Rabu, 12 Juni 2019

Kajian Islam ttg: Kebiasaan masyarakat zaman now

Didalam walimah nikah masyarakat zaman now, masih banyak berbagai hal yang perlu diluruskan agar bersesuaian dengan syariat dan tidak merusak moral serta tidak merugikan material. Walimah nikah zaman now, hampir  semuanya diselenggarakan dengan pengeluaran biaya yang tidak sedikit.
Di zaman Umar pernah melarang orang-orang yang mampu dan berkecukupan untuk berlebih-lebihan dalam kegiatan walimah nikah dengan sajian makanan yang berbagai macam. Hal itu di khawatirkan akan menjadi adat-kebiasaan yang memberatkan dan dapat nantinya masyarakat umum mengikuti kebiasaan yang menjerumuskan  kejalan beban hutang yang memberatkan.
Diberitakan Ibnu Umar bahwa pada suatu ketika Umar mendengar berita bahwa Jazzied Ibnu Abi Syofyan setiap waktu  menyajikan berbagai jenis makanan; setiap saat menyiapkan makanan-makan yang lezat. Umar berkata kepada seorang budak Jazied yang telah dimerdekakan, ujarnya: Bila datang waktu Jazied makan, beritahulah kepadaku. Aku ingin menyaksikan keadaan makanannya.
Maka dikala diberitahukan yang demikian kepadanya, pergilah beliau kerumah Jazied. Sesampai disana, Jazied mempersilahkan Umar masuk dan meminta agar Umar bersedia untuk makan bersama. Makanan yang mula-mula disuguhkan, ialah daging masak. Sesudah itu dibawa lagi daging panggang.  Jazied dengan tidak memperhatikan keadaan Umar terus mengambil daging panggang itu dan lalu memakannya. Sedangkan Umar tidak makan lagi. Dalam keadaan itu Umar berkata kepada Jazied. Wahai Jazied, apakah engkau  makan makanan atas makanan ?  Demi Tuhan, jika kamu menyalahi adat yang dibiasakan rakyat umum, maka Allah akan membawa mereka kejalan yang keliru disebabkan ulah pekertimu.
Maksud Umar menegaskan bahwa masyarakat umum akan senantiasa meniru-meneladaniorang-orang besarnya. Maka sebab itu karena pemimpin terlalu memewahkan walimah nikah, terlalu membesar-besarkan acara resepsi, masyarakat umum  akan terjerumus kedalam kancah mengikuti hawa nafsu dengan tidak disadari dan terjadilah lomba-berlomba dalam soal perhelatan. Masing-masing mereka ingin melabihi temannya; ingin menyediakan makanan yang lebih banyak; lebih lezat-sedap. Sehingga mereka berlebih-lebihan dan bangga membanggakan diri.
Nabi bersabda: "Berlaku hemat itu, seproh penghidupan" (HR. Al Baihaqy). dmk. Semoga kita sll dalam hidayahNya. Aamiin. @@

Selasa, 11 Juni 2019

Kajian Islam ttg: "Sifat2 ahli syorga dn ahli neraka"

Untuk mengetahui sifat-sifat ahli surga dan ahli neraka, dapat dipahamkan ayat-ayat Al Qur'an yang terdapat dalam surat Yaasien (S.36), yaitu: mulai dari ayat 55 hingga ayat 65.
"Sesungguhnya penghuni ssurga pada hari itu  bersenang-senang dalam kesibukan (mereka)" [ayat 55]
Mereka dan pasangan-pasangannya berada dalam tempat yang teduh, bersandar di atas dipan-dipan" [ayat 56]
"Di surga itu mereka memperoleh buah-buahan dan memperoleh apa saja yang mereka inginkan" [ayat 57]
"(Kepada mereka dikatakan), "Salam", sebagai ucapan selamat dari Tuhan Yang Maha Penyayang" [ ayat 58]
"Dan (dikatakan kepada orang-orang kafir),'Berpisahlah kamu (dari orang-orang mukmin) pada hari ini, wahai orang-orang yang berdosa !" [ayat 59]
"Bukankah Aku (Allah) telah memerintahkan kepadamu wahai anak cucu Adam agar kamu tidak menyembah setan? Sungguh, setan itu musuh yang nyata bagimu" [ayat 60]
""dan hendaklah kamu menyembah-Ku (Allah). Inilah jalan yang lurus" [ayat 61]
"Dan sungguh, ia (setan itu) telah menyesatkan sebagian besar dianara kamu. Maka apakah kamu tidak mengerti ?" [ayat 62]
"Inilah (neraka) Jahanam yang dahulu telah diperingatkan kepadamu" [ayat 63]
"Masuklah kedalamnya pada hari ini karena dahulu kamu mengingkarinya" [ayat 64\
"Pada hari ii Kami (Allah) tutup mulut mereka; tangan mereka akan berkata kepada Kami dan kaki mereka akan memberi kesaksian terhadap apa yamg dahulu mereka kerjakan" [ayat 65]
Semoga saja ayat-ayat ini dapat dimengerti dan dipahami dengan setulus hati, sehingga dapat mengingsafkan orang-orang yang ingin ditunjuki jalan yang lurus tidak jalan yang sesat dan tidak pula jalan yang dimurkai. Tapi apabila mereka telah dibutakan mata hatinya, tentulah ancaman dan peringat ayat-ayat ini tidaklah berarti dan memberi guna apa-apa sedikitpun bagi mereka. Semoga kita selalu dalam hidayahNya. Aamiin....@@


Minggu, 31 Maret 2019

Kajian Islam ttg: Pedoman/Tuntunan mencari rezki yang halal dengan cara yang halal.

Di dalam Al Qur'an ada beberapa ayat yang menjelaskan tentang rezki yang halal ini, diantaranya:
1. Terdapat dalam surat Al Baqarah (S.2) ayat 168: " Wahai manusia ! Makanlah  dari (makanan)  yanag halal dan baik yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langlah syetan. Sungguh, syetan itu musuh yang nyata bagimu"
2. Terdapat dalam surat Al A'raaf (S.7) ayat 32: Katakanlah (Muhammad), "Siapakah yang mengharamkan perhiasan dari Allah yang telah disediakan untuk hamba-hambaNya dan rezki yang baik-baik ? Katakanlah, "Semua itu untuk orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia, dan khusus (untuk mereka saja) pada hari kiamat" Demikianlah Kami menjelaskan ayat-ayat itu untuk orang-orang yang mengetahui.
3. Terdapat dalam surat Al Mukminun (S.23) ayat 51 : "Wahai para Rasul! Makanlah dari (makanan) yang baik-baik, dan kerjakanlah kebajikan. Sungguh, Aku Maha Mengetahui apa yang kamukerjakan"
4. Terdapat dalam surat Al Maaidah (S.5) ayat 5 : "Pada hari ini dihalakan bagimu segala yang baik-baik.. dst

Di dalam Hadits-hadits disebutkan:
1."Datang kepadamu manusia pada suatu masa, tiada perduli lagi seseorang pada masa itu tentang apa-apa yang ia ambil, dari halal ataupun dari haram" (HR. Ahmad)
2. "Tiada dapat masuk ke syurga daging dan darah yang tumbuh dari zat yang haram, hanya nerakalah yang lebih patut dengannya. Manusia, dua orang yang berjalan, maka ada yang berjalan untuk melepaskan dirinya dan ada pula yang berjalan untuk membinasakan dirinya itu"(HR. At.Turmudzy)

Demikian semoga kita terhindar dari segala rezki yang diharamkan itu. Insya Allah. Aamiin....

Sabtu, 23 Maret 2019

Kajian Islam ttg Puasa Ramadhan

Dasar ibadah puasa wajib (di bulan Ramadhan) terdapat di dalam Al Qur'an Surat Al Baqarah (S.2) ayat 183, 184 dan 185. Sedangkan hadits-hadits Nabi s.a.w. yaitu:
1. "Bulan Ramadhan, itulah bulan yang difardukan Allah kamu berpuasa didalamnya, dan aku telah mensyariatkan untukmu ibadat malamnya. Maka barangsiapa berpuasa dibulan ramadhan dan beribadat dimalam harinya karena iman dan mengharap akan Allah, keuarlah ia dari dosa-dosanya sebagai seorang bayi keluar dari perut ibunya" (HR. Ibnu Majah, Al Baihaq1y)
2. "Simpulan-simpulan Islam dan dasar-dasarnya yang terpokok, tiga perkara: (atas dasar-dasar itulah dibina Islam)). Barangsiapa meninggalkan salah satunya, dihukum kafir, halal darahnya. Yaitu : Mengaku bahwa tak ada tuhan yang sebenarnya disembah melainkan Allah (dan bahwasanya Muhammad itu utusan Allah), mendirikan shalat dan berpuasa di bulan Ramadhan. (HR. Abu Ja'laa).
3. "Barangsiapa berbuka (tidak berpuasa dengan sengaja) pada sesuatu hari dari hari-hari Ramadhan dengan ketiadaan uzur dan ketiadaan sakit, niscaya puasa yang ditinggalkan itu, tak dapat diganti oleh qadla sepanjang masa" (HR. Abu Daaud, An Nasaai dan Ibnu Khuzaimah).
4. Segala amal anak Adam baginya sendiri, melainkan puasa. Puasa itu bagiKu dan Aku akan memberi pembalasannya" (HR. Bukhaary)
Pengertian Puasa yaitu: "Menahan nafsu dari syahwatnya  dan m,enceraikan nafsu itu dari segala kebiasaannya dan menyederhanakan kekuatan kerinduan, (supaya bersiaplah jiwa untuk menuntut kebahagiaan dan kenikmatannya dan menerima pengheningan-pengheningan bathin yang membawa kepada kesentosaan jiwa dan supaya patahlah keruncingan lapar dan keganasannya serta menginsafkan jiwa terhadap nasib peruntungan manusia yang lapar) dan buat mengekang tenaga-tenaga anggota dari melepaskan kekangnya kepada hukum tabiat yang membencakan kelak".
Karena puasa itu menceraikan diri dari syahwatnya, yang mana hal tersebut merupakan suatu pekerjaan yang sukar sekali dilaksanakan, tiadalah Allah mencepatkan turunnya hukum berpuasa kepada para hamba. Sesudah ketentuan tauhid terhujam beberapa lama dalam lubuk jiwa ummat; sesudah ketentuan shalat dilaksanakan ummat dengan sebaik-baiknya. Kewajiban berpuasa ini disyariatkan setelah nabi berhijrah ke Medinah. Menurut para Ulama pada mulanya puasa ini diwajibkan dengan cara" boleh memilih antara berpuasa dengan memberi makanan tiap-tiap hari seorang miskin". kemudian setelah kewajiban puasa ini dipahami hikmahnya secara benar-benar oleh para ummat, maka barulah puasa tersebut diwajibkan kepada semua ummat. Dalam pada itu masih juga terus berlaku aturan 'memberi makan" kepada orang miskin sebagai ganti puasa terhadap orang-orang yang tidak sanggup mengerjakan puasa. Disamping itu dibolehkan kepada orang yang sedang sakit dan dalam safar meninggalkan puasanya dengan syarat mengganti sebanyak yang ditingalkan itu dihari-hari yang lain. Seterusnya disamakan hukum orang yang sedang hamil dan menyusui anak dengan orang-orang yang telah sangat tua, yang tidak sanggup lagi berpuasa.
Sabda Nabi Saw: "bahwasanya Allah telah menggugurkan puasa dari orang-orang yang bunting dan yang sedang munyusui anak" (HR Ahmad)
Selanjutnya disamakan hukum orang yang sakit berlama-lama, sakit yang tidak diharap sembuh lagi, dengan orang yang tidak sanggup berpuasa.
Dmk, semoga dapat dimaklumi. Insya Allah. Aamiin...@@

Kamis, 21 Februari 2019

Kajian Islam Ttg: "Bertengkar yang dilarang"

Kata "bertengkar" dalam bahasa melayu dapat dipahamkan dengan kata "berkesumat". Berkesumat (bertengkar) yang dilarang, ialah: "bertengkar atau tuduh-menuduh dengan cara yang tidak sopan, dengan mengeras-ngeraskan suara, tidak menjaga peradaban dan kesopanan, sehingga tuduhan menjadi sahut-menyahut dalam perang mulut, untuk memperoleh suatu maksud, berupa benda atau lainnya".
Bertengkar dengan memakai kata=kata yang tidak atau kurang sopan, kata-kata yang menyakitkan hati, merendahkan lawan, sungguh amat buruk dan tercela. Karena yang demikian itu menghidupkan api kemarahan yang menyebabkan nyala demdam dan membawa kepada permusuhan. Hal yang demiian akan mengganggu ketentraman perasaan dan menghilangkan kelurusan hatiu.
Karena itu syara' (agama) melarang orang berkesumat, menuduh dengan cara yang tidak sopan itu.
Dan hendaklah kita senantiasa memakai cara yang halus-indah, tutur kata yang baik-menarik, sikap yang tidak menyakitkan hati atau menyentuh perasaan, walau sekalipun dalam kita mempertahankan hak-milik atau kebenaran.
Kata hukama: " Tiada saya dapati sesuatu yang sangat menghilangkan Agama, sangat menguragkan muru'ah, sangat menyia-nyiakan kelezatan dan keindahan dan sangat mengacau-balaukan hati, selain dari berkesumat (bertengkar).
Kata Ali bin Abi Thali ra "Bahwasanya pada pertengkaran-pertengkaran itu, terdapat berbagai-bagai kebinasaan".
Semoga kita selalu terhindar dari ber4kesumat atau bertengkar itu. In Sha Allah.  Aamiin.

Kajian Islam Ttg: "Pengertian Menistai dan mengeluarkan kata-kata keji"

Kata "Menistai" akhir-akhir ini begitu populer ditelinga kita. Oleh karena itu arti dan makna menistai yang benar adalah sebagaimana yang pernah di sampaikan oleh para ulama yaitu: "Menistai dan memaki", ialah: mencarut-carut orang dan mengeluarkan kata-kata keji, ialah mengeluarkan tutur kata yang keji dan menyalahi kesopanan atau menyebut urusan-urusan yang dipandang keji dengan perkataan-perkataan yang terang dan jelas, walaupun benar"
Jadi, hendaklah seseorang muslim memakai kata-kata kinayat (sindiran) diwaktu menerangkan urusan-urusan yang dipandang keji. Dan hendaklah ia menerangkan dengan memakai ibarat-ibarat yang indah-indah yang dapat dipahamkan maksudnya, terkecuali apabila keadaan berhajat dan meminta kepada bertashrieh, berterus terang.
Perlu ditegaskan bahwa memaki orang yang telah mati dilarang keras oleh agama.
Kata Nabi Shalallahu 'alaihi wassallam:
1. "Laa tasubbul amwata fi innahum qad afdlau ila' ma qadimu" artinya: "jangan kamu memakiorang yang telah mati, karena mereka telah pergi kembali ketempat meraka datang" (H.R. Al Bukhary)
2. "Laa tasubbul amwata fa tu'dzu bihil ahyaa": "jangan kamu maki orang yang telah mati, karena dengan demikian kamu menyakiti orang yang masih hidup" (Al Mughnie 'an hamlil asfar 3 : 122)

Rabu, 20 Februari 2019

Kajian Islam Ttg: "Tanda-tanda Islam dan Iman yang benar"

Sessungguhnya, Islam itu mempunyai beberapa tanda dan imanpun demikian. Bukanlah semua orang yang mengaku dirinya Islam, benar Islam; dan bukanlah pula semua orang yang mukmin (yang mengaku dirinya mukmin), benar beriman.
Diantara manusia ada yang berkata: bahwa mereka beriman; sebenarnya mereka amat jauh dari iman. Demikian firman Allah dalam surat Al Baqarah.
a. Muslim yang sebenarnya, ialah: Mereka yang tidak mengganggu manusia dengan tangannya atau lidahnya.
b. Muslim yang sebenarnya, ialah: Mereka yang menyerahkan diri keoada Allah; senantiasa memperhatikan perintah (suruhan) dan juga larangan.
c. Muslim yang sebenarnya, ialah: Orang yang tiada meengahkan kewajibannya, tiada sekali-kali mau mendekati barang yang terlarag; senantiasa ia menyeru kepada ebajikan dan senantiasa ia berusaha mencari rezeki dijalan yang halal dan sela;u memberi manfaat kepada sesama manusia sebatas kemampuannya.
Inilah bagab dari tanda-tanda orang Islam; dan Islam yang beginilah yang dikehendaki Allah dengan froamNYA: "Bahwasanya Agama yang diridhoi Allah, hanyalah Islam".
Adapun orang mukmin itu, ialah: Orang yang apabila dibacakan Al Qur'an, mengalir air matanya, gemetar tubuh dan rohaniya, bertambah-tambah imannya, mendirikan shalat, menafkahkan harta dijalan Allah dan menyerahkan diri kepada Allah.
Mereka yang demikianlah yang dikatakan mukmin yang sebenarnya.
Mukmin yang sebenarnya amat mempercayai firman Allah yang ada di dalam Al Qur'an, sedikitpun mereka tiada ragu; senantiasa bermujahadah dengan jiwa (diri) dan harta dijalan menolong Agama (syariat) dan meneggakkan kebenaran.
Mukmin yang sebebarnya , ialah : orang yang tiada suka memperkatakan barang yang bathil, tiada mau menghabiskan waktu dalam pekerjaan yang tidak berguna; memelihara janji; memegah amanah, tiada mau kehormatannya disentuh oleh bukan orang yang berhak; menjaga shalat.
Mukmin yang sebenarnya, ialah: orang yang amat meredhai akan hukum-hukum Allah dan RasulNYA, sedikitpun tiada merasa keberatan jika menerima keputusan yang ditetapkan oleh Allah dan NabiNYAZ.
Mukmin yang sebenarnya, ialah: Orang yang percayaakan yata-ayat Allah, tunduk bersujud apabila Ayat-ayat Al Qur'an dibacakan; mereka selalu mensucikan Allah; mereka sedikitpun tidak sombong dan membesarkan diri. mereka selalu berdo'a, menyeru Allah karena takut dan rindunya kepada kemurahan Allah dan mereka dengan mudah serta suka mengeluarkan harta dimana ada erlu untuk menegakkan kebenaran.
Demikian sebagian dari tanda-tanda beriman yang diterangkan Allah dalam Al Qur'an.
Semoga kita senantiada berada dalam Islam dan Iman yang demikian itu. In Sha Allah,  Aamiin....

Kajian Islam Ttg "Manusia Dihari Pembalasan"

Apabila diperhatikan maksud ayat-ayat Al Qur'an, tentang manusia dihari pembalasan, maka nyatalah bagi kita bahwa manusia dihari itu bertingkat-tingkat; masing-masing memperoleh kedudukan yang tertentu.
Dalam kesempatan ini, ada 2 (dua) surat dalam Al Qur'an  yang akan disampaikan, yaitu:

Pertama . Terdapat di dalam Surat Ibrahim (14) ayat 42-52.  ayat 42 berbunyi: " Dan jangan engkau mengira, bahwa Allah lengah dari apa yang diperbuat oleh orang-orang zalim. Sesungguhnya Allah manangguhkan mereka sampai hari pada waktu itu mata (mereka) terbelalak".  ayat 43: " mereka datang tergesa-gesa (memenuhi pangilan) dengan mengangkat kepalanya, sedang mata mereka tidak berkedip-kedip dan hati mereka kosong". Ayat 44: "Dan berikanlah peringatan (Muhammad) kepada manusia pada hari (ketika) azab datang kepada mereka, mereka orang zalim berkata: "Ya Tuhan kami, berilah kami kesempatan (kembali keduania) walaupun sebentar, niscaya kami akan mematuhi seruan Engkau dan akan mengikuti rasul-rasul" (Kepada mereka dikatakan), "Bukankah dahulu (didunia) kamu telah bersumpah bahwa sekali-kali kamu tidak akan binasa ?". ayat 45: "dan kamu telah tinggal di tempat orag yang menzalimi diri sendiri, dan telah nyata bagimu bagaimana Kami telah berbuat terhadap mereka dan telah Kami berikan kepadamu beberapa perumpamaan". ayat 46: "Dan sungguh, mereka telah membuat tipu daya padahal Allah (mengetahui dan akan membalas) tipu daya mereka. Dan sesungguhnya tipu daya mereka tidak mampu melenyapkan gunung-gunung". (Catt: Ayat-ayat  (syariat) Allah yang kukuh seperti gunung). ayat 47: "Maka karena itu jangan sekali-kali kamu mengira bvahwa Allah mengingkari janji-Nya keada rasul-rasul-Nya. Sungguh, Allah Mahaperkasa dan mempunyai pembalasan". ayat 48: "(Yaitu) pada hari (ketika) bumi diganti dengan bumi yang lain dan (demikian pula) langit, dan mereka (manusia) berkumpul (di padang Mahsyar) menghadap Allah Yang Maha Esa, Mahaperkasa". ayat 49: "Dan pada hari itu engkau akan melihat orang yang berdosa bersama-sama diikat dengan belenggu". ayat 50: "Pakaian mereka dari citan aspal, dan wajah mereka ditutup oleh api neraka". ayat 51: " agar Allah memberi balasan kepada setiap orang terhadap apa yang dia usahakan. Sungguh, Allah Maha cepat perhitungan-Nya". ayat 52: "Dan (Al Qur'an) ini adalah penjelasan (yang sempurna) bagi manusia, agar mereka diberi peringatan dengannya, agar mereka  mengetahui bahwa Dia adalah Tuhan Yang Maha Esa dan agar orang yang berakal mengambil pelajaran".

Kedua: Terdapat dalam Surat Al Qamar (S.54) ayat 8, berbunyi: "dengan patuh mereka segera datang kepada penyeru itu. Orang-orang kafir berkata, "Inilah hari yang sulit". Dalam ayat 46 disebutkan:"Bahkan hari kiamat itulah hari yang dijanjikan kepada mereka dan hari Kiamat itu lebih dahsyat dan lebih pahit" Ayat 47: "Sungguh orang-orang yang berdosa berada dalam kesesatan ( di dunia) dan akan berada dalam neraka ( di akhirat). ayat 48: "Pada hari mereka diseret ke neraka pada wajahnya (Diatakan kepada mereka), "Rasakanlan sentuhan api neraka".
Semoga kita terhindar dari padanya, In Sha Allah. Aamiin....

Kamis, 14 Februari 2019

Kajian Islam "Sekilas Tentang Jalan Ikhtiraa dan Jalan Inayat"

Jalan Ikhtiraa', ialah : menetapkan bahwa alam ini baru; ada, sesudah diadakan. Tia-tiap yang baru, tentulah dengan sendirinya , berhajat kepada yang mengadakannya (menjadikannya). Jika kita perhatikan tumbuh-tumbuhan, misalnya, maka akan didapati bahwa tumbuh-tumbuhan itu ada, sesudah tak ada. Dan sesudah ada, kembali pula kepada tak ada. Maka demikianlah keadaannya, tentulah wujudnya, tak mungkin dari zatnya sendiri.
Sebenarnya, paham bahwa alam ini, baru; ada sesudah diadakan oleh yang wajib ada, memang suatu tabi'at (kebiasaan) atau suatu watak yang telah tercipta dalam fitrah manusia. Akal tidak akan menerima ada sesuatu, dengan tidak ada yang mengadakan. Maka sangat jelaslah bahwa alam ini dijadikan, dan jelas pula bagi kita bahwa memang ada yang menjadikannya; DIAlah ALLAH yang wajibul-wujud.
Apabila kita perhatikan benda-benda yang beku, maka kita mendapatinya: berdiri, hidup, maju berangsur-angsur mencapai kesempurnaan. Maka akal kita tiada menerima, bahwa benda-benda itu sendiri yang mengadakan hidupnya. Kalau demikian, mau tak mau, kita harus mempercayainya, bahwa ada ada yang mengadakan hidup pada benda-benda itu. Yang mangadakan hidup padanya, itulah yang menjadikannya, yaitu Allah Swt. Hal ini dapat di lihat dalam Al Qur'an Surat Al Baqarah (S.2) ayat 164: 

Penjelasan tentang Jalan Inayat, untuk menetapkan ada Tuhan, kita perhatikan "inayat" atau perhatian dan perindahan yang sangat besar yang didapati/ditemui manusia. Jika manusia memperhatikan keadaa alam, nayatalah bahwa alam ini dipermudah Allah untuk manusia; dipermudah untuk dapat tunduk untuk manusia. bersesuaian dengan wujud manusia dan wujud segala yang maujud ini. Kalau demiian, tentulah ada yang mengadakan sebab-musabab yang mewujudkan demikian. Bukan manusia sendiri yang menarik perhatian itu kepadanya. manhusia diberi Allah pendengaran, penglihatan, pembicaraan, akal dan pendapat, maka mustahil sekali tabiat sendiri atau yang dikatakan natuur (alami) sendiri tidak mempunyainya.
Maka jika alam tidak mempunyai, betapa ia dapat memberikan kepada selainnya. Kesimpulannya, ada yang menjadikan alam, yang sangat mendengar, sangat melihat, sangat berbicara memberikan perintah, mengeluarkan larangan dan sangat bijaksana yang melimpahkan kepada manusia pancaindera dan alat-alat pendapatnya.  Hal ini dapat dilihat dalam Al Qur'an Surat An-Nahl (16) ayat 70
Ini, semua membuktikan "ada Tuhan" yaitu "ALLAH" yang menjadikan kita dan semesta alam ini.
Untuk memperjelasnya, dapat kita lihat di dalam Al Qur'an Surat Al-Hajj (S.22) ayat 66: "Dan Dialah yang menghidupkan kamu, kemudian mematikan kamu, kemudian menghidupkan kamu kembali (pada hari kebangkitan). Sungguh, manusia itu sangat kufur nikmat".
Allah Sang Maha Pencipta memudahkan kita  mengambil manfaat dari alam ini. Allah mengajari dan menunjuki kita bagaimana caranya menumbuhkan tumbuh-tumbuhan, supaya kita bisa dengan mudah sesuai dengan kemauan kita. Allah memudahkan laut buat kita, sehingga dapat dilayari. karena dapat dilayari, di ajarkan kita membuat kapal, mempelajari Undang-undang Sumber Daya Air. Allah memberikan kemudahan bagi kita untuk menundukkan sungai-sungai dan Danau-danau, waduk serta rawa-rawa.  Dari dalam laut itu kita dapat mengambil berbagai hasilnya berupa ikan, mutiara, minyak bumi, gas dll. Allah memudahkan  isi bumi ini untuk kita. Allah memudahkan muka bumi ini buat kita untuk bersawah-berladang, bercocok tanam, Hutan dan rimba raya dimudahkan buat kita untuk belajar menghahayati berbagai macam tanam untuk obat, dan juga berbagai macam jenis binatang. Allah memudahkan kita untuk menguasai udara dan alam raya (langit) dan mempelajari Undang-Undang Udara serta tabiat (kebiasaan) alam langit, mengambil petunjuk dari bitang-bintang dengan ilmu Astronomi, Meteorologi, Geo Fisika dst2 Semua ketentuan dan Undang-Undang itu tunduk dibawah kekuasaan dan kehendak Allah sendiri.
Seluruh ayat Al Qur'an yang mengenai soal ini, adalah sebagai penegak dalil Ikhtiraa dan Inayat.
Demikian sekilas, Semoga kita paham berkat hidayahNYA. Aamiin.....

Selasa, 12 Februari 2019

Kajian Islam ttg " Tujuan akhir dari Ilmu Tauhid"

Secara umum, tujuan akhir dari ilmu tauhid adalah: "melaksanakan sesuatu kawajiban (fardlu) yang ditetapkan (di-ijma'kan) wajib kita menyempurnakannya", diantaranya yaitu: 1. Meyakini adaNYA Allah beserta sifat-sifatNYA yang wajib padaNYA dan mensucikan Allah dari segala sifat-sifat yang mustahil bagiNYA. 2. Meyakini dasar-dasar membenarkan Rasul.
Kedua-dua keyakinan ini, dengan mendalami Ilmu Tauhid, maka akan dapat diperoleh dari ilmu Tauhid ini yaitu keyakinan-keyakinan yang berdasarkan dalil.
Seorang ulama tauhid mengatakan bahwa: "Rahasia yang terkandung dalam ilmu tauhid, ialah: dapat menguatkan dan meneguhkan kepercayaan kepada adaNYA Allah dan kepada sifat-sitaNYA. Ulama tersebut berkata: "tahqiequl imaani billahi ta'aala": Ai jazmul qalbi bi wujudi hi wamaa yatba'uhu min shifaati hi". Artinya: mengeuhkan iktikad bahwa Allah itu ada dan meneguh itikad terhadap sifat-sifatNYA". Hal ini terdapat dalam kitab Dalaa-ilut Tauhid.
Jalan (thariqat) yang diutamakan Al Qur'an untuk menetapkan "wujudullah"(wujud Allah), menurut Ibnu Rusjd dalam kitab Al Manaahij: " Jalan (hariqat) yang diperingatkan (dititik beratkan) Al Qur'anul'aziez dan menyerukan kita memperhatikannya, apabila diperiksa dengan teliti, satu demi satu Ayat-ayat Al Qur'an  diperhatikan dan ditadabburkan, nyatalah, bahwa jalan-jaan itu terhimpun dalam  2 (dua) bahagian.
1. jalan melihat (memperhatikan) penciptaan segala rupa jauhar yang maujud, seperti: Penciptaan  hidup pada benda-benda yang beku.
2. Jalan memperhatikan perhatian dan perindahan Allah kepada manusia dan menjadikan segala makhluk yang maujud untuk kepentingan manusia itu sendiri.
Jalan pertama ini di sebut (dinamai) : "Jalan ikhtiraa", dan kedua di namai : "Jalan Inayat".
Jalan ikhtiraa', termasuk kedalamnya wujud bnatang, wujud tumbuh-tumbuhan, wujud langit dsb. Jalan ini ditegakkan atas dua dasar (pokok) yang didapati bil quwwah dalam segala asal kejadian manusia.
Dasar pertama, ialah : keadaan segala maujud ini, mukhtara' (diciptakan). Allah sendiri telah menegaskan demikian dalam firmanNYA: silahkan  dilihat Surat Al Hajj (S.33) ayat 73. Di dalam ayat ini di tegaskan bahwa: " Wahai manusia ! Telah dibuat suatu perumpamaan. Maka degarkanlah! Sesungguhnya segala yang kamu seru selain Allah tidak dapat menciptakan seekor lalatpun, walaupun mereka bersatu untuk menciptakannya. ....dst"

Dasar kedua, ialah : keadaan tiap-tiap[ yang diikhtiraa'kan, mempunyai mukhtarinya (penciptanya).

Dari dua dasar (pokok) ini hasilah natijah bahwa : "Maujud ini mempunyai fa'il mukhtari (pembuat yang mencitakan)
Mengingat ini wajib  atas orang yang ingin mengetahui (mema'rifati) Allah dengan sesempurnanya, mengetahui jauhar benda-benda, supaya dapat ia mengetahui penciptaan yang hakiki itu. Inilah yang diisyarakatkan Allah dengan FirmanNYA yang terdapat dalam Al Qur'an Surat Al A'raf (S.7) ayat 185, yang artinya: "Dan apakah mereka tidak memperhatikan kerajaan langit dan bumi dan segala apa yang diciptakan Allah, ...dst"

Jalan Inayat: Agama (syara') bermaksud dari kita mengetahui alam, ialah mengetahui bahwa alam itu dibuat oleh Allah (dijadikan) dan bahwa alam itu tiadalah terjadi sendiri dengan cara kebetulan dan bukan pula dari dirinya sendiri.
Jalan inayat ini, sebenarnya jalan yang diakui oleh semua manusia, jalan yang tidak berliku-liku.
Manusia apabila menyelidiki benda-benda yang mhsus, lalu dilihatnya telah diletakkan atas bentuk yang tertentu, kadar yang tertentu, letakan yang tertentu, sesuai dengan keadaan-keadaanya itu dengan manfaat yang dimaksudkan daripadanya dan ghayah yang dikehendaki daripadanya, dengan arti apabila tidak demikian dilakukan itu,  disusunkan, tiadalah terdapat manfaat yang dimaksudkan itu, yakinlah ia bahwa benda tersebut ada yang menjadikan menurut kelakuan dan keadaannya itu.

Selanjutnya barangsiapa mempelajari dan mensiasati hikmat-hikmat segala rupa yang maujud, yakni: mengetahui sebab-sebab yang karenanya itu dijadikan dan apa tujuan kesudahan dari dijadikannya, mudahlah baginya mengetahui atau meyakini jalan inayat Allah dengan sangat sempurna.
Jalan inayat ini, didirikan atas 2 (dua) dasar, yang kedua-dua dasarnya diakui bersama, yaitu:
Pertama, alam ini  dengan segala isinya didapati dengan cara yang bersesuaian (harmoni/selaras-seimbang) bagi wujud insan (manusia) dan bagi wujud segala yang maujud.
Kedua, segala yang didapati bersesuaian dalam segala sukunya untuk suatu perbuatan, dan ditujukan untuk satu tujuan , tentulah dengan sendirinya mengesankan bahwa ia itu mashnu' (dijadikan) dan ada yang manjdikannya.
Dari kedua dasar ini hasillah natijah dengan sendirinya, bahwa, alam ini dijadikan dan bahwa ada Tuhan yang menjadikan
Kesimpulannya, petunjuk yang menunjuk kepada adanya shaani" (yang manjadikan) tersimpan dalam 2 (dua) jenis dalil, yaitu : dalil ikhtiraa' dan dalil inayat. Kedua-dua jalan ini di jadikan pegangan oleh para khawwas dan oleh para auwwam. Cuma berbeda tentang cara mempergunakan dan tingkat pemahamannya.@  Demikian, semoga kita paham akan apa yang disampaikan ini, In Sha Allah....Aamiin......#

Senin, 28 Januari 2019

Kajian Islam Ttg "Petunjuk dalam berjual-beli"

1. Dalam berjualan kita diharuskan berlaku benar. Ada beberapa hadits yang menjelaskan hal itu, diantaranya:
*) "Barangsiapa membawa senjata atas kami, maka tiadalah ia dari kami; dan barangsiapa mengicuh/menipu kami, maka tiadalah ia dari kami" (HR. Muslim)
**) "Tiada halal bagi seseorang menjual sesuatu, melainkan dengan terus-terang (jujur) mengatakan apa-apa yang ada padanya (terhadap kondisi berang yg dijual tsb); dan tidak halal bagi orang yang mengetahui demikian, jika ia tidak memberi tahukannya kepada orang  yang akan membeli barang tersebut" (HR Al-Baihaqy)
***) "Orang Islam itu saudara orang Islam, dan tiada dihalalkan bagi seseorang Muslim apabila menjual kepada saudaranya sesuatu jualannya yang ada padanya ke'aiban (cacat) tiada menerangkannya (memberitahukannya)" (HR. Ahmad)
2. Dalam berjualan, seseorang itu dilarang menjual barang orang lain, tanpa persetujuan (mendapat izin)  terlebih dahulu dari sipemilik barang yang akan dijual.
*) janganlah seseorang menjual atas penjualann saudaranya, dan jangan meminang atas pinangan saudaranya, meainkan setelah diberikan keizinan baginya" (HR. Muslim)
3. Di dalam Islam dalam berkongsi (kerjasama) juga dilarang  berlaku curang.
*) terdapat dalam Surat Al-Baqarah (S.2) ayat 188: "Dan janganlah kamu makan harta diantara kamu dengan jaan yang bathil, dan (janganlah) kamu menyuap dengan harta itu kepada para hakim, dengan maksud agar kamu dapat memakan sebagian harta orang lain itu dengan jalan dosa, padahal kamu mengetahui"
**) Allah berkata, dalam sabda Nabi Shalallahu 'Alaihi Wassalam: "Aku (demikian kata Allah) orang ketiga dari dua orang yang berkongsi, selama tiada mengkhianat salah seorang dari keduanya akan temannya; maka apabila telah ia khianatkan, keluarlah Aku dari antara keduanya (HR. Abu Daaud)
***)  "Barangsiapa mengkhianatkan kongsinya pada barang yang dipercayakan kepadanya dan diminta pemeliharaannya, maka Aku (demikian kata Allah) terlepas daripadanya" (HR. Abu Ja'laa)

4. Di dalam mengurangi sukatan dan timbangan, juga ada beberapa Surat dalam Al Qur'an yang menjelaskan hal itu, diantaranya:
*) Tedapat dalam Surat Asy-Syuaraa ( 26) ayat 182 - 183)
**) Terdapat dalam Surat Al Israa' (S.17) ayat 35
***) Terdapat dalam Surat Al-Muthaffifien (S.83) ayat 1-5
Juga ada beberapa hadits yang melarang mengurangi sukatan dan timbangan, diantaranya:
*) "Bahwasanya saudagar-saudagar itu orang-orang yang fasik. Bertanya sahabatnya: Ya Rasulallah, bukankah Allah telah menghalalkan penjualan dan mengharamkan riba ?. Nabi Shalallau "Alaihi Wassalam menjawab: "Benar, akan tetapi mereka (saudagar-saudagar) itu sangat suka bersumpah; karena itu mereka berdosa, dan sangat suka berbicara dusta" (HR. Ahmad)
**) Penjual dan pemberi boleh berikhtiar selama belum mereka berpisah. Maka jika berlaku benar keduanya dan menerangkan keadaan barang jualannya dengan jujur, diberkatilah akan keduanya pada penjualan itu. Jika menyembunyikan dan berdusta, maka boleh jadilah mereka berlaba (beruntung). Tetapi mereka memusnahkan keberkatan penjualan. Sumpah palsu, mejajakan permata benda, (tetapi) memusnahkan usaha" (HR. Bukhary & Muslim>
Semoga kita dapat terhindar dari berbagai hal yang dilarang itu. In Sha Allah.  Aamiin.....

Minggu, 27 Januari 2019

Kajian Islam Ttg "Dasar Muamalat dalam Islam"

Dasar-dasar muamalat atau undang-undang madaniyah adalah suatu cara yang sangat bijaksana yang diatur di dalam Islam. Perbaikan itu dibawa oleh Nabi Besar Muhammad Shalallu 'Alaihi Wassalam, meliputi soal peribadatan, yang menyangkut soal hidup seseorang terhadap Allah Sang Maha Pencipta. Dengan peribadatan itu setiap insan akan mendapat kebajikan bagi jiwanya. Contoh peribadatan tersebut meliputi: Shalat, puasa, zakat dan hajji. Semua peribadatan, akan menumbuhkan kebajikan dalam hal kehidupan sosial kemasyarakatan dalam diri-diri mereka dan juga didalam lingkungan mansyarakat.
Agama Islam membuat aturan-aturan soal muamalat agar manusia terjaga dari kerusakan, dan menjauhkan manusia dari sifat-sifat tercela, Dan aturan itu juga dapat membimbing manusia menuju nilai kemuliaan, kekuatan dan kesempurnaan.
Secara ringkas dasar-dasar muamalat itu di dalam Islam salah satunya yaitu mengharuskan jual-beli dan mengharamkan riba. Al Qur'an dengan tegas membolehkan/mengharuskan jual-beli, karena jual-beli itu mempunyai tujuan dan maksud yang baik dalam kehidupan bermasyarakat. Mengharamkan riba, karena riba itu, sama sekali tidak sesuai dengan sifat rahmat dari seoang manusia terhadap saudaranya; bahkan riba itu menambah kesulitan bagi orang-orang fakir.
Hal ini dijelaskan dalam Surat Al- Baqarah (S.2). ayat 275, dan ayat 188; Surat An-Nisaa' (4) ayat 29-30.
Ayat ini menjelaskan, bahwa mengambil harta manusia dengan ketiadaan muqabil (ketiadaan penukaran atau pergantian), diharamkan Allah, kecuali harta-harta yang diusahakan dengan perniagaan yang terjadi dengan suka-rela dikedua belah pihak.
Al Qur'an juga menyatakan bahwa, mengambil harta manusia dengan jalan yang bathil, adalah penyebab terjadinya perselisihan, perkelahian dan bahkan pembunuhan.
Allah melarang kita merampas harta orang lain, termasuk mencuri dan menipu.
Pencuri itu bila sudah terpaksa, maka bisa saja melakukan pembunuhan bagi sipemilik harta yang dirampasnya. Bagi sipemilik harta, demi menjaga hartanya dan kehormatan dirinya tentu akan berusaha dengan segala upaya mempertahakan hartanya yang dicuri itu.
Oleh karena itu seseorang yang mengambil harta orang lain dengan jalan yang bathil -- menurut pandangan Islam, berati mereka telah merusak tatanan kehidupan sosial kemasyakatan. Sipengambil harta orang lain telah mengganggu orang dan merusak dirinya sendiri.
Demikian sekilas tentang dasar-dasar muamalat, semoga kita dapat memakluminya, In Sha Allah. Aamiin....

Sabtu, 26 Januari 2019

Kajian Islam Ttg " Sifat Hari Akhirat"

Di dalam Al Qur'an ada dua surat yang menjelaskan hal ini, pertama terdapat didalam Surat Ibrahim (S.14) ayat 42 sampai dengan ayat 52. dan kedua terdapat di dalam Surat Al Qamar (S.54). ayat 6 sampai dengan ayat 8.
Untuk mengetahui lebih jelas tentang sifat hari akhirat itu kita perhatikan ayat-ayat dalam Surat Ibrahim tersebut : " Dan janganlah kamu mengira bahwa Allah lalai dari apa yang dilakukan oleh segala orang yang zalim. Hanya saja Allah memperlambat balasan sampai kehari berputar-putarnya pemandangan, lantaran terlalu takut kepada apa yang dilihat, sehingga mereka tak dapat memindahkan pemandangannya kearah lain dan selalu mengangkat kepalanya; pemandangan mereka tidak beralih-alih, tetapi hati mereka beterbangan dan kosong. Dan berikanlah peringatan (Muhammad) kepada manusia pada hari (ketika) azab datang kepada mereka, maka orang-orang zalim berkata: "Ya Tuhan kami, berilah kami kesempatan (kembali ke dunia) walaupun sebentar, niscaya kami akan mematuhi seruan Engkau dan akan mengikuti rasul-rasul" (Kepada mereka dikatakan), "Bukankah dahulu ( di dunia) kamu telah bersumpah bahwa sekali-kali kamu tidak akan binasa?. Sebenarnya kamu telah tinggal di tempat orang yang menzalimi diri sendiri, dan telah nyata bagimu bagaimana Kami telah berbuat terhadap mereka dan telah Kami berikan kepadamu berupa perumpamaan", Semuanya itu kamu tidak pedulikan. Mereka kaum kafir berdaya-upaya, melakukan tipu muslihatnya untuk melenyapkan Islam dan untuk menghambat hamba-hamba Allah dari Jalan Tuhannya. Dan sungguh, mereka telah membuat tipu daya padahal Allah (mengetahui dan akan membalas) tipu daya mereka. Dan sesungguhnya tipu daya mereka tidak mampu melenyapkan gunung-gunung. Maka karena itu jangan sekali-kali kamu mengira bahwa Allah mengingkari janji-Nya kepada rasul-rasulNya. Sungguh, Allah Mahaperkasa dan mempunyai pembalasan. (Yaitu) pada hari (ketika) bumi di ganti dengan bumi yang lain dan (demikian pula) langit, dan mereka (manusia) berkumpul (di padang Mahsyar) menghadap Allah Yang Maha Esa, Maha Perkasa. Dan pada hari itu engkau akan melihat orang-orang yang berdosa bersama-sama  diikat dengan belenggu. Pakaian mereka dari cairan aspal, dan wajah mereka ditutup oleh api neraka. Dikala itu engkau akan melihat kaum jahat, orang yang berbuat kemaksiatan, diseret berbaris-baris dalam ikatan rantai. Allah memberi balasan kepada setiap orang terhadap apa yang dia usahakan. Sungguh, Allah Mahacepat perhitunganNya. Dan (Al Qur'an) ini adalah penjelasan  (yang sempurna) bagi manusia, agar mereka mengetahui bahwa Dia adalah Tuhan Yang Maha Esa dan agar orang yang berakal mengambil pelajaran.
Di dalam Surat Al Qamar dijelaskan bahwa: "maka berpalinglah engkau (Muhammad) dari mereka pada hari (ketika) penyeru (malaikat) mengajak (mereka) kepada sesuatu yang tidak menyenangkan (hari pembalasan), pandangan mereka tertunduk, ketika mereka keluar dari kuburan, seakan-akan  mereka belalang yang berterbangan, dan dengan patuh mereka segera datang kepada penyeru itu . Orang-orang kafir berkata, "ini adalah hari yang sulit"
Demikian sekilas, semoga kita senantiasa terhindar dari malapetaka hari akhirat itu, In sha Allah. Aamiin...

Kamis, 17 Januari 2019

Kajian Islam Ttg "Janji Allah"

Jika kita perhatikan ayat-ayat Allah dalam Al Qur'an, maka tegas disebutkan bahwa Allah tidak akan menyalahi janjinya. Allah membuat wa'ad dan wa'ied (janji baik dan janji buruk). Wa'ad, (janji) dipakai untuk janji baik dan janji buruk. Sedangkan wa'ied semata-mata dibuat untuk janji buruk saja. Demikian dijelaskan menurut terminologi bahasa Arab.
Ada beberapa ayat-ayat Al Qur'an yang menjelaskan tentang janji Allah ini.
1. Terdapat dalam Surat An-Nisaa' (S.4) ayat 122: " Dan orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal kebajikan, kelak akan Kami masukkan ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungi, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Dan janji Allah itu benar. Siapakah yang lebih benar perkataannya daripada Allah?
2. Terdapat dalam Surat Al-A'raaf (S.7) ayat 44: " Dan para penghuni surga menyeru penghuni-penghuni neraka, "Sungguh, kami telah memperoleh apa yang dijanjikan Tuhan kepada kami itu benar. Apakah kamu telah memperoleh apa yang dijanjikan Tuhan kepadamu itu benar ?. Mereka menjawab, "Benar". Kemudian penyeru (malaikat) mengumumkan di antara mereka, "Laknat Allah bagi orang-orang zalim".
3. Terdapat dalam Surat At-Taubah (S.9) ayat 68: " Allah menjajikan (mengancam) orang-orang munafik laki-laki dan perempuan dan orang-orang kafir dengan neraka Jahanam. Mereka kekal di dalamnya. Cukuplah (neraka) itu bagi mereka. Allah melaknat mereka; dan mereka mendapat azab yang kekal," Selanjutnya didalam Surat yang sama, pada ayat 72 : " Allah menjanjikan kepada orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan, (akan mendapat) surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya, dan (mendapat) tempat yang baik di surga 'Adn. Dan keridaan Allah lebih besar. Itulah kemenangan yang agung.
Dengan memperhatikan dan menghayati kandungan-kandungan beberapa ayat-ayat tersebut, nyatalah bagi kita bahwa titik berat dari Ayat-ayat itu, ialah Janji Allah pasti tepat dan benar, dan tidak usah diragukan lagi dan juga disangsikan kebenarannya. Akapah Allah wajib menunaikan janjiNya atau tidak, itu bukan urusan kita. Apakah Allah memberikan janjiNya itu sebagai suatu kemurahan yang dilimpahkan atau bukan, itu juga tidak menjadikan soal kita. Persoalan yang kita titik beratkan adalah: bahwa Janji Allah benar. Allah telah berjanji akan memberikan sesuatu dimasa yang akan datang. Apakah Allah akan menyalahi janjinnya?. Kalau Allah menyalahi janjinya, tentulah berarti dusta. Dusta merupakan suatu sifat buruk yang dipandang oleh makhluk. Menyalahi janji atau dusta sangat berlawanan dengan wahyu dan kalam Allah. "Allah, tidak ada tuhan selain Dia. Dia pasti akan mengumpulkan kamu pada hari Kiamat yang tidak diragukan terjadinya. Siapakah yang lebih benar perkataan (nya) daripada Allah" (Surat An-Nisaa' ayat 87).
Dengan demikian, pantas dan lazimlah kiranya kita beri'tiqad teguh bahwa janji-janji Allah yang baik (wa'adNYA), begitu juga janji-janji Allah yang buruk (wa'iedNYA), pasti akan berlaku, pasti akan dipenuhi; jangan ragu dan jangan sangsi tentang hal itu.
Semoga kita selalu dalam hidyahNYA. In Sha Allah.. Aamiin...

Kajian Islam ttg "Bangkit dari kubur"

Diantara pokok aqidah yang disepakati oleh segala syariat ketuhanan sejak dari permulaan syariat yang diturunkan Allah ke muka bumi hingga akhir syariat dengan berakhirnya dan hancurnya alam semesta yaitu : kepercayaan akan dibangkitkannya segala manusia dari kuburnya dan diberikan pembalasan amal yang mereka kerjakan selama hidup di alam dunia.
Namun sebahagian manusia ada yang mengingkari hal itu; mengingkari ada hidup lagi setelah hidup sekarang ini.
Kebanyakan musyrikin Arab pada masa dahulu mengingkari adanya hari kemudian. mereka tidak menerima kemungkinan hidup sesudah mati, mereka menolak adanya hari akhirat. Adapun golongan ahli kitab tentang keimanan mereka tentang hari kemudian ini, telah banyak bercampur-baur dengan berbagai-bagai bid'ah, yang sebab demikian itu maka hilanglah kebersihan iman mereka, hilanglah guna dan faedahnya.
Al Qur'an membantah faham yang demikian itu (kaum musyrikin arab dan kalangan penganut agama yang tidak menyetujui akan adanya bangkit dari kubur dan hari akhirat.) dengan berbagai rupa alasan dan keterangan. Diantara bukti yang menyatakan kemungkinan terjadinya hari berbangkit itu, diantaranya kita perhatikan dataran bumi yang semula kering, setelah Allah menurunkan hujan dari langit maka hiduplah bumi itu dengan berbagai macam hewan dan tumbuh-tumbuhan. Inilah satu isyarah bahwa bagi Allah sangat mudah untuk membangkitkan kembali jasad-jasad yang sudah mati.
Al Qur'an menerangkan bahwa, menurut dasar kebijaksanaan, hendaklah manusia itu mempunyai hidup sekali lagi. Dalam hidup itulah diambil hak-hak orang teraniaya dari yang menganiaya, diambil hak silemah dari sikuat yang memperkosa dan mengganggu ketentraman hak silemah.
Al Qur'an juga menerangkan bahwa membiarkan manusia tidak hidup lagi buat membalaskan amal usahanya, adalah sikap berlawanan dengan kebijaksanaan, atau sikap bodoh. Allah pencipta alam semesta suci dari sifat bodoh itu.
Memang wajib menurut dasar hikmat dan keadilan, Allah menghidupkan manusia sekali lagi untuk memberikan kesempatan mereka menuai/memanen hasil usaha yang mereka kerjakan selama hidup di dunia.
Di dalam Surat Al-Qiyamat (S.75) ayat 36 di jelaskan bahwa: "Apakah maanusia mengira, dia akan dibiarkan begitu saja (tanpa pertanggung-jawaban) ?" 37 : "Bukankah dia mulanya hanya setetes mani yang ditumpahkan (ke dalam rahim)",  38: " kemudian (mani itu) menjadi sesuatu yang melekat, lalu Allah menciptakannya dan menyempurnakannya" 39: "lalu Dia menjadikan darinya sepasang laki-laki dan perempuan" 40. "Bukankah (Allah berbuat) demikian berkuasa (pula) menghidupkan orang mati ?"
Di Surat Ar-Rum (S.30) ayat 27 dijelaskan bahwa: "Dan Dialah yang memulai penciptaan, kemudian mengulanginya kembali, dan itu lebih mudah bagi-Nya. Dia memiliki sifat yang Maha tinggi di langit dan di bumi. Dan Dialah Yang Mahaperkasa. Maha bijaksana."
Semoga kita selalu berada dalam hidayahnya. In Sha Allah. Aamiin....

Minggu, 13 Januari 2019

Kajian Islam Ttg "Hari Akhirat"

Ada beberapa ayat Al Qur'an yang dapat dijadikan rujukan diantaranya yaitu:
1. Surat An-Nisaa' (S.4) Ayat 136 dan ayat 87.
2. Surat Al Baqarah (S.2) ayat 62.
Sabda Nabi Shalallahu 'alaihi wassalam: " Iman itu, ialah: engkau iman akan akan Allah, akan malaikatNYA, akan kitab-kitabNya, akan menjumpaiNYA, akan Rasul-rasulNYA dan akan dibangkitkan lagi di hari akhirat (Shahih Muslim 1 : 19)
Makna iman akan hari akhirat, yaitu Kita imankan bahwa, sesudah alam dunia yang sedang kita tempuh ini, ada lagi alam yang kedua, yakni alam pembalasan. Dialam itulah Allah memberikan pembalasan baik kepada orang yang berbuat baik (orang-orang mukhsin) dan memberi siksa kepada setiap orang yang berbuat jahat (termasuk orang0orang yang tidak ta'at akan perintah Allah). Ummat Islam yakin bahwa kita ini akan dibangkitkan dari kubur (dihidupkan lagi), lalu dihisab, dihitung dan dikira segala amalan-amalan kita. Setelahdikira dan dihisab segala kebaikan dan keburukan kita, diberikanlah pembalasan yang setimpal dan seadil-adilnya. Dan disana, sesudah kita dibangkitkan lalu dikumpulkan disuatu dataran yang maha luas yaitu Mahsyar namanya. Disana didirikan Miezan (neraca). Saat itu adalah hari pengadilan, seseorang tak bisa lagi menganiaya seseorang. Pada masa itulah kita masing-masing menerima pembalasan yang sangat adil dan disanalah para manusia mersakan kelezatan usahanya dan mendapat derita kepahitan atas berbagai kejahatan yang pernah dilakukannya.  Sebahagian orang dimasukkan ke syurga, yaitu tempat berdiam bagi orang beramal kebajikan dan mereka kekal disana. Sebaliknya sebahagian dimasukkan ke neraka, dan kekal di dalamnya; kecuali orang-orang mukmin ada yang dimasukkan kesana untuk sementara, guna membersihkan mereka dari dosa-dosa yang sempat mengotori jiwanya. Setelah menjalani hukuman yang ditentukan batas waktunya, kemudian orang-orang mukmin itu dimasukkan ke dalam syurga.
Firman Allah dalam surat Ali Imraan (S.3) ayat 185.
perlu dimaklumi bahwa diantara pokok-pokok iman kaum muslimin, ialah : Beriman akan hari akhir (akhirat), Iman akan hari akhir ini, salah satu dari sendi agama yang ke tiga(iman akan Allah, iman akan hari kesudahan, dan beramal shaleh) . Dengan iman akan hari akhir inilah sempurnanya iman akan Allah. Kedua-dua iman ini (iman akan Allah dan Iman akan hari akhir), jika telah mengakan dihati sanubari seseorang anak manusia, maka keluarlah daripadanya berbagai rupa amal shaleh, akhlak yang sehat-suci-terpuji dan sifat-sifat yang mulia serta utama. Iman akan hari akhir, majadi pembangkit dan endorong yang kuat bagi tegaknya sendi-sendi agama yang ketiga. - amal yang shaleh-, dengan iman akan hari akhir dapat menjadi penghalang segala perbuatan fasya' dan munkar, dapat menjauhkan diri dari berbagai rupa kejahatan dan kedurjanaan. dengan iman akan hari akhir dapat endrong kita kepada ta'at dan ibadat yang diridhoi Allah.
Tidak sedikit ayat-ayat Al Qur'an dan hadits-hadits yang menerangkan tentng iman akan hari kesudahan itu.
Semoga kita dapat hendaknya  mempelajarinya dan memahami serta menghayatinya dengan sungguh-sungguh hingga berbuah menjadi berbagai amal-amal shaleh. In Sha Allah. Aamiin.

Sabtu, 12 Januari 2019

Kajian Islam Ttg "Kegunaan Al Qur'an"

Untuk mengetahui kegunaan Al Qur'an, ada beberapa ayat yang menjelaskan hal itu, diantaranya:
1. Terdapat dalam Surat Al Isra' (S.17)  ayat 9 -10 dan ayat 82
2. Terdapat dalam Surat Al Kahfi (S.180  Ayat 1
3. Terdapat dalam Surat Yunus (S.10) Ayat 57.
4. Terdapat dalam Surat Thaha (S.20) Ayat 2.
5. Terdapat dalam Surat Al Furqaan (S.25) Ayat 1.
Ayat-ayat Al Qur'an tersebut menyatakan bahwa, Al Qur'an itu memberi petunjuk ke jalan yang lurus, menggembirakan orang mukmin dan memberi kabar menakuti bagiorang-orang kafir. Ayat Al Qur'an itu juga menjadi penawar dan rahmat bagi setiap orang yang beriman. Disamping itu ayat Al Qur'an itu bagi orang yang menganiaya makin lama akan makin betambah ruginya. Dan juga ayat Al Qur'an itu menjadi peringatan bagiorang yang takut kepada Allah, dan sebagai peringatan bagi setiap makhluk.
Ayat 58 Surat Yunus (S.10), menjelaskan keutamaan-keutamaan Al Qur'an, diantaranya:
- sebagai pengajaran dan nasehat yang datang dari Allah.
- sebagai penawar segala penyakit rohani
- sebagai petunjuk dan penuntun;
- sebagai rahmat bagi segala orang yang mukmin.
Al Qur'an itu adalah sebesar-besarnya mukjizat Nabi Muhammad Shalallahu 'alaihi wasallam. Dikatakan Al Qur'an itu sebesar-besarnya mukjizat karena dengan Al Qur'an itu dapat melemahkan akal orang yang mengingkarinya/melawannya. Dari zaman nabi hingga kini, belum ada dan takkan pernah ada orang yang membuat kitab yang menyerupai Al Qur'an dari segala hal ikhwalnya.
Untuk mengetahui bahwa Al Qur'an itu mukjizat yang paling besar bagi Nabi kita, mari kta lihat beberapa ayat di dalam Al Qur'an.
1. Surat Al Baqarah (S.2) ayat 24
2. Surat Al Isra' (S.17) ayat 88
3. Surat Fussilat (S.41) ayat 53
Diantara ayat-ayat yang menyuruh kita berpegang kepada Al Qur'an yaitu terdapat pada Surat Ali Imraan (S.3) ayat 102-103.
Diberitakan oleh Al Hakiem dari Ibnu Mas'ud, bahwa Nabi ada berkata: " Bahwa Al Qur'an itu santapan yang Allah turunkan; maka sambutlah santapan itu seberapa kuasamu masing-masing; bahwasanya Al Qur'an ini, tali Allah, cahaya yang nyata dan penawar yang mujarrab. Memelihara orang yang berpegang kepadanya; tidak akan berlaku miring/serong yang menyebabkan perlu dihardik dan dibentak, dan tidak pula akan bengkok yang perlu diluruskan, tiada habis-habis keajaibannya dan tiada buruk-buruk karena banyak ditolak kesana kmari. Bacalah Al Qur'an itu, karena Allah akan memberikan pahala untuk kamu dari tiap-tiap huruf yang kamu baca dengan sepuluh kebajikan. (Hal ini dijelaskan dalam kitab Al Wahyul Muhammady: 109).
Demikian semoga kita senantiasa mempu melaksanakannya. In Sha Allah .Aamiin !!!

Kamis, 10 Januari 2019

Kajian Islam Ttg " Isi kandungan Kitab Suci"

Hukum-hukum yang terdapat dalam kitab-kitab suci terdahulu (kitab suci sebelum Al-Qur'an diturunkan), telah dimansukh (dikoreksi) oleh Al-Qur'an, dan yang berlaku adalah hukum-hukum yang ada dalam kitab suci Al Qur'an. Itulah ketentuan Allah yang harus dipakai hingga hari kemudian. Agar selamat sentausa hingga ke alam akhirat.
Ummat Islam beritiqad bahwa Allah pernah menurunkan kitab taurat kepada Nabi Musa as yang didalamnya terdapat beberapa hukum Agama, kepercayaan yang benar, janji baik dan buruk. Dan di dalam kitab Taurat itu ada keterangan tentang kedatangan Nabi Besar Muhammad Salallahu 'alaihi wassallam.. Kitab suci Taurat itu menegaskan bahwa, Nabi Muhammad akan datang membawa agama baru, untuk menggantikan agama-agama lama seluruhnya; untuk menjadikan penuntun kebahagiaan dunia dan akhirat. kemudian Ummat Islam beritiqad bahwa, kitab taurat yang ada sekarang ini, bukan kitab taurat yang asli lagi. Isinya tidak sebagaimana yang diturunkan kepada Nabi Musa as, telah banyak yang ditukar, dirobah-robah.Di dalam Taurat yang ada sekarang ini, tidak ada terdapat keterangan perihal syurga dan neraka; padahal keterangan semacam ini amat penting. Setiap kitab suci perlu menerangkannya. Dan di dalam taurat yang ada sekarang, ada keterangan perihal kematian Nabi Musa as, padahal Nabi Musa as itulah yang menerima kedatangan kitab taurat itu (hal ini pernah dijelaskan dalam kitab Al-Jawahir).
Ummat Islam beritiqad bahwa Kitab Suci Zabur itu, suatu kitab Allah juga, yang diturunkan kepada Nabi Daud as. Isinya berbagai doa, dzikir, pengajaran dan hikmat. Hukum-hukum syara' tidak terdapat di dalamnya, karena Nabi Daud itu didalam hukum syara' mengikut dan menurut hukum Taurat yang diturunkan kepada Nabi Musa as.
Ummat Islam percaya bahwa Allah pernah menurunkan Kitab Suci Injil kepada Al Masih (Nabi Isa as) Gunanya untuk menerangkan beberapa hukum, untuk menyeru manusia kembali kepada mentauhidkan Allah, untuk mengadakan herorientasi Agama Yahudi, untuk menghapus sebagian dari hukum Taurat yang tidak cocok lagi dengan zaman Nabi Isa as tsb dan kitab Injil itu juga menerangkan hal tentang kedatangan Nabi Besar Muhammad Sallahu 'alaihi wassalam. Menurut keterangan bahwa hal itu masih terdapat dalam "Injil Barnabas". Ummat Islam mengaku bahwa Kitab Injil yang sekarang ini terdapat 4 (empat) buah, yang ditulis oleh: Matius, Lucas, Marcus dan Johanna. Injil yang 4 buah itu, satu sama lain bertentangan isinya. Dan keempat pengarang itu, tidak pernah bertemu sekalipun dengan Nabi Isa as (Al Masih). Mereka tidak menerima sendiri dari mulut Nabi Isa as, sebagaimana para sahabat Nabi Muhammad Salallahu 'alai wassalam menerima Al-Qur'an. Kitab Injil itu diketika Al Masih belum lama naik kelangit (wafat), amat banyak Naschahnya (menurut keterangan para ulama). Kemudian dimasa kira-kira 200 tahun setelah kematian Nabi Isa as, barulah naschahnya-naschahnya itu dibuang, dan ditinggalkan yang 4 (empat) buah itu saja.
Ummat Islam beritiqad dengan seteguh-teguhnya itiqad bahwa Al-Qur'an itu semulia-mulia kitab suci, diturunkan kepada semulia-mulia Nabi, Al Qur'an itu adalah Kitab Suci yang paling akhir datangnya, yang menghapuskan segala kitab-kitab suci terdahulu. Hukumnya berkekalan sampai hari kiamat. Dan Al Qur'an itu akan tetap terpelihara. Allah mengakui yang demikian itu dengan firmanNYA: "Dan bahwasanya Kami telah menurunkan Al Qur'an, dan Kami akan tetap memeliharanya". Al Qur'an Surat Al-Hijr (S.15) ayat 9.
Dmk, semoga kita dapat memahaminya. In Sha Allah.  Aamiin....

Rabu, 09 Januari 2019

Kajian Islam Ttg "Kitab Suci"

Kitab-kitab suci yang diturunkan kepada Nabi-nabiNYA yang sebelum Nabi Muhammad Salallahu 'Alaihi Wassalam, menurut sebagian ulama diturunkan berkeping-keping. Sebahagiannya lagi mengatakan bahwa, kitab-kitab suci itu diturunkan sama seperti Allah menurunkan Al Qur'an. Kitab-kitab itu dinamai : Shuhuf atau Lembaran. Bagi ummat Islam wajib hukumnya mengimani bahwa Allah pernah menurunkan kitab-kitab itu. Ummat Islam tidak harus dan mengikuti segala isinya yang ada dalam kitab-kitab suci yang ada sekarang ini, kecuali sebagaimana yang ada di dalam Kitab Al-Qur'an. Ummat Islam percaya bahwa Allah pernah menurunkan kepada Nabi Musa a.s Kitab Taurat, kepada Nabi Daud as Kitab Zabur, kepada Nabi Isa as Kitab Injil, dan kepada Nabi Muhammad Sallahu 'alaihi wasaallam Kitab Al-Qur'an.
Menurut pendapat yang masyhur, kitab-kitab itu berjumlah 104 buah.  60 buah untuk Nabi Syiets, 30 buah untuk Nabi Ibrahim as, 10 buah untuk Nabi Musa as, dan diturunkan sebelum diturunkannya kitab taurat kepada beliau. 1 Kitab Taurat, 1 Kitab Zabur, 1 Kitab Injil dan 1 Kitab Al Qur'an. Ada juga yang berkata bahwa shuhuf  yang diturunkan kepada Nabi Syiets 50 buah banyaknya. Mereka berpendapat bahwa 20 buah shuhuf  dari 104 buah itu, ditirinka kepada Nabi Idris as. Kepada nabi Ibrahim as dan Kepada Nabi Musa as masing-masing 10 shuhuf. Sebagian ulama lain mengatakan bahwa jumlah kitab-kitab suci yang pernah di turunkan Allah berjumlah 114 buah. Untuk Nabi Syiest 50, untuk Nabi Ibrahim as 20, dan yang 10 lagi selain dari kitab yang empat, ada yang mengatakan dirurunkan keada nabi Adam as, dan ada yang mengatakan untuk Nabi Musa as.
Dari keterangan-keterangan tersebut kita maklumi bahwa Allah telah begitu banyak menurunkan kitab-kitabnya ke muka bumi. Dan kita cukup mengimani abhwa Allah pernah menurunkan Kitab-kitannya kepada beberapa orang Nabi. Allah menurunkan Taurat kepada Nabi Musa as, Kitab Zabur kepada Nabi Daud as, Kitab Injil kepada Nabi Isa as, dan Kiab Al Qur'an kepada Nabi Muhammad Salallu 'alaihi wassalam.
Hukum-hukum yang terdapat dalam kitab-kitab terdahulu, telah di mansukh (dikoreksi) oleh Al Qur'an, dan tidak boleh dipakai lagi. Dan hukum-hukum yang terpakai (diakui tetapnya  atau kedudukannya) terdapat dalam Al Qur'an dan berlaku hingga hari kemudian. Oleh karena itu peganglah dengan teguh Al Qur'an itu, agar selamat sentausa sampai ke akhirat kelak. Insya Allah. Aamiin...

Selasa, 08 Januari 2019

Kajian Islam Ttg "Maha Suci Allah"

Di dalam Al Qur'an Surat Asy-Syuraa (S.42) ayat 11 di sebutkan bahwa : " (Allah) Pencipta langit dan bumi. Dia menjadikan bagimu pasang-pasangan dari jenismu kamu sendiri, dan dari jenis hewan ternak pasangan-pasangan (juga). Dijadikan-Nya kamu berkembang biak dengan jalan itu. Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia. Dan Dia Yang Maha Mendengar, Maha Melihat".
Ayat ini menerangkan bahwa tak ada sesuatu sifat yang seperti sifatNYA. Maka apabila Allah mensifatkan diriNYA dengan kebanyakan sifat yang disifatkan dengan manusia, hendaklah dipahami bahwa sifat Allah itu, tidak menyerupai sifat manusia. Allah mempunyai setinggi-tinggi sifat dan seindah-indah nama.
Diantara yang wajib pada hak Allah, suci dari bersifat dengan sesuatu sifat kekurangan. Karena jika ada padaNYA sesuatu sifat kekurangan, tidaklah sempurnaNYA, padahal telah tetap dengan cara yang tak dapat mungkiri lagi, bahwa Allah itu wajib dengan segala sifat kesempurnaan ( Kullu kamaalin wujudiyin wajibun lahu).
Dan diantara yang wajib bagiNya, suci dari menyerupai sesuatu yang baru (sesuatu makhluk); suci dari bersuku-suku; suci dari terbagi-bagi dzatNYA. Karena, kalau tidak suci dari yang demikian, berartilah mempunyai kekurangan. Sifat-sifat makhluk, kurang semuanya.
Demikian juga Allah itu suci dari beranak; karena beranak itu, keadaan baru. Beranak itu timbul dari yang hidup yang mempunyai beberapa campuran. Tiap-tiap yang mempunyai campuran,tersusun dan beberapa susunan dan akhirnya binasa-lenyap. Allah itu suci dari binasa dan lenyap. kalau demikian, sucilah DzatNYA dari mempunyai beberapa campuran itu; karena itu suci pula dari beranak. Dan Allah itu suci pula dari diperanakkan; karena jika Allah diperanakkan, berarti berhajat kepada selainNya, padahal Allah itu tiada berhajat kepada selainNya.
Di dalam Al Qur'an Surat Ali Imraan (S.3) ayat 108 disebutkan bahwa: " Itulah ayat-ayat Allah yang Kami bacakan kepadamu dengan benar, dan Allah tidaklah berkehendak menzalimi (siapapun) di seluruh alam.
Ayat ini menerangkan, bahwa Allah tidak berkehendak menganiaya para hambaNya dengan menyuruh mereka melaksanakan beberapa kewajiban, meninggalkan beberapa larangan, hanya Allah bermaksud menunjuki mereka kepada usaha-usaha menyempurnakan fitrah.
Semoga kita dapat memahaminya. In Sha Allah.  Aamiin...

Kajian Islam Ttg "Mengakui kesucian Allah"

Apabila kita mengakui kesucian Allah, maka:
1. Kita mengakui, bahwa Allah itu suci dari segala sifat kekurangan; suci dari bersifat dengan sifat-sifat makhluk,
2. Kita mengakui, bahwa Allah itu suci dari beranak dan diperanakkan dan suci dari bersyerikat atau bersekutu dan dari mempunyai bandingan.
3. Kita mengakui, bahwa Allah itu suci dari menganiaya.
Kita pernah mendengar tentang "tanzieh". Apakah tanzieh itu ?
Tanzieh itu, saudaranya tauhid yang amat rapat. Tidak berguna tauhid sebelum adanya tanzieh. Untuk mengetahui sedikit tentang tanzieh sekelumit tafsirannya bahwa, Azas tanzieh itu telah ditegaskan oleh surat Al Ikhlas, sebagaimana surat itu menegaskan azas tauhid. Dua ayat pertama mewujudkan dasar tauhid dan dua ayat kedua mewujudkan azas tanzieh.
Allah berfirman: 1. Dan mereka menjadikan bagi Allah akan beberapa sekutu dari jin, padahalAllah yang menjadikan mereka; dan mereka me-ngata2-kan: Allah mempunyai beberapa anak lelaki dan anak perempuan, dengan tidak mengetahui hakekat perkataannya. Maha Suci Allah dari apa yag mereka sifat-sifatkan itu. Allah-lah yang menjadikan langit dan bumi yang sangat indah ini. Bagaimana  Allah dikatakan ada mempunyai anak, padahal Allah tidak beristeri dan padahal - Allah - yang menjadikan tiap-tiap sesuatu dan Allah itu Maha mengetahui akan segala rupa perkara. Itulah Allah Thanmu, tak ada Tuhan yang disembah melainkan Dia. Dialah yang menjadikan segala sesuatu, karena itu sembahlah akan DiaNYA, beribadatlah kepadaNYA, Allah itulah yang memelihara segala sesuatu; Allah itu tiada didapati oleh penglihatan; sedang Allah itu mendapati segala penglihatan, dan Allah itu sangat lembut lagi sangat mengetahui segala rupa khabar"(Al Qur'an Surat Al-An'aam (S.6) ayat 100-102). Semoga kita memakluminya. In Sha Allah, Aamiin....

Sabtu, 05 Januari 2019

Kajian Islam Ttg Perbuatan Allah mengandung hikmat

Di Dalam Al Qur'an Surat Al-Anbiya (S.21) ayat 16-17. di sebutkan bahwa:  Ayat 16. " Dan Kami tidak menciptakan langit dan bumi dan segala apa yang ada diantara keduanya dengan main-main". Ayat 17: "Seandainya Kami hendak membuat suatu permainan (istri dan anak), tentulah Kami mebuatnya dari sisi Kami (yg sesuai dg sifat-sifat Allah), jika Kami benar-benar menghendaki berbuat demikian".
Dari ayat ini diketahui bahwa segala perbuatan Allah bersendikan Ilmu dan Iradat (terbit dari ilmuNya dan iradatNya). Tiap-tiap yang bersendikan ilmu dan iradat, tentulah bersendikan ikhtiar (terbit dari ikhtiar). Maka tiap-tiap sesuatu yang dibuat dengan ikhtiarNya, tiadalah kemestian atasNya.
Tegasnya, segala sifat perbuatan Allah, baik menciptakan alam, merezkikan makhluk; meng-azab - me-nikmatkan, adalah perbuatan-perbuatan yang mungkin Allah kerjakan, bukan pekerjaan yang mesti dan bukan pula pekerjaan yang mustahil.
Maka apakah Allah itu dalam menciptakan sesuatu, wajib menjaga kemuslihatan dan apakah Allah itu wajib memenuhi ancaman-ancamanNYA yang telah dihadapkan kepada para pendurhaka ?
Dalam soal ini bermacam golongan sudah terjadi. Ada golongan yang mengatakan Allah wajib memelihara kemuslihatan dalam menjadikan dan menciptakan sesuatu. Mereka memandang Allah itu sebagai seorang mukallaf, orang yang diberati dan dibebani. Sebaliknya ada pula golongan yang mengingkari, menjadikan kontra diksi dari golongan pertama, menetapkan bahwa perbuatan-perbuatan Allah itu kosong dari illat (sebab), yakni meniadakan ta'lil, sehingga Allah itu membuat sesuatu dengan tidak mengetahui apa gunanya.
Dalam pada itu mereka semua sependapat menetapkan: "Segala perbuatan Allah, berhikmat; tak ada yang kosong dari hikmat". Dan bahwasanya Allah itu suci dari sia-sia dalam perbuatanNya dan suci dari dusta dalam perkataanNya.
lalu, apakah gerangan hikmat itu ?
Hikmat, ialah: faktor-faktor yang memelihar ketertiban pekerjaan, memelihara undang-undang dan aturannya dan menjaganya dari kerusakan, kemusnahan. Tetapi hikmat itu dinamai dan dipandang hikmat, kalau memang dikehendaki oleh pembuatnya.
Seluruh ahli akal menetapkan: Perbuaan-perbuatan yang dilaksanakan orang yang berakal, terpelihara dari percuma, dari sia-sia. Tegasnya, orang yang berakal mengerjakan sesuatu karena ada sesuau maksud, ada tujuan.
Cakrawala langit dan bumi, matahari dan bulan serta margasatwa yang telah dijadikan Allah, masing-masingnya mengandung hikmat. dengan hikmat-hikmat itulahterpelihara dari kerusakan. Dan dengan hikmat-hikmat itu pula segala yang maujud ini dapat memperoleh kemaslahatan daripadanya.
Maka hikmat-hikmat yang berarti meetakkan sesuatu pada tempatnya, memberikan kepada segala yang berhajat, segala hajatnya, adakala diketahui dan dikehendaki oleh yang membuatnya, adakala terdapat yang demikian secara kebetuan saja. Terdapat yang demikian secara kebetulan, tak dapat kita benarkan, karena membawa kepada mengatakan Allah kurang ilmu atau lalai. Kalau demikian himat-hikmat itu memang diketahui dan dikehendaki.
Oleh sebab itu, wajiblah kita itikadkan bahwa segala perbuatan Allah tak ada yang kosong dari hikmat dan mustahil pula hikmat itu terjadi dengan tidak dikehendaki. Seterusnya, maka wajib ada hikmat pada segala perbuatan Alah mengikut wajib sempurna ilmuNYA dan iradatNYA. Demikian pula kedudukan tentang janji-janji Allah mengikuti kesempurnaan ilmuNYA dan benarNYA. Sega nash (dasar) yang memahami selain dari ini, wajib dsesuaikan dengan ayat-ayat Al Qur'an dan hadits-hadits yang lainnya. Cuma jangan dikatakan bahwa tujuan penghabisan dari hikmat itu, wajib atas Allah, lantaran Allah sendiri yang menjadikan tujuan penghabisan itu dan yang empunyai ghayah. (kata Prof TM Hashby Assidiqqy) .Maka, kalau kita katakan: Allah wajib bersifat dengan segala sifat kesempurnaan; bukanlah sebagai pengertian : Si Anu wajib shalat karena telah mukallaf, yakni: yang demikian itu bagiNya, bukan wajib atasNya.
Semoga kita dapat memahaminya. In Sha Allah....AAmiin...