Senin, 01 Oktober 2018

Kajian Islam tetang Taqarrub

Taqarrub Kepda Allah
Dalil taqarrub ini terdapat dalam Al Quran surat Al Baqarah ayat 186. Para ahli tafsir memahamaia ayat tsb merupakan rangkaian bahasan dari ibadah puasa yang terdapat dalam surat Al Baqarah ayat 183-187. Memang sekilas terluhat ayat tersebut tidak ada hubungan dengan perintah puasa. Namun sebetulnya antara kedua ayat tersebut mempunyai hubungan yang sangat erat. Bahkan ada yang memahami justru kedudukan tertinggi yang akan diraih seorang mukmin yang berpuasa dijelaskan dalam ayat ini, yaitu status kedekatan kepada Allah hingga menjadi orang yang selalu dalam kebenaran (yarsyudun). Puasa dalam pandangan ini menjadikan orang-orang mukmin meraih 3 tingkatan utama secara berturut-turut, yaitu: muttaqin, syakirin dan rasyidin. Muttaqin artinya orang-orang bertaqwa. Syakirin yaitu orang-orang  yang bersyukur, dan rasyidin bermakna orang-orang yang berada dalam petunjuk kebenaran. Tingkat ketiga (rasyidin) menjadi tingkat tertinggikarena kebenaran yang dimiliki menjadikan dirinya mampu memberikan hidayah atau sinar petunjuk kepada lingkungan alam sekitarnya
Jika kita membuka kitab-kitab tafsir, jabaran keterangan dari ayat tentang puasa para ahli-ahli  tafsir mengambarkan betapa indahnya paha yang didapat oleh seseorang yang menjalankan ibadah puasa. Orang berpuasa bias mendapat pahala kedekatan dengan Allah SWT, doanya dikabulkan dst.
Dalam kandungan ayat 186 surat Al Baqarah tersebut disebutkan (“Dan apabila hamba-hamba-KU bertanya kepadamu tentang Aku, Maka (jawablah), bahwasanya aku adalah dekat). Allah tidak menyruh Rasulullah untuk menyatakan “katakanlah Muhammad bahwa Aku dekat”, tapi langsung menggunakan ungkapan “Aku dekat”. Untuk menunjukkan betapa dekatnya Allah dengan kita sebagai sang hamba. Allah juga mengatakan : Aku “mendengar” permohonan orang yang memohon, tapi Aku “mengabulkan” permohonan orang yang memohon. Hal itu menjukkan dahsyatnya pengaruh puasa, setiap mukmin yang melakukannya maka Allah akan mengabulkan permohonannya. Ayat ini mendorong hati setiap mukminuntuk meraih seruan indah, cinta lembut dan ridho yang menenteramkan. Dalam kedekatannya seorang hamba yang tengah berpuasa itu dengan Allah, seorang hamba disuruh untuk memenuhi segala pernitahNya dan memperkokoh iman kepadaNYa, agar dapat menggapai predikat utama “kebenaran”, “petunjuk” dan “kebaikan.
Pada sepuluh hari terakhir di bulan Ramadhan, Rasulullah Saw berupaya keras dalam beribadah. Beliau menghabiskan harai-harinya di masjid untuk Itikaf. Dalam itikaf, beliau melakukan shalat, dan memohon kepada Allah. Bahkan dalam satu riwayat disebutkan “disepuluh hari terakhir beliau membangunkan keluarganya, berjaga di malam hari, dan mengencangkan ikat kainnya” (HR Ahmad). Dalam itikaf di masjid dan berjaga di malam hari adalah untuk melakukan serangkaian kegiatan ibadah berupa shalat, membaca Al Quran, berdzikir dsb. Semua itu dikrjakan dengan serius dan kerja keras sebagaimana disimbolkan sebagai “mengencangkan ikat kainnya”. tanpa bermalas-malas.
Dalam setiap perintah agam mesti ada hikmah untuk kebiakan manusia. Di bulan Ramadhan, kaum muslimin mengistirahatkan fisiknya dan membaangkitkan kegiatan spiritualnya. Mereka mengaktifkan ruhaniahnya secara maksimal baik siang maupun malam. Salah satu aktifitas guna memperkokoh ruhaniah itu adalah dengan melakukan itikaf.
Dalam itikaf kita diajak untuk berdiam diri di masjid, meninggalkan seluruh aktifiktas duniawi. Meninggalkan anak dan istri, pekerjaan, dan meninggalkan seluruh urusan. Kita diajak untuk melakukan jihat vertical, jihad memperoleh kedekatan sedekat-dekatnya dengan Allah. Kita diam untuk melakukan muhasabah atas apa saja yang telah kita lakukan selama ini, dan pencapaian apa sajakah yang sudah dapat kita raih. Kita melakukan evaluasi atas apa yang telah kita perbuat terhadap anak, istri, keluarga, orang tua, masyarakat, bangsa, Negara dan agama.
Selanjutnya kita menyerahkan semua itu kepada Allah denga melakukan taqarrub (mendekatkan diri) kepada Allah.

Semoga sepuluh hari terakhir ini, masjid-masjid kita masih banyak dan masih ada orang-orang yang melakukan kegiatan taqarrub ini, sehingga tidak lupa sama sekali karena hari raya idul firti yang sudah di depan mata. Insyaallah……Aamiin…

Tidak ada komentar:

Posting Komentar