Senin, 01 Oktober 2018

Kajian Islam tentan Iman & Islam

Kajian Islam: Berbicara tentang Iman dan Islam, juga sangat erat kaitannya dengan sebuah program yang pernah didengungkan oleh beberapa tokoh masyarakat yaitu “ Program ba baliek ka surau”. Dewasa ini kita sadar bahwa masih banyak diantara  warga masyarakat kita yang belum fasih membaca Al-Qur’an. Padahal Al-Qur’an itu merupakan sebuah kitab yang dijadikan pedoman dan arah untuk memajukan sebuah  negeri. Al-Qur’an itu merupakan salah satu dari rukun Iman yang harus dipercayai kebenaran, jika kita belum fasih membaca dan juga belum paham akan makna dan kandungannya, maka dapat dipastikan, nilai kepercayaan kita kepada Al-Qur’an tentu masih dirasa kurang. Untuk mengelaborasi agar supaya warga masyarakat paham akan isi kandungan Al-Qur’an, tentu harus ada program. Program babaliek ka surau ini perlu dicermati dan disusun sedemikian rupa sehingga setiap warga dapat mengikutinya, yang akhirnya setiap kita mampu untuk membaca Al-Qur’an itu dengan fasih. Mampu mengetahui dan menhgayati isi kandungan Al-Qur’an.
Berkaca dari pengalaman di negeri kita, pada masa lalu ada 2 surau yang selalu mengajarkan Al-Qur’an kepada warga yaitu: Surau Tanah Taban, yang di asuh oleh Angku Mudo Zain (Angku Mudo Seen), dan satu lagi Surau Buah Talang (yang kini sudah menjadi Masjid Taqwa), yang diasuh oleh Angku Mudo Maun. Surau Tanah Taban sejak Angku Mudo Zein wafat, bebera saat diteruskan oleh anak-anak beliau yaitu: alm Kkd Djuaini Zein, setelah kkd Djuani Zein hijrah ke Jakarta di teruskan oleh adik beliau yaitu: Alm Kkd si Cun, tapi sejak alm Kkd si Cun merantau ke Curup-Bengkulu, Surau Tanah Taban tidak ada lagi gurunya, akhirnya bubar. Surau Buah Talang, setelah Angku Mudo Maun wafat, diteruskan oleh anak beliau Yaitu: Alm  Mmd Marunin, kemudian setelah Mmd Marunin merantau ke Jambi, kegiatan mengaji di surau itu , mulai tersendat, dan akhirnya di teruskan oleh Angku Mudo yang sekarang . Di Surau Buah Durian (Surau di Ateh) sewaktu Angku Khatib Agus masih hidup , sehabis berjualan dari pecan ke pecan, Angku Khatib Agud mengajarkan kepada murid-muridnya membaca Al-Qur’an, tapi setelah beliau wafat, kegiatan mengaji Al-Qur’anpun mulai tersendat. Demkianlah perjalanan sejarah pengajian Al-Qur’an di negeri kita.
Jika kita berkaca pada negeri lain (negeri rantau), guru-guru mengaji itu mendapat tempat terhormat dimata masyarakat, dengan kegiatan mengaji Al-Qur’an, para guru itu dapat hidup dengan layak. Para guru  mengaji itu bukan hanya mengajarkan “Batang”, atau hanya untuk sekedar bisa membaca Al-Qur’an, tapI lebih jauh para guru-guru mengaji itu, memberikan pelajaran tafsir, Hadits-hadits Nabi Saw, termasuk juga kajian-kajian “Sirah Nabawiyah, Sirah Sahabat” serta kajian-kajian sufi dll. Para guru-guru mengaji itu juga mempunyai nasab bacaan yang sampai kepada Rasulullah Saw.

Jika kita ingin mensukseskan “program babaliek ka surau”, tentu tentang mengaji Al-Qur’an ini perlu lagi mendapat perhatian tokoh-tokoh masyarakat. Sehingga akhirnya nanti setiap warga dapat hendaknya fasih dan lancar membaca Al-Qur’an termasuk isi dan makna serta kandungan-kandungan dari Al-Qur’an. Semoga. Aamiin….@@

Tidak ada komentar:

Posting Komentar