Secara umum ada beberapa pengertian Ilmu Tauhid yang diberikan para ulama :
1. Ilmu Tauhid, ialah: "Ilmu yang membahas dan menyempurnakan setiap hujjah atau argumen terhadap kepercayaan-kepercayaan keimanan, berdasarkan dalil-dalil akal serta menolak dan menangkis segala faham ahli bid'ah yangkeliru, sesat dan menyimpang dari jalan yang lurus"
2. Ilmu Tauhid, ialah : "Ilmu yang membahas tentang:
a. Tentang wujud Allah, tentang sifat-sifat Allah yang wajib di-itsbatkan bagiNYA, tentang sifat-sifat yang harus (mungkin) disifatkan Allah dengan dan tentang sifat-sifat yang wajib ditiadakan dari padaNYA.
b. Tentang Kerasulan, Rasul-rasul untuk membuktikan dan menetapkan kerasulan seseorang Rasul; tentang sifat-sifatnya yang wajib baginya; tentang sifat-sifatnya yang harus dan tentang sifat-sifatnya yang mustahil baginya.
Pengertian pertama, memaskkan segala hal tentang kepercayaan, baik mengenai ketuhanan, kerasulan, maupun mengenai soal-soal yang gaib yang lain seperti malaikat dan akherat.
Pengertian kedua, mengkhususkan ilmu tauhid dengan soal-soal mengenai ke-Tuhanan dan kerasulan saja.
Perkembangan Ilmu Tauhid dalam masyarakat, adalah ilmu yang menetapkan dasar-dasar kepercayaan kepada Allah dan dasar-dasar kepercayaan kepada Rasul.
Para ulama telah mengakui bahwa diantara "ketetapan agama" atau kepercayaan, ada yang tidak dapat diterima kebenarannya kalau bukan akal yang menetapkannya, misalnya : meyakini atau mengetahui adanya Allah, quratNYA, iradatNYA, IlmuNYA dan juga tentang membenarkan seseorang Rasul.
Begitu juga para ulama sepakat menetapkan bahwa mungkin Agama membawa (mendatangkan) sesuatu yang belum dapat difahamkan akal. Akan tetapi, tidak mungkin Agama mendatangkan yang mustahil pada akal.
Al Quran mensifatkan Allah dengan berbagai sifat yang ada pada diri manusia, seperti: qudrah (kekuatan), ikhtiar (Usaha), samie' (Mendengar) dan bashar (melihat).
Oleh karena itu Al Quran menghargai akal dan membenarkan hukum akal. terbukalah pintu Nadhar (penyelidikan akal) yang luas bagi ahli-ahli akal (ahli-ahli nadhar) itu, dalam menetapkan : Apa yang dimaksud Al Quran dengan sifat-sifat itu ?. Pintu nadhar ini membawa kepada berbagai rupa paham diantara ahli akal dan nadhar.
Para ulama Salaf mensifatkan Allah dengan sifat-sifat yang Allah sifatkan diriNYA dengan tidak meniadakan, tidak menyerupakan dan tidak mentakwilkan.
Para Mutakallimin khalaf mensifatkan Allah dengan cara mentakwilkan beberapa sifat yang menurut pendapat mereka perlu ditakwilkan. Golongan Mutakallimin khalaf membantal ta'til (menidakkan Allah bersifat) dan membantah tamsil, menyerupai sifat Allah dengan sifat makhluk.
Pendek kata, para Salaf beritiqad sepanjang yang dikehendaki oleh lafadh, tetapi dengan mensucikan Allah dari serupa dengan makhluk.
Sumber : Prof TM Hasbi Ash Shiddieqy; Al-Islam, hal.67-69.Arti Ilmu Tauhid
Sumber : Prof TM Hasbi Ash Shiddieqy; Al-Islam, hal.67-69.Arti Ilmu Tauhid
Tidak ada komentar:
Posting Komentar