Kajian Islam: “Hidup itu pokok ilmu dan iradat”. Ada
beberapa hal yang dapat diperhatikan tentang ini yaitu: Pertama: Hidup itu
adalah suatu kamal wujudi (kesempurnaan ada) dan dialah yang menjadikan pangkal
kepandaian mengatur dan pengkal kebijaksanaan. Maka tiap-tiap yang menjadi
pangkal kecakapn mengatur dan pokok kebijaksanaan adalah kesempurnaan wujud.
Ringkasnya, hidup itu, kesempurnaan wujud. Kedua: Allah itu yang memberikan
wujud kepada alam, sedangkan alam itu
sendiri tanpa diberikan wujud oleh Allah,
maka alam itu tiada mempunyai sifat hidup; Ketiga: Jika Allah itu tiada hidup,
padahal hidup itu kesempurnaan wujud yang diberikan Allah dan menjadi pokok
ilmu dan iradat, tentulah ada dari kemungkinan yang lebih sempurna dari
padaNYA. Ada dalam kemungkinan yang lebih sempurna yang diberikan Allah, dan
itu sudah pasti demikian, dan suatu yang mustahil jika tidak demikian.
Inilah tiga alasan akal untuk menetapkan bahwa Allah itu
bersifat hajat. Ayat ke 2 dari Surat Ali Imraan, menegaskan bahwa Allah itu
bersifat ilmu (mempunyai sifat ilmu).
Yang dikehendari dari ilmu, ialah: Suatu sifat yang dengan dialah
terbuka segala sesuatu.
Lebih jelas lagi dapat dikatakan bahwa ilmu itu suatu sifat
atau suatu kekuatan yang dengan dialah terbuka (dapat diketahui) segala yang
dimaklumi. Selanjutnya yang perlu di perhatikan bahwa, ilmu itu suatu sifat
kesempurnaan dengan berbagai macam kemungkinan. Allah bersifat dengan dia
(ilmu), wajiblah kita menetapkan bahwa Allah itu bersifat dengan ilmu itu.
Hasilnya Allah yang wajibul-wujud itu, ‘alim.
Untuk menguatkan itikad ini, maka perlu diperhatikan
ketentuan-ketentuan ala mini. Kebagusan dan Kesempurnaan kejadian alam,
ketertibannya, keseimbangannya, menyatakan bahwa Allah yang mengatur alam
sedemikian rupa, Maha mengetahui, Maha ‘alim.
Dengan ayat itu, Allah menarik perhatian kita kepada cara
pembentukan manusia dalam rahim ibu dan cara manusia dengan berangsur-angsur,
dari satu keadaan ke keadaan lain, dengan system evolusi, maju setingkat demi
setingkat, dst.
Jika kita perhatikan rupa nuthfah (tetesan mani)
yangberangsur-angsur berobah hingga menjadi manusia, tentulah kita lihat, bahwa
ia pada mulanya, tidak lebih dari setetes air yang didalamnya terkandung
binatang-binatang yang paling rendah). Kemudian dengan perlahan-lahan menjadi
segumpal darah. Kemudian dengan berangsur-angsur menjadi seperti anak katak.
Sesudah itu lahirlah padanya tulang belakang yang menyerupai paruh burung dan
tubuh binatang kecil. setelah itu menjadi sebagai binatang yang empat kaki.
Sesudah itu muncul kepala dan lahirlah dua lengan dan mulailah anggota-anggota
itu berangsur-angsur subur; terbentuklah mata, hidung dan mulut. Kemudian dari
itu, barulah dapat dibedakan antara laki-laki dan perempuan. Setelah itu
terbukalah mata dan kepala ditmbuhi rambut. Selanjutnya perhatikan betapa Allah
mengadakan pada tubuh itu beberapa pesawat. Masing-masing pesawat itu mempunyai
tugas yang tertentu. Masing-masing pesawat mempunyai anggota. Allah mengadakan
pesawat untuk gerak, seperti tulang dan urat-urat saraf; pesawat untuk membagi
darah yaitu jantung dan segala perangkat salurannya keseluruh tubuh; pesawat
untuk bernapas, seperti paru-paru; peasawt untuk penghancur makanan, seperti
mulut, pencernaan dan hingga ke dubur dan kubul; peasawt kulit dan pesawat-pesawat
lainnya. Semuanya itu Allah bentuk dari setitik nuthfah; Allah jadikan dari air
yang hina. Bila kita perhatikan kejadian manusia itu, maka nyatalah betapa
tingginya ilmu Allah yang Maha Mengetahui.
Dalam Al Qur’an Allah berfirman: lihat Surat Al-An’aam ayat
3 dan ayat 59. Kemudian Allah menegaskan bahwa Allah itu bersifat ilmu, dan
ditegaskan lagi bahwa kunci ghaib itu ditangan Allah. Ghaib yang dimaksud
tersebut ialah segala sesuatu yang diluar pancaindera dan yang diluar dari yang
sanggup manusia memperolehnya dengan jalan biasa/wajar. Misalnya yang ghaib itu
seperti mengathui Czat Allah, Dzat Malaikat, Jin dan hari akhirat. Tegsanya,
ghaib itu terserah kepda Allah sendiri. Tak sanggup diketahui oleh makhluk
terkecuali dengan jalan Allah sendiri menerangkan
(mengkhabarkan). Dan ghaib itu melengkapi maujud yang tak ada jalan kita
mengatahui hakikatnya, seperti dzat Allah dan seperti segala sesuatu yang akan
terjadi dimasa datang yang belum diliputi oleh wujud saat ini, semisal hari
akhirat. Demikian sekilas, semoga kita selalu dalam hidayahNYA. Aamiin….@@@
Tidak ada komentar:
Posting Komentar