Senin, 29 Juni 2015

Ulama Besar

Ulama besar 
Damaskus, ibukota Negara Suriah, gempar! Khalayak ramai disalah sebuah bahagian kota itu menjadi sangat rebut, di sana-sini riuh terdengar orang-orang membicarakan maksud kunjungan Ibrahim Pasya, yang sengaja akan menemui salah seorang alim termasyhur pada masa itu. Beliau adalah Syeh Said Alhalaby. Sebagaimana dapat disaksikan dari sejarahnya, baik sebelum maupun sesudah kurun zaman Salahuddin Al-Ayubi, orang-orang Suriah itu amatlah berani dan tangkas, lebih-lebih mereka yang berdiam di kota Damaskus. Seperti halnya mereka yang kenal akan keagungan sang Alim, begitulah mereka mengenal kezoliman Ibrahim Pasya. Akhirnya singa akan bertemu berhadap-hadapan dengan singa pula. Tetapi Syeh Said Alhalaby adalah raksasa Swacita dan sebaliknya Ibrahim Pasya adalah raksasanya Swabenda. Sudah menjadi rahasia umum, bahwa Syekh yang alim itu amat teguh berpegang pada pendiriannya yang keras serta belum pernah terpedaya oleh dunia, baik yang bersifat kedudukan dan pangkat maupun dalam bentuk lahir dan materi. Sekali-kali tiadalah beliau akan menghormati seseorang lantaran harta dan derajatnya dalam masyarakat, betapa agungnya pangkat kedudukannya, apalagi bila itu diperolehnya dengan jalan yang kotor dan tidak halal atau hasil pemerasan dari jerih payah dan peluh rakyat. Beliau mempunyai tanggapan khusus dalam soal-soal seperti itu dan nilainya dari segi-segi Iman, akalbudi, keluhuran taaqwa, kecerdasan dan kedalaman seseorang dalam ilmu pengetahuannya. Bukankah tidak jarang, bahwa beduk yang besar itu ternyata kosong di dalamnya? Umumnya telah memaklumi pula bahwa adalah suatu usaha sia-sia belaka apabila seorang hendak mencegah suatu pertengkaran dan pertentangan yang tentu akan berlangsung dalam pertemuan mereka berdua itu. Sikap yang jelas akan dipertunjukkan oleh sang Alim, ialah sikap acuh tak acuh yang sudah tentu akan membangkitkan amarah Ibrahim Pasya yang justru karena tak dapat menyerang kembali akan membalaskan dendamnya itu langsung kepada rakyat yang tak berdosa sedikitpun. Maka supaya tidak terjadi hal-hal yang tidak mereka inginkan itu, beberapa di antara para pemuka Suriah di Ibu kota Damaskus telah memerlukan datang menghadap kepada Ibrahim Pasya. Dengan berbagai alas an membujuk agar sang Pasya mau membatalkan niatnya itu. Tapi Pasya seorang yang keras kepala dan tak mudah orang akan menemuinya, sedang waktunya sudah mendesak sekali. Kemudian mereka beralih pandangan untuk menemui sang Alim saja dengan maksud hendak memohon, agar beliau suka menghindarkan sesuatu yang tidak diharapkan itu. Tapi sang Alim telah menimbulkan segan pada mereka jauh lebih daripada saratus orang raja, karena pengawal-pengawal sang Alim bukanlah budak-budak yang diupah seperti halnya pengawal-pengawal raja, tapi adalah kekuatan dan tenaga cita yang telah menjaga sang Alim itu. Karenanya segurispun tak ada rasa khawatir pada mereka akan nasib sang Alim, malah yang mereka takutkan kalau-kalau beliau akhirnya terlanjur menghajar habis-habisan si Pasya yang berakibat rakyat jadi korban kekejaman sang Pasya nantinya. Talah banyak anggaran yang telah dikeluarkan dari kas negeri buat menghiasi kota dengan panji-panji, bendera-bendera dan pintu-pintu gerbang di sepanjang jalan di kota sampai Medan hayi tempat Masjid syekh Said Al-Halaby berada. Hiasan-hiasan dan pajangan-pajangan tersebut adalah untuk menyambut hari yang bersejarah itu. Dengan dikawal oleh sejumlah besar pasukan, sang Pasya akhirnya tiba juga di depan pintu gerbang dari masjid syekh Said Al-Halaby. Oh, betapa sempit dan kecil pintu gerbang mesjid itu pada pandangan sang Pasya, seolah-olah pintu berkata padanya: Hai, lemparkanlah keduniawianmu apabila kau hendak memasuki dan melewati aku buat bertemu dengan sang alim yang mulia Syekh Said Al-Halaby dan bertawaduklah engkau di Baitullah! Bila kau merasa segan dan terus saja bersikap keras kepala dan sombong, lewat sebagai seorang besar yang dikawal dan didewa-dewakan oleh ribuan lasykar yang dibayar serta berseragam, maka alangkah baiknya bila enngkau pulang saja. Tahukah engkau siapa yang akan kau jumpai di sini? Ialah jiwa yang bertauhid dan bijaksana, warisan dan titisan para nabi dan Rasul yang mempersamakan tingkat-tingkat manusia, dan meniadakan perbedaan antara sesame mereka dan sekali-kali takkan mungkin dapat bertemu dengan sisa karat jaman jahiliyah yang berlandaskan pada kemusyrikan dan pertentangan kelas. Maka apabila sampai terjadi perjumpaan maka salah satu harus mengalami kehancurannya dan tidak pernah yang batil mengalahkan yang hak. Lama sang Pasya tertegun di ambang pintu gerbang itu, mengajuk kedalaman hatinya dan menimbang-nimbang untuk menetapkan suatu keputusan. Lama dia ragu dan terguncang hatinya: masuk atau pulang saja? Akhirnya diputuskannyalah dan ditetapkannya hatinya, dia akan masuk. Sang Pasya kini telah masuk dan tiba di dalam mesjid. Ketika itu Syekh said Al-Halaby sedang memberikan kuliah kepada para siswanya sambil duduk melonjorkan kakinya di atas hamparan tikar berisi jerami. Kadatangan sang Pasya sedikitpun tak menarik perhatiannya, bahkan beliau tidak menoleh sama sekali. Demikianlah bila dalam dada seseorang telah dipancangkan taqwa, ketakutan hanya kepada Allah semata-mata dan tiada suatupun yang akan menggetarkannya selain Allah. Mereka akan tunduk padanya dan baginya tiada suatupun yang berharga betatapun tingginya. Itulah arti daripada: Allhu Akbar! Allahu Akbar! Kalimat yang menghujam dan meresap dalam lubuk kalbunya, kalbu orang yang beriman dan bertaqwa. Dalam takbir itu terkandunglah daya mukjizat dan rahasia Ilahy. Tapi semua itu, bagi kaum Muslim ini telah menjadi semacam permainan kata yang hampa sebagai lafal-lafal mati, membeku, amat asing tak dimengerti. Allah yang Maha Besar tiadalah memerintahkan dan menyeru setiap Muslim mengucapkan Allahu Akbar sekurang-kurangnya delapanpuluh lima kali sehari semalam dan sedikitnya mendengarnya tigapuluh lima kali bergema mendengung-dengung dari tiap menara mesjid, melainkan supaya diresapkan juga, bahwa tiada sesuatu yang lebih agung, baik di muka bumi maupun di langit, selain daripada Allah. Maka barangsiapa berpihak kepadaNya, maka pastilah padanya tiada akan terdapat rasa gentar sedikitpun pada apapun. Tidak gentar pada raja, tidak gentar menghadapi mati, sakit dan derita sengsara yang betapapun hebatnya, bahkan tiada takut akan kebinasaan. Maka bertanyalah seorang murid, betapakah jika raja membunuhnya atau sakit akan membawa maut baginnya? Maka sang Alimpun menjawab: Subhaanallaah, jika benar seorang Muslim, maka tiadalah ia akan gentar menghadapi mati atau dibunuh sekalipun. Maut, sesungguhnya memang tiada ringan dan tak boleh dilecehkan, mautlah memutuskan segala nikmat dan kelezatan hidup duniawi yang jadi kegemaran terutama oleh orang-orang kafir yang gila dunia itu. Hal semacam itu tak mungkin terjadi pada diri mereka yang mendambakan kehidupan yang kekal dan abadi. Karena bagi mereka kehdupan dunia ini adalah ibarat suatu tamasya selintas yang tiap sa’at menantikan tanda bunyi untuk pindah kendaraan yang bakal mengangkutnya pulang kembali ke tempat asal, bagaikan seorang yang telah lama dalam perantauan dan dengan penuh rasa kerinduan pada keluarga yang ditinggalkannya, kembali pulang ke haribaan keluarga, handai-tolan dan para sahabat karib yang dikasihinya sepenuh hati. Dan ia menumpang satu-satunya kendaraan yang terjamin pasti akan sampai ke hadirat Ilahy. Maka tanggapan yang demikian akan melahirkan pengertian, bahwa maut adalah suatu proses kelahiran baru menuju kea lam baru pula, pri-kehidupan yang serba baru yang kekal dan abadUlama Besari melalui suatu runtunan prosesi: Mulai dari lempung tumbuh jadi zat makanan, jadi cairan mani tersimpul dalam rahim kendungan yang kemudian menetap selama Sembilan bulan lazimnya dan lalu lahir sebagai seorang bayi. Dari sejak bayi dia dipelihara hingga jadi Khalifatullah di muka bumi untuk jangka masa tertentu, hingga pada akhirnya ia pulang kembali keasalnya. Demikian prosesnya, nyawa berasal dari langit, maka ia akan kembali ke langit, menurut sabda Rasulullah: “Adalah syahid utama seorang yang dibunuh raja lantaran menegakkan hak” Tiba-tiba di tengah suasana yang demikian khususnya, sang Syekh memutuskan kuliahnya lalu melontarkan pandangan kearah sang Pasya. Kemudian ia mempersilahkan sang Pasya duduk bersama-sama yang lainnya. Dalam cara ia memandang sang Pasya, secercahpun tiada terkilas suatu pandangan yang menyorotkan suatu keistimewaan atau sinar menghamba. Sang Pasya sebelum duduk, terlebih dahulu memandang ke sekelilingnya, dengan pandangan yang mencari-cari seolah-olah ia telah kehilangan sesuatu dan memanglah ia telah kehilangan sesuatu, ialah bahwa di tempat itu tiada ditemuinya penjilat- penjilat atau penngembik-pengembik yang biasa ia jumpai di tempat-tempat lain yang dikunjunginya. Lama ia menanti-nantikan suatu sambutan yang agaknya akan diutarakan oleh murid-murid, sambutan selamat dating yang ramah dengan ucapan-ucapan manis-mesra, bongkok-membongkokkan badan dan angguk-anggukan kepala. Samasekali tiada disadarinya bahwa mereka itu telah diangkat dari lembah kerendahan itu setinggi mungkin oleh Syekh Said Al-Halaby. Bagi mereka ala mini ibarat sebuah rakit di tengah-tengah danau maha luas dan sang pasya tak lebih hanyalah seekor serangga yang dha’if dan lata. Maka siapa gerangan yang menjunjung, mengagung-agungkan seekor serangga? “Dan yang sungguh mentakjubkan, sebagai makhluk Tuhan, manusia adalah sama dengan binatang. Tapi manusia diisinya dengan gairah Malaikat dan gairah setan. Orang yang hanya menggendutkan perutnya dan hanya memikirkan cara-cara bagaimana hendak melampiaskan nafsu syahwatnya belaka, meski dengan cara-cara yang dapat dibenarkan agama, maka dia adalah makhluk yang setara dengan jenis binatang keledai yang dungu dan tunduk menurut nafsunya. Bila ia tidak lagi mau membedakan antara yang halal dan yang haram dalam segala sepak-terjangnya, maka dia kerasukan Setan atau sejenisnya dan ingin menjadi tanah. Dalam pada itu ia akan menurutkan Setan masuk neraka dimana etan dulu dilahirkan. “Tatkala orang-orang sedang menunggu buah amalannya, maka hanya sikafir sajalah ingin kembali menjadi tanah” (An-Naba: 40) Barangsiapa yang berlaku sebagai murid yang rajin dalam masa hidupnya, khusyu’ dan tekun menerima pelajaran demi kesempurnaan bekal di akhirat kelak, maka adalah dia seorang manusia. Tapi yang lebih menakjubkan, ialah seorang makhluk yang berisi malaikat. Bagaimanapun ia tersesat menjadi fasik dan dhalim, Tiadalah dibutuhkannya bantuan dari luar dirinya, maka cukuplah Malaikat itu dengan bantuan Al-Quran akan bangkit untuk mengenyahkan bayangan fatamorgana yang memperdayakannya itu dan menggantikan hakekat kebinatangannya dengan suatu pimpinan yang menuju ke jalan yang diridloi Allah, dalam hal-hal serupa ini, hati nuraninyalah yang menasehatkannya, sebagaimana kata seorang penyair: “takkan berani orang berbuat jahat bila tak didorong oleh sang niat….” Demikianlah taubat yang diterima Allah, yang disusul oleh amalan-amalan saleh dan jannah menantikannya. Tapi bila seorang pelajar bermalas-malasan dalam belajar, bila nelayan menghamparkan jala di daratan seorang pemburu menyandarkan senapannya, dan mereka lalu sama-sama berbaring terlena dibelai mimpi-mimpi, dan dalam mimpi-mimpi itu diharapkannya ijazah, ikan kakap bagi nelayan, malah yang telah matang dan dibumbui pula dengan Lombok dan kecap serta ditambah sedikit cuka dan yang terakhir minta seekor rusa yang gemuk sudah teguh terikat dan tinggal menyembelihnya saja lagi, maka mereka akan tersungkur ke jurang kesengsaraan. Seorang murid kemudian bertanya: - Adakah kiranya dapat disembuhkan kalbu membatu? Maka beliau menjawab: Tiadalah jalan atau tak mungkinlah Setan menembusi kalbu seseorang, kecuali apabila dikandungnya rasa ujub atau rasa bangga diri karena sudah merasa cukup sempurna. Maka usahakanlah agar kau senantiasa merasa belum sempurna. Ingatlah akan penyakit ketika engkau masih sehat, maut ketika engkau masih hidup. Kuburan dan rumah-rumah sakit adalah tempat-tempat yang dikunjungi oleh guru-guruku sewaktu rasa ujub dirasakan mulai mencekam mereka atau rasa puas akan diri karena selalu sehat. Lumayanlah seorang mukmin bila ia berhal selalu dalam keadaan antara cemas dan harap, tapi sebaliknya payahlah keadaannya bila ia sudah tidak lagi punya rasa takut, cemas dan harapan. Ada guru-guruku yang menyentuhkan jari-jari mereka ke nyala lilin sambil berkata: “Wahai diriku, bila karena panas nyala sebuah lilin saja sudah tak tahan, betapakah halmu kelak bila sampai dibakar api neraka?” Ingatlah selalu akan sorga dan neraka, karena apabila nafsumu merangsang dan menggelegak, maka segeralah hanguskan dia dengan apinya atau segera sirami dia dengan air sungainya. Bukankah manusia apabila tidak berakal. Dan miringlah otaknya bila ia tak beriman. Asal mulanya hanyalah setitik air mani dan berakhir sebagai bangkai yang membusuk, itulah tubuh manusia. Alangkah jernih dan warasnya budi manusia, bila selalu diingatnya akan kerendahan dirinya di hadapan Allah kelak, lebih-lebih bila ia sedang dimabuk kekuasaan atau kehormatan. Ingat dan kenanglah akan kematian namrud raja Babilon. Uhan mematikannya hanya dengan gigitan seekor nyamuk yang lata. Wahai anak-anakku, adalah tanah lempunglah asal mulamu, maka jangan lupa, bahwa kamu akan kembali padanya. Kasihan dan ibalah hati melihat sang Pasya. Ia seolah-olah terkurung dalam sebuah peti, diam dan tak dapat berkutik barang sejengkalpun. Kuliah itu didengarnya jelas dan gambling. Sungguh belum pernah dirasakan segaran sebagai yang dirasakan sa’at dia lepas dari seruan kuliah itu. Begitulah setelah selesai kuliah, menghirup udara keimanan yang sejuk dan jernih itu yang belum pernah didengar dan dinikmatinya, maka seolah-olah terlepaslah ia dari suatu tungku yang sempit yang mengepungnya, ialah tungku materi. Kini dapatlah ditembusnya alam kebebasan lepas dan luas, setelah kabut tebal tersapu bersih oleh kuliah Syekh Said Al-Halaby. Tekunlah ia mendengarkan selama pengajian, sedikitpun tak ada rasa jemunya. Kini benar-benar terasa olehnya akan kekurangan-kekurangan dirinya yang jauh di bawah para murid itu. Ia merasa sebagai seorang murid baru. Sekarang ia merasa seperti sebatang kayu yang terombang-ambing dalam gelombang samudera, dan berusaha menyelamatkan dirinya dari tempatnya tenggelam. Demikianlah filsafat sang yekh yang unggul dan diterimanya dalam hati. Kemudian, beberapa waktu sesudah itu sang Pasya mengirimkan seribu dinar dari istananya kepada sang Syekh. Maka sambil tersenyum sang Syekh menolak seraya berkata: - Katakanlah kepada tuanmu, sampaikan salamku, pesanku: “Tiadalah akan menadah tangannya seorang yang telah melonjorkan kakinya….!” (Malin Sati.) *sumber cerita dari Buku Gelora Iman, Al-Maarif. Bandung)@@@

Tidak ada komentar:

Posting Komentar