Senin, 01 Oktober 2018

Kajian Islam tetang pemahaman akan Iman

Kajian Islam:  Berkaca pada Ayat-ayat Al-Qur’an dan sejarah masa lalu, maka pemahaman akan iman ini akan semakin jelas bagi kita.  Di dalam Al-Qur’an disebutkan bahwa “seandainya penduduk sebuah negeri itu beriman dan bertaqwa kepada Allah, maka Allah berjanji akan memberikan berkah yang keluar dari bumi dan yang turun dari langit. Perumpamaan sebuah negeri yang berkah itu (baldatun taiyyibatun wa rabbun ghafur) sebagian kalangan ahli tafsir menyebutkan negeri Saba, dimana kebun-kebun negerinya buah-buahan sangat melimpah ruah, rasa manis dst. Seandai seseorang “manjujuang katidiang/keranjang, lalu berjalan di bawah pohon yang lebat buahnya itu, kemudian menelusuri hingga ke ujung kebun, maka katidiang/keranjangnya akan penuh dengan buah yang masak dan ranum serta manis. Tapi kemudian karena berkah itu tidak disyukuri, dan bahkan mereka yakin hasil yang melimpah itu berkat teknologi dan usaha mereka, maka dalam ayat lain disebutkan dalam satu malam sebuah kebun yang akan di panen besok hari, hanya dalam bilangan satu malam bisa hangus dan hancur karena tidak berserah diri kepada Allah. Di lain ayat di sebutkan negeri Sodom yang penduduknya melakukan perbuatan yang dilarang Allah sehingga nasehat dan binbingan dari Nabi Luth tidak dihiraukan sehingga negeri itu di jungkir balikkan oleh Allah. Sebetulnya banyak contoh-contoh lain yang ada di dalam Al-Qur’an, namun kini kita coba lihat negeri kita dari perspektif sejarah. Ditahun 30-an hingga 40-an negeri kita adalah sebuah negeri  yang banyak para ulamanya, begitu juga guru-guru mengaji, dan surau-surau bertebaran disetiap pelosok kampung.  Negeri itu merupakan salah basis perjuangan golongan Islam terhadap penjajah. Pada tahun itu negeri itu hasil panen padinya sangat melimpah para warga tetangga datang kekampung itu untuk memanen padi, pernah ada kegiatan besar di kabupaten solok  yaitu semacam kongres/muktamar, maka besarnya didatangkan dari kampung kita. Pada petinggi adat betul-betul mengayomi kemenakan dan kaumnya. Gamgam baruntuk itu betul-betul dijalankan oleh mereka. “Ketek  banamo – gadang bagala” di laksanakan oleh setiap warga. Sabao-sapacahan dijalankan dengan baik.
Di awal tahun 40-an dikala Jepang masuk, hasil panen itu dirampas, para ulama mulai banyak yang wafat seperti Angku H Bahaudin, Angku H Sulaiman, Angku Mudo Zain (saen), Angku Mudo Maun,  Angku H Abdul Malik (H. Malik Railia), terakhir Angku H Tamin Khatib Dt Gamuak. Warga negeri kita waktu Jepang masuk ada yang berpakaian dari goni, kulit kayu (tarok), merintih dalam penderitaan karena penjajahan. Setelah Indonesia merdeka ditahun 1945, keadaan negeri mulai membaik, padi kembali menjadi, cengkeh kembali panen dengan lebatnya. Anak-anak negeri waktu itu sudah kembali bisa bersekolah ke Padang, ke Jogya, ke Jakarta dan Bandung. Tidak lama terjadi pergolakan antara PRRI dengan Pusat, keadaan negeri  kembali  memburuk. akibat perang saudara.  Ditahun 60-an setelah pergantian rejim dari Presiden Sukarno ke Presiden Suharto, 5 tahun kemudian pertanian mulai membaik, Namun tahun 1965 terjadi kjeresahan di kalangan masyarakat karena bagi anggota partai terlarang banyak yang di tahan. Keadaan semakin parah sejak masuknya program BIMAS-INMAS dengan diperbolehkan warga masyarakat berutang ke Bank (manyambuik, betu jeh kecek urang), ada yang menyambuik 1 ha, 2 ha dan banyak pinjaman yang tidak mampu dikembalikan. Sejak program itu masuk, hama tikus mulai meraja-lela. Pengaruh pestisida mulai memunahkan ikan-ikan di sangai dan dio kolam-kolam warga. Di Tahun 70-an warga masyarakat sudah banyak yang mencari penghidupan (bakureh) ke negeri tetangga, ada yang ke Saningbakar, ke Tanjung Ampalu dsb. Jika ditelusuri dari ayat-ayat Al-Qur’an dan sejarah sebuah negeri, maka dapat dilihat bahwa jika warga masyarakat suatu kampung itu tidak lagi beriman dan bertaqwa kepa Allah, maka keberkahan yang ada akan Allah cabut. cara mencabutnya,  mula-mula diwafatkan para ulamanya, kedua disulitkan penghidupan warga masyarakatnya. Jika warga itu beriman dan senantiasa sabar dan tabah dalam menghadapi cobaan (Iman), maka warga itu akan menjadi para mukmin. Tapi sebaliknya jika warga itu kemudian berkeluh-kesah, masih tergoda dengan harta dunia, pangkat, jabatan, dll. Tidak lagi taat menjalankan amanah yang diberikan (amanah mamak kepada kemenakan, amanah orang tua kepada anaknya, amanah pemimpin kepada warganya), masjid dan surau-surau kosong dari jamaah, anak-anak kecil dan remaja tidak lagi bisa membaca Al-Qur’an,  maka disaat itu cobaan demi cobaan akan silihberganti.

Semoga peringatan Allah lewat ayat-ayat Alqur’an tentang Iman dan Taqwa senantia dapat kita jalan. Aamiin ya Rabbal Alamin… @@

Tidak ada komentar:

Posting Komentar