1. Dalam berjualan kita diharuskan berlaku benar. Ada beberapa hadits yang menjelaskan hal itu, diantaranya:
*) "Barangsiapa membawa senjata atas kami, maka tiadalah ia dari kami; dan barangsiapa mengicuh/menipu kami, maka tiadalah ia dari kami" (HR. Muslim)
**) "Tiada halal bagi seseorang menjual sesuatu, melainkan dengan terus-terang (jujur) mengatakan apa-apa yang ada padanya (terhadap kondisi berang yg dijual tsb); dan tidak halal bagi orang yang mengetahui demikian, jika ia tidak memberi tahukannya kepada orang yang akan membeli barang tersebut" (HR Al-Baihaqy)
***) "Orang Islam itu saudara orang Islam, dan tiada dihalalkan bagi seseorang Muslim apabila menjual kepada saudaranya sesuatu jualannya yang ada padanya ke'aiban (cacat) tiada menerangkannya (memberitahukannya)" (HR. Ahmad)
2. Dalam berjualan, seseorang itu dilarang menjual barang orang lain, tanpa persetujuan (mendapat izin) terlebih dahulu dari sipemilik barang yang akan dijual.
*) janganlah seseorang menjual atas penjualann saudaranya, dan jangan meminang atas pinangan saudaranya, meainkan setelah diberikan keizinan baginya" (HR. Muslim)
3. Di dalam Islam dalam berkongsi (kerjasama) juga dilarang berlaku curang.
*) terdapat dalam Surat Al-Baqarah (S.2) ayat 188: "Dan janganlah kamu makan harta diantara kamu dengan jaan yang bathil, dan (janganlah) kamu menyuap dengan harta itu kepada para hakim, dengan maksud agar kamu dapat memakan sebagian harta orang lain itu dengan jalan dosa, padahal kamu mengetahui"
**) Allah berkata, dalam sabda Nabi Shalallahu 'Alaihi Wassalam: "Aku (demikian kata Allah) orang ketiga dari dua orang yang berkongsi, selama tiada mengkhianat salah seorang dari keduanya akan temannya; maka apabila telah ia khianatkan, keluarlah Aku dari antara keduanya (HR. Abu Daaud)
***) "Barangsiapa mengkhianatkan kongsinya pada barang yang dipercayakan kepadanya dan diminta pemeliharaannya, maka Aku (demikian kata Allah) terlepas daripadanya" (HR. Abu Ja'laa)
4. Di dalam mengurangi sukatan dan timbangan, juga ada beberapa Surat dalam Al Qur'an yang menjelaskan hal itu, diantaranya:
*) Tedapat dalam Surat Asy-Syuaraa ( 26) ayat 182 - 183)
**) Terdapat dalam Surat Al Israa' (S.17) ayat 35
***) Terdapat dalam Surat Al-Muthaffifien (S.83) ayat 1-5
Juga ada beberapa hadits yang melarang mengurangi sukatan dan timbangan, diantaranya:
*) "Bahwasanya saudagar-saudagar itu orang-orang yang fasik. Bertanya sahabatnya: Ya Rasulallah, bukankah Allah telah menghalalkan penjualan dan mengharamkan riba ?. Nabi Shalallau "Alaihi Wassalam menjawab: "Benar, akan tetapi mereka (saudagar-saudagar) itu sangat suka bersumpah; karena itu mereka berdosa, dan sangat suka berbicara dusta" (HR. Ahmad)
**) Penjual dan pemberi boleh berikhtiar selama belum mereka berpisah. Maka jika berlaku benar keduanya dan menerangkan keadaan barang jualannya dengan jujur, diberkatilah akan keduanya pada penjualan itu. Jika menyembunyikan dan berdusta, maka boleh jadilah mereka berlaba (beruntung). Tetapi mereka memusnahkan keberkatan penjualan. Sumpah palsu, mejajakan permata benda, (tetapi) memusnahkan usaha" (HR. Bukhary & Muslim>
Semoga kita dapat terhindar dari berbagai hal yang dilarang itu. In Sha Allah. Aamiin.....
Senin, 28 Januari 2019
Minggu, 27 Januari 2019
Kajian Islam Ttg "Dasar Muamalat dalam Islam"
Dasar-dasar muamalat atau undang-undang madaniyah adalah suatu cara yang sangat bijaksana yang diatur di dalam Islam. Perbaikan itu dibawa oleh Nabi Besar Muhammad Shalallu 'Alaihi Wassalam, meliputi soal peribadatan, yang menyangkut soal hidup seseorang terhadap Allah Sang Maha Pencipta. Dengan peribadatan itu setiap insan akan mendapat kebajikan bagi jiwanya. Contoh peribadatan tersebut meliputi: Shalat, puasa, zakat dan hajji. Semua peribadatan, akan menumbuhkan kebajikan dalam hal kehidupan sosial kemasyarakatan dalam diri-diri mereka dan juga didalam lingkungan mansyarakat.
Agama Islam membuat aturan-aturan soal muamalat agar manusia terjaga dari kerusakan, dan menjauhkan manusia dari sifat-sifat tercela, Dan aturan itu juga dapat membimbing manusia menuju nilai kemuliaan, kekuatan dan kesempurnaan.
Secara ringkas dasar-dasar muamalat itu di dalam Islam salah satunya yaitu mengharuskan jual-beli dan mengharamkan riba. Al Qur'an dengan tegas membolehkan/mengharuskan jual-beli, karena jual-beli itu mempunyai tujuan dan maksud yang baik dalam kehidupan bermasyarakat. Mengharamkan riba, karena riba itu, sama sekali tidak sesuai dengan sifat rahmat dari seoang manusia terhadap saudaranya; bahkan riba itu menambah kesulitan bagi orang-orang fakir.
Hal ini dijelaskan dalam Surat Al- Baqarah (S.2). ayat 275, dan ayat 188; Surat An-Nisaa' (4) ayat 29-30.
Ayat ini menjelaskan, bahwa mengambil harta manusia dengan ketiadaan muqabil (ketiadaan penukaran atau pergantian), diharamkan Allah, kecuali harta-harta yang diusahakan dengan perniagaan yang terjadi dengan suka-rela dikedua belah pihak.
Al Qur'an juga menyatakan bahwa, mengambil harta manusia dengan jalan yang bathil, adalah penyebab terjadinya perselisihan, perkelahian dan bahkan pembunuhan.
Allah melarang kita merampas harta orang lain, termasuk mencuri dan menipu.
Pencuri itu bila sudah terpaksa, maka bisa saja melakukan pembunuhan bagi sipemilik harta yang dirampasnya. Bagi sipemilik harta, demi menjaga hartanya dan kehormatan dirinya tentu akan berusaha dengan segala upaya mempertahakan hartanya yang dicuri itu.
Oleh karena itu seseorang yang mengambil harta orang lain dengan jalan yang bathil -- menurut pandangan Islam, berati mereka telah merusak tatanan kehidupan sosial kemasyakatan. Sipengambil harta orang lain telah mengganggu orang dan merusak dirinya sendiri.
Demikian sekilas tentang dasar-dasar muamalat, semoga kita dapat memakluminya, In Sha Allah. Aamiin....
Agama Islam membuat aturan-aturan soal muamalat agar manusia terjaga dari kerusakan, dan menjauhkan manusia dari sifat-sifat tercela, Dan aturan itu juga dapat membimbing manusia menuju nilai kemuliaan, kekuatan dan kesempurnaan.
Secara ringkas dasar-dasar muamalat itu di dalam Islam salah satunya yaitu mengharuskan jual-beli dan mengharamkan riba. Al Qur'an dengan tegas membolehkan/mengharuskan jual-beli, karena jual-beli itu mempunyai tujuan dan maksud yang baik dalam kehidupan bermasyarakat. Mengharamkan riba, karena riba itu, sama sekali tidak sesuai dengan sifat rahmat dari seoang manusia terhadap saudaranya; bahkan riba itu menambah kesulitan bagi orang-orang fakir.
Hal ini dijelaskan dalam Surat Al- Baqarah (S.2). ayat 275, dan ayat 188; Surat An-Nisaa' (4) ayat 29-30.
Ayat ini menjelaskan, bahwa mengambil harta manusia dengan ketiadaan muqabil (ketiadaan penukaran atau pergantian), diharamkan Allah, kecuali harta-harta yang diusahakan dengan perniagaan yang terjadi dengan suka-rela dikedua belah pihak.
Al Qur'an juga menyatakan bahwa, mengambil harta manusia dengan jalan yang bathil, adalah penyebab terjadinya perselisihan, perkelahian dan bahkan pembunuhan.
Allah melarang kita merampas harta orang lain, termasuk mencuri dan menipu.
Pencuri itu bila sudah terpaksa, maka bisa saja melakukan pembunuhan bagi sipemilik harta yang dirampasnya. Bagi sipemilik harta, demi menjaga hartanya dan kehormatan dirinya tentu akan berusaha dengan segala upaya mempertahakan hartanya yang dicuri itu.
Oleh karena itu seseorang yang mengambil harta orang lain dengan jalan yang bathil -- menurut pandangan Islam, berati mereka telah merusak tatanan kehidupan sosial kemasyakatan. Sipengambil harta orang lain telah mengganggu orang dan merusak dirinya sendiri.
Demikian sekilas tentang dasar-dasar muamalat, semoga kita dapat memakluminya, In Sha Allah. Aamiin....
Sabtu, 26 Januari 2019
Kajian Islam Ttg " Sifat Hari Akhirat"
Di dalam Al Qur'an ada dua surat yang menjelaskan hal ini, pertama terdapat didalam Surat Ibrahim (S.14) ayat 42 sampai dengan ayat 52. dan kedua terdapat di dalam Surat Al Qamar (S.54). ayat 6 sampai dengan ayat 8.
Untuk mengetahui lebih jelas tentang sifat hari akhirat itu kita perhatikan ayat-ayat dalam Surat Ibrahim tersebut : " Dan janganlah kamu mengira bahwa Allah lalai dari apa yang dilakukan oleh segala orang yang zalim. Hanya saja Allah memperlambat balasan sampai kehari berputar-putarnya pemandangan, lantaran terlalu takut kepada apa yang dilihat, sehingga mereka tak dapat memindahkan pemandangannya kearah lain dan selalu mengangkat kepalanya; pemandangan mereka tidak beralih-alih, tetapi hati mereka beterbangan dan kosong. Dan berikanlah peringatan (Muhammad) kepada manusia pada hari (ketika) azab datang kepada mereka, maka orang-orang zalim berkata: "Ya Tuhan kami, berilah kami kesempatan (kembali ke dunia) walaupun sebentar, niscaya kami akan mematuhi seruan Engkau dan akan mengikuti rasul-rasul" (Kepada mereka dikatakan), "Bukankah dahulu ( di dunia) kamu telah bersumpah bahwa sekali-kali kamu tidak akan binasa?. Sebenarnya kamu telah tinggal di tempat orang yang menzalimi diri sendiri, dan telah nyata bagimu bagaimana Kami telah berbuat terhadap mereka dan telah Kami berikan kepadamu berupa perumpamaan", Semuanya itu kamu tidak pedulikan. Mereka kaum kafir berdaya-upaya, melakukan tipu muslihatnya untuk melenyapkan Islam dan untuk menghambat hamba-hamba Allah dari Jalan Tuhannya. Dan sungguh, mereka telah membuat tipu daya padahal Allah (mengetahui dan akan membalas) tipu daya mereka. Dan sesungguhnya tipu daya mereka tidak mampu melenyapkan gunung-gunung. Maka karena itu jangan sekali-kali kamu mengira bahwa Allah mengingkari janji-Nya kepada rasul-rasulNya. Sungguh, Allah Mahaperkasa dan mempunyai pembalasan. (Yaitu) pada hari (ketika) bumi di ganti dengan bumi yang lain dan (demikian pula) langit, dan mereka (manusia) berkumpul (di padang Mahsyar) menghadap Allah Yang Maha Esa, Maha Perkasa. Dan pada hari itu engkau akan melihat orang-orang yang berdosa bersama-sama diikat dengan belenggu. Pakaian mereka dari cairan aspal, dan wajah mereka ditutup oleh api neraka. Dikala itu engkau akan melihat kaum jahat, orang yang berbuat kemaksiatan, diseret berbaris-baris dalam ikatan rantai. Allah memberi balasan kepada setiap orang terhadap apa yang dia usahakan. Sungguh, Allah Mahacepat perhitunganNya. Dan (Al Qur'an) ini adalah penjelasan (yang sempurna) bagi manusia, agar mereka mengetahui bahwa Dia adalah Tuhan Yang Maha Esa dan agar orang yang berakal mengambil pelajaran.
Di dalam Surat Al Qamar dijelaskan bahwa: "maka berpalinglah engkau (Muhammad) dari mereka pada hari (ketika) penyeru (malaikat) mengajak (mereka) kepada sesuatu yang tidak menyenangkan (hari pembalasan), pandangan mereka tertunduk, ketika mereka keluar dari kuburan, seakan-akan mereka belalang yang berterbangan, dan dengan patuh mereka segera datang kepada penyeru itu . Orang-orang kafir berkata, "ini adalah hari yang sulit"
Demikian sekilas, semoga kita senantiasa terhindar dari malapetaka hari akhirat itu, In sha Allah. Aamiin...
Untuk mengetahui lebih jelas tentang sifat hari akhirat itu kita perhatikan ayat-ayat dalam Surat Ibrahim tersebut : " Dan janganlah kamu mengira bahwa Allah lalai dari apa yang dilakukan oleh segala orang yang zalim. Hanya saja Allah memperlambat balasan sampai kehari berputar-putarnya pemandangan, lantaran terlalu takut kepada apa yang dilihat, sehingga mereka tak dapat memindahkan pemandangannya kearah lain dan selalu mengangkat kepalanya; pemandangan mereka tidak beralih-alih, tetapi hati mereka beterbangan dan kosong. Dan berikanlah peringatan (Muhammad) kepada manusia pada hari (ketika) azab datang kepada mereka, maka orang-orang zalim berkata: "Ya Tuhan kami, berilah kami kesempatan (kembali ke dunia) walaupun sebentar, niscaya kami akan mematuhi seruan Engkau dan akan mengikuti rasul-rasul" (Kepada mereka dikatakan), "Bukankah dahulu ( di dunia) kamu telah bersumpah bahwa sekali-kali kamu tidak akan binasa?. Sebenarnya kamu telah tinggal di tempat orang yang menzalimi diri sendiri, dan telah nyata bagimu bagaimana Kami telah berbuat terhadap mereka dan telah Kami berikan kepadamu berupa perumpamaan", Semuanya itu kamu tidak pedulikan. Mereka kaum kafir berdaya-upaya, melakukan tipu muslihatnya untuk melenyapkan Islam dan untuk menghambat hamba-hamba Allah dari Jalan Tuhannya. Dan sungguh, mereka telah membuat tipu daya padahal Allah (mengetahui dan akan membalas) tipu daya mereka. Dan sesungguhnya tipu daya mereka tidak mampu melenyapkan gunung-gunung. Maka karena itu jangan sekali-kali kamu mengira bahwa Allah mengingkari janji-Nya kepada rasul-rasulNya. Sungguh, Allah Mahaperkasa dan mempunyai pembalasan. (Yaitu) pada hari (ketika) bumi di ganti dengan bumi yang lain dan (demikian pula) langit, dan mereka (manusia) berkumpul (di padang Mahsyar) menghadap Allah Yang Maha Esa, Maha Perkasa. Dan pada hari itu engkau akan melihat orang-orang yang berdosa bersama-sama diikat dengan belenggu. Pakaian mereka dari cairan aspal, dan wajah mereka ditutup oleh api neraka. Dikala itu engkau akan melihat kaum jahat, orang yang berbuat kemaksiatan, diseret berbaris-baris dalam ikatan rantai. Allah memberi balasan kepada setiap orang terhadap apa yang dia usahakan. Sungguh, Allah Mahacepat perhitunganNya. Dan (Al Qur'an) ini adalah penjelasan (yang sempurna) bagi manusia, agar mereka mengetahui bahwa Dia adalah Tuhan Yang Maha Esa dan agar orang yang berakal mengambil pelajaran.
Di dalam Surat Al Qamar dijelaskan bahwa: "maka berpalinglah engkau (Muhammad) dari mereka pada hari (ketika) penyeru (malaikat) mengajak (mereka) kepada sesuatu yang tidak menyenangkan (hari pembalasan), pandangan mereka tertunduk, ketika mereka keluar dari kuburan, seakan-akan mereka belalang yang berterbangan, dan dengan patuh mereka segera datang kepada penyeru itu . Orang-orang kafir berkata, "ini adalah hari yang sulit"
Demikian sekilas, semoga kita senantiasa terhindar dari malapetaka hari akhirat itu, In sha Allah. Aamiin...
Kamis, 17 Januari 2019
Kajian Islam Ttg "Janji Allah"
Jika kita perhatikan ayat-ayat Allah dalam Al Qur'an, maka tegas disebutkan bahwa Allah tidak akan menyalahi janjinya. Allah membuat wa'ad dan wa'ied (janji baik dan janji buruk). Wa'ad, (janji) dipakai untuk janji baik dan janji buruk. Sedangkan wa'ied semata-mata dibuat untuk janji buruk saja. Demikian dijelaskan menurut terminologi bahasa Arab.
Ada beberapa ayat-ayat Al Qur'an yang menjelaskan tentang janji Allah ini.
1. Terdapat dalam Surat An-Nisaa' (S.4) ayat 122: " Dan orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal kebajikan, kelak akan Kami masukkan ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungi, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Dan janji Allah itu benar. Siapakah yang lebih benar perkataannya daripada Allah?
2. Terdapat dalam Surat Al-A'raaf (S.7) ayat 44: " Dan para penghuni surga menyeru penghuni-penghuni neraka, "Sungguh, kami telah memperoleh apa yang dijanjikan Tuhan kepada kami itu benar. Apakah kamu telah memperoleh apa yang dijanjikan Tuhan kepadamu itu benar ?. Mereka menjawab, "Benar". Kemudian penyeru (malaikat) mengumumkan di antara mereka, "Laknat Allah bagi orang-orang zalim".
3. Terdapat dalam Surat At-Taubah (S.9) ayat 68: " Allah menjajikan (mengancam) orang-orang munafik laki-laki dan perempuan dan orang-orang kafir dengan neraka Jahanam. Mereka kekal di dalamnya. Cukuplah (neraka) itu bagi mereka. Allah melaknat mereka; dan mereka mendapat azab yang kekal," Selanjutnya didalam Surat yang sama, pada ayat 72 : " Allah menjanjikan kepada orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan, (akan mendapat) surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya, dan (mendapat) tempat yang baik di surga 'Adn. Dan keridaan Allah lebih besar. Itulah kemenangan yang agung.
Dengan memperhatikan dan menghayati kandungan-kandungan beberapa ayat-ayat tersebut, nyatalah bagi kita bahwa titik berat dari Ayat-ayat itu, ialah Janji Allah pasti tepat dan benar, dan tidak usah diragukan lagi dan juga disangsikan kebenarannya. Akapah Allah wajib menunaikan janjiNya atau tidak, itu bukan urusan kita. Apakah Allah memberikan janjiNya itu sebagai suatu kemurahan yang dilimpahkan atau bukan, itu juga tidak menjadikan soal kita. Persoalan yang kita titik beratkan adalah: bahwa Janji Allah benar. Allah telah berjanji akan memberikan sesuatu dimasa yang akan datang. Apakah Allah akan menyalahi janjinnya?. Kalau Allah menyalahi janjinya, tentulah berarti dusta. Dusta merupakan suatu sifat buruk yang dipandang oleh makhluk. Menyalahi janji atau dusta sangat berlawanan dengan wahyu dan kalam Allah. "Allah, tidak ada tuhan selain Dia. Dia pasti akan mengumpulkan kamu pada hari Kiamat yang tidak diragukan terjadinya. Siapakah yang lebih benar perkataan (nya) daripada Allah" (Surat An-Nisaa' ayat 87).
Dengan demikian, pantas dan lazimlah kiranya kita beri'tiqad teguh bahwa janji-janji Allah yang baik (wa'adNYA), begitu juga janji-janji Allah yang buruk (wa'iedNYA), pasti akan berlaku, pasti akan dipenuhi; jangan ragu dan jangan sangsi tentang hal itu.
Semoga kita selalu dalam hidyahNYA. In Sha Allah.. Aamiin...
Ada beberapa ayat-ayat Al Qur'an yang menjelaskan tentang janji Allah ini.
1. Terdapat dalam Surat An-Nisaa' (S.4) ayat 122: " Dan orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal kebajikan, kelak akan Kami masukkan ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungi, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Dan janji Allah itu benar. Siapakah yang lebih benar perkataannya daripada Allah?
2. Terdapat dalam Surat Al-A'raaf (S.7) ayat 44: " Dan para penghuni surga menyeru penghuni-penghuni neraka, "Sungguh, kami telah memperoleh apa yang dijanjikan Tuhan kepada kami itu benar. Apakah kamu telah memperoleh apa yang dijanjikan Tuhan kepadamu itu benar ?. Mereka menjawab, "Benar". Kemudian penyeru (malaikat) mengumumkan di antara mereka, "Laknat Allah bagi orang-orang zalim".
3. Terdapat dalam Surat At-Taubah (S.9) ayat 68: " Allah menjajikan (mengancam) orang-orang munafik laki-laki dan perempuan dan orang-orang kafir dengan neraka Jahanam. Mereka kekal di dalamnya. Cukuplah (neraka) itu bagi mereka. Allah melaknat mereka; dan mereka mendapat azab yang kekal," Selanjutnya didalam Surat yang sama, pada ayat 72 : " Allah menjanjikan kepada orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan, (akan mendapat) surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya, dan (mendapat) tempat yang baik di surga 'Adn. Dan keridaan Allah lebih besar. Itulah kemenangan yang agung.
Dengan memperhatikan dan menghayati kandungan-kandungan beberapa ayat-ayat tersebut, nyatalah bagi kita bahwa titik berat dari Ayat-ayat itu, ialah Janji Allah pasti tepat dan benar, dan tidak usah diragukan lagi dan juga disangsikan kebenarannya. Akapah Allah wajib menunaikan janjiNya atau tidak, itu bukan urusan kita. Apakah Allah memberikan janjiNya itu sebagai suatu kemurahan yang dilimpahkan atau bukan, itu juga tidak menjadikan soal kita. Persoalan yang kita titik beratkan adalah: bahwa Janji Allah benar. Allah telah berjanji akan memberikan sesuatu dimasa yang akan datang. Apakah Allah akan menyalahi janjinnya?. Kalau Allah menyalahi janjinya, tentulah berarti dusta. Dusta merupakan suatu sifat buruk yang dipandang oleh makhluk. Menyalahi janji atau dusta sangat berlawanan dengan wahyu dan kalam Allah. "Allah, tidak ada tuhan selain Dia. Dia pasti akan mengumpulkan kamu pada hari Kiamat yang tidak diragukan terjadinya. Siapakah yang lebih benar perkataan (nya) daripada Allah" (Surat An-Nisaa' ayat 87).
Dengan demikian, pantas dan lazimlah kiranya kita beri'tiqad teguh bahwa janji-janji Allah yang baik (wa'adNYA), begitu juga janji-janji Allah yang buruk (wa'iedNYA), pasti akan berlaku, pasti akan dipenuhi; jangan ragu dan jangan sangsi tentang hal itu.
Semoga kita selalu dalam hidyahNYA. In Sha Allah.. Aamiin...
Kajian Islam ttg "Bangkit dari kubur"
Diantara pokok aqidah yang disepakati oleh segala syariat ketuhanan sejak dari permulaan syariat yang diturunkan Allah ke muka bumi hingga akhir syariat dengan berakhirnya dan hancurnya alam semesta yaitu : kepercayaan akan dibangkitkannya segala manusia dari kuburnya dan diberikan pembalasan amal yang mereka kerjakan selama hidup di alam dunia.
Namun sebahagian manusia ada yang mengingkari hal itu; mengingkari ada hidup lagi setelah hidup sekarang ini.
Kebanyakan musyrikin Arab pada masa dahulu mengingkari adanya hari kemudian. mereka tidak menerima kemungkinan hidup sesudah mati, mereka menolak adanya hari akhirat. Adapun golongan ahli kitab tentang keimanan mereka tentang hari kemudian ini, telah banyak bercampur-baur dengan berbagai-bagai bid'ah, yang sebab demikian itu maka hilanglah kebersihan iman mereka, hilanglah guna dan faedahnya.
Al Qur'an membantah faham yang demikian itu (kaum musyrikin arab dan kalangan penganut agama yang tidak menyetujui akan adanya bangkit dari kubur dan hari akhirat.) dengan berbagai rupa alasan dan keterangan. Diantara bukti yang menyatakan kemungkinan terjadinya hari berbangkit itu, diantaranya kita perhatikan dataran bumi yang semula kering, setelah Allah menurunkan hujan dari langit maka hiduplah bumi itu dengan berbagai macam hewan dan tumbuh-tumbuhan. Inilah satu isyarah bahwa bagi Allah sangat mudah untuk membangkitkan kembali jasad-jasad yang sudah mati.
Al Qur'an menerangkan bahwa, menurut dasar kebijaksanaan, hendaklah manusia itu mempunyai hidup sekali lagi. Dalam hidup itulah diambil hak-hak orang teraniaya dari yang menganiaya, diambil hak silemah dari sikuat yang memperkosa dan mengganggu ketentraman hak silemah.
Al Qur'an juga menerangkan bahwa membiarkan manusia tidak hidup lagi buat membalaskan amal usahanya, adalah sikap berlawanan dengan kebijaksanaan, atau sikap bodoh. Allah pencipta alam semesta suci dari sifat bodoh itu.
Memang wajib menurut dasar hikmat dan keadilan, Allah menghidupkan manusia sekali lagi untuk memberikan kesempatan mereka menuai/memanen hasil usaha yang mereka kerjakan selama hidup di dunia.
Di dalam Surat Al-Qiyamat (S.75) ayat 36 di jelaskan bahwa: "Apakah maanusia mengira, dia akan dibiarkan begitu saja (tanpa pertanggung-jawaban) ?" 37 : "Bukankah dia mulanya hanya setetes mani yang ditumpahkan (ke dalam rahim)", 38: " kemudian (mani itu) menjadi sesuatu yang melekat, lalu Allah menciptakannya dan menyempurnakannya" 39: "lalu Dia menjadikan darinya sepasang laki-laki dan perempuan" 40. "Bukankah (Allah berbuat) demikian berkuasa (pula) menghidupkan orang mati ?"
Di Surat Ar-Rum (S.30) ayat 27 dijelaskan bahwa: "Dan Dialah yang memulai penciptaan, kemudian mengulanginya kembali, dan itu lebih mudah bagi-Nya. Dia memiliki sifat yang Maha tinggi di langit dan di bumi. Dan Dialah Yang Mahaperkasa. Maha bijaksana."
Semoga kita selalu berada dalam hidayahnya. In Sha Allah. Aamiin....
Namun sebahagian manusia ada yang mengingkari hal itu; mengingkari ada hidup lagi setelah hidup sekarang ini.
Kebanyakan musyrikin Arab pada masa dahulu mengingkari adanya hari kemudian. mereka tidak menerima kemungkinan hidup sesudah mati, mereka menolak adanya hari akhirat. Adapun golongan ahli kitab tentang keimanan mereka tentang hari kemudian ini, telah banyak bercampur-baur dengan berbagai-bagai bid'ah, yang sebab demikian itu maka hilanglah kebersihan iman mereka, hilanglah guna dan faedahnya.
Al Qur'an membantah faham yang demikian itu (kaum musyrikin arab dan kalangan penganut agama yang tidak menyetujui akan adanya bangkit dari kubur dan hari akhirat.) dengan berbagai rupa alasan dan keterangan. Diantara bukti yang menyatakan kemungkinan terjadinya hari berbangkit itu, diantaranya kita perhatikan dataran bumi yang semula kering, setelah Allah menurunkan hujan dari langit maka hiduplah bumi itu dengan berbagai macam hewan dan tumbuh-tumbuhan. Inilah satu isyarah bahwa bagi Allah sangat mudah untuk membangkitkan kembali jasad-jasad yang sudah mati.
Al Qur'an menerangkan bahwa, menurut dasar kebijaksanaan, hendaklah manusia itu mempunyai hidup sekali lagi. Dalam hidup itulah diambil hak-hak orang teraniaya dari yang menganiaya, diambil hak silemah dari sikuat yang memperkosa dan mengganggu ketentraman hak silemah.
Al Qur'an juga menerangkan bahwa membiarkan manusia tidak hidup lagi buat membalaskan amal usahanya, adalah sikap berlawanan dengan kebijaksanaan, atau sikap bodoh. Allah pencipta alam semesta suci dari sifat bodoh itu.
Memang wajib menurut dasar hikmat dan keadilan, Allah menghidupkan manusia sekali lagi untuk memberikan kesempatan mereka menuai/memanen hasil usaha yang mereka kerjakan selama hidup di dunia.
Di dalam Surat Al-Qiyamat (S.75) ayat 36 di jelaskan bahwa: "Apakah maanusia mengira, dia akan dibiarkan begitu saja (tanpa pertanggung-jawaban) ?" 37 : "Bukankah dia mulanya hanya setetes mani yang ditumpahkan (ke dalam rahim)", 38: " kemudian (mani itu) menjadi sesuatu yang melekat, lalu Allah menciptakannya dan menyempurnakannya" 39: "lalu Dia menjadikan darinya sepasang laki-laki dan perempuan" 40. "Bukankah (Allah berbuat) demikian berkuasa (pula) menghidupkan orang mati ?"
Di Surat Ar-Rum (S.30) ayat 27 dijelaskan bahwa: "Dan Dialah yang memulai penciptaan, kemudian mengulanginya kembali, dan itu lebih mudah bagi-Nya. Dia memiliki sifat yang Maha tinggi di langit dan di bumi. Dan Dialah Yang Mahaperkasa. Maha bijaksana."
Semoga kita selalu berada dalam hidayahnya. In Sha Allah. Aamiin....
Minggu, 13 Januari 2019
Kajian Islam Ttg "Hari Akhirat"
Ada beberapa ayat Al Qur'an yang dapat dijadikan rujukan diantaranya yaitu:
1. Surat An-Nisaa' (S.4) Ayat 136 dan ayat 87.
2. Surat Al Baqarah (S.2) ayat 62.
Sabda Nabi Shalallahu 'alaihi wassalam: " Iman itu, ialah: engkau iman akan akan Allah, akan malaikatNYA, akan kitab-kitabNya, akan menjumpaiNYA, akan Rasul-rasulNYA dan akan dibangkitkan lagi di hari akhirat (Shahih Muslim 1 : 19)
Makna iman akan hari akhirat, yaitu Kita imankan bahwa, sesudah alam dunia yang sedang kita tempuh ini, ada lagi alam yang kedua, yakni alam pembalasan. Dialam itulah Allah memberikan pembalasan baik kepada orang yang berbuat baik (orang-orang mukhsin) dan memberi siksa kepada setiap orang yang berbuat jahat (termasuk orang0orang yang tidak ta'at akan perintah Allah). Ummat Islam yakin bahwa kita ini akan dibangkitkan dari kubur (dihidupkan lagi), lalu dihisab, dihitung dan dikira segala amalan-amalan kita. Setelahdikira dan dihisab segala kebaikan dan keburukan kita, diberikanlah pembalasan yang setimpal dan seadil-adilnya. Dan disana, sesudah kita dibangkitkan lalu dikumpulkan disuatu dataran yang maha luas yaitu Mahsyar namanya. Disana didirikan Miezan (neraca). Saat itu adalah hari pengadilan, seseorang tak bisa lagi menganiaya seseorang. Pada masa itulah kita masing-masing menerima pembalasan yang sangat adil dan disanalah para manusia mersakan kelezatan usahanya dan mendapat derita kepahitan atas berbagai kejahatan yang pernah dilakukannya. Sebahagian orang dimasukkan ke syurga, yaitu tempat berdiam bagi orang beramal kebajikan dan mereka kekal disana. Sebaliknya sebahagian dimasukkan ke neraka, dan kekal di dalamnya; kecuali orang-orang mukmin ada yang dimasukkan kesana untuk sementara, guna membersihkan mereka dari dosa-dosa yang sempat mengotori jiwanya. Setelah menjalani hukuman yang ditentukan batas waktunya, kemudian orang-orang mukmin itu dimasukkan ke dalam syurga.
Firman Allah dalam surat Ali Imraan (S.3) ayat 185.
perlu dimaklumi bahwa diantara pokok-pokok iman kaum muslimin, ialah : Beriman akan hari akhir (akhirat), Iman akan hari akhir ini, salah satu dari sendi agama yang ke tiga(iman akan Allah, iman akan hari kesudahan, dan beramal shaleh) . Dengan iman akan hari akhir inilah sempurnanya iman akan Allah. Kedua-dua iman ini (iman akan Allah dan Iman akan hari akhir), jika telah mengakan dihati sanubari seseorang anak manusia, maka keluarlah daripadanya berbagai rupa amal shaleh, akhlak yang sehat-suci-terpuji dan sifat-sifat yang mulia serta utama. Iman akan hari akhir, majadi pembangkit dan endorong yang kuat bagi tegaknya sendi-sendi agama yang ketiga. - amal yang shaleh-, dengan iman akan hari akhir dapat menjadi penghalang segala perbuatan fasya' dan munkar, dapat menjauhkan diri dari berbagai rupa kejahatan dan kedurjanaan. dengan iman akan hari akhir dapat endrong kita kepada ta'at dan ibadat yang diridhoi Allah.
Tidak sedikit ayat-ayat Al Qur'an dan hadits-hadits yang menerangkan tentng iman akan hari kesudahan itu.
Semoga kita dapat hendaknya mempelajarinya dan memahami serta menghayatinya dengan sungguh-sungguh hingga berbuah menjadi berbagai amal-amal shaleh. In Sha Allah. Aamiin.
1. Surat An-Nisaa' (S.4) Ayat 136 dan ayat 87.
2. Surat Al Baqarah (S.2) ayat 62.
Sabda Nabi Shalallahu 'alaihi wassalam: " Iman itu, ialah: engkau iman akan akan Allah, akan malaikatNYA, akan kitab-kitabNya, akan menjumpaiNYA, akan Rasul-rasulNYA dan akan dibangkitkan lagi di hari akhirat (Shahih Muslim 1 : 19)
Makna iman akan hari akhirat, yaitu Kita imankan bahwa, sesudah alam dunia yang sedang kita tempuh ini, ada lagi alam yang kedua, yakni alam pembalasan. Dialam itulah Allah memberikan pembalasan baik kepada orang yang berbuat baik (orang-orang mukhsin) dan memberi siksa kepada setiap orang yang berbuat jahat (termasuk orang0orang yang tidak ta'at akan perintah Allah). Ummat Islam yakin bahwa kita ini akan dibangkitkan dari kubur (dihidupkan lagi), lalu dihisab, dihitung dan dikira segala amalan-amalan kita. Setelahdikira dan dihisab segala kebaikan dan keburukan kita, diberikanlah pembalasan yang setimpal dan seadil-adilnya. Dan disana, sesudah kita dibangkitkan lalu dikumpulkan disuatu dataran yang maha luas yaitu Mahsyar namanya. Disana didirikan Miezan (neraca). Saat itu adalah hari pengadilan, seseorang tak bisa lagi menganiaya seseorang. Pada masa itulah kita masing-masing menerima pembalasan yang sangat adil dan disanalah para manusia mersakan kelezatan usahanya dan mendapat derita kepahitan atas berbagai kejahatan yang pernah dilakukannya. Sebahagian orang dimasukkan ke syurga, yaitu tempat berdiam bagi orang beramal kebajikan dan mereka kekal disana. Sebaliknya sebahagian dimasukkan ke neraka, dan kekal di dalamnya; kecuali orang-orang mukmin ada yang dimasukkan kesana untuk sementara, guna membersihkan mereka dari dosa-dosa yang sempat mengotori jiwanya. Setelah menjalani hukuman yang ditentukan batas waktunya, kemudian orang-orang mukmin itu dimasukkan ke dalam syurga.
Firman Allah dalam surat Ali Imraan (S.3) ayat 185.
perlu dimaklumi bahwa diantara pokok-pokok iman kaum muslimin, ialah : Beriman akan hari akhir (akhirat), Iman akan hari akhir ini, salah satu dari sendi agama yang ke tiga(iman akan Allah, iman akan hari kesudahan, dan beramal shaleh) . Dengan iman akan hari akhir inilah sempurnanya iman akan Allah. Kedua-dua iman ini (iman akan Allah dan Iman akan hari akhir), jika telah mengakan dihati sanubari seseorang anak manusia, maka keluarlah daripadanya berbagai rupa amal shaleh, akhlak yang sehat-suci-terpuji dan sifat-sifat yang mulia serta utama. Iman akan hari akhir, majadi pembangkit dan endorong yang kuat bagi tegaknya sendi-sendi agama yang ketiga. - amal yang shaleh-, dengan iman akan hari akhir dapat menjadi penghalang segala perbuatan fasya' dan munkar, dapat menjauhkan diri dari berbagai rupa kejahatan dan kedurjanaan. dengan iman akan hari akhir dapat endrong kita kepada ta'at dan ibadat yang diridhoi Allah.
Tidak sedikit ayat-ayat Al Qur'an dan hadits-hadits yang menerangkan tentng iman akan hari kesudahan itu.
Semoga kita dapat hendaknya mempelajarinya dan memahami serta menghayatinya dengan sungguh-sungguh hingga berbuah menjadi berbagai amal-amal shaleh. In Sha Allah. Aamiin.
Sabtu, 12 Januari 2019
Kajian Islam Ttg "Kegunaan Al Qur'an"
Untuk mengetahui kegunaan Al Qur'an, ada beberapa ayat yang menjelaskan hal itu, diantaranya:
1. Terdapat dalam Surat Al Isra' (S.17) ayat 9 -10 dan ayat 82
2. Terdapat dalam Surat Al Kahfi (S.180 Ayat 1
3. Terdapat dalam Surat Yunus (S.10) Ayat 57.
4. Terdapat dalam Surat Thaha (S.20) Ayat 2.
5. Terdapat dalam Surat Al Furqaan (S.25) Ayat 1.
Ayat-ayat Al Qur'an tersebut menyatakan bahwa, Al Qur'an itu memberi petunjuk ke jalan yang lurus, menggembirakan orang mukmin dan memberi kabar menakuti bagiorang-orang kafir. Ayat Al Qur'an itu juga menjadi penawar dan rahmat bagi setiap orang yang beriman. Disamping itu ayat Al Qur'an itu bagi orang yang menganiaya makin lama akan makin betambah ruginya. Dan juga ayat Al Qur'an itu menjadi peringatan bagiorang yang takut kepada Allah, dan sebagai peringatan bagi setiap makhluk.
Ayat 58 Surat Yunus (S.10), menjelaskan keutamaan-keutamaan Al Qur'an, diantaranya:
- sebagai pengajaran dan nasehat yang datang dari Allah.
- sebagai penawar segala penyakit rohani
- sebagai petunjuk dan penuntun;
- sebagai rahmat bagi segala orang yang mukmin.
Al Qur'an itu adalah sebesar-besarnya mukjizat Nabi Muhammad Shalallahu 'alaihi wasallam. Dikatakan Al Qur'an itu sebesar-besarnya mukjizat karena dengan Al Qur'an itu dapat melemahkan akal orang yang mengingkarinya/melawannya. Dari zaman nabi hingga kini, belum ada dan takkan pernah ada orang yang membuat kitab yang menyerupai Al Qur'an dari segala hal ikhwalnya.
Untuk mengetahui bahwa Al Qur'an itu mukjizat yang paling besar bagi Nabi kita, mari kta lihat beberapa ayat di dalam Al Qur'an.
1. Surat Al Baqarah (S.2) ayat 24
2. Surat Al Isra' (S.17) ayat 88
3. Surat Fussilat (S.41) ayat 53
Diantara ayat-ayat yang menyuruh kita berpegang kepada Al Qur'an yaitu terdapat pada Surat Ali Imraan (S.3) ayat 102-103.
Diberitakan oleh Al Hakiem dari Ibnu Mas'ud, bahwa Nabi ada berkata: " Bahwa Al Qur'an itu santapan yang Allah turunkan; maka sambutlah santapan itu seberapa kuasamu masing-masing; bahwasanya Al Qur'an ini, tali Allah, cahaya yang nyata dan penawar yang mujarrab. Memelihara orang yang berpegang kepadanya; tidak akan berlaku miring/serong yang menyebabkan perlu dihardik dan dibentak, dan tidak pula akan bengkok yang perlu diluruskan, tiada habis-habis keajaibannya dan tiada buruk-buruk karena banyak ditolak kesana kmari. Bacalah Al Qur'an itu, karena Allah akan memberikan pahala untuk kamu dari tiap-tiap huruf yang kamu baca dengan sepuluh kebajikan. (Hal ini dijelaskan dalam kitab Al Wahyul Muhammady: 109).
Demikian semoga kita senantiasa mempu melaksanakannya. In Sha Allah .Aamiin !!!
1. Terdapat dalam Surat Al Isra' (S.17) ayat 9 -10 dan ayat 82
2. Terdapat dalam Surat Al Kahfi (S.180 Ayat 1
3. Terdapat dalam Surat Yunus (S.10) Ayat 57.
4. Terdapat dalam Surat Thaha (S.20) Ayat 2.
5. Terdapat dalam Surat Al Furqaan (S.25) Ayat 1.
Ayat-ayat Al Qur'an tersebut menyatakan bahwa, Al Qur'an itu memberi petunjuk ke jalan yang lurus, menggembirakan orang mukmin dan memberi kabar menakuti bagiorang-orang kafir. Ayat Al Qur'an itu juga menjadi penawar dan rahmat bagi setiap orang yang beriman. Disamping itu ayat Al Qur'an itu bagi orang yang menganiaya makin lama akan makin betambah ruginya. Dan juga ayat Al Qur'an itu menjadi peringatan bagiorang yang takut kepada Allah, dan sebagai peringatan bagi setiap makhluk.
Ayat 58 Surat Yunus (S.10), menjelaskan keutamaan-keutamaan Al Qur'an, diantaranya:
- sebagai pengajaran dan nasehat yang datang dari Allah.
- sebagai penawar segala penyakit rohani
- sebagai petunjuk dan penuntun;
- sebagai rahmat bagi segala orang yang mukmin.
Al Qur'an itu adalah sebesar-besarnya mukjizat Nabi Muhammad Shalallahu 'alaihi wasallam. Dikatakan Al Qur'an itu sebesar-besarnya mukjizat karena dengan Al Qur'an itu dapat melemahkan akal orang yang mengingkarinya/melawannya. Dari zaman nabi hingga kini, belum ada dan takkan pernah ada orang yang membuat kitab yang menyerupai Al Qur'an dari segala hal ikhwalnya.
Untuk mengetahui bahwa Al Qur'an itu mukjizat yang paling besar bagi Nabi kita, mari kta lihat beberapa ayat di dalam Al Qur'an.
1. Surat Al Baqarah (S.2) ayat 24
2. Surat Al Isra' (S.17) ayat 88
3. Surat Fussilat (S.41) ayat 53
Diantara ayat-ayat yang menyuruh kita berpegang kepada Al Qur'an yaitu terdapat pada Surat Ali Imraan (S.3) ayat 102-103.
Diberitakan oleh Al Hakiem dari Ibnu Mas'ud, bahwa Nabi ada berkata: " Bahwa Al Qur'an itu santapan yang Allah turunkan; maka sambutlah santapan itu seberapa kuasamu masing-masing; bahwasanya Al Qur'an ini, tali Allah, cahaya yang nyata dan penawar yang mujarrab. Memelihara orang yang berpegang kepadanya; tidak akan berlaku miring/serong yang menyebabkan perlu dihardik dan dibentak, dan tidak pula akan bengkok yang perlu diluruskan, tiada habis-habis keajaibannya dan tiada buruk-buruk karena banyak ditolak kesana kmari. Bacalah Al Qur'an itu, karena Allah akan memberikan pahala untuk kamu dari tiap-tiap huruf yang kamu baca dengan sepuluh kebajikan. (Hal ini dijelaskan dalam kitab Al Wahyul Muhammady: 109).
Demikian semoga kita senantiasa mempu melaksanakannya. In Sha Allah .Aamiin !!!
Kamis, 10 Januari 2019
Kajian Islam Ttg " Isi kandungan Kitab Suci"
Hukum-hukum yang terdapat dalam kitab-kitab suci terdahulu (kitab suci sebelum Al-Qur'an diturunkan), telah dimansukh (dikoreksi) oleh Al-Qur'an, dan yang berlaku adalah hukum-hukum yang ada dalam kitab suci Al Qur'an. Itulah ketentuan Allah yang harus dipakai hingga hari kemudian. Agar selamat sentausa hingga ke alam akhirat.
Ummat Islam beritiqad bahwa Allah pernah menurunkan kitab taurat kepada Nabi Musa as yang didalamnya terdapat beberapa hukum Agama, kepercayaan yang benar, janji baik dan buruk. Dan di dalam kitab Taurat itu ada keterangan tentang kedatangan Nabi Besar Muhammad Salallahu 'alaihi wassallam.. Kitab suci Taurat itu menegaskan bahwa, Nabi Muhammad akan datang membawa agama baru, untuk menggantikan agama-agama lama seluruhnya; untuk menjadikan penuntun kebahagiaan dunia dan akhirat. kemudian Ummat Islam beritiqad bahwa, kitab taurat yang ada sekarang ini, bukan kitab taurat yang asli lagi. Isinya tidak sebagaimana yang diturunkan kepada Nabi Musa as, telah banyak yang ditukar, dirobah-robah.Di dalam Taurat yang ada sekarang ini, tidak ada terdapat keterangan perihal syurga dan neraka; padahal keterangan semacam ini amat penting. Setiap kitab suci perlu menerangkannya. Dan di dalam taurat yang ada sekarang, ada keterangan perihal kematian Nabi Musa as, padahal Nabi Musa as itulah yang menerima kedatangan kitab taurat itu (hal ini pernah dijelaskan dalam kitab Al-Jawahir).
Ummat Islam beritiqad bahwa Kitab Suci Zabur itu, suatu kitab Allah juga, yang diturunkan kepada Nabi Daud as. Isinya berbagai doa, dzikir, pengajaran dan hikmat. Hukum-hukum syara' tidak terdapat di dalamnya, karena Nabi Daud itu didalam hukum syara' mengikut dan menurut hukum Taurat yang diturunkan kepada Nabi Musa as.
Ummat Islam percaya bahwa Allah pernah menurunkan Kitab Suci Injil kepada Al Masih (Nabi Isa as) Gunanya untuk menerangkan beberapa hukum, untuk menyeru manusia kembali kepada mentauhidkan Allah, untuk mengadakan herorientasi Agama Yahudi, untuk menghapus sebagian dari hukum Taurat yang tidak cocok lagi dengan zaman Nabi Isa as tsb dan kitab Injil itu juga menerangkan hal tentang kedatangan Nabi Besar Muhammad Sallahu 'alaihi wassalam. Menurut keterangan bahwa hal itu masih terdapat dalam "Injil Barnabas". Ummat Islam mengaku bahwa Kitab Injil yang sekarang ini terdapat 4 (empat) buah, yang ditulis oleh: Matius, Lucas, Marcus dan Johanna. Injil yang 4 buah itu, satu sama lain bertentangan isinya. Dan keempat pengarang itu, tidak pernah bertemu sekalipun dengan Nabi Isa as (Al Masih). Mereka tidak menerima sendiri dari mulut Nabi Isa as, sebagaimana para sahabat Nabi Muhammad Salallahu 'alai wassalam menerima Al-Qur'an. Kitab Injil itu diketika Al Masih belum lama naik kelangit (wafat), amat banyak Naschahnya (menurut keterangan para ulama). Kemudian dimasa kira-kira 200 tahun setelah kematian Nabi Isa as, barulah naschahnya-naschahnya itu dibuang, dan ditinggalkan yang 4 (empat) buah itu saja.
Ummat Islam beritiqad dengan seteguh-teguhnya itiqad bahwa Al-Qur'an itu semulia-mulia kitab suci, diturunkan kepada semulia-mulia Nabi, Al Qur'an itu adalah Kitab Suci yang paling akhir datangnya, yang menghapuskan segala kitab-kitab suci terdahulu. Hukumnya berkekalan sampai hari kiamat. Dan Al Qur'an itu akan tetap terpelihara. Allah mengakui yang demikian itu dengan firmanNYA: "Dan bahwasanya Kami telah menurunkan Al Qur'an, dan Kami akan tetap memeliharanya". Al Qur'an Surat Al-Hijr (S.15) ayat 9.
Dmk, semoga kita dapat memahaminya. In Sha Allah. Aamiin....
Ummat Islam beritiqad bahwa Allah pernah menurunkan kitab taurat kepada Nabi Musa as yang didalamnya terdapat beberapa hukum Agama, kepercayaan yang benar, janji baik dan buruk. Dan di dalam kitab Taurat itu ada keterangan tentang kedatangan Nabi Besar Muhammad Salallahu 'alaihi wassallam.. Kitab suci Taurat itu menegaskan bahwa, Nabi Muhammad akan datang membawa agama baru, untuk menggantikan agama-agama lama seluruhnya; untuk menjadikan penuntun kebahagiaan dunia dan akhirat. kemudian Ummat Islam beritiqad bahwa, kitab taurat yang ada sekarang ini, bukan kitab taurat yang asli lagi. Isinya tidak sebagaimana yang diturunkan kepada Nabi Musa as, telah banyak yang ditukar, dirobah-robah.Di dalam Taurat yang ada sekarang ini, tidak ada terdapat keterangan perihal syurga dan neraka; padahal keterangan semacam ini amat penting. Setiap kitab suci perlu menerangkannya. Dan di dalam taurat yang ada sekarang, ada keterangan perihal kematian Nabi Musa as, padahal Nabi Musa as itulah yang menerima kedatangan kitab taurat itu (hal ini pernah dijelaskan dalam kitab Al-Jawahir).
Ummat Islam beritiqad bahwa Kitab Suci Zabur itu, suatu kitab Allah juga, yang diturunkan kepada Nabi Daud as. Isinya berbagai doa, dzikir, pengajaran dan hikmat. Hukum-hukum syara' tidak terdapat di dalamnya, karena Nabi Daud itu didalam hukum syara' mengikut dan menurut hukum Taurat yang diturunkan kepada Nabi Musa as.
Ummat Islam percaya bahwa Allah pernah menurunkan Kitab Suci Injil kepada Al Masih (Nabi Isa as) Gunanya untuk menerangkan beberapa hukum, untuk menyeru manusia kembali kepada mentauhidkan Allah, untuk mengadakan herorientasi Agama Yahudi, untuk menghapus sebagian dari hukum Taurat yang tidak cocok lagi dengan zaman Nabi Isa as tsb dan kitab Injil itu juga menerangkan hal tentang kedatangan Nabi Besar Muhammad Sallahu 'alaihi wassalam. Menurut keterangan bahwa hal itu masih terdapat dalam "Injil Barnabas". Ummat Islam mengaku bahwa Kitab Injil yang sekarang ini terdapat 4 (empat) buah, yang ditulis oleh: Matius, Lucas, Marcus dan Johanna. Injil yang 4 buah itu, satu sama lain bertentangan isinya. Dan keempat pengarang itu, tidak pernah bertemu sekalipun dengan Nabi Isa as (Al Masih). Mereka tidak menerima sendiri dari mulut Nabi Isa as, sebagaimana para sahabat Nabi Muhammad Salallahu 'alai wassalam menerima Al-Qur'an. Kitab Injil itu diketika Al Masih belum lama naik kelangit (wafat), amat banyak Naschahnya (menurut keterangan para ulama). Kemudian dimasa kira-kira 200 tahun setelah kematian Nabi Isa as, barulah naschahnya-naschahnya itu dibuang, dan ditinggalkan yang 4 (empat) buah itu saja.
Ummat Islam beritiqad dengan seteguh-teguhnya itiqad bahwa Al-Qur'an itu semulia-mulia kitab suci, diturunkan kepada semulia-mulia Nabi, Al Qur'an itu adalah Kitab Suci yang paling akhir datangnya, yang menghapuskan segala kitab-kitab suci terdahulu. Hukumnya berkekalan sampai hari kiamat. Dan Al Qur'an itu akan tetap terpelihara. Allah mengakui yang demikian itu dengan firmanNYA: "Dan bahwasanya Kami telah menurunkan Al Qur'an, dan Kami akan tetap memeliharanya". Al Qur'an Surat Al-Hijr (S.15) ayat 9.
Dmk, semoga kita dapat memahaminya. In Sha Allah. Aamiin....
Rabu, 09 Januari 2019
Kajian Islam Ttg "Kitab Suci"
Kitab-kitab suci yang diturunkan kepada Nabi-nabiNYA yang sebelum Nabi Muhammad Salallahu 'Alaihi Wassalam, menurut sebagian ulama diturunkan berkeping-keping. Sebahagiannya lagi mengatakan bahwa, kitab-kitab suci itu diturunkan sama seperti Allah menurunkan Al Qur'an. Kitab-kitab itu dinamai : Shuhuf atau Lembaran. Bagi ummat Islam wajib hukumnya mengimani bahwa Allah pernah menurunkan kitab-kitab itu. Ummat Islam tidak harus dan mengikuti segala isinya yang ada dalam kitab-kitab suci yang ada sekarang ini, kecuali sebagaimana yang ada di dalam Kitab Al-Qur'an. Ummat Islam percaya bahwa Allah pernah menurunkan kepada Nabi Musa a.s Kitab Taurat, kepada Nabi Daud as Kitab Zabur, kepada Nabi Isa as Kitab Injil, dan kepada Nabi Muhammad Sallahu 'alaihi wasaallam Kitab Al-Qur'an.
Menurut pendapat yang masyhur, kitab-kitab itu berjumlah 104 buah. 60 buah untuk Nabi Syiets, 30 buah untuk Nabi Ibrahim as, 10 buah untuk Nabi Musa as, dan diturunkan sebelum diturunkannya kitab taurat kepada beliau. 1 Kitab Taurat, 1 Kitab Zabur, 1 Kitab Injil dan 1 Kitab Al Qur'an. Ada juga yang berkata bahwa shuhuf yang diturunkan kepada Nabi Syiets 50 buah banyaknya. Mereka berpendapat bahwa 20 buah shuhuf dari 104 buah itu, ditirinka kepada Nabi Idris as. Kepada nabi Ibrahim as dan Kepada Nabi Musa as masing-masing 10 shuhuf. Sebagian ulama lain mengatakan bahwa jumlah kitab-kitab suci yang pernah di turunkan Allah berjumlah 114 buah. Untuk Nabi Syiest 50, untuk Nabi Ibrahim as 20, dan yang 10 lagi selain dari kitab yang empat, ada yang mengatakan dirurunkan keada nabi Adam as, dan ada yang mengatakan untuk Nabi Musa as.
Dari keterangan-keterangan tersebut kita maklumi bahwa Allah telah begitu banyak menurunkan kitab-kitabnya ke muka bumi. Dan kita cukup mengimani abhwa Allah pernah menurunkan Kitab-kitannya kepada beberapa orang Nabi. Allah menurunkan Taurat kepada Nabi Musa as, Kitab Zabur kepada Nabi Daud as, Kitab Injil kepada Nabi Isa as, dan Kiab Al Qur'an kepada Nabi Muhammad Salallu 'alaihi wassalam.
Hukum-hukum yang terdapat dalam kitab-kitab terdahulu, telah di mansukh (dikoreksi) oleh Al Qur'an, dan tidak boleh dipakai lagi. Dan hukum-hukum yang terpakai (diakui tetapnya atau kedudukannya) terdapat dalam Al Qur'an dan berlaku hingga hari kemudian. Oleh karena itu peganglah dengan teguh Al Qur'an itu, agar selamat sentausa sampai ke akhirat kelak. Insya Allah. Aamiin...
Menurut pendapat yang masyhur, kitab-kitab itu berjumlah 104 buah. 60 buah untuk Nabi Syiets, 30 buah untuk Nabi Ibrahim as, 10 buah untuk Nabi Musa as, dan diturunkan sebelum diturunkannya kitab taurat kepada beliau. 1 Kitab Taurat, 1 Kitab Zabur, 1 Kitab Injil dan 1 Kitab Al Qur'an. Ada juga yang berkata bahwa shuhuf yang diturunkan kepada Nabi Syiets 50 buah banyaknya. Mereka berpendapat bahwa 20 buah shuhuf dari 104 buah itu, ditirinka kepada Nabi Idris as. Kepada nabi Ibrahim as dan Kepada Nabi Musa as masing-masing 10 shuhuf. Sebagian ulama lain mengatakan bahwa jumlah kitab-kitab suci yang pernah di turunkan Allah berjumlah 114 buah. Untuk Nabi Syiest 50, untuk Nabi Ibrahim as 20, dan yang 10 lagi selain dari kitab yang empat, ada yang mengatakan dirurunkan keada nabi Adam as, dan ada yang mengatakan untuk Nabi Musa as.
Dari keterangan-keterangan tersebut kita maklumi bahwa Allah telah begitu banyak menurunkan kitab-kitabnya ke muka bumi. Dan kita cukup mengimani abhwa Allah pernah menurunkan Kitab-kitannya kepada beberapa orang Nabi. Allah menurunkan Taurat kepada Nabi Musa as, Kitab Zabur kepada Nabi Daud as, Kitab Injil kepada Nabi Isa as, dan Kiab Al Qur'an kepada Nabi Muhammad Salallu 'alaihi wassalam.
Hukum-hukum yang terdapat dalam kitab-kitab terdahulu, telah di mansukh (dikoreksi) oleh Al Qur'an, dan tidak boleh dipakai lagi. Dan hukum-hukum yang terpakai (diakui tetapnya atau kedudukannya) terdapat dalam Al Qur'an dan berlaku hingga hari kemudian. Oleh karena itu peganglah dengan teguh Al Qur'an itu, agar selamat sentausa sampai ke akhirat kelak. Insya Allah. Aamiin...
Selasa, 08 Januari 2019
Kajian Islam Ttg "Maha Suci Allah"
Di dalam Al Qur'an Surat Asy-Syuraa (S.42) ayat 11 di sebutkan bahwa : " (Allah) Pencipta langit dan bumi. Dia menjadikan bagimu pasang-pasangan dari jenismu kamu sendiri, dan dari jenis hewan ternak pasangan-pasangan (juga). Dijadikan-Nya kamu berkembang biak dengan jalan itu. Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia. Dan Dia Yang Maha Mendengar, Maha Melihat".
Ayat ini menerangkan bahwa tak ada sesuatu sifat yang seperti sifatNYA. Maka apabila Allah mensifatkan diriNYA dengan kebanyakan sifat yang disifatkan dengan manusia, hendaklah dipahami bahwa sifat Allah itu, tidak menyerupai sifat manusia. Allah mempunyai setinggi-tinggi sifat dan seindah-indah nama.
Diantara yang wajib pada hak Allah, suci dari bersifat dengan sesuatu sifat kekurangan. Karena jika ada padaNYA sesuatu sifat kekurangan, tidaklah sempurnaNYA, padahal telah tetap dengan cara yang tak dapat mungkiri lagi, bahwa Allah itu wajib dengan segala sifat kesempurnaan ( Kullu kamaalin wujudiyin wajibun lahu).
Dan diantara yang wajib bagiNya, suci dari menyerupai sesuatu yang baru (sesuatu makhluk); suci dari bersuku-suku; suci dari terbagi-bagi dzatNYA. Karena, kalau tidak suci dari yang demikian, berartilah mempunyai kekurangan. Sifat-sifat makhluk, kurang semuanya.
Demikian juga Allah itu suci dari beranak; karena beranak itu, keadaan baru. Beranak itu timbul dari yang hidup yang mempunyai beberapa campuran. Tiap-tiap yang mempunyai campuran,tersusun dan beberapa susunan dan akhirnya binasa-lenyap. Allah itu suci dari binasa dan lenyap. kalau demikian, sucilah DzatNYA dari mempunyai beberapa campuran itu; karena itu suci pula dari beranak. Dan Allah itu suci pula dari diperanakkan; karena jika Allah diperanakkan, berarti berhajat kepada selainNya, padahal Allah itu tiada berhajat kepada selainNya.
Di dalam Al Qur'an Surat Ali Imraan (S.3) ayat 108 disebutkan bahwa: " Itulah ayat-ayat Allah yang Kami bacakan kepadamu dengan benar, dan Allah tidaklah berkehendak menzalimi (siapapun) di seluruh alam.
Ayat ini menerangkan, bahwa Allah tidak berkehendak menganiaya para hambaNya dengan menyuruh mereka melaksanakan beberapa kewajiban, meninggalkan beberapa larangan, hanya Allah bermaksud menunjuki mereka kepada usaha-usaha menyempurnakan fitrah.
Semoga kita dapat memahaminya. In Sha Allah. Aamiin...
Ayat ini menerangkan bahwa tak ada sesuatu sifat yang seperti sifatNYA. Maka apabila Allah mensifatkan diriNYA dengan kebanyakan sifat yang disifatkan dengan manusia, hendaklah dipahami bahwa sifat Allah itu, tidak menyerupai sifat manusia. Allah mempunyai setinggi-tinggi sifat dan seindah-indah nama.
Diantara yang wajib pada hak Allah, suci dari bersifat dengan sesuatu sifat kekurangan. Karena jika ada padaNYA sesuatu sifat kekurangan, tidaklah sempurnaNYA, padahal telah tetap dengan cara yang tak dapat mungkiri lagi, bahwa Allah itu wajib dengan segala sifat kesempurnaan ( Kullu kamaalin wujudiyin wajibun lahu).
Dan diantara yang wajib bagiNya, suci dari menyerupai sesuatu yang baru (sesuatu makhluk); suci dari bersuku-suku; suci dari terbagi-bagi dzatNYA. Karena, kalau tidak suci dari yang demikian, berartilah mempunyai kekurangan. Sifat-sifat makhluk, kurang semuanya.
Demikian juga Allah itu suci dari beranak; karena beranak itu, keadaan baru. Beranak itu timbul dari yang hidup yang mempunyai beberapa campuran. Tiap-tiap yang mempunyai campuran,tersusun dan beberapa susunan dan akhirnya binasa-lenyap. Allah itu suci dari binasa dan lenyap. kalau demikian, sucilah DzatNYA dari mempunyai beberapa campuran itu; karena itu suci pula dari beranak. Dan Allah itu suci pula dari diperanakkan; karena jika Allah diperanakkan, berarti berhajat kepada selainNya, padahal Allah itu tiada berhajat kepada selainNya.
Di dalam Al Qur'an Surat Ali Imraan (S.3) ayat 108 disebutkan bahwa: " Itulah ayat-ayat Allah yang Kami bacakan kepadamu dengan benar, dan Allah tidaklah berkehendak menzalimi (siapapun) di seluruh alam.
Ayat ini menerangkan, bahwa Allah tidak berkehendak menganiaya para hambaNya dengan menyuruh mereka melaksanakan beberapa kewajiban, meninggalkan beberapa larangan, hanya Allah bermaksud menunjuki mereka kepada usaha-usaha menyempurnakan fitrah.
Semoga kita dapat memahaminya. In Sha Allah. Aamiin...
Kajian Islam Ttg "Mengakui kesucian Allah"
Apabila kita mengakui kesucian Allah, maka:
1. Kita mengakui, bahwa Allah itu suci dari segala sifat kekurangan; suci dari bersifat dengan sifat-sifat makhluk,
2. Kita mengakui, bahwa Allah itu suci dari beranak dan diperanakkan dan suci dari bersyerikat atau bersekutu dan dari mempunyai bandingan.
3. Kita mengakui, bahwa Allah itu suci dari menganiaya.
Kita pernah mendengar tentang "tanzieh". Apakah tanzieh itu ?
Tanzieh itu, saudaranya tauhid yang amat rapat. Tidak berguna tauhid sebelum adanya tanzieh. Untuk mengetahui sedikit tentang tanzieh sekelumit tafsirannya bahwa, Azas tanzieh itu telah ditegaskan oleh surat Al Ikhlas, sebagaimana surat itu menegaskan azas tauhid. Dua ayat pertama mewujudkan dasar tauhid dan dua ayat kedua mewujudkan azas tanzieh.
Allah berfirman: 1. Dan mereka menjadikan bagi Allah akan beberapa sekutu dari jin, padahalAllah yang menjadikan mereka; dan mereka me-ngata2-kan: Allah mempunyai beberapa anak lelaki dan anak perempuan, dengan tidak mengetahui hakekat perkataannya. Maha Suci Allah dari apa yag mereka sifat-sifatkan itu. Allah-lah yang menjadikan langit dan bumi yang sangat indah ini. Bagaimana Allah dikatakan ada mempunyai anak, padahal Allah tidak beristeri dan padahal - Allah - yang menjadikan tiap-tiap sesuatu dan Allah itu Maha mengetahui akan segala rupa perkara. Itulah Allah Thanmu, tak ada Tuhan yang disembah melainkan Dia. Dialah yang menjadikan segala sesuatu, karena itu sembahlah akan DiaNYA, beribadatlah kepadaNYA, Allah itulah yang memelihara segala sesuatu; Allah itu tiada didapati oleh penglihatan; sedang Allah itu mendapati segala penglihatan, dan Allah itu sangat lembut lagi sangat mengetahui segala rupa khabar"(Al Qur'an Surat Al-An'aam (S.6) ayat 100-102). Semoga kita memakluminya. In Sha Allah, Aamiin....
1. Kita mengakui, bahwa Allah itu suci dari segala sifat kekurangan; suci dari bersifat dengan sifat-sifat makhluk,
2. Kita mengakui, bahwa Allah itu suci dari beranak dan diperanakkan dan suci dari bersyerikat atau bersekutu dan dari mempunyai bandingan.
3. Kita mengakui, bahwa Allah itu suci dari menganiaya.
Kita pernah mendengar tentang "tanzieh". Apakah tanzieh itu ?
Tanzieh itu, saudaranya tauhid yang amat rapat. Tidak berguna tauhid sebelum adanya tanzieh. Untuk mengetahui sedikit tentang tanzieh sekelumit tafsirannya bahwa, Azas tanzieh itu telah ditegaskan oleh surat Al Ikhlas, sebagaimana surat itu menegaskan azas tauhid. Dua ayat pertama mewujudkan dasar tauhid dan dua ayat kedua mewujudkan azas tanzieh.
Allah berfirman: 1. Dan mereka menjadikan bagi Allah akan beberapa sekutu dari jin, padahalAllah yang menjadikan mereka; dan mereka me-ngata2-kan: Allah mempunyai beberapa anak lelaki dan anak perempuan, dengan tidak mengetahui hakekat perkataannya. Maha Suci Allah dari apa yag mereka sifat-sifatkan itu. Allah-lah yang menjadikan langit dan bumi yang sangat indah ini. Bagaimana Allah dikatakan ada mempunyai anak, padahal Allah tidak beristeri dan padahal - Allah - yang menjadikan tiap-tiap sesuatu dan Allah itu Maha mengetahui akan segala rupa perkara. Itulah Allah Thanmu, tak ada Tuhan yang disembah melainkan Dia. Dialah yang menjadikan segala sesuatu, karena itu sembahlah akan DiaNYA, beribadatlah kepadaNYA, Allah itulah yang memelihara segala sesuatu; Allah itu tiada didapati oleh penglihatan; sedang Allah itu mendapati segala penglihatan, dan Allah itu sangat lembut lagi sangat mengetahui segala rupa khabar"(Al Qur'an Surat Al-An'aam (S.6) ayat 100-102). Semoga kita memakluminya. In Sha Allah, Aamiin....
Sabtu, 05 Januari 2019
Kajian Islam Ttg Perbuatan Allah mengandung hikmat
Di Dalam Al Qur'an Surat Al-Anbiya (S.21) ayat 16-17. di sebutkan bahwa: Ayat 16. " Dan Kami tidak menciptakan langit dan bumi dan segala apa yang ada diantara keduanya dengan main-main". Ayat 17: "Seandainya Kami hendak membuat suatu permainan (istri dan anak), tentulah Kami mebuatnya dari sisi Kami (yg sesuai dg sifat-sifat Allah), jika Kami benar-benar menghendaki berbuat demikian".
Dari ayat ini diketahui bahwa segala perbuatan Allah bersendikan Ilmu dan Iradat (terbit dari ilmuNya dan iradatNya). Tiap-tiap yang bersendikan ilmu dan iradat, tentulah bersendikan ikhtiar (terbit dari ikhtiar). Maka tiap-tiap sesuatu yang dibuat dengan ikhtiarNya, tiadalah kemestian atasNya.
Tegasnya, segala sifat perbuatan Allah, baik menciptakan alam, merezkikan makhluk; meng-azab - me-nikmatkan, adalah perbuatan-perbuatan yang mungkin Allah kerjakan, bukan pekerjaan yang mesti dan bukan pula pekerjaan yang mustahil.
Maka apakah Allah itu dalam menciptakan sesuatu, wajib menjaga kemuslihatan dan apakah Allah itu wajib memenuhi ancaman-ancamanNYA yang telah dihadapkan kepada para pendurhaka ?
Dalam soal ini bermacam golongan sudah terjadi. Ada golongan yang mengatakan Allah wajib memelihara kemuslihatan dalam menjadikan dan menciptakan sesuatu. Mereka memandang Allah itu sebagai seorang mukallaf, orang yang diberati dan dibebani. Sebaliknya ada pula golongan yang mengingkari, menjadikan kontra diksi dari golongan pertama, menetapkan bahwa perbuatan-perbuatan Allah itu kosong dari illat (sebab), yakni meniadakan ta'lil, sehingga Allah itu membuat sesuatu dengan tidak mengetahui apa gunanya.
Dalam pada itu mereka semua sependapat menetapkan: "Segala perbuatan Allah, berhikmat; tak ada yang kosong dari hikmat". Dan bahwasanya Allah itu suci dari sia-sia dalam perbuatanNya dan suci dari dusta dalam perkataanNya.
lalu, apakah gerangan hikmat itu ?
Hikmat, ialah: faktor-faktor yang memelihar ketertiban pekerjaan, memelihara undang-undang dan aturannya dan menjaganya dari kerusakan, kemusnahan. Tetapi hikmat itu dinamai dan dipandang hikmat, kalau memang dikehendaki oleh pembuatnya.
Seluruh ahli akal menetapkan: Perbuaan-perbuatan yang dilaksanakan orang yang berakal, terpelihara dari percuma, dari sia-sia. Tegasnya, orang yang berakal mengerjakan sesuatu karena ada sesuau maksud, ada tujuan.
Cakrawala langit dan bumi, matahari dan bulan serta margasatwa yang telah dijadikan Allah, masing-masingnya mengandung hikmat. dengan hikmat-hikmat itulahterpelihara dari kerusakan. Dan dengan hikmat-hikmat itu pula segala yang maujud ini dapat memperoleh kemaslahatan daripadanya.
Maka hikmat-hikmat yang berarti meetakkan sesuatu pada tempatnya, memberikan kepada segala yang berhajat, segala hajatnya, adakala diketahui dan dikehendaki oleh yang membuatnya, adakala terdapat yang demikian secara kebetuan saja. Terdapat yang demikian secara kebetulan, tak dapat kita benarkan, karena membawa kepada mengatakan Allah kurang ilmu atau lalai. Kalau demikian himat-hikmat itu memang diketahui dan dikehendaki.
Oleh sebab itu, wajiblah kita itikadkan bahwa segala perbuatan Allah tak ada yang kosong dari hikmat dan mustahil pula hikmat itu terjadi dengan tidak dikehendaki. Seterusnya, maka wajib ada hikmat pada segala perbuatan Alah mengikut wajib sempurna ilmuNYA dan iradatNYA. Demikian pula kedudukan tentang janji-janji Allah mengikuti kesempurnaan ilmuNYA dan benarNYA. Sega nash (dasar) yang memahami selain dari ini, wajib dsesuaikan dengan ayat-ayat Al Qur'an dan hadits-hadits yang lainnya. Cuma jangan dikatakan bahwa tujuan penghabisan dari hikmat itu, wajib atas Allah, lantaran Allah sendiri yang menjadikan tujuan penghabisan itu dan yang empunyai ghayah. (kata Prof TM Hashby Assidiqqy) .Maka, kalau kita katakan: Allah wajib bersifat dengan segala sifat kesempurnaan; bukanlah sebagai pengertian : Si Anu wajib shalat karena telah mukallaf, yakni: yang demikian itu bagiNya, bukan wajib atasNya.
Semoga kita dapat memahaminya. In Sha Allah....AAmiin...
Dari ayat ini diketahui bahwa segala perbuatan Allah bersendikan Ilmu dan Iradat (terbit dari ilmuNya dan iradatNya). Tiap-tiap yang bersendikan ilmu dan iradat, tentulah bersendikan ikhtiar (terbit dari ikhtiar). Maka tiap-tiap sesuatu yang dibuat dengan ikhtiarNya, tiadalah kemestian atasNya.
Tegasnya, segala sifat perbuatan Allah, baik menciptakan alam, merezkikan makhluk; meng-azab - me-nikmatkan, adalah perbuatan-perbuatan yang mungkin Allah kerjakan, bukan pekerjaan yang mesti dan bukan pula pekerjaan yang mustahil.
Maka apakah Allah itu dalam menciptakan sesuatu, wajib menjaga kemuslihatan dan apakah Allah itu wajib memenuhi ancaman-ancamanNYA yang telah dihadapkan kepada para pendurhaka ?
Dalam soal ini bermacam golongan sudah terjadi. Ada golongan yang mengatakan Allah wajib memelihara kemuslihatan dalam menjadikan dan menciptakan sesuatu. Mereka memandang Allah itu sebagai seorang mukallaf, orang yang diberati dan dibebani. Sebaliknya ada pula golongan yang mengingkari, menjadikan kontra diksi dari golongan pertama, menetapkan bahwa perbuatan-perbuatan Allah itu kosong dari illat (sebab), yakni meniadakan ta'lil, sehingga Allah itu membuat sesuatu dengan tidak mengetahui apa gunanya.
Dalam pada itu mereka semua sependapat menetapkan: "Segala perbuatan Allah, berhikmat; tak ada yang kosong dari hikmat". Dan bahwasanya Allah itu suci dari sia-sia dalam perbuatanNya dan suci dari dusta dalam perkataanNya.
lalu, apakah gerangan hikmat itu ?
Hikmat, ialah: faktor-faktor yang memelihar ketertiban pekerjaan, memelihara undang-undang dan aturannya dan menjaganya dari kerusakan, kemusnahan. Tetapi hikmat itu dinamai dan dipandang hikmat, kalau memang dikehendaki oleh pembuatnya.
Seluruh ahli akal menetapkan: Perbuaan-perbuatan yang dilaksanakan orang yang berakal, terpelihara dari percuma, dari sia-sia. Tegasnya, orang yang berakal mengerjakan sesuatu karena ada sesuau maksud, ada tujuan.
Cakrawala langit dan bumi, matahari dan bulan serta margasatwa yang telah dijadikan Allah, masing-masingnya mengandung hikmat. dengan hikmat-hikmat itulahterpelihara dari kerusakan. Dan dengan hikmat-hikmat itu pula segala yang maujud ini dapat memperoleh kemaslahatan daripadanya.
Maka hikmat-hikmat yang berarti meetakkan sesuatu pada tempatnya, memberikan kepada segala yang berhajat, segala hajatnya, adakala diketahui dan dikehendaki oleh yang membuatnya, adakala terdapat yang demikian secara kebetuan saja. Terdapat yang demikian secara kebetulan, tak dapat kita benarkan, karena membawa kepada mengatakan Allah kurang ilmu atau lalai. Kalau demikian himat-hikmat itu memang diketahui dan dikehendaki.
Oleh sebab itu, wajiblah kita itikadkan bahwa segala perbuatan Allah tak ada yang kosong dari hikmat dan mustahil pula hikmat itu terjadi dengan tidak dikehendaki. Seterusnya, maka wajib ada hikmat pada segala perbuatan Alah mengikut wajib sempurna ilmuNYA dan iradatNYA. Demikian pula kedudukan tentang janji-janji Allah mengikuti kesempurnaan ilmuNYA dan benarNYA. Sega nash (dasar) yang memahami selain dari ini, wajib dsesuaikan dengan ayat-ayat Al Qur'an dan hadits-hadits yang lainnya. Cuma jangan dikatakan bahwa tujuan penghabisan dari hikmat itu, wajib atas Allah, lantaran Allah sendiri yang menjadikan tujuan penghabisan itu dan yang empunyai ghayah. (kata Prof TM Hashby Assidiqqy) .Maka, kalau kita katakan: Allah wajib bersifat dengan segala sifat kesempurnaan; bukanlah sebagai pengertian : Si Anu wajib shalat karena telah mukallaf, yakni: yang demikian itu bagiNya, bukan wajib atasNya.
Semoga kita dapat memahaminya. In Sha Allah....AAmiin...
Langganan:
Postingan (Atom)