Taqarrub Kepda Allah
Dalil taqarrub ini terdapat dalam
Al Quran surat Al Baqarah ayat 186. Para ahli tafsir memahamaia ayat tsb
merupakan rangkaian bahasan dari ibadah puasa yang terdapat dalam surat Al
Baqarah ayat 183-187. Memang sekilas terluhat ayat tersebut tidak ada hubungan
dengan perintah puasa. Namun sebetulnya antara kedua ayat tersebut mempunyai
hubungan yang sangat erat. Bahkan ada yang memahami justru kedudukan tertinggi
yang akan diraih seorang mukmin yang berpuasa dijelaskan dalam ayat ini, yaitu
status kedekatan kepada Allah hingga menjadi orang yang selalu dalam kebenaran
(yarsyudun). Puasa dalam pandangan
ini menjadikan orang-orang mukmin meraih 3 tingkatan utama secara
berturut-turut, yaitu: muttaqin, syakirin
dan rasyidin. Muttaqin artinya orang-orang bertaqwa. Syakirin yaitu orang-orang
yang bersyukur, dan rasyidin bermakna
orang-orang yang berada dalam petunjuk kebenaran. Tingkat ketiga (rasyidin)
menjadi tingkat tertinggikarena kebenaran yang dimiliki menjadikan dirinya
mampu memberikan hidayah atau sinar petunjuk kepada lingkungan alam sekitarnya
Jika kita membuka kitab-kitab
tafsir, jabaran keterangan dari ayat tentang puasa para ahli-ahli tafsir mengambarkan betapa indahnya paha yang
didapat oleh seseorang yang menjalankan ibadah puasa. Orang berpuasa bias
mendapat pahala kedekatan dengan Allah SWT, doanya dikabulkan dst.
Dalam kandungan ayat 186 surat Al
Baqarah tersebut disebutkan (“Dan apabila
hamba-hamba-KU bertanya kepadamu tentang Aku, Maka (jawablah), bahwasanya aku
adalah dekat). Allah tidak menyruh Rasulullah untuk menyatakan “katakanlah Muhammad bahwa Aku dekat”,
tapi langsung menggunakan ungkapan “Aku
dekat”. Untuk menunjukkan betapa dekatnya Allah dengan kita sebagai sang
hamba. Allah juga mengatakan : Aku “mendengar” permohonan orang yang memohon,
tapi Aku “mengabulkan” permohonan orang yang memohon. Hal itu menjukkan
dahsyatnya pengaruh puasa, setiap mukmin yang melakukannya maka Allah akan
mengabulkan permohonannya. Ayat ini mendorong hati setiap mukminuntuk meraih seruan
indah, cinta lembut dan ridho yang menenteramkan. Dalam kedekatannya seorang
hamba yang tengah berpuasa itu dengan Allah, seorang hamba disuruh untuk
memenuhi segala pernitahNya dan memperkokoh iman kepadaNYa, agar dapat menggapai
predikat utama “kebenaran”, “petunjuk” dan “kebaikan.
Pada sepuluh hari terakhir di
bulan Ramadhan, Rasulullah Saw berupaya keras dalam beribadah. Beliau
menghabiskan harai-harinya di masjid untuk Itikaf. Dalam itikaf, beliau
melakukan shalat, dan memohon kepada Allah. Bahkan dalam satu riwayat
disebutkan “disepuluh hari terakhir
beliau membangunkan keluarganya, berjaga di malam hari, dan mengencangkan ikat
kainnya” (HR Ahmad). Dalam itikaf di masjid dan berjaga di malam hari
adalah untuk melakukan serangkaian kegiatan ibadah berupa shalat, membaca Al
Quran, berdzikir dsb. Semua itu dikrjakan dengan serius dan kerja keras
sebagaimana disimbolkan sebagai “mengencangkan
ikat kainnya”. tanpa bermalas-malas.
Dalam setiap perintah agam mesti
ada hikmah untuk kebiakan manusia. Di bulan Ramadhan, kaum muslimin
mengistirahatkan fisiknya dan membaangkitkan kegiatan spiritualnya. Mereka
mengaktifkan ruhaniahnya secara maksimal baik siang maupun malam. Salah satu
aktifitas guna memperkokoh ruhaniah itu adalah dengan melakukan itikaf.
Dalam itikaf kita diajak untuk
berdiam diri di masjid, meninggalkan seluruh aktifiktas duniawi. Meninggalkan
anak dan istri, pekerjaan, dan meninggalkan seluruh urusan. Kita diajak untuk
melakukan jihat vertical, jihad memperoleh kedekatan sedekat-dekatnya dengan
Allah. Kita diam untuk melakukan muhasabah atas apa saja yang telah kita
lakukan selama ini, dan pencapaian apa sajakah yang sudah dapat kita raih. Kita
melakukan evaluasi atas apa yang telah kita perbuat terhadap anak, istri,
keluarga, orang tua, masyarakat, bangsa, Negara dan agama.
Selanjutnya kita menyerahkan
semua itu kepada Allah denga melakukan taqarrub (mendekatkan diri) kepada
Allah.
Semoga sepuluh hari terakhir ini,
masjid-masjid kita masih banyak dan masih ada orang-orang yang melakukan kegiatan
taqarrub ini, sehingga tidak lupa sama sekali karena hari raya idul firti yang
sudah di depan mata. Insyaallah……Aamiin…
Tidak ada komentar:
Posting Komentar