Kajian Islam: Berbicara tentang Iman dan Islam, juga sangat
erat kaitannya dengan sebuah program yang pernah didengungkan oleh beberapa
tokoh masyarakat yaitu “ Program ba baliek ka surau”. Dewasa ini kita sadar
bahwa masih banyak diantara warga masyarakat
kita yang belum fasih membaca Al-Qur’an. Padahal Al-Qur’an itu merupakan sebuah
kitab yang dijadikan pedoman dan arah untuk memajukan sebuah negeri. Al-Qur’an itu merupakan salah satu
dari rukun Iman yang harus dipercayai kebenaran, jika kita belum fasih membaca
dan juga belum paham akan makna dan kandungannya, maka dapat dipastikan, nilai
kepercayaan kita kepada Al-Qur’an tentu masih dirasa kurang. Untuk
mengelaborasi agar supaya warga masyarakat paham akan isi kandungan Al-Qur’an,
tentu harus ada program. Program babaliek ka surau ini perlu dicermati dan
disusun sedemikian rupa sehingga setiap warga dapat mengikutinya, yang akhirnya
setiap kita mampu untuk membaca Al-Qur’an itu dengan fasih. Mampu mengetahui
dan menhgayati isi kandungan Al-Qur’an.
Berkaca dari pengalaman di negeri kita, pada masa lalu ada 2
surau yang selalu mengajarkan Al-Qur’an kepada warga yaitu: Surau Tanah Taban,
yang di asuh oleh Angku Mudo Zain (Angku Mudo Seen), dan satu lagi Surau Buah
Talang (yang kini sudah menjadi Masjid Taqwa), yang diasuh oleh Angku Mudo
Maun. Surau Tanah Taban sejak Angku Mudo Zein wafat, bebera saat diteruskan
oleh anak-anak beliau yaitu: alm Kkd Djuaini Zein, setelah kkd Djuani Zein
hijrah ke Jakarta di teruskan oleh adik beliau yaitu: Alm Kkd si Cun, tapi
sejak alm Kkd si Cun merantau ke Curup-Bengkulu, Surau Tanah Taban tidak ada
lagi gurunya, akhirnya bubar. Surau Buah Talang, setelah Angku Mudo Maun wafat,
diteruskan oleh anak beliau Yaitu: Alm
Mmd Marunin, kemudian setelah Mmd Marunin merantau ke Jambi, kegiatan
mengaji di surau itu , mulai tersendat, dan akhirnya di teruskan oleh Angku
Mudo yang sekarang . Di Surau Buah Durian (Surau di Ateh) sewaktu Angku Khatib
Agus masih hidup , sehabis berjualan dari pecan ke pecan, Angku Khatib Agud mengajarkan
kepada murid-muridnya membaca Al-Qur’an, tapi setelah beliau wafat, kegiatan
mengaji Al-Qur’anpun mulai tersendat. Demkianlah perjalanan sejarah pengajian
Al-Qur’an di negeri kita.
Jika kita berkaca pada negeri lain (negeri rantau),
guru-guru mengaji itu mendapat tempat terhormat dimata masyarakat, dengan
kegiatan mengaji Al-Qur’an, para guru itu dapat hidup dengan layak. Para
guru mengaji itu bukan hanya mengajarkan
“Batang”, atau hanya untuk sekedar bisa membaca Al-Qur’an, tapI lebih jauh para
guru-guru mengaji itu, memberikan pelajaran tafsir, Hadits-hadits Nabi Saw,
termasuk juga kajian-kajian “Sirah Nabawiyah, Sirah Sahabat” serta
kajian-kajian sufi dll. Para guru-guru mengaji itu juga mempunyai nasab bacaan
yang sampai kepada Rasulullah Saw.
Jika kita ingin mensukseskan “program babaliek ka surau”,
tentu tentang mengaji Al-Qur’an ini perlu lagi mendapat perhatian tokoh-tokoh
masyarakat. Sehingga akhirnya nanti setiap warga dapat hendaknya fasih dan
lancar membaca Al-Qur’an termasuk isi dan makna serta kandungan-kandungan dari
Al-Qur’an. Semoga. Aamiin….@@
Tidak ada komentar:
Posting Komentar