Secara umum, tujuan akhir dari ilmu tauhid adalah: "melaksanakan sesuatu kawajiban (fardlu) yang ditetapkan (di-ijma'kan) wajib kita menyempurnakannya", diantaranya yaitu: 1. Meyakini adaNYA Allah beserta sifat-sifatNYA yang wajib padaNYA dan mensucikan Allah dari segala sifat-sifat yang mustahil bagiNYA. 2. Meyakini dasar-dasar membenarkan Rasul.
Kedua-dua keyakinan ini, dengan mendalami Ilmu Tauhid, maka akan dapat diperoleh dari ilmu Tauhid ini yaitu keyakinan-keyakinan yang berdasarkan dalil.
Seorang ulama tauhid mengatakan bahwa: "Rahasia yang terkandung dalam ilmu tauhid, ialah: dapat menguatkan dan meneguhkan kepercayaan kepada adaNYA Allah dan kepada sifat-sitaNYA. Ulama tersebut berkata: "tahqiequl imaani billahi ta'aala": Ai jazmul qalbi bi wujudi hi wamaa yatba'uhu min shifaati hi". Artinya: mengeuhkan iktikad bahwa Allah itu ada dan meneguh itikad terhadap sifat-sifatNYA". Hal ini terdapat dalam kitab Dalaa-ilut Tauhid.
Jalan (thariqat) yang diutamakan Al Qur'an untuk menetapkan "wujudullah"(wujud Allah), menurut Ibnu Rusjd dalam kitab Al Manaahij: " Jalan (hariqat) yang diperingatkan (dititik beratkan) Al Qur'anul'aziez dan menyerukan kita memperhatikannya, apabila diperiksa dengan teliti, satu demi satu Ayat-ayat Al Qur'an diperhatikan dan ditadabburkan, nyatalah, bahwa jalan-jaan itu terhimpun dalam 2 (dua) bahagian.
1. jalan melihat (memperhatikan) penciptaan segala rupa jauhar yang maujud, seperti: Penciptaan hidup pada benda-benda yang beku.
2. Jalan memperhatikan perhatian dan perindahan Allah kepada manusia dan menjadikan segala makhluk yang maujud untuk kepentingan manusia itu sendiri.
Jalan pertama ini di sebut (dinamai) : "Jalan ikhtiraa", dan kedua di namai : "Jalan Inayat".
Jalan ikhtiraa', termasuk kedalamnya wujud bnatang, wujud tumbuh-tumbuhan, wujud langit dsb. Jalan ini ditegakkan atas dua dasar (pokok) yang didapati bil quwwah dalam segala asal kejadian manusia.
Dasar pertama, ialah : keadaan segala maujud ini, mukhtara' (diciptakan). Allah sendiri telah menegaskan demikian dalam firmanNYA: silahkan dilihat Surat Al Hajj (S.33) ayat 73. Di dalam ayat ini di tegaskan bahwa: " Wahai manusia ! Telah dibuat suatu perumpamaan. Maka degarkanlah! Sesungguhnya segala yang kamu seru selain Allah tidak dapat menciptakan seekor lalatpun, walaupun mereka bersatu untuk menciptakannya. ....dst"
Dasar kedua, ialah : keadaan tiap-tiap[ yang diikhtiraa'kan, mempunyai mukhtarinya (penciptanya).
Dari dua dasar (pokok) ini hasilah natijah bahwa : "Maujud ini mempunyai fa'il mukhtari (pembuat yang mencitakan)
Mengingat ini wajib atas orang yang ingin mengetahui (mema'rifati) Allah dengan sesempurnanya, mengetahui jauhar benda-benda, supaya dapat ia mengetahui penciptaan yang hakiki itu. Inilah yang diisyarakatkan Allah dengan FirmanNYA yang terdapat dalam Al Qur'an Surat Al A'raf (S.7) ayat 185, yang artinya: "Dan apakah mereka tidak memperhatikan kerajaan langit dan bumi dan segala apa yang diciptakan Allah, ...dst"
Jalan Inayat: Agama (syara') bermaksud dari kita mengetahui alam, ialah mengetahui bahwa alam itu dibuat oleh Allah (dijadikan) dan bahwa alam itu tiadalah terjadi sendiri dengan cara kebetulan dan bukan pula dari dirinya sendiri.
Jalan inayat ini, sebenarnya jalan yang diakui oleh semua manusia, jalan yang tidak berliku-liku.
Manusia apabila menyelidiki benda-benda yang mhsus, lalu dilihatnya telah diletakkan atas bentuk yang tertentu, kadar yang tertentu, letakan yang tertentu, sesuai dengan keadaan-keadaanya itu dengan manfaat yang dimaksudkan daripadanya dan ghayah yang dikehendaki daripadanya, dengan arti apabila tidak demikian dilakukan itu, disusunkan, tiadalah terdapat manfaat yang dimaksudkan itu, yakinlah ia bahwa benda tersebut ada yang menjadikan menurut kelakuan dan keadaannya itu.
Selanjutnya barangsiapa mempelajari dan mensiasati hikmat-hikmat segala rupa yang maujud, yakni: mengetahui sebab-sebab yang karenanya itu dijadikan dan apa tujuan kesudahan dari dijadikannya, mudahlah baginya mengetahui atau meyakini jalan inayat Allah dengan sangat sempurna.
Jalan inayat ini, didirikan atas 2 (dua) dasar, yang kedua-dua dasarnya diakui bersama, yaitu:
Pertama, alam ini dengan segala isinya didapati dengan cara yang bersesuaian (harmoni/selaras-seimbang) bagi wujud insan (manusia) dan bagi wujud segala yang maujud.
Kedua, segala yang didapati bersesuaian dalam segala sukunya untuk suatu perbuatan, dan ditujukan untuk satu tujuan , tentulah dengan sendirinya mengesankan bahwa ia itu mashnu' (dijadikan) dan ada yang manjdikannya.
Dari kedua dasar ini hasillah natijah dengan sendirinya, bahwa, alam ini dijadikan dan bahwa ada Tuhan yang menjadikan
Kesimpulannya, petunjuk yang menunjuk kepada adanya shaani" (yang manjadikan) tersimpan dalam 2 (dua) jenis dalil, yaitu : dalil ikhtiraa' dan dalil inayat. Kedua-dua jalan ini di jadikan pegangan oleh para khawwas dan oleh para auwwam. Cuma berbeda tentang cara mempergunakan dan tingkat pemahamannya.@ Demikian, semoga kita paham akan apa yang disampaikan ini, In Sha Allah....Aamiin......#
Tidak ada komentar:
Posting Komentar