“ANAKKU (Ya
Bunayya)”
Anak adalah kunci kebahagiaan
setiap pasangan suami-istri, bahkan Rasul Saw bersabda “aku cinta kepada ummatku yang banyak melahirkan anak”. Persoalan bagi kita setelah memiliki buah hati
yang sangat kita harapkan, terkadang dibiarkan begitu saja artinya disini anak
lahir hanya karena hawa nafsu tetapi tidak mempertanggung jawabkan keberadaan
anak. Lalu sejauh mana peran sebagai orang tua dalam mendidik anak?
Lukman Al-Hakim adalah salah satu
contoh teladan yang tepat dalam membina anaknya, terukir indah dalam ayat-ayat
Al-Qur’an. (QS Luqmaan : 13). Perhaikan sejenak pembinaan lukman kepada
anaknya. “ Hai anakkku, janganlah kamu
mempersekutukan Allah”. Beliau mengungkapkan perkataan yang indah, menggunakan
cara yang berpengaruh dan menyampaikan kata-kata yang masuk ke dalam hati.
Lihatlah kelembutan perkataannya
kepada anaknya ketika dia memberikan pelajaran, “Ya bunayya (Wahai anak kecilku)!”. Perkataan tersebut
berulang-ulang disebutkan, karena perkataan tersebut memiliki arti penting di
dalam hati sang anak. Perkataan tersebut memiliki pengaruh pada diri anaknya
dan sangat membantunya untuk mendengarkan pelajaran tersebut dengan baik,
sehingga dia dapat benar-benar mengambil manfaat dri pelajaran tersebut. Betapa
besar pengaruh suatu perkataan apabila disampaikan dengan cara yang ramah.
Apabila pelajaran disampaikan
dengan tidak ramah, seperti yang dikatakan oleh seseorang ketika dia menasehati
atau melarang, bagaimana mungkin hati
orang yang dinasehati akan terbuka untuk menerima penyampaian dengan cara ini
yang begitu dibenci. Tidak diragukan bahwa cara penyampaian yang kurang bijak
akan menutup pikiran dan menjadikannya tidak bersemangat untuk menerimanya.
Subhanallah, begitu penting
rupanya bahasa yang digunakan Lukman kepada anaknya, dalam berkata saja ada
rambu-rambu yang diajarkan dalam mendidik anak dengan pendidikan yang bersumber dari petunjuk Rasul-Nya. “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah
dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan
batu” (QS. At-Tahrim: 6). Ali bin Abi Thalib Ra ketika menafsirkan ayat ini
berkata “(Maknanya): Ajarkanlah kebaikan untuk dirimu dan keluargamu”.
Syaikh Abdurrahman as-Sa’di
berkata, “Memelihara diri (dari api neraka) adalah dengan mewajibkan bagi diri
sendiri untuk melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya, serta
bertobat dari semua perbuatan yang menyebabkan yang menyebabkan kemurkaan dan
siksa-Nya. Adapun memelihara istri dan anak-anak (dari api neraka) adalah dengan
mendidik dan mengajarkan kapada mereka (syariat Islam), serta memaksa mereka
untuk (melaksanakan) perintah Allah. Maka seorang hamba tidak akan selamat
(dari siksa neraka) kecuali dia (benar-benar) melaksanakan perintah Allah
(dalam ayat ini) pada dirinya sendiri dan pada orang-orang yang dibawah
kekuasaan dan tanggung jawabnya.”
Anjuran Rasul Saw bagi
suami-istri sebelum bergaul membaca do’a “ Dengan menyebut nama Allah, ya Allah
jauhkanlah kami dari (gangguan) setan dan jauhkanlah setan dari rezki yang
Engkau anugerahkan kepada kami”. Jika
nanti Allah mentaqdirkan dari hubungan tersebut lahir seorang anak, maka setan
tidak akan bisa mencelakakan anak tersebut selamanya.
Berdasarkan keterangan tersebut,
jelaslah bahwa syariat Islam merupakan satu-satunya metode yang benar dalam
pendidikan anak. Ini berarti bahwa hanya dengan menerapkan syariat islamlah
pendidikan dan pembinaan anak akan membuahkan hasil yang baik.
Semoga nilai-nilai Islam dalam
membina anak selalu menyertai kehidupan kita terutama dalam membina pelaksanaan
shalat lima waktu secara berjama’ah bersama suami-isteri dan anak-anak,
sehingga terjalin rasa saying dan keterbukaan. Dua moment itulah (saying dan
keterbukaan) yang dapat menghantarkan anak-anak kita menuju kesuksesan
dunia-akherat. Amiiin.@@@
Tidak ada komentar:
Posting Komentar