Senin, 01 Oktober 2018

Kajian Islam tentang Iman & Taqwa

Kajian Islam: Berbicara tentang Iman dan Taqwa tidaklah akan habis-habisnya dibicarakan, hal itu dapat dilihat disetiap waktu saat khotbah juma’t khatib akan berpesan kepada dirinya dan kepada jamaah shalat jum’at agar senantiasa meningkat Iman dan Taqwa ( Ittaqullah haqqa tu katih, wala tamutunna wa antum muslimun), bertaqwalah dengan sebenar-benar taqwa dan jangan mati sebelum menjadi seorang muslim. Namun kenyataan  sehari-hari yang dilihat bahwa peningkatan Iman dan Taqwa itu tidaklah pernah di renungkan bagi setiap orang. Apakah Iman dan Taqwanya meninggkat dari hari ke hari, atau dari Jum’at ke Jum’at?. Jika hal itu berlalu begitu saja, maka lama-kelamaan hati manusia itu akan menjadi keras. Apabila hati sudah di cap Allah menjadi keras maka kisah Nabi Nuh yang anaknya sendiri tidak mau mengikuti ajaran bapaknya sebagai nabi, maka Allah mengirimkan bencana berupa banjir besar. Begitu juga dengan kisah Nabi Musa, yang mengajar saudara angkatnya Fir’aun yang menganggap dirinya lebih berkuasa dari Allah, hingga akhirnya di tenggelamkan di laut Merah. Oleh karena itu sadarilah bahwa pesan khutbah jum’at yang didengar setiap Jum’at itu mestinya membawa pengaruh terhadap Iman dan Taqwa, jika tidak hati orang akan menjadi keras.
Perlu di renungkan kembali bahwa penyebab terjadinya banjir karena hati manusia itu sudah di cap Allah menjadi keras. Disamping itu penyebab banjir juga dapat dikarenakan oleh karena perbuatan tercela seperti Zina dan Judi. Penyakit masyarakat ini harus senantiasa disampaikan oleh para ulama disetiap negeri. Jika tidak maka tidak mustahil banjir bandang dan longsor akan sering terjadi. Begitu juga dengan penyakit masyarakat yang tidak amanah misalnya didalam perjanjian “pagang-gadai”. Pagang-gadai ini secara adat sebetulnya tidak sesuai dengan ajaran Islam. Hasil pagang diambil separo oleh yang mamagang sawah, disamping itu disaat penyerahan gadai biasanya ada sebuah amanah yang disampaikan oleh pelepas gadai. “Nanti jika ada kemenakannya yang sudah memperoleh harta dan ingin menebus sawah yang digadaikan, maka tolong amanah itu dilaksanakan. Tapi kenyataannya dikala kemenakan pelepas gadai menyampaikannya kepada pemegang gadai, maka sering di jawab  bahwa ybs tidak menerima amanah yang demikian.
Jika kita ingin negeri kita menjadi sebuah negeri yang baldatun taiyyibatun wa rabbun ghafur. maka marilah kita cermati apa yang sudah disebutkan dalam Al-Qur’an dan juga pengalaman sejarah yang masih dapat dilihat dengan mata-kepala sendiri. Sehingga kita sadar-sesadar sadarnya bahwa setiap peristiwa tidaklah datang dengan sendirinya, tanpa ada sebab-musabab yang telah dibuat oleh penduduk negeri itu.

Semoga kita kembali kepada Al-Qur’an dan hadits-hadits yang telah disampaikan oleh Nabi kita Muhammad Saw. Semoga …Aamiin…@@

Tidak ada komentar:

Posting Komentar