Kajian Islam: Berbicara tentang Iman dan Taqwa tidaklah akan
habis-habisnya dibicarakan, hal itu dapat dilihat disetiap waktu saat khotbah
juma’t khatib akan berpesan kepada dirinya dan kepada jamaah shalat jum’at agar
senantiasa meningkat Iman dan Taqwa ( Ittaqullah haqqa tu katih, wala tamutunna
wa antum muslimun), bertaqwalah dengan sebenar-benar taqwa dan jangan mati
sebelum menjadi seorang muslim. Namun kenyataan
sehari-hari yang dilihat bahwa peningkatan Iman dan Taqwa itu tidaklah
pernah di renungkan bagi setiap orang. Apakah Iman dan Taqwanya meninggkat dari
hari ke hari, atau dari Jum’at ke Jum’at?. Jika hal itu berlalu begitu saja,
maka lama-kelamaan hati manusia itu akan menjadi keras. Apabila hati sudah di
cap Allah menjadi keras maka kisah Nabi Nuh yang anaknya sendiri tidak mau
mengikuti ajaran bapaknya sebagai nabi, maka Allah mengirimkan bencana berupa
banjir besar. Begitu juga dengan kisah Nabi Musa, yang mengajar saudara
angkatnya Fir’aun yang menganggap dirinya lebih berkuasa dari Allah, hingga
akhirnya di tenggelamkan di laut Merah. Oleh karena itu sadarilah bahwa pesan
khutbah jum’at yang didengar setiap Jum’at itu mestinya membawa pengaruh
terhadap Iman dan Taqwa, jika tidak hati orang akan menjadi keras.
Perlu di renungkan kembali bahwa penyebab terjadinya banjir
karena hati manusia itu sudah di cap Allah menjadi keras. Disamping itu
penyebab banjir juga dapat dikarenakan oleh karena perbuatan tercela seperti
Zina dan Judi. Penyakit masyarakat ini harus senantiasa disampaikan oleh para
ulama disetiap negeri. Jika tidak maka tidak mustahil banjir bandang dan
longsor akan sering terjadi. Begitu juga dengan penyakit masyarakat yang tidak
amanah misalnya didalam perjanjian “pagang-gadai”. Pagang-gadai ini secara adat
sebetulnya tidak sesuai dengan ajaran Islam. Hasil pagang diambil separo oleh
yang mamagang sawah, disamping itu disaat penyerahan gadai biasanya ada sebuah
amanah yang disampaikan oleh pelepas gadai. “Nanti jika ada kemenakannya yang
sudah memperoleh harta dan ingin menebus sawah yang digadaikan, maka tolong
amanah itu dilaksanakan. Tapi kenyataannya dikala kemenakan pelepas gadai
menyampaikannya kepada pemegang gadai, maka sering di jawab bahwa ybs tidak menerima amanah yang
demikian.
Jika kita ingin negeri kita menjadi sebuah negeri yang
baldatun taiyyibatun wa rabbun ghafur. maka marilah kita cermati apa yang sudah
disebutkan dalam Al-Qur’an dan juga pengalaman sejarah yang masih dapat dilihat
dengan mata-kepala sendiri. Sehingga kita sadar-sesadar sadarnya bahwa setiap
peristiwa tidaklah datang dengan sendirinya, tanpa ada sebab-musabab yang telah
dibuat oleh penduduk negeri itu.
Semoga kita kembali kepada Al-Qur’an dan hadits-hadits yang
telah disampaikan oleh Nabi kita Muhammad Saw. Semoga …Aamiin…@@
Tidak ada komentar:
Posting Komentar