Minggu, 01 Mei 2016

MENGAPA KITA HARUS MENGAKUI KEESAAN ALLAH ? MENGAPA KITA HARUS MENTAUHIDKANNNYA DI DALAM ISLAM.

Asal makna tauhid yaitu “Ali’tiqaadu bi annallaha waahidun laa syarika lahu”. Artinya bahwa Allah itu Esa, tidak ada sekutu bagiNYA.
Monotheisme dalam Islam (mengakui ke-Esaan Allah yang dikehendaki Islam), ialah: Mengaku dengan sesungguhnya dan dengan sepenuh-penuhnya keyakinan, bahwa:
a.       Allah itu, Esa pada ZATNYA
b.      Allah itu, Esa pada shifatNYA
c.       Allah itu, Esa pada wujudNYA
d.      Allah itu, Esa pada PerbuatannNYA (Af’alNYA): Esa pada menjadikan segala yang mungkin.
e.      Allah itu,  Esa pada menerima ibadat hambaNYA
f.        Allah itu, Esa (sendiriNYA) yang dituju langsung dan dikehendaki oleh makhluk dalam menyelesaikan segala hajat keperluan; dan Allah itu, sekali-kali tidak berhajat keperluan kepada selainNYA
g.       Allah itu, Esa (sendiriNYA) yang membatasi segala batasan-batasan umum (hukum-hukum umum) untuk segala rupa pekerjaan; dan Allah itu sendiri yang mengadakan pokok-pokok azazi undang-undang (hukum).
Pendek kata Tauhid itu sebagaiman yang ditegaskan para muhaqqiqien, yaitu: “Ifraadul Ma’budi bil Ibadati I’tiqaadi wahdatihi, Dzaatan, wa sifaatin wa af’aalam”. Artinya : Tauhid atau monotheisme itu ialah : Menentukan ibadat untuk Allah sendiri serta ber-‘itikad ke-Esaan DzatNya, sifatNya dan af’alNya (pekerjaaaNya).
Ke-Esaan pada Zat Allah yaitu: Meng’itikadkan, bahwa : Zat Allah itu satu, tiada berbilang dan tiada tersususn dari beberapa benda yang berlain-lainan.
Zat Allah itu, bukan Maddah atau benda; bukan pula terjadi dari beberapa anasir (elemen-elemen), atau dari beberapa pokok yang bukan benda.
Ke-Esaan Pada Sifat Allah yaitu : Meng’itikadkan, bahwa: Tidak ada sesuatu yang menyamai Allah pada sifatNYA dan bahwa Allah sendiri yang mempunyai sifat keutamaan dan kesempurnaan (kelengkapan kesempurnaan sifat).
Ke-Esaan pada wujud Allah yaitu: Meng’itikadkan, bahwa : Allah sendiri yang wajib wujudNYA, yang selain Allah, semuanya mungkin.
Ke-Esaan pada af’al (pekerjaan) Allah, dalam hal menjadikan segala yang mungkin, yaitu: Meng’tikadkan , bahwa : Allah  sendiri yang menjadikan alam semesta, yang menghidup-matikan makhluk, yang memberi rezki setiap hamba, menyenang-menyusahkan hidup dan kehidupan, menyempit-melapangkan hidup-kehidupan dan yang menghasilkan berwujud pekerjaan mahkluk.
Ke-Esaan dalam menerima Ibadat para hamba, yaitu : Meng’itikadkan, bahwa: Allah sendiri yang berhak menerima ibadat hamba; yang berhak disembah, diibadati, tidak ada yang selain Allah yang berhak diibadati, baik dengan jalan do’a, maupun dengan jalan yang lain.
Ke-Esaan  Allah dalam urusan menyelesaikan hajat keperluan para hamba, yaitu: Menuju langsung  kita kepad Allah dalam mengemukakan sesuatu hajat-keperluan, tidak boleh mengadakan orang perantara (Waasithah) antara kita dengan Allah dalam memajukan sesuatu permohonan kita kepadaNYA.
Ke-Esaan Allah dalam membuat patokan-patokan undang-undang, yaitu : Meng’itikadkan, bahwa Allah sendirilah yang membatskan segala batasan, yang menghalalkan dan mengharamkan. Tidak ada yang menghalal-haramkan, melainkan Allah sendiri; dan apabila kita berselisih dalam menetapkan sesuatu hukum, hendaklan kita kembali kepada ketetapan Allah, tidak boleh kita kembali kepada ketetapan sealin Allah.
Demikianlah makna-pengertian meng-Esakan Allah dan prakteknya. Semoga kita selau dalam rahmat dan karuniaNYA. Aamiin.
Sumber:
1.        Kitab Al-Islam oleh Muhd. Hasbi Ash Shiddieqy

2.        Kuliah tauhid dari berbagai ceramah agama. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar