yang terjadi dalam diri manusia itu yang menandai sebuah perkembangan. Oleh sebab itu, pendidikan yang berproses merupakan sebuah usaha pendampingan terhadap para peserta didik sebagai pribadi yang hidup. Dimana, adanya ruang dan waktu bagi sebuah penghargaan kodrati bagi para peserta didik untuk bersifat aktif dan kreatif berproses dalam mewujudkan dan membentuk diri. Bahwa, proses pendidikan adalah proses perangsangan dan bimbingan perkembangan diri. Proses ini juga memberikan keterbukaan bagi para peserta didik untuk memproses perkembangan dirinya dalam ruang dan waktunya. Dengan kata lain, peserta didik, dipahami, sebagai mahluk yang hidup dan aktif berinteraksi dengan dunia sekitarnya tidak hanya untuk mempertahanan hidupnya, melainkan juga untuk dapat “ hidup baik” dan bahkan “ hidup lebih baik” , maka peran pendidikan formal lebih mengarahkan pada penciptaan jalan dan suasana yang mendukung bagi proses itu. Letak para pendidik, guru, orang tua, dan masyarakat, lebih bersifat sebaga pendamping atau pembantu daripada penentu sebuah keberhasilan pendidikan. Hal yang substansi dan mendasar dalam kerangka proses ini adalah aktifitas diri peserta didik dalam membentuk dan mewujudkan diri, bahkan perkembangan intelektual yang bernilai adalah pengembangan diri.
Penutup….
Pendidikan memerlukan sebuah ruang kebebasan dan kreatifitas yang menciptakan, mendorong, merangsang , dan memperkembangkan minat, inisiatif, dan imaginasi kreatifnya dalam diri peserta didik. Oleh sebab itu, kebebasan merupakan prasyarat mutlak terciptanya proses ini. Model kebebasan adalah kebebasan disertai dengan sebuah upaya pertanggung jawaban atas apa yang telah dilakukan dan itu, mengandaikan peserta didik dituntut memiliki sebuah reflektifitas terus menerus atas kehidupannya. Sehingga, tujuan pendidikan memang mengarah kepada penciptaan kebijaksanaan hidup dalam diri peserta didik, dan satu-satunya jalan mencapainya adalah kebebasan sebagai kebebasan untuk…
Akhirnya, pendidikan merupakan sebuah proses pendidikan pewujudan nilai yang diperoleh dari proses pergumulan diri yang penuh dinamika yang mengarahkan pribadi menjadi pribadi yang dewasa.
Situs Informasi Pendidikan Indonesia - Serba-Serbi Dunia
Pendidikan : http://edu-articles.com/lama/
Versi Online : http://edu-articles.com/lama//?pilih=lihat&id=189
Versi Online : http://edu-articles.com/lama//?pilih=lihat&id=189
Kajian Islam tentang Bacaan Al-Qur'an & Kekuatan Hidup
Bacaan
Al-Qur’an dan Kekuatan Hidup.
Sesungguhnya wasilah yang utama untuk memperbaiki jiwa,
mensucikan hati dan menjaganya dari berbagai kemelut dan terapinya adalah ilmu.
Sedangkan wasilah pertama untuk mendapatkan ilmu adalah dengan membaca dan
tersedianya kitab. Oleh karenanya kita akan mendapati bahwa ketika Allah
menghendaki hidayah bagi makhluk-Nya dan mengeluarkannya dari kegelapan menuju
cahaya, maka Dia menurunkan kitab pada mereka untuk dibaca. Dan surat yang
pertama kali diturunkan dimulai dengan kalimat yang sangat agung. Kalimat yang
mengandung kunci perbaikan bagi segenap manusia walaupun berbeda masa dan
berlainan tempatnya. Kalimat tersebut adalah: “Iqra’“, bacalah. Maka,
barang siapa yang menghendaki kesuksesan, kesucian, dan perbaikan, maka tiada
jalan lain kecuali dengan dua wahyu, yakni Al Qur’an dan As-Sunnah, baik secara
bacaan, hafalan maupun pembelajaran.
Sesungguhnya dengan kembali kepada kitab yang
mengharuskan dibaca, dipahami, dan diamalkan ini merupakan langkah nyata untuk
melakukan perubahan dan pengembangan.
Seandainya kita mencermati kondisi para salafus shalih
sejak zaman Nabi saw. hingga orang-orang yang hidup sekarang ini dari kalangan
orang-orang shalih, niscaya kita temukan titik kesamaan mereka ada pada
pelaksanaan Al Qur’an, terutama ketika shalat malam. Dan amalan yang sudah
menjadi konsesus mereka yang menunjukan bahwa mereka tidak melalaikan Al Qur’an
dalam kondisi apapun, yaitu membaca satu bagian tertentu (hizb) dari Al
Qur’an setiap hari. Dari Umar bin Khattab ra. ia berkata: Rasulullah saw.
bersabda:
“Barangsiapa yang tertidur dan lupa tidak membaca satu
hizb Al Qur’an atau sebagian darinya, lantas ia membacanya antara shalat Fajar
dan shalat Dhuhur, maka ditulis baginya seakan-akan ia membacanya semalam
penuh.” (HR. Muslim)
Hadits ini menekankan agar tidak melewatkan membaca (hizb
Al Qur’an) meski banyak aral yang melintang. Sebab mereka mengetahui
seyakin-yakinnya bahwa hal tersebut merupakan konsumsi hati dimana ia tidak
akan dapat hidup tanpanya. Mereka selalu berusaha untuk mendahulukan makanan
hati tersebut sebelum makanan jasad. Mereka merasakan ada kekurangan apabila
tidak mendapatkan sesuatu darinya. Berbeda halnya dengan orang-orang yang
meremehkannya yang tidak pernah merasakan kecuali rasa lapar, haus, sakit, dan
pedihnya tubuh mereka. Adapun rasa sakit dan hausnya hati, tidak pernah mereka
rasakan.
Sesunggunnya membaca Al Qur’an pada waktu shalat malam
merupakan wasilah yang paling kuat untuk mempertahankan keberadaan tauhid dan
iman supaya tetap segar, lunak, dan basah didalam hati.
Bacaan Al Qur’an adalah pijakan bagi setiap amal salih
yang lain seperti puasa, shadaqah, jihad dan menyambung tali silaturahim.
Ketika Allah SWT. menugaskan Nabi-Nya, Muhammad saw.
dengan kewajiban dakwah sebagai tugas yang amat berat, maka Allah
mengarahkannya kepada sesuatu yang dapat membantunya, yaitu membaca Al Qur’an:
“Hai orang yang berselimut (Muhammad), bangunlah (untuk
sembahyang) di malam hari, kecuali sedikit (daripadanya), (yaitu) seperduanya
atau kurangilah dari seperdua itu sedikit, atau lebih dari seperdua itu. Dan
bacalah Al Qur’an itu dengan perlahan-lahan. Sesungguhnya kami akan menurunkan
kepadamu perkataan yang berat. Sesungguhnya bangun diwaktu malam adalah lebih
tepat (untuk khusyuk) dan bacaan diwaktu itu lebih berkesan. Sesunggubnnya kamu
pada siang hari mempunya urusan yang panjang (banyak).” (QS. Al Muzammil: 1-7)
Pada zaman kita sekarang ini telah banyak yang membahas
masalah kesuksesan, kebahagiaan, keberhasilan, dan kekuatan dalam hidup. Dan
telah banyak pula tulisan-tulisan yang berkaitan dengan hal tersebut,
masing-masing mengaku bahwa dalam bukunya tersebut atau dalam acara-acara
mereka mengandung obat mujarab dan terapi yang manjur. Ia menganggap bahwa jika
memakai buku tersebut maka tidak perlu lagi buku yang lain. Yang benar, bahwa
sifat tersebut tidak pantas diberikan kecuali kepada satu-satunya kitab, yaitu
Al Qur’an Al Karim.
Apabila hati seorang hamba sudah bergantung kepada kitab
Rabb-nya, dan ia yakin bahwa jalan kesuksesan, keselamatan, kebahagiaan dan
kekuatan dirinya ada dalam membaca dan mentadabburi Al Qur’an, maka ini
merupakan awal pijakan menggapai keberhasilan dan tangga kebahagiaan di dunia
dan akhirat.
Dr. Khalid bin Abdul Karim Al Laahim
Kunci-kunci tadabbur Al Qur’an (pustaka an-naba’)
Kunci-kunci tadabbur Al Qur’an (pustaka an-naba’)
Kajian Islam tetang Taqarrub
Taqarrub Kepda Allah
Dalil taqarrub ini terdapat dalam
Al Quran surat Al Baqarah ayat 186. Para ahli tafsir memahamaia ayat tsb
merupakan rangkaian bahasan dari ibadah puasa yang terdapat dalam surat Al
Baqarah ayat 183-187. Memang sekilas terluhat ayat tersebut tidak ada hubungan
dengan perintah puasa. Namun sebetulnya antara kedua ayat tersebut mempunyai
hubungan yang sangat erat. Bahkan ada yang memahami justru kedudukan tertinggi
yang akan diraih seorang mukmin yang berpuasa dijelaskan dalam ayat ini, yaitu
status kedekatan kepada Allah hingga menjadi orang yang selalu dalam kebenaran
(yarsyudun). Puasa dalam pandangan
ini menjadikan orang-orang mukmin meraih 3 tingkatan utama secara
berturut-turut, yaitu: muttaqin, syakirin
dan rasyidin. Muttaqin artinya orang-orang bertaqwa. Syakirin yaitu orang-orang
yang bersyukur, dan rasyidin bermakna
orang-orang yang berada dalam petunjuk kebenaran. Tingkat ketiga (rasyidin)
menjadi tingkat tertinggikarena kebenaran yang dimiliki menjadikan dirinya
mampu memberikan hidayah atau sinar petunjuk kepada lingkungan alam sekitarnya
Jika kita membuka kitab-kitab
tafsir, jabaran keterangan dari ayat tentang puasa para ahli-ahli tafsir mengambarkan betapa indahnya paha yang
didapat oleh seseorang yang menjalankan ibadah puasa. Orang berpuasa bias
mendapat pahala kedekatan dengan Allah SWT, doanya dikabulkan dst.
Dalam kandungan ayat 186 surat Al
Baqarah tersebut disebutkan (“Dan apabila
hamba-hamba-KU bertanya kepadamu tentang Aku, Maka (jawablah), bahwasanya aku
adalah dekat). Allah tidak menyruh Rasulullah untuk menyatakan “katakanlah Muhammad bahwa Aku dekat”,
tapi langsung menggunakan ungkapan “Aku
dekat”. Untuk menunjukkan betapa dekatnya Allah dengan kita sebagai sang
hamba. Allah juga mengatakan : Aku “mendengar” permohonan orang yang memohon,
tapi Aku “mengabulkan” permohonan orang yang memohon. Hal itu menjukkan
dahsyatnya pengaruh puasa, setiap mukmin yang melakukannya maka Allah akan
mengabulkan permohonannya. Ayat ini mendorong hati setiap mukminuntuk meraih seruan
indah, cinta lembut dan ridho yang menenteramkan. Dalam kedekatannya seorang
hamba yang tengah berpuasa itu dengan Allah, seorang hamba disuruh untuk
memenuhi segala pernitahNya dan memperkokoh iman kepadaNYa, agar dapat menggapai
predikat utama “kebenaran”, “petunjuk” dan “kebaikan.
Pada sepuluh hari terakhir di
bulan Ramadhan, Rasulullah Saw berupaya keras dalam beribadah. Beliau
menghabiskan harai-harinya di masjid untuk Itikaf. Dalam itikaf, beliau
melakukan shalat, dan memohon kepada Allah. Bahkan dalam satu riwayat
disebutkan “disepuluh hari terakhir
beliau membangunkan keluarganya, berjaga di malam hari, dan mengencangkan ikat
kainnya” (HR Ahmad). Dalam itikaf di masjid dan berjaga di malam hari
adalah untuk melakukan serangkaian kegiatan ibadah berupa shalat, membaca Al
Quran, berdzikir dsb. Semua itu dikrjakan dengan serius dan kerja keras
sebagaimana disimbolkan sebagai “mengencangkan
ikat kainnya”. tanpa bermalas-malas.
Dalam setiap perintah agam mesti
ada hikmah untuk kebiakan manusia. Di bulan Ramadhan, kaum muslimin
mengistirahatkan fisiknya dan membaangkitkan kegiatan spiritualnya. Mereka
mengaktifkan ruhaniahnya secara maksimal baik siang maupun malam. Salah satu
aktifitas guna memperkokoh ruhaniah itu adalah dengan melakukan itikaf.
Dalam itikaf kita diajak untuk
berdiam diri di masjid, meninggalkan seluruh aktifiktas duniawi. Meninggalkan
anak dan istri, pekerjaan, dan meninggalkan seluruh urusan. Kita diajak untuk
melakukan jihat vertical, jihad memperoleh kedekatan sedekat-dekatnya dengan
Allah. Kita diam untuk melakukan muhasabah atas apa saja yang telah kita
lakukan selama ini, dan pencapaian apa sajakah yang sudah dapat kita raih. Kita
melakukan evaluasi atas apa yang telah kita perbuat terhadap anak, istri,
keluarga, orang tua, masyarakat, bangsa, Negara dan agama.
Selanjutnya kita menyerahkan
semua itu kepada Allah denga melakukan taqarrub (mendekatkan diri) kepada
Allah.
Semoga sepuluh hari terakhir ini,
masjid-masjid kita masih banyak dan masih ada orang-orang yang melakukan kegiatan
taqarrub ini, sehingga tidak lupa sama sekali karena hari raya idul firti yang
sudah di depan mata. Insyaallah……Aamiin…
Renungan Takziah
Renungan Takziah: Di pagi Jum’at subuh ini sangat baik untuk
melakukan zikir dan do’a, namun hal itu untuk sementara ditunda dulu demi
mengenang perjalanan hidup seorang kakak sekaligus sahabat yang telah
mendahului kita yaitu: Alm Muhammad Fikri Insyauddin Dt Mandaro Panjang. Alm
mulai mendapat kontak kembali dengan kami tatkala beliau membuka Fbnya, setelah
kami sapa, pertama kali yang disampaikan alm adalah bahwa telah banyak
sahabat-sahabat nya sewaktu sekolah di Padang dulu yang telah wafat, beliau
sebutkan satu persatu, mulai dari alm Kkd Syamsul Fitri Tamin (Mak oncu), alm
Kkd Ardius Zubir (kak Diuh), alm Darwin Sinin Aia Batumbuak, terakhir
disebutkan alm Kkd Nazwir Naamin Dt
Gununang Ameh Lb Dama, dst. Tiba-tiba muncul komentar dari salah seorang di fb
itu, yang mengatakan “Mak Dt nostalgia ni yee”. Kemudian beliau melanjutkan
bahwa yang masih hidup yaitu: Kkd Asril Azis (kak As Aziz) Gelanggang Tinggi,
Kak Ali Nusri, Kak Bustani Mangguang Sati, Sdr Mairizal Mandaro Bonsu, dan kami
sendiri. Dari cerita beliau ini,
menggambarkan bahwa kami sewaktu sekolah di Padang sempat bersama tinggal di
Belakang RPT Parak Gadang Padang. Perjalanan menapaki hidup ini terkadang
memang ada sewaktu-waktu yang seiring-sejalan, namun kemudian juga kembali berpisah
di dunia tapi yang jelas akhirnya akan berpisah tatkala salah seorang diantara kita
di wafatkan. Dikala salah seorang diantaranya wafat, maka kenangan hidup
bersama itu kembali terukir, seakan-akan peristiwa itu baru saja dilalui,
walaupun kejadiannya sudah berlangsung beberapa tahun yang silam. Dari kejadian
ini kita semakin sadar bahwa maut itu merupakan sesuatu yang pasti, begitu juga
dengan hidup ini dari semenjak kecil lalu menjadi dewasa, dari dewasa menjadi
tua dan kemudian wafat, juga merupakan sesuatu yang pasti. Hati ini terasa
hampa jika salah seorang kakak atau sahabat telah mendahului kita.
Sebagaimana kita ketahui bahwa sesungguhnya kehidupan kita
ini dibatasi oleh dimensi ruang dan waktu. Dengan demikian, maka tak heran jika
banyak orang yang terperangkap di dalamnya. Sejatinya, kehidupan dunia ini
sengaja diciptakan oleh Allah swt untuk
menguji manusia; siapakah di antara mereka yang lebih baik amalannya. Hal ini
semakin jelas jika kita membuka Al-Qur’an Surat
Al-Mulk ayat 2. “ Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji
kamu, siapa diantara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi
Maha Pengampun. Ayat ini adalah sebuah pelajaran, bahwasanya kehidupan di dunia
ini memiliki peran yang sangat penting untuk kehidupan di akherat kelak. Dengan
kata lain, kehidupan di dunia ini sangat menentukan baik dan buruknya seseorang
dalam kehidupan di akherat. Oleh karena itu, kehidupan di dunia ini adalah
kunci bagi kehidupan di akherat, Hal ini sesuai dengan apa yang disampaikan Nabi
Saw di dalam sabdanya, bahwasanya kehidupan dunia merupakan lading bagi
kehidupan di akherat. Artinya, jika ladangitu ditanami dengan
tanaman-tanaman atau tumbuh-tumbuhan
yang mendatangkan banyak manfaat lalu dipelihara dengan sebaik-baiknya, maka di
kemudian hari tanamantersebut tentu bisa dipanen dengan hasil yang sangat
menggembirakan bagi penanamnya. Jadi Ibarat kita sedang bercocok tanam, maka
demikian pula yang terjadi dengan kehidupan kita di dunia ini. Apabila dalam
kehidupan di dunia ini kita gemar melakukan amal shaleh, maka sudah pasti kita
akan memetik hasilnya di akherat kelak, yakni berupa kebahagiaan dan keindahan
hidup abadi setelah mati. Sebaliknya, jika kita selalu melakukan hal-hal yang
dilarang oleh Allah Swt, maka sudah barang tentu kita akan mendapatkan
kepedihan dan hokum sesuai dengan amal kita. Untuk menuju kehidupan akherat itu
sendiri, ada sesuatu peristiwa amat penting yang pasti akan dialami oleh setiap
manusia. peristiwa yang amat penting itu disebut dengan “kematian”.
Demikian sekilas, jika dibawakan kepada perasaan, maka
belumlah cukup rasanya apa yang disampaikan ini, namun hanya itulah yang dapat
kami ulas sedikit dalam rangka menghantarkan keperian alm Kkd Muhammad Fikri
Insyauddin Dt Mandaro Panjang. Selamat jalan kkd, semoga senantiasa mendapat
RidhoNYA. Aamiin Ya Rabbal Alamin…..@@@
Kajian Islam tentang tauhid asma' wa sifat
Kajin Islam: Di dalam tauhid asma’ wa sifat, kita mengakui
bahwa Allah itu bersofat dengan segala sifat kesempurnaan. Kita mengitikadkan
dengan seyakin-yakinnya, bahwa Allah itu, wajib bersifat dengan segaa sifat
kesempurnaan. Allah sendiri telah sifatkan
diriNya dan menamai diriNYA, dan telah disifatkan oleh RasulNYA. Sifat-sifat
Allah yang Maha Esa itu, ada yang berdasarkan aqal, dan ada yang berdasarkan
naqal saja, tidak dipandang mustahil oleh akal yang sehat.
Sifat Allah yang Hayat (Hidup) dan Ilmu”, dapat ditemui
dalam Al-Qur’an surat Ali Imraan ayat
1-2 dan ayat 6. Wahyu suci Al-Qur’an itu menetapkan bahwa Allah, Tuhan
yangmenjadikan alam semesta ini, bersifat hidup, sebagaimana menetapkan bahwa Allah
itu mempunyai sifat ilmu.
Hidup itu menurut bahasa yang disampaikan para ahli,
merupakan pokok perasaan pendapat (pengertian, gerak dan subur). Pengertian
yang semacam ini suci Allah dari padanya. Maka pengertian hidup terhadap Allah,
ialah pokok pengetahuan (mabdaiil ‘ilmi) dan qudrat; artinya: Suatu sifat yang
dapat dipahamkan, dengan adanya sifat itu dapat bersifat dengan ilmu, iradat
dan qudrat. Sifat hidup yang searti-semakna ini membatalkan pendapat kaum
maddiyyin yang mengatakan bahwa pokok alam ini ialah suatu illat (kebiasaan)
yang bergerak dengan tabiatnya dan tidak merasai dirinya sendiri.
Para mutakallimin mengambil dalil dengan akal untuk
menetapkan hidup Allah, dari 2 jalan: Pertama: Menetapkan bahwa Allah itu
berkehendak, mengetahui, berkuasa. Sifat tersebut tidak bisa dipahami atau
diterima akal, kecuali bagi orang-orang yang hidup jiwa dan hatinya, atas petunjuk dan
hidayah Allah. Dalil ini masuk kedalam golongan mengqiaskan yang tiada
kelihatan kepada yang terlihat, atau mengqiaskan yang wajib kepada yang
mungkin. Jalan Kedua: hidup itu suatu kesempurnaan wujud. Tia-tiap kesempurnaan
yang tiada melazimi kekurangan yang mustahil atas yang wajib, menjadi wjib
baginya.
Pengertian wujud
(ada) ini sangat mudah diterima dan ditangkap akal. Akan tetapi muncul
tergambar wujud sesuatu, ada dengan nyata, kelihatan, tetapnya. Maka
kesempurnaan wujud, dan kekuatannya, adalah menurut kesempurnaan pengertian ada
dan kekuatannya.
Seterusnya, tiap-tiap sesuatu martabat dari martabat wujud,
menghendaki dengan sendirinyasifat-sifat yang menegaskan wujudnya; yang
menyempurnakan martabat wujudnya.
Wujud Allah, adalah pokok segala wujud yang mungkin. kalau
demikian, wujud Allah itu, mengatasi
segala wujud. Wujud Allah menghendaki adanya segala sifat-sifat yang berpadanan dengan
wujudNYA. Dengan demikian, pastilah bahwa diantara sifat yang wajib bagiNYA,
lalah sifat hayat (hidup), yaitu: sifat yang menghendaki ilmu dan iradat.
Dengan kata lain: “Hidup itu, pokok kenyataan dan ketetapan”. Tegasnya, Wajibul
wujud itu, hidup, walaupun hidupNYA berlainan dengan hidup segala ka-inat ini.
Kata Prof TM Hasybi Ash Siddiqi dalam kitab Al-Islam. Semoga kita dapat
memahaminya. In Sha Allah. Aamiin…@@@
Kajian Islam tetang pemahaman akan Iman
Kajian Islam: Berkaca
pada Ayat-ayat Al-Qur’an dan sejarah masa lalu, maka pemahaman akan iman ini
akan semakin jelas bagi kita. Di dalam
Al-Qur’an disebutkan bahwa “seandainya penduduk sebuah negeri itu beriman dan
bertaqwa kepada Allah, maka Allah berjanji akan memberikan berkah yang keluar
dari bumi dan yang turun dari langit. Perumpamaan sebuah negeri yang berkah itu
(baldatun taiyyibatun wa rabbun ghafur) sebagian kalangan ahli tafsir
menyebutkan negeri Saba, dimana kebun-kebun negerinya buah-buahan sangat
melimpah ruah, rasa manis dst. Seandai seseorang “manjujuang
katidiang/keranjang, lalu berjalan di bawah pohon yang lebat buahnya itu,
kemudian menelusuri hingga ke ujung kebun, maka katidiang/keranjangnya akan
penuh dengan buah yang masak dan ranum serta manis. Tapi kemudian karena berkah
itu tidak disyukuri, dan bahkan mereka yakin hasil yang melimpah itu berkat
teknologi dan usaha mereka, maka dalam ayat lain disebutkan dalam satu malam
sebuah kebun yang akan di panen besok hari, hanya dalam bilangan satu malam
bisa hangus dan hancur karena tidak berserah diri kepada Allah. Di lain ayat di
sebutkan negeri Sodom yang penduduknya melakukan perbuatan yang dilarang Allah
sehingga nasehat dan binbingan dari Nabi Luth tidak dihiraukan sehingga negeri
itu di jungkir balikkan oleh Allah. Sebetulnya banyak contoh-contoh lain yang
ada di dalam Al-Qur’an, namun kini kita coba lihat negeri kita dari perspektif
sejarah. Ditahun 30-an hingga 40-an negeri kita adalah sebuah negeri yang banyak para ulamanya, begitu juga
guru-guru mengaji, dan surau-surau bertebaran disetiap pelosok kampung. Negeri itu merupakan salah basis perjuangan
golongan Islam terhadap penjajah. Pada tahun itu negeri itu hasil panen padinya
sangat melimpah para warga tetangga datang kekampung itu untuk memanen padi,
pernah ada kegiatan besar di kabupaten solok
yaitu semacam kongres/muktamar, maka besarnya didatangkan dari kampung
kita. Pada petinggi adat betul-betul mengayomi kemenakan dan kaumnya. Gamgam
baruntuk itu betul-betul dijalankan oleh mereka. “Ketek banamo – gadang bagala” di laksanakan oleh
setiap warga. Sabao-sapacahan dijalankan dengan baik.
Di awal tahun 40-an dikala Jepang masuk, hasil panen itu
dirampas, para ulama mulai banyak yang wafat seperti Angku H Bahaudin, Angku H
Sulaiman, Angku Mudo Zain (saen), Angku Mudo Maun, Angku H Abdul Malik (H. Malik Railia), terakhir
Angku H Tamin Khatib Dt Gamuak. Warga negeri kita waktu Jepang masuk ada yang
berpakaian dari goni, kulit kayu (tarok), merintih dalam penderitaan karena penjajahan.
Setelah Indonesia merdeka ditahun 1945, keadaan negeri mulai membaik, padi
kembali menjadi, cengkeh kembali panen dengan lebatnya. Anak-anak negeri waktu
itu sudah kembali bisa bersekolah ke Padang, ke Jogya, ke Jakarta dan Bandung.
Tidak lama terjadi pergolakan antara PRRI dengan Pusat, keadaan negeri kembali
memburuk. akibat perang saudara.
Ditahun 60-an setelah pergantian rejim dari Presiden Sukarno ke Presiden
Suharto, 5 tahun kemudian pertanian mulai membaik, Namun tahun 1965 terjadi kjeresahan
di kalangan masyarakat karena bagi anggota partai terlarang banyak yang di
tahan. Keadaan semakin parah sejak masuknya program BIMAS-INMAS dengan
diperbolehkan warga masyarakat berutang ke Bank (manyambuik, betu jeh kecek
urang), ada yang menyambuik 1 ha, 2 ha dan banyak pinjaman yang tidak mampu
dikembalikan. Sejak program itu masuk, hama tikus mulai meraja-lela. Pengaruh
pestisida mulai memunahkan ikan-ikan di sangai dan dio kolam-kolam warga. Di
Tahun 70-an warga masyarakat sudah banyak yang mencari penghidupan (bakureh) ke
negeri tetangga, ada yang ke Saningbakar, ke Tanjung Ampalu dsb. Jika
ditelusuri dari ayat-ayat Al-Qur’an dan sejarah sebuah negeri, maka dapat
dilihat bahwa jika warga masyarakat suatu kampung itu tidak lagi beriman dan
bertaqwa kepa Allah, maka keberkahan yang ada akan Allah cabut. cara
mencabutnya, mula-mula diwafatkan para
ulamanya, kedua disulitkan penghidupan warga masyarakatnya. Jika warga itu
beriman dan senantiasa sabar dan tabah dalam menghadapi cobaan (Iman), maka warga
itu akan menjadi para mukmin. Tapi sebaliknya jika warga itu kemudian
berkeluh-kesah, masih tergoda dengan harta dunia, pangkat, jabatan, dll. Tidak
lagi taat menjalankan amanah yang diberikan (amanah mamak kepada kemenakan,
amanah orang tua kepada anaknya, amanah pemimpin kepada warganya), masjid dan
surau-surau kosong dari jamaah, anak-anak kecil dan remaja tidak lagi bisa
membaca Al-Qur’an, maka disaat itu
cobaan demi cobaan akan silihberganti.
Semoga peringatan Allah lewat ayat-ayat Alqur’an tentang
Iman dan Taqwa senantia dapat kita jalan. Aamiin ya Rabbal Alamin… @@
Kajian Islam Tentang beberapa unsur kekuatan dalam masyarakat
Kajian Islam: “unsur-unsu kekuatan dalam masyarakat”.
Menurut Sayyid Syabit dalam sebuah bukunya menyebutkan beberapa unsur-unsur
kekuatan dalam masyarakat. Disini akan kita lihat ada 3 (tiga ) unsur yang
dianggap penting. Pertama: Unsur kekuatan aqidah-tauhid, Kedua: Unsur kekuatan
ukhuwah, yang ketiga yaitu: Unsur kekuatan ekonomi,
Disini disampaikan sekilas hanya terkait dengan unsur kekuatan aqidah-tauhid. Unsur kekuatan aqidah-tauhid
ini, jika dilihat dari sejarah
perjalanan perjuangan Nabi Besar Muhammad S.a.w. Maka jelas terlihat disitu
bahwa selama 13 tahun, Rasulullah berada di Kota Mekkah, unsur inilah yang terlebih dahulu ditanamkan kepada
para pengikutnya. Setelah itu baru
diikuti oleh unsur kekuatan ukhuwah dengan mempersatukan kaum anshar dan kaum
muhajirin., lalu kemudian membangun unsur kekuatan ekonomi. Sekarang timbul
pertanyaan di hati kita, apa sebenarnya yang dimaksud dengan aqidah tauhid itu
? Aqidah tauhid itu, yaitu: Ilmu yang
membahas tentang argument terhadap kepercayaan-kepercayaan keimanan berdasarkan
dalil-dalil akal serta menolak dan menangkis segala paham yang keliru dan
menyimpang dari jalan yag lurus,
berdasarkan Al-Qur’an dan hadits. Didalam aqidah tauhid dibahas didalamnya: a.
tentang wujud Allah, sifat-sfat Allah yang wajib di-itsbatkan bagi Allah,
tentang sifat-sifat yang harus disifatkan Allah dengan dia dan tentang
sifat-sifat wajib ditiadakan dari pada Allah.
b. tentang ke-Rasulan Rasul-rasul untuk membuktikan dan menetapkan
kerasulan seorang rasul; tentang sifat-sifatnya yang wajib baginya; tentang
sifat-sifat yang harus dan tentang sifat-sifat yang mustahil baginya.Untuk
memahami aqidah tauhid diperlukan kekuatan akal. Dalam Hawasyil-isyarat
diterangkan, bahwa: Akal itu, ialah suatu tenaga jiwa untuk memahamkan
mujarradat (sesuatu yang tak dapat dirabai atau dirasai dengan panca indera).
kekuatanjiwa yang mempersiapkannya untuk memikir (untuk berusaha), dinamai
Dzihin. gerakan jiwa untuk memikirkan pokok-pokok sesuatu agar agar diperoleh
apa yang dimaksudkan yang dinamai Fikir.
Di dalam kitab falsafah: Akal itu suatu kekuatan untuk mengetahui ma’na
mujarradat, ma’na yang diperoleh dari menyelidiki dan memperhatikan rupa-rupa
benda. Al Maawardy berkata dalam
A’laamunnubuwwah, bahwa “Akal itu suatu tenaga yang berfaedah untuk
mengetahui segala yang menjadikan kepastian-kepastiannya”. Oleh karena itu akal
mempunyai kedudukan atau martabat di dalam memahami hakikat. Para hukama
berpendapat bahwa manusia dapat memahami hakikat melalui dua cara: 1. Dengan
pancaindera, 2. dengan akal (ratio). Para hukama juga telah membuktikan, bahwa
pendapat akal lebih mulia dari pendapat-pendapat pancaindera; bahwa yang
didapati akal, lebih kuat dari yang didapati pancaindera. Uraiannya begini: a) Pancaindera hanya
memperoleh bangunan-bangunan yang tertentu, seperti warna, rasa, bau, panas,
dingin. b) pendapat akal ialah, seumpama adanya Dzat Allah, Sifat-sifat Allah
dan berbagai soal yang hanya diperoleh dengan jalan akal dan berbagai macam
pengetahuan yang hasil dari nadhar. c) Pendapat akal dapat sampai kepada
hakikat, sedang pendapat pancaindera hanya memperoleh yang lahir saja, atau
yang terasa saja. d) Pendapat akal tidak berkesudahan, sedangkan pendapat
pancaindera berkesudahan (pendapat hiss). Maka dari itu maka akal merupakan
pokok pengetahuan. dmk. @@@
Kajian Islam tetang menetapkan adanya Allah
Kajian Islam: Cara
Islam menetapkan adanya Allah yang menjadikan Alam ini, telah banyak disampaikan
dengan berbagai macam cara dan alasan
yang jitu dan tepat, sehingga sulit untuk dibantah dan disanggah. Alasan-alasan yang dikemukakan Al-Qur’an itu, logis, sistematis dan
praktis. Jika ditelusuri uraian mengenai Ilmu Tauhid (Ilmu kalam), sebagaimana yang di
dikemukakan oleh Prof. T.M. Hasbi Ash Shiddiqy dalam buku Al-Islam, dijelaskan
bahwa: Untuk mengurai dan menjelaskan dalil-dalil yang diperlukan dalam
menetapkan “dasar-dasar ‘aqiedah”, para
ulama tauhid (ulama kalam) dari abad kea- bad terus-menerus menyusun berbagai
rupa kitab tauhid atau kitab kalam. Secara garis besar kitab-kitab tersebut, terbagi kepada: Tiga
Aliran. Pertama, Aliran Ahlun Nash. Diantara pemukanya, Imam Ahmad. Aliran
salafy. Kedua, Aliran Ahlul I’tizal, yang dipelopori oleh Washil ibn “Atha’
(aliran Mu’tazilah). Ketiga, Aliran Asj’ary, yang dipelopori oleh Abul Hasan Al
Asj’ary, diikuti jejaknya oleh Abu Bakar Al Baqillany, setelah itu, Al Djuainy,
setelah itu Al Ghazzalaly, setelah itu Ibnul Chatib, sesudah itu Al Baidlawy
dan sesudah iitu ulama-ulama “Ajam (Persi), seperti: Ath Thusy, At Tafazaany
dan Al Iedjy. Disamping itu terdapat lagi aliran Maturidy, yang dipelopori oleh
Abu Manshur Al Maturidy ( hal ini dapat dilihat dalam kitab: Taudliehul
“Aqaa-id). Kata beliau, sangat disayangkan kebanyakan dari kitab-kitab yang
disusun belakangan ini, tidak berdasarkan Salafy dan tidak pula berdasarkan
Nadhar yang benar. Setengahnya malah ada yang mendasarkan kepercayaan kepada
dala-il (dalil-dalil) yang dapat
dibantah oleh para filosof. dmk, sekilas semoga kita memahaminya. Aamiin. @@@
Kajian Islam
Kajian Islam: Mengkaji mengenai Iman dan Islam, maka tidk akan terlepas
pembicaran dari hubungan manusia dengan Allah Swt dan hubungan manusia dengan
sesama manusia. Perbedaan pendapat dapat
dijadikan hikmah jika kita mampu melihat permasalahan secara jernih. Dewasa ini
yang sering terjadi khilafiah terutama menyangkut dengan ibadah-iabadah maghdah
seperti shalat, puasa, zakat dan haji, hal itu timbul karena dari masing-masing
pihak melihat dari sudut yang berbeda. Di dalam shalat ada sunnah qunut misalnya,
yang satu melihat dari ilmu fikih, sedang yang lain melihat dari sudut
kesempurnaan sunnah. Begitu juga disaat seseorang di makamkan sebagian
menginginkan jenazah di azankan sedangkan yang lain tidak menginginkan. Hal ini
juga tidak terlepas dari yang satu pihak melihat karena tidak ada tuntunan dari
Nabi Saw sedangkan yang lain melihat dari sisi adab dan akhlak. Yang jelas
hingga saat ini perbedaan-perbedaan tersebut masih dalam tataran kesunahan
belaka. Oleh karena itu maka tidaklah sepatutnya hal-hal semacam itu
dibesar-besarkan sehingga menimbulkan perpecahan. Sepanjang kita ini masih
melaksanakan shalat rawatib sesuai dengan syarat dan rukunnya, tetap bersama
dalam berjamaah di masjid dan mushalla serta surau, dan tidak menambah
ketentuan shalat yang sudah ditetapkan dalam shalat rawatib. Di dalam kiqamullail seperti tarawih, ada
yang melaksanakan 11 rakaat dan ada yang 23 rakaat, itu semata karena kemampuan
masing-masing dalam menjalankan sunnah juga.
Terkait hubungan dengan sesama manusia, untuk lebih
mendalami lagi segi-segi Iman pada bagian-bagian tuntutan-tuntutannya yang
tidak mungkin dapat dipenuhi, kecuali oleh mereka yang mendapat karunia
Makrifat yang disempurnakan dengan dorongan taufik dari Allah Swt yang
terhimpun dalam kitab suci Al-Qur’an, diantaranya:
“Patuhlah kamu keoada Allah dan selesaikan segala
perselisihan diantara kamu, dan patuhilah Allah dan rasulnya bila kamu memang
benar-benar beriman” (Al-Anfaal: ayat 1)
“Adapun orang yang sungguh-sungguh beriman,
berdebar-debarlah hatinya mengingat Allah, dan bertambahlah keyakinannya dikala
menyaksikan Qudrat-qudrat Nya, sehingga senantiasa bertawakkal kepada Tuhannya”
(Al-Anfaal: ayat 2)
“Mereka itulah yang benar-benar menjalankan shalatnya dan
benar-benar membelanjakan karunia Kami” (Al-Anfaal: ayat 3)
“Yah, mereka itulah orang-orang yang benar-benar beriman…..”
(Al-Anfaal” ayat 4)
Pada ayat 1, terdapat 3 syarat mutlak untuk beriman. pertama
: patuh kepada Allah, dengan penuh ketulusan tauhid serta berbakti. Tidaklah
suatu tujuan selain mencari keridhaan Allah. Ini adalah usaha atau perjuangan
bathin atau jihadunafsi. Kedua: Memperbaiki nasib dan memelihara hubungan
msyarakat di antara sesama Muslim, supaya segala bentuk perselisihan dapat
diselesaikan demi persatuan dan kejayaan bersama. Ini adalah usaha sosial.
Ketiga: Memathui dan menyelenggarakan segenap perintah Allah dan RasulNya dan
menjauhi segenap larangannya. Ini, adalah usaha lahiriya yang satu sama lain
tidak boleh dipisah-pisahkan.
Pada ayat kedua dan ketiga, terdapat pula beberapa tuntutan
Iman yang tidak boleh ditinggalkan, bila orang tersebut menghendaki ketinggian
martabat Iman. Adapun yang dimaksud dengan martabat itu ialah: Ketekunan dan
keeratan tali hubungan langsung dengan Allah. Dimana dalam hal ini, senantiasa
seseorang selalu bersiap-siaga. Selalu ingat akan Allah, ingat akan sorganya
dan ingat akan nerakanya. maka tia-tiap seruan Illahi dilaksanakan, dan
larangan-larangan Allah dielakkan dan dijauhi. Sungguh amat jauhlah bedanya
antara Iman yang sudah dilengkapi dengan makrifat, sehingga menjadi keyakinan
jika dibandingkan dengan Iman yang negative, yang kosong dari makrifat.
Kita sadar bahwa Iman seseorang tidak selalu tetap atau
membeku, tetapi dapat pula bertambah dan berlipat-lipat ganda meningkat
derajatnya, karena senantiasan bermuhasabah dengan dinamika kehidupan dan
pengalaman yang dihadapi sehari-hari.
Semoga kita senantiasa mandapat taufik danhidayah dalam
rangka peningkatan Iman dan Ilsam. Aamiin…@@
Kajian Islam ttg orang2 yang mendirikan shalat
Kajian Islam:
Orang-orang yang mendirikan shalat dan yang menafkahkan sebagian
rezkinya yang diberikan Allah kepada mereka. Itulah orang-orang yang beriman
dengan sebenar-benarnya. mereka akan memperoleh beberapa derajat ketinggian
disisi Allah dan ampunan serta rezki atau nikmat yang mulia.
Mendirikan shalat dapat diartikan jika seseorang senantiasa
shalat tepat pada waktunya, berjamaah di masjid, lalu mlaksanakan shalat-shlat
sunat seperti ba’diah-qabliah shalat
rawatib serta melaksanakan shalat tahajud dan shlata dhuha. Mereka juga
melakukan zikir pagi dan sore, serta senantiasa berinfak, berzakat dan
bersedekah. Disamping itu mereka juga senantiasa melakukan kegiatan-kegiatan
muamalah atau kegiatan-kegiatan sosial-kemasyarakatan. Hubungan mereka dengan
Allah dan hubungan mereka dengan sesama manusia senantiasa terjalin setiap
saat.
Jika ditelusuri lebih jauh tentang orang-orang beriman maka
dapat dibagi dalam berbagai kategori. pertama. Para Rasul, kedua, para ambiya
(nabi-nabi), kategori ketiga, para siddiqin (orang-orang yang lurus dan benar),
kategori keempat, para suhada (orang-orang yang berjuang syahid di jalan
Allah), kategori kelima: para shalihin (para orang-orang shaleh), kategori
keenam: masyarakat awam (orang-orang biasa).
Tiap-tiap orang mudah menjadi muslim, akan tetapi tidak
mudah menjadi mukmin. Ada perbedaan asasi antara Islam dan Iman. Dalam hal ini,
Al-Qur’an menjelaskan perbedaan
keislaman dan Keimanan itu di dalam Surat Al-Hujurat ayat 14. Dimana di ayat
tersebut dijelaskan bahwa “Kamu masih belum beriman. Kamu baru saja menyerah,
karena dada-dada belumlah dihujani Iman”.
Ketika Rasulullah Saw memberikan hadiah kepada seseorang,
salah seorang sahabat beliau memberikan peringatan : “Ya Rasulullah, engkau
lupa akan sifulan, sedang diapun seorang Mukmin. Apa bukan Muslim ?. Sahabat
itu mengulangi pertanyaannya, tetapi jawab rasulullah tetap “apakah bukan
Muslim”.
Sesungguhnya, pada umumnya amatlah mudah Islam itu, tetapi
intinya adalah Iman. Tatkala Rasulullah Saw ditanya “Ya Rasulullah, amal apakah
yang pailing baik ? Jawab beliau “Islam”. Dan bagian manakah yang paing utama
daripadanya Ya rasulullah? jawab beliau “Ialah bahagian Iman”.
Tuntutan Iman itu tidaklah mudah, Iman itu mempunyai 70
tingkat. Yangtertinggi yaitu: Kalimah tauhid “La ilaha illa-Llah” Sedangkan
yang terendah ialah membuang gangguan di tengah jalan. Jika seseorang telah
Islam tetapi belum mampu memperlancar si’ar-dakwah Islam, maka orang tersebut
belumlah dianggap sebagai seorang Mukmin. Jika seseorang sudah bersyahadat
namun masih melakukan perbuatan-perbuatan yang dilarang Allah dan Rasulnya,
maka juga belumlah dapai dianggap sebagai seorang Mukmin. Jika seseorang masih
ada di dalam hatinya sifat sombing, ujub dan takabur, masih sudah mengadu-doma,
asuang pitanah, bermuka dua, masih suka pergi ke dukun, maka orang tersebut
juga masih belumlah dapat dianggap sebagai seorang mukmin. Semoga kita
senantiasa dapat menuju tingkat Iman itu sesuai dengan niat baik dan ikhtiar
kita, hingga akhirnya maut menjemput. In Sha Allah. Aamiiin….@@
Kajian Islam tentang Iman & Taqwa
Kajian Islam: Berbicara tentang Iman dan Taqwa tidaklah akan
habis-habisnya dibicarakan, hal itu dapat dilihat disetiap waktu saat khotbah
juma’t khatib akan berpesan kepada dirinya dan kepada jamaah shalat jum’at agar
senantiasa meningkat Iman dan Taqwa ( Ittaqullah haqqa tu katih, wala tamutunna
wa antum muslimun), bertaqwalah dengan sebenar-benar taqwa dan jangan mati
sebelum menjadi seorang muslim. Namun kenyataan
sehari-hari yang dilihat bahwa peningkatan Iman dan Taqwa itu tidaklah
pernah di renungkan bagi setiap orang. Apakah Iman dan Taqwanya meninggkat dari
hari ke hari, atau dari Jum’at ke Jum’at?. Jika hal itu berlalu begitu saja,
maka lama-kelamaan hati manusia itu akan menjadi keras. Apabila hati sudah di
cap Allah menjadi keras maka kisah Nabi Nuh yang anaknya sendiri tidak mau
mengikuti ajaran bapaknya sebagai nabi, maka Allah mengirimkan bencana berupa
banjir besar. Begitu juga dengan kisah Nabi Musa, yang mengajar saudara
angkatnya Fir’aun yang menganggap dirinya lebih berkuasa dari Allah, hingga
akhirnya di tenggelamkan di laut Merah. Oleh karena itu sadarilah bahwa pesan
khutbah jum’at yang didengar setiap Jum’at itu mestinya membawa pengaruh
terhadap Iman dan Taqwa, jika tidak hati orang akan menjadi keras.
Perlu di renungkan kembali bahwa penyebab terjadinya banjir
karena hati manusia itu sudah di cap Allah menjadi keras. Disamping itu
penyebab banjir juga dapat dikarenakan oleh karena perbuatan tercela seperti
Zina dan Judi. Penyakit masyarakat ini harus senantiasa disampaikan oleh para
ulama disetiap negeri. Jika tidak maka tidak mustahil banjir bandang dan
longsor akan sering terjadi. Begitu juga dengan penyakit masyarakat yang tidak
amanah misalnya didalam perjanjian “pagang-gadai”. Pagang-gadai ini secara adat
sebetulnya tidak sesuai dengan ajaran Islam. Hasil pagang diambil separo oleh
yang mamagang sawah, disamping itu disaat penyerahan gadai biasanya ada sebuah
amanah yang disampaikan oleh pelepas gadai. “Nanti jika ada kemenakannya yang
sudah memperoleh harta dan ingin menebus sawah yang digadaikan, maka tolong
amanah itu dilaksanakan. Tapi kenyataannya dikala kemenakan pelepas gadai
menyampaikannya kepada pemegang gadai, maka sering di jawab bahwa ybs tidak menerima amanah yang
demikian.
Jika kita ingin negeri kita menjadi sebuah negeri yang
baldatun taiyyibatun wa rabbun ghafur. maka marilah kita cermati apa yang sudah
disebutkan dalam Al-Qur’an dan juga pengalaman sejarah yang masih dapat dilihat
dengan mata-kepala sendiri. Sehingga kita sadar-sesadar sadarnya bahwa setiap
peristiwa tidaklah datang dengan sendirinya, tanpa ada sebab-musabab yang telah
dibuat oleh penduduk negeri itu.
Semoga kita kembali kepada Al-Qur’an dan hadits-hadits yang
telah disampaikan oleh Nabi kita Muhammad Saw. Semoga …Aamiin…@@
Kajian Islam tentang Manisnya Iman
Kajian Islam: Tiada
ungkapan syukur yang patus diucapkan, melainkan Alhamdulillah yang dijadikan
modal dasar apabila seseorang ingin mendekatkan diri kepada Allah Swt. Meraih
manisnya iman bukan pekerjaan sambil lalu, dan bukan pula pekerjaan yang ringan.
Iman itu bukanlah kata ungkapan, bukan slogan dan bukan pula nyanyian. Iman itu
bukan sekedar didiskusikan, disimposiumkan atau dimuktamarkan. Iman itu bukan bunga-bunga bibir belaka,
bukan pula sekedar tulisan canggih yang hanya
didengungkan, tanpa dimengerti apa maksud dan maknanya. Iman itu percaya
kepada Allah Swt, Malaikat-malaikatnya, Rasul-rasulnya, KItab-kitabnya, Hari
akhir dan percaya kepada qadar baik dan buruk. Kepercayaan semua itu,
kepercayaan yang tidak ada “Syak-wasangka”, tidak ragu-ragu lagi. Kemudian iman
itu menghujam ke dalam otak dan hati sanubari sesorang sehingga akhirnya
menjadi seorang mukmin.
Sering diantara kita menanyakan, apa sebetulnya tanda-tanda
iman itu?. Hal ini telah di jelaskan dengan tegas dalam surat Al-Anfal ayat 2.
yang artinya: “Sesungguhnya orang-orang
yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah, maka bergetar
hatinya dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, maka
bertambah-tambah iman mereka. Dan kepada Allahlah mereka bertawakkal.
Yaitu orang-orang yang mendirikan shalat dan yang
menafkahkan sebagian rezkinya yang diberikan Allah kepada mereka. Itulah
orang-orang yang beriman dengan sebenar-benarnya. mereka akan memperoleh
beberapa derajat ketinggian disisi Allah dan ampunan serta rezki atau nikmat
yang mulia.
Rasulullah Saw pernah menyinggung mesalah orang yang dapat
merasakan manisnya iman. Sabda beliau “Tiga perkara baran siapa yang terdapat
padanya akan merasakan manisnya iman. Olehnya lebih mencintai Allah dan
Rasulnya dari selainnya. Olehnya mencintai seseorang karena Allah semata, dan
olehnya merasa benci untukkembali menjadi fakir setelah diselamatkan Allah
sebagaimana ia merasa benci untuk dicappakkan ke dalam api”.
Manisnya iman, melaksanakan segala macam taat, sehingga iman
itu betul-betul bersatu dalam diri pribadi seseorang, bersabar dan tahan menderita dalam mencari keridhaan
Allah dan Rasul serta mengutamakan keduanya atas kepentingan terhadap harta
benda. Yang dimaksud, orang-orang yang memperoleh manisnya iman tersebut “olehnya mencintai Allah dan
Rasulnya melebihi cintanya kepada yang lain”, yaitu : mengerjakan apa yang
diperintakan dan menjauhi apa yang dilarang, serta membenci apa yang dibenci
anata keduanya”. Semoga kita senantiasa dapat memperolehnya. Aamiin….@@
Kajian Islam Tentang salah satu Fungsi Kenabian "Syaahidan"
Kajian Islam:
Berbicara tentang Iman dan Taqwa juga ada hubungannya dengan
fungsi-fungsi kenabian. Di dalam surat Al-Ahzab : 45-46) digariskan 5 fungsi
kenabian. 1) Syahidan, 2) Mubasysyiran, 3) Nadziran, 4) Daa’iyan ilallah 5)
Siroojan Munira. Fungsi kenabian pada hakekatnya berkaitan dengan persoalan
yang sangat mendasar yaitu bagaimana mengubah perilaku manusia dari perilaku
jahiliyah yang tidak neriman (kafir) menjadi perilaku yang beriman dan beradb
(akhlaqul Karimah). Inilah tugas semua nabi dan Rasul mengajak manusia untuk
meninggikan kalimat tauhid “La ilaaha Illallah”. Tidak ada Tuhan yang berhak
disembah (diibadahi) selian Allah.
Keyakinan terhadap makna Kalimat Tauhid ini mampu
membebaskan manusia dari keterbelakangan, perbudakan, kebodohan dan kemiskinan.
Kalimat ini mampu mengantarkan manusia kepada kemerdekaan yang
sebenar-benarnya. Tidak hanya kemerdekaan politik tapi kemerdekaan dalam
berbagai aspek kehidupan, medeka dalam bidang sosial kemasyarakatan, merdeka
dalam bidang ekonomi dan budaya. karena seorang muslim tidak boleh tergantung
kepada makhluk, hanya bergantung kepada Allah semata. Apalagi bergantung kepada
pihak asing dalam berbagai bidang kehidupan. Ummat islam harus merdeka dengan
kalimat tauhid “”Laa Ilaaha Illallah”.
1) Syaahidan (fungsi
Ketauladanan). Manusia pada dasarnya diciptakan dengan sebaik-baik ciptaan.
Artinya ada dua unsure pokok elemen dasar yang membangun struktur ciptaan
manusia. Yakni pertama unsure Ruh yang bersumber dari unsure Allah Swt yang
Maha Kudus (kesucian). Jadi dalam diri manusia ada unsur kesucian (Malaikat). manusia pada dasarnya memiliki
kecenderungan kepada kebaikan dan kebenaran (Al-Haq). Tetapi sebaliknya dalam
diri manusia ada juga unsure tanah-bumi yang menopang jasmani yang bersifat
fisik dan duniawi. Unsur nafsu duniawi yang berlebihan memiliki kecenderungan
merusak dan jahat (As-Syithan). Unsur malaikat dan syaithan dalam diri manusia
berbanding 50%:50%. Artinya ketika manusia dilahirkan, kemungkinan untuk
menjadi manusia baik 50%, dan kemungkinan untuk menjadi manusia jahat juga 50%.
Oleh karena itu Rasulullah Saw menyebutnya dengan Istilah “Fitrah”. Setiap anak
adam yuang dilahirkan dalam kondisi fitrah. maka kedua orang tuanyalah
(lingkungan) yang menyebabkan dia menjadi yahudi, nasrani atau majusi. Oleh
karena itu untuk mewujudkan dan membentuk manusia yang baik perlu didorong dengan menciptakan situasi dan
kondisi yang kondusif dengan memberikan contoh dan ketauladanan yang baik.
Sebab manusia adalah makhluk yang sangat mudah beradaptasi, termasuk
beradaptasi dengan kondisi dan situasi yang baik.
Rasulullah bukan hanya mampu memberikan contoh dan
ketauladanan, namun beliau adalah contoh dan ketauladanan itu sendiri.
Kehidupan Rasulullah dalam waktu 24 jam ada suri tauladan ummat manusia. Mulai
dari cara tidur, bangun, makan, minum, berkeluarga, bekerja dan berinteraksi
dengan sesame dengan makhluk Allah yang lain, seluruh peri kehidupan Rasulullah
adalah contoh yang baik bagi manusia (Uswatun hasanah). Demikianlah satu fingsi
kenabian yang dapat disampaikan. Semoga kita dapat meniru dan meneladai
perilaku Rasulullah tsb. Aamiin….@@
Kajian Islam Tentang becanda atau besenda gurau
Kajian Islam: “ Bencanda yang tercela”. Bercanta itu adlah mengeluarkan kata-kata
yang mewujudkan kegembiraan hati dan kelapangan perasaan, atau yang dapat
mewujudkan ketawa. Bercanda ini menurut
para ulama hanya sedikit yang dibolehkan. Apabila kita memperbanyak canda maka
terlarang hukumnya; karena mungkin
dengan canda yang banyak akan dapat
membawa kita kepada tersinggungnya perasaan. Apalagi ketawa yang banyak itu dapat memadamkan nur
hati dan menghilangkan harga diri.
Ada beberapa hadits menyebebutkan:
·
“Bahwasanya seseorang itu sungguh membicarakan
sesuatu pembicaraan buat menertawakan teman-teman yang sekedudukan dengannya,
lalu terjunlah ia dengan candanya itu kedalam neraka” ( HR Turmudzy – Jami’ 1 :
67)
·
“ Saya ada bercanda, tetapi tidak saja
mengeluarkan perkataan, melainkan yang benar” (Al-Kunuz 2 : 114)
·
“Celaka bagi yang berbicara, lalu berdusta untuk
menertawakan orang. Nah, celaka baginya, kemudian lagi celaka baginya” (HR
Ahmad – Jami’ 2 : 185)
·
“Seseorang itu bisa menerjunkan dirinya kedalam
neraka lantaran sepatah perkataan yang diucapkan untuk membawa manusia tertawa”
(HR Abid-Dunya – Syarah Ihya 7 : 496)
Dari penjelasan hadits-hadits itu jelaslah bagi kita bahwa
yang dibolehkan adalah canda yang membawa kepada hiburan hati dan kepada kelapangan
perasaan. Dalam pada itu disyaratkan supaya senantiasa dijaga baik-baik adab
dan peradaban.
Canda-gurau yang
keluar dari garis peradaban dan kelayakan dapat melahirkan marah atau jijik,
maka syarak melarangnya. Canda itu
adakalanya tercegah dan adakalanya diharuskan. Canda yang terlarang karena
maksudnya supaya orang-orang tertawa, dan candanya berkepanjangan. Canda yang
dibolehkan jika tidak berkepanjangan dan tidak pula bermaksud menertawakan
orang lain. Canda yang baik itu untuk
mendatangkan kegembiraan didalam hati, menjauhkan kejenuhan/kejemuan atau
kepayahan berpikir dan membangkitkan semangat berpikir atau bekerja kembali,
setelah sejenak beristirahat. Semoga kita dapat menjalankannya. In Sha Allah,
Aamiin…@@
Kajian Islam Tentang Hidup
Kajian Islam: “Hidup itu pokok ilmu dan iradat”. Ada
beberapa hal yang dapat diperhatikan tentang ini yaitu: Pertama: Hidup itu
adalah suatu kamal wujudi (kesempurnaan ada) dan dialah yang menjadikan pangkal
kepandaian mengatur dan pengkal kebijaksanaan. Maka tiap-tiap yang menjadi
pangkal kecakapn mengatur dan pokok kebijaksanaan adalah kesempurnaan wujud.
Ringkasnya, hidup itu, kesempurnaan wujud. Kedua: Allah itu yang memberikan
wujud kepada alam, sedangkan alam itu
sendiri tanpa diberikan wujud oleh Allah,
maka alam itu tiada mempunyai sifat hidup; Ketiga: Jika Allah itu tiada hidup,
padahal hidup itu kesempurnaan wujud yang diberikan Allah dan menjadi pokok
ilmu dan iradat, tentulah ada dari kemungkinan yang lebih sempurna dari
padaNYA. Ada dalam kemungkinan yang lebih sempurna yang diberikan Allah, dan
itu sudah pasti demikian, dan suatu yang mustahil jika tidak demikian.
Inilah tiga alasan akal untuk menetapkan bahwa Allah itu
bersifat hajat. Ayat ke 2 dari Surat Ali Imraan, menegaskan bahwa Allah itu
bersifat ilmu (mempunyai sifat ilmu).
Yang dikehendari dari ilmu, ialah: Suatu sifat yang dengan dialah
terbuka segala sesuatu.
Lebih jelas lagi dapat dikatakan bahwa ilmu itu suatu sifat
atau suatu kekuatan yang dengan dialah terbuka (dapat diketahui) segala yang
dimaklumi. Selanjutnya yang perlu di perhatikan bahwa, ilmu itu suatu sifat
kesempurnaan dengan berbagai macam kemungkinan. Allah bersifat dengan dia
(ilmu), wajiblah kita menetapkan bahwa Allah itu bersifat dengan ilmu itu.
Hasilnya Allah yang wajibul-wujud itu, ‘alim.
Untuk menguatkan itikad ini, maka perlu diperhatikan
ketentuan-ketentuan ala mini. Kebagusan dan Kesempurnaan kejadian alam,
ketertibannya, keseimbangannya, menyatakan bahwa Allah yang mengatur alam
sedemikian rupa, Maha mengetahui, Maha ‘alim.
Dengan ayat itu, Allah menarik perhatian kita kepada cara
pembentukan manusia dalam rahim ibu dan cara manusia dengan berangsur-angsur,
dari satu keadaan ke keadaan lain, dengan system evolusi, maju setingkat demi
setingkat, dst.
Jika kita perhatikan rupa nuthfah (tetesan mani)
yangberangsur-angsur berobah hingga menjadi manusia, tentulah kita lihat, bahwa
ia pada mulanya, tidak lebih dari setetes air yang didalamnya terkandung
binatang-binatang yang paling rendah). Kemudian dengan perlahan-lahan menjadi
segumpal darah. Kemudian dengan berangsur-angsur menjadi seperti anak katak.
Sesudah itu lahirlah padanya tulang belakang yang menyerupai paruh burung dan
tubuh binatang kecil. setelah itu menjadi sebagai binatang yang empat kaki.
Sesudah itu muncul kepala dan lahirlah dua lengan dan mulailah anggota-anggota
itu berangsur-angsur subur; terbentuklah mata, hidung dan mulut. Kemudian dari
itu, barulah dapat dibedakan antara laki-laki dan perempuan. Setelah itu
terbukalah mata dan kepala ditmbuhi rambut. Selanjutnya perhatikan betapa Allah
mengadakan pada tubuh itu beberapa pesawat. Masing-masing pesawat itu mempunyai
tugas yang tertentu. Masing-masing pesawat mempunyai anggota. Allah mengadakan
pesawat untuk gerak, seperti tulang dan urat-urat saraf; pesawat untuk membagi
darah yaitu jantung dan segala perangkat salurannya keseluruh tubuh; pesawat
untuk bernapas, seperti paru-paru; peasawt untuk penghancur makanan, seperti
mulut, pencernaan dan hingga ke dubur dan kubul; peasawt kulit dan pesawat-pesawat
lainnya. Semuanya itu Allah bentuk dari setitik nuthfah; Allah jadikan dari air
yang hina. Bila kita perhatikan kejadian manusia itu, maka nyatalah betapa
tingginya ilmu Allah yang Maha Mengetahui.
Dalam Al Qur’an Allah berfirman: lihat Surat Al-An’aam ayat
3 dan ayat 59. Kemudian Allah menegaskan bahwa Allah itu bersifat ilmu, dan
ditegaskan lagi bahwa kunci ghaib itu ditangan Allah. Ghaib yang dimaksud
tersebut ialah segala sesuatu yang diluar pancaindera dan yang diluar dari yang
sanggup manusia memperolehnya dengan jalan biasa/wajar. Misalnya yang ghaib itu
seperti mengathui Czat Allah, Dzat Malaikat, Jin dan hari akhirat. Tegsanya,
ghaib itu terserah kepda Allah sendiri. Tak sanggup diketahui oleh makhluk
terkecuali dengan jalan Allah sendiri menerangkan
(mengkhabarkan). Dan ghaib itu melengkapi maujud yang tak ada jalan kita
mengatahui hakikatnya, seperti dzat Allah dan seperti segala sesuatu yang akan
terjadi dimasa datang yang belum diliputi oleh wujud saat ini, semisal hari
akhirat. Demikian sekilas, semoga kita selalu dalam hidayahNYA. Aamiin….@@@
Kajian Islam Tentang Bersuci /Thaharah
Kajian Islam: Berbicara mengenai Iman dan Islam, juga erat
kaitannnya dengan bersuci atau Thaharah. Di dalam Islam bersih itu bukan hanya
sekedar bersih secara fisik tapi juga
bersih secara bathin. Jadi bukan hanya zatnya saja yang bersih, melainkan sifatnya juga harus bersih sehingga seorang
muslim itu senantiasa bersih zatnya dan bersih sifatnya. Seorang Muslim itu
harus bersih ucapannya, bersih niatnya, dan bersih tingkah lakunya. Di dalam Islam sering kita menemui
pembicaraan bahwa “kebesihan itu sebahagian dari Iman. Bahkan di dalam kitab Buluughul
Maraam Min Adilatil Ahkaam karangan Ibnu Hajar Atsqalani, Bab bersuci
ditempatkan pada bab pertama. Seorang
Muslim ada beberapa hal yang harus diperhatikan agar dirinya selalu bersih.
Cara membersihkan diri dalam islam ada dengan cara bersuci, berwudhuk dan
mandi. Seorang Muslim yang terkena najis maka yang bersangkutan harus
membersihkandiri dengan bersuci yaitu membersihkan dirinya dari najis tersebut.
Jika seseorang Muslim “berjinabah” maka wajib hukumnya baginya untuk melakukan
“mandi wajib” atau mandi jinabah. begitu juga bagi seorang muslimah yang
sehabis haid, maka wajib baginya “mandi” (wajib), agar dirinya kembali bersih
dari najis. Oleh karena itu seorang muslim/muslimah perlu mempelajari tata cara mandi wajib sesuai dengan
sunnah-sunnah Rasullah Saw. Akhir-akhir ini pelajaran tentang bersuci ini
sangat jarang di dapatkan di bangku pelajaran maupun di surau-surau, padahal
hal semacam ini merpakan sesuatu yang penting untuk dijadikan perhatian oleh
setiap kita,terutama bagi para orang tua, sehingga anak-anaknya paham betul apa
yang dinamakan bersuci.
Di dalam Islam, banyak hadits-hadits yang berkaitan dengan
“mandi dan hukum jinabat”. Dalam suatu riwayat dari Abu Hurairah Ra. disebutkan
bahwa Rasulullah Saw bersabda: “Apabila seseorang laki-laki duduk diantara
empat bagian (tubuh) wanita lalu ia mencampurinya, maka ia telah wajib mandi”,
bahkan di dalam Riwayat Muslim menambahkan:”Meskipun ia belum mengeluarkan (air
mani)”.
Dalam hadits lain dari Anas Ra, bahwa Rasulullah Saw
bersabda tentang wanita yang bermimpi sebagaimana mimpinya seorang laki-laki,
beliau bersabda: Ia harus mandi”. Dari ‘Aisyah Ra, berkata Rasulullah Saw
biasanya mandi karena empat hal: jinabat, hari Jum’at, berbekam, dan memandikan
mayit. (Riwayat Abu Daud). Dalam riwayat lain “Aisyah Ra berkata: Biasanya
Rasulullah Saw jika mandi karena jinabat akan mulai dengan membersihkan kedua
tangannya, kemudian menumpahkan air dari tangan kanan ke tangan kri, lalu
mencuci kemaluannya, kemudian berwuduk, lalu mengambil air, kemudian memasukkan
jari-jarinya ke pangkal-pangkal rambut, lalu menyiram kepalanya tiga gemgam
air, kemdian mengguyur seluruh tubuhnya dan mencuci kedua kakinya.
Karena begitu pentingnya hal bersuci ini, maka sebaiknya
seorang muslim/muslimah kembali lagi mempelajari tata cara mandi, terutama
mandi wajib, sehingga dirinya senantiasa bersih secara lahir maupun bathin. In
Sha Allah…Aamiin..@@
Kajian Islam tentang Sifat-sifat Allah
Kajian Islam: Iman
kepada nama dan sifat Allah adalah salah satu rukun iman. Iman kepada Allah itu meliputi: -. Iman kepada wujud Allah, -. Iman kepada
rububiyah Allah, -. Iman kepada uluhiyah Allah, -. Iman kepada nama dan sifat
Allah. Mentauhidkan Allah dalam dan dan sifat-Nya merupakan salah satu bagian
dari tiga tauhid yang harus diyakini seorang muslim, yaitu tauhid rububiyah,
tauhid uluhiyah dan tauhid asma’ (nama) dan sifat. Dengan demikian, mengenal
nama dan sifat Allah memiliki kedudukan dan arti penting dalam agama. Seseorang
tidak akan dapat beribadah kepada Allah secara sempurna dan dengan keyakinan
yang benar sebelum mengetahui nama dan sifat Allah. Di dalam Al-Qur’an suray
Al-Araf ayat 180 disebutkan bahwa “Hanya milik Allah asma-ul husna, maka
berdo’alah kepadaNya dengan menyebut asma-ul husna itu”. Do’a yang dimaksud
dalam ayat di atas, meliputi do’a permintaan dan do’a ibadah. Do’a permintaan
adalah berdo’a dan memohon kepada Allah dengan menyebutkan nama-nama Allah yang
sesuai dengan permohonannya, seperti mengatakan: “Ya Allah Yang Maha Pengampun,
ampunilah saya” atau “Ya Allah Yang Maha Pengasih, kasihanilah saya”, atau Ya
Allah Yang Maha Pelindung, lindungilah saya”. Sedangkan do’a ibadah adalah
melaksanakan ketaatan kepada Allah berdasarkan makna yang terkandung dalam
nama-nama tersebut. Umpamanya, kita bertaubat karena Allah, karena Allah
memiliki nama At Tawwab (Maha Penerima Taubat), kita berzikir dengan lisan kita
karena Allah memiliki nama As Sami’ (Maha Mendengar); kita beribadah dengan
anggota tubuh kita karena Allah memiliki nama Al Bashir (Maha Melihat); dan
kita takut kepada Allah meskipun dalam keadaan sendiri karena Allah memiliki
nama Al Lathif Al Khaiir ( Maha Tahu lagi Maha Teliti) dst.
Mengingat pentingnya masalah ini, maka sebagian ulama
menggunakan kaidah-kaidah dalam pemahamannya , sehingga mudah untuk dimengerti.
Kaidah dalam memahami Nama-nama Allah dalam kitab Al Qawai‘idul Mutsla yang di
karang oleh Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin terdiri dari tujuh kaidah
yaitu: Kaidah Pertama: Nama-nama Allah itu semuanya husan; Kaidah ke Dua:
Nama-nama Allah itu merupakan nama dan sifat sekaligus; Kaidah ke Tiga:
nama-nama Allah itu jika menunjukkan pengertian transitif mengandung tiga hal
dan jika menunjukkan pengertian intransitive mengandung dua hal; Kaidah Ke
Empat: Penunjukan nama-nama Allah terhadap dzat dan sifat_Nya dapat dilakukan
dengan Muthabaqah, Tadhamun, dan Iltizam; Kaidah ke Lima: Nama-nama Allah
sifatnya Tauqifiyah, akal tidak boleh ikut berperan sama sekali; Kaidah ke
Enam: Nama-nama Allah tidak terbatas jumlahnya, Kaidah ke Tujuh: Dikatakan
menyeleweng, member nama Allah tidak dengan cara semestinya. Demikian, semoga
kita dapat memahaminya In Sha Allah…. Aamiin…@@
Kajian Islam tentan Iman & Islam
Kajian Islam: Berbicara tentang Iman dan Islam, juga sangat
erat kaitannya dengan sebuah program yang pernah didengungkan oleh beberapa
tokoh masyarakat yaitu “ Program ba baliek ka surau”. Dewasa ini kita sadar
bahwa masih banyak diantara warga masyarakat
kita yang belum fasih membaca Al-Qur’an. Padahal Al-Qur’an itu merupakan sebuah
kitab yang dijadikan pedoman dan arah untuk memajukan sebuah negeri. Al-Qur’an itu merupakan salah satu
dari rukun Iman yang harus dipercayai kebenaran, jika kita belum fasih membaca
dan juga belum paham akan makna dan kandungannya, maka dapat dipastikan, nilai
kepercayaan kita kepada Al-Qur’an tentu masih dirasa kurang. Untuk
mengelaborasi agar supaya warga masyarakat paham akan isi kandungan Al-Qur’an,
tentu harus ada program. Program babaliek ka surau ini perlu dicermati dan
disusun sedemikian rupa sehingga setiap warga dapat mengikutinya, yang akhirnya
setiap kita mampu untuk membaca Al-Qur’an itu dengan fasih. Mampu mengetahui
dan menhgayati isi kandungan Al-Qur’an.
Berkaca dari pengalaman di negeri kita, pada masa lalu ada 2
surau yang selalu mengajarkan Al-Qur’an kepada warga yaitu: Surau Tanah Taban,
yang di asuh oleh Angku Mudo Zain (Angku Mudo Seen), dan satu lagi Surau Buah
Talang (yang kini sudah menjadi Masjid Taqwa), yang diasuh oleh Angku Mudo
Maun. Surau Tanah Taban sejak Angku Mudo Zein wafat, bebera saat diteruskan
oleh anak-anak beliau yaitu: alm Kkd Djuaini Zein, setelah kkd Djuani Zein
hijrah ke Jakarta di teruskan oleh adik beliau yaitu: Alm Kkd si Cun, tapi
sejak alm Kkd si Cun merantau ke Curup-Bengkulu, Surau Tanah Taban tidak ada
lagi gurunya, akhirnya bubar. Surau Buah Talang, setelah Angku Mudo Maun wafat,
diteruskan oleh anak beliau Yaitu: Alm
Mmd Marunin, kemudian setelah Mmd Marunin merantau ke Jambi, kegiatan
mengaji di surau itu , mulai tersendat, dan akhirnya di teruskan oleh Angku
Mudo yang sekarang . Di Surau Buah Durian (Surau di Ateh) sewaktu Angku Khatib
Agus masih hidup , sehabis berjualan dari pecan ke pecan, Angku Khatib Agud mengajarkan
kepada murid-muridnya membaca Al-Qur’an, tapi setelah beliau wafat, kegiatan
mengaji Al-Qur’anpun mulai tersendat. Demkianlah perjalanan sejarah pengajian
Al-Qur’an di negeri kita.
Jika kita berkaca pada negeri lain (negeri rantau),
guru-guru mengaji itu mendapat tempat terhormat dimata masyarakat, dengan
kegiatan mengaji Al-Qur’an, para guru itu dapat hidup dengan layak. Para
guru mengaji itu bukan hanya mengajarkan
“Batang”, atau hanya untuk sekedar bisa membaca Al-Qur’an, tapI lebih jauh para
guru-guru mengaji itu, memberikan pelajaran tafsir, Hadits-hadits Nabi Saw,
termasuk juga kajian-kajian “Sirah Nabawiyah, Sirah Sahabat” serta
kajian-kajian sufi dll. Para guru-guru mengaji itu juga mempunyai nasab bacaan
yang sampai kepada Rasulullah Saw.
Jika kita ingin mensukseskan “program babaliek ka surau”,
tentu tentang mengaji Al-Qur’an ini perlu lagi mendapat perhatian tokoh-tokoh
masyarakat. Sehingga akhirnya nanti setiap warga dapat hendaknya fasih dan
lancar membaca Al-Qur’an termasuk isi dan makna serta kandungan-kandungan dari
Al-Qur’an. Semoga. Aamiin….@@
Langganan:
Postingan (Atom)